Skip to content

PENAWAR RACUN MAKSIAT

Khoirul Anam
9 menit baca
Penawar Racun Maksiat

BERTAUBAT SEBELUM TERLAMBAT (Part 23)

PENAWAR RACUN MAKSIAT

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulilah, wa ba’da.

Puji syukur kita panjatkan kepada Allah Ta’ala Rabb semesta alam, Dzat yang Maha Esa tidak ada sekutu baginya, Dzat yang memilki nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang mulia, Ialah yang telah menciptakan segala sesuatu dan mengistimewakan sebagiannya dari sebagian yang lainnya, sebagaimana Allah telah mengistimewakan bulan Ramadhan dari bulan-bulan yang lainnya. Shalawat dan salam kita haturkan kepada suri tauladan kita Nabi yang mulia Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam yang telah menyampaikan risalah dari Allah, mengajarkan Al-Qur’an dan hikmah, tidak ada jalan yang menghantarkan ke surga-Nya kecuali telah Beliau perintahkan, dan tidak ada jalan yang menghantarkan ke neraka kecuali telah Beliau peringatkan. Lanjutan..

Jangan Tinggalkan Orang-Orang Shalih

Terkadang setan menghembuskan bisikan dalam hati sebagian pelaku maksiat, karena melihat dirinya terpasung belitan maksiat dan senantiasa berkubang dalam lumpur dosa, “Bagaimana mungkin aku bersahabat dengan orang-orang shalih dan bergaul dengan mereka, sementara aku kotor dan bergelimang dengan maksiat. Aku merasa bahwa aku munafik ketika bersahabat dengan mereka.” Atau bisikan, penilaian atau perasaan lain yang senada dengannya. Seandainya berusaha merenung sejenak dengan hati nurani yang bersih dan akal sehat, maka akan menemukan kesimpulan sebagai berikut:

Pertama, persahabatanku dengan orang-orang shalih merupakan amal shalih dan termasuk kebaikan berpahala besar. Sedang kebajikan bisa menghapus keburukan. Bukankah orang yang mencintai saudaranya karena Allah, termasuk tujuh golongan yang akan diberi perlindungan oleh Allah pada suatu hari yang tiada naungan selain naungan-Nya, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

أَيْنَ الْمُتَحَابُوْنَ بِجَلَالِي فِي ظِلَّ عَرْشِيْ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلِّي.

Artinya: “Dimanakah orang-orang yang saling mencintai (karena Allah), dengan kebesaranku, mereka berada di bawah naungan Arasy-Ku pada hari yang tiada naungan kecuali naungan Ku. “ (HR. Muslim)

Kedua, mencintai orang-orang shalih menyebabkan seseorang bersama mereka dan berusaha untuk menyerupai prilaku mereka walaupun tidak persis, mereka dalam amal shalih, minimal melihat seorang yang senang amal shalih dan nurani tergugah menirunya lebih baik daripada melihat orang yang sedang berbuat maksiat dan tertarik untuk mengikutinya.

Pernah seorang badui bertanya kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam:

مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ: مَا أَعْدَدْتَ لَهَا؟ قَالَ: مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ كَثِيرِ صَلَاةٍ، وَلَا صَوْم ، وَلَا صَدَقَةٍ، وَلَكِنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُوْلَهُ. قَالَ: أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ.

Artinya: “Kapankah datangnya Hari Kiamat?” Nabi menjawab, “Apa yang telah kamu persiapkan untuknya?” la menjawab,” Aku tidak menyiapkan untuknya dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah, tetapi aku mencintai Allah dan RasulNya.” Beliau bersabda,” Kamu bersama orang yang kamu cintai.” (HR. Muslim)

Dari Ibnu Mas’ud, ia menuturkan, “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah seraya berkata, ‘Bagaimana menurutmu tentang seseorang yang mencintai suatu kaum tetapi ia tidak pernah mendapati (melihat) mereka?’ Rasulullah bersabda,

الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

Artinya: ‘Seseorang akan dihimpun bersama orang yang dicintainya.” (Miskin)

Ketiga, manusia itu ada tiga golongan:

  1. Golongan yang mengekang dirinya dengan kendali takwa dan mencegahnya dari kemaksiatan, maka ia menjadi manusia terbaik.
  2. Golongan yang melakukan kemaksiatan dalam keadaan takut dan menyesal. Ia merasa bahwa dirinya berada dalam bahaya yang besar, dan ia berharap suatu saat ia mampu berpisah dengan kemaksiatan tersebut.
  3. Golongan yang mencari peluang maksiat, bergembira dengannya dan menyesal karena kehilangan peluang tersebut.

Meskipun aku bukan termasuk golongan yang pertama dan aku berharap kepada Allah, semoga Allah memasukkan diriku dalam golingan tersebut, maka aku menjadi golongan yang kedua yang pasti lebih baik dan lebih suci bagiku daripada golongan ketiga, sementara Rasulullah bersabda,

الْمُؤْمِنُ مِرْآةُ أَخِيهِ، وَالْمُؤْمِنُ أَخُرُ الْمُؤْمِنِ، يَكُفُّ عَلَيْهِ ضَيْعَتَه وَيَحُوْطُهُ مِنْ وَرَائِهِ

Artinya: “Seorang Mukmin sebagai cermin bagi saudaranya, seorang Mukmin saudara bagi Mukmin lainnya, ia menjaga kekayaannya, dan menjaga kehormatannya ketika dia tidak hadir. “ (Adabul Mufrod lil Bukhari (238)).

Keempat, bahwa penyesalan dan penderitaan karena melakukan kemaksiatan hanya dapat aku petik dari persahabatan yang baik. Inilah berkah pertama dan keuntungan perdana. Tatkala aku berpisah dengan mereka, suara tersebut menurun dan pengaruh celaan terhadap diriku berkurang, dan ketika itulah aku berpindah semoga Allah tidak memperkenankannya menuju neraka kemaksiatan. Orang-orang yang tidak pernah bergaul dengan orang-orang yang shalih mungkin tidak pernah sekalipun merasa menyesal dan merasakan pahitnya kemaksiatan. Adapun orang-orang yang bersahabat dengan orang-orang yang shalih, mereka merasakan hal itu tatkala mereka melihat saudara-saudara mereka, sedangkan lidah mereka mengucapkan, “Mereka lebih baik dibandingkan aku.” Dengan demikian, persahabatanku dengan orang-orang shalih menyebabkan aku merasakan pahitnya kemaksiatan, menjadi penggugah dan motivator untuk meniti jalan taubat. Meskipun saya belum bertaubat, tapi orang yang mengerjakan kemaksiatan dengan penyesalan itu lebih baik daripada orang yang berbuat maksiat dalam keadaan tertawa.

Kelima, Kenapa saya harus berpisah dengan orang-orang shalih. Apakah dengan meninggalkan orang shalih aku terbebas dari penyakit maksiat? Ataukah penyakit maksiatku semakin parah? Seseorang dalam hidup harus bergaul. Jika saya meninggalkan orang-orang shalih, maka sebagai gantinya aku bersahabat dengan orang-orang gemar kemaksiatan lebih besar daripada yang aku lakukan. Sehingga demikian itu akan melahirkan sikap meremehkan kemaksiatan pada diriku, bahkan membandingkan apa yang mereka perbuat. Kemudian saya tidak akan mendengar lagi nasihat dari orang-orang shalih atau memperoleh peringatan dari mereka. Saudaraku, lebih baik Engaku bersahabat dengan orang-orang shalih, bahkan kalian lebih butuh kepada mereka dan harus tetap mencintai dan bersahabat dengan mereka meskipun mereka belum bisa meninggalkan maksiat, karena demikian itu lebih baik bagimu daripada kalian berpisah dengan mereka sedangkan mereka tetap melakukan kemaksiatan. Karena tanda taubat ada tiga di antaranya senantiasa menangisi dosa-dosa yang telah lalu, senantiasa takut terjerumus ke dalam maksiat dan meninggalkan teman-teman buruk dan bergaul dengan orang-orang shalih. Berteman dengan orang-orang shalih pasti memberi faidah bagi orang-orang yang lebih rendah tingkatannya. Para pemuda Ashabul Kahfi ketika mereka melarikan diri dari kejaran sang raja bengis ditemani oleh seekor anjing sebagaimana disebutkan dalam surat al-Kahfi. Jika seekor anjing meraih derajat tinggi karena bersahabat dan bergaul dengan orang-orang shalih dan para wali Allah, sehingga Allah memberitakan dalam kitab-Nya. Maka bagaimana dengan kaum Mukmin yang bertauhid bergaul dan mencintai para wali-Nya dan orang-orang shalih? Bahkan demikian itu menjadi hiburan bagi kaum Mukmin yang derajatnya kurang sempurna yang berusaha mencintai Nabi dan keluarganya.

Jangan Berhenti Berdakwah

Seorang hamba yang berbuat maksiat pasti pernah mengalami konflik batin dan merasakan pergulatan nurani dalam dua perkara; ia mendengar hadits tentang dakwah, amar ma’ruf dan nahi mungkar, dan nash-nash yang memerintahkan dan menganjurkan mengetuk hati orang. Sementara di depan matanya terdapat figur-figur teladan dari para pelayan agama Allah dan para penyeru kebajikan. Semua itu mengajaknya untuk ikut serta dan terjun ke dalam medan serta berjalan bersama kafilah tersebut, karena waktu dan umur terbatas. Saat semangat berbuat baik menggelora dalam jiwa dan kesungguhan mulai terbentuk dalam, perbuatan dan sikap, namun pada sisi lain muncul bisikan buruk dari dalam diri, “Kamu belum layak untuk berdakwah? Apakah kamu akan berdakwah sedangkan kamu kotor dan banyak dosa? Dakwah dan membela agama adalah kedudukan mulia dan derajat tinggi yang tidak layak untuk orang-orang yang banyak berbuat kesalahan sepertimu. Lebih baik kamu mengajak dirimu sendiri, kepada kebajikan dan mencegahnya dari kemungkaran.” Adakalanya bisikan buruk tersebut menang, sehingga ia mengurungkan niatnya dan menunda langkah baiknya. Terkadang perilaku dipengaruhi panggilan agama bahwa pera-saan berdosa menjadi penyebab utama seseorang batal memasuki medan dakwah.

Menetapkan kebenaran dan kesalahan suatu pernyataan tanpa diukur dengan timbangan agama merupakan sesuatu yang tertolak, baik secara syar’i maupun akal sehat. Dan sebaiknya masalah ini kita diskusikan dengan beberapa konklusi sebagai berikut:

Pertama: Tidak diragukan bahwa perkataan yang tidak dibuktikan dengan perbuatan merupakan perkara tercela, baik menurut pandangan al-Qur’an dan as-Sunnah serta pernyataan salaful ummah.

Allah Subhanahu Wtaa’ala berfirman:

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Artinya:

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca al-Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?” (QS. Al-Baqarah: 44).

Dalam sunnah Nabi, hadits yang diriwayatkan oleh Usamah bin Zaid, Nabi bersabda,

يُؤْتَى بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُ بَطْنِهِ، فَيَدُورُ بِهَا كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِالرَّحَى فَيَجْتَمِعُ إِلَيْهِ أَهْلُ النَّارِ، فَيَقُولُونَ: يَا فُلَانُ مَا لَكَ؟ أَلَمْ تَكُنْ تَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ، فَيَقُولُ: بَلَى قَدْ كُنْتُ آمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا آتِيهِ، وَأَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ.

Referensi:

“Nanti pada Hari Kiamat ada seorang yang didatangkan lalu dilempar ke dalam neraka, maka ususnya keluar. Lalu ia berputar-putar laksana keledai berputar-putar di sekitar penggilingan. Kemudian penghuni neraka mengerumuninya dan bertanya, ‘Hai Fulan, ada apa denganmu? Bukankah kamu yang menyeru kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran?’ la menjawab, ‘Ya, aku telah menyeru kepada kebaikan, tetapi aku sendiri tidak mengerjakannya, dan aku melarang orang dari kemungkaran tapi aku sendiri mengerjakannya “ (shahih, HR. Bukhari)

Terdapat banyak riwayat dari salafus shalih tentang anjuran untuk beramal shalih dan meninggalkan kemungkaran, di antaranya pernyataan Abu ad-Darda, “Kamu tidak akan paham dengan pemahaman yang benar hingga kamu mencer-ca manusia karena teledor dalam menunaikan hak-hak Allah kemudian setelah kamu mengoreksi dirimu ternyata kamu lebih menyalahkan dirimu sendiri. “

Kedua: Apakah celaan yang terdapat dalam nash-nash tersebut secara otomatis celaan untuk orang yang berdakwah dan melakukan nahi mungkarnya? Ataukah celaan itu karena perbuatan mungkarnya, padahal ia orang yang paling utama menjauhinya? Barangkali yang kedua itulah yang lebih sesuai dengan nash-nash syariah. Sebab tidak masuk akal seorang diberi sanksi karena perbuatan baiknya atau amal kebaikannya berubah menjadi keburukan yang harus mendapat hukuman. Sehingga celaan dalam ayat diatas hanya karena meninggalkan kebaikan bukan karena menyuruh kebaikan.  Ayat di atas bukan mencela mereka karena mereka menyeru kepada kebajikan sementara dia tidak mengamalkan, bahkan celaan tersebut semata-mata karena mereka meninggalkan kebaikan.  Salah jika ada statemen bahwa tidak berhak seseorang menyuruh orang lain agar takut kepada Allah, sementara ia masih berbuat kemaksiatan, karena dirinya belum mempunyai rasa takut kepada Allah atau tidak berhak seseorang menyuruh mereka supaya bertakwa kepadaNya, padahal ia masih berbuat maksiat karena ia belum bertakwa kepada Allah? Ringkasnya, siapapun tidak boleh berdakwah dan ber amar ma’ruf dan nahi mungkar, selagi masih punya kesalahan. Hal demikian itu suatu perkara mustahil sebab tidak mungkin seseorang tidak pernah berbuat maksiat sama sekali. Sa’id bin Jubair berkata, “Jika seseorang tidak boleh menyuruh kebajikan dan mencegah kemungkaran hingga tidak ada dalam dirinya kesalahan sekecil apapun, maka tidak ada seorang pun yang mampu menyeru kebajikan dan mencegah kemungkaran.” Imam Malik berkata, “la benar. Siapakah orang yang ber-sih dari kesalahan sama sekali?” Pernah Hasan Bashry mendengar orang yang berkata, “Tidak wajib mencegah keburukan kecuali bagi orang yang sudah tidak mengerjakan sama sekali.” Hasan menjawab, “Iblis sangat senang mendengar ungkapan itu dari kita sehingga tidak seorangpun yang akan melarang kemungkaran dan menyuruh kebaikan. “

Ketiga: Dan kewajiban seseorang ketika melihat kemunkaran hanya diharuskan melakukan dua perkara:

  1. Meninggalkan kemungkaran itu.
  2. Dan memerintahkan orang lain untuk meninggalkan. Tatkala seseorang meninggalkan kewajiban yang pertama, apakah kewajiban yang kedua gugur darinya? Ibnu Katsir menjawab, “Semuanya, yaitu menyuruh kepada kebajikan dan mengerjakannya merupakan kewajiban yang tidak dapat gugur salah satunya dengan meninggalkan yang lainnya, menurut pendapat yang paling benar dari dua pendapat ulama dari kalangan salaf dan khalaf,”

Dengan kalian meninggalkan nasihat kepada sesama hamba dan tidak beramar ma’ruf dan nahi mungkar disebabkan anda mengerjakan kemungkaran atau meninggalkan kebajikan, maka hal itu dengan sendirinya suatu kemungkaran. Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam Bersambung..

Referensi :

Ya Allah Ampuni Aku, Bertaubat Sebelum Terlambat, Pustaka Imam Nawawi, Cetakan pertama, Desember 2015 M.

Di ringkas oleh  : Ulfa Salimatun Nisa (Pegawai Ponpes DQH Oku Timur)

Baca juga artikel:

Manusia diistimewakan Dengan Akal

Hukum Meminta Kepada Selain Allah

Bagikan:

Artikel Terkait

MANFAAT AMAL IBADAH ORANG HIDUP UNTUK ORANG YANG TELAH MENINGGAL
Tarbiyah 22/09/2026

MANFAAT AMAL IBADAH ORANG HIDUP UNTUK ORANG YANG TELAH MENINGGAL DUNIA

MANFAAT AMAL IBADAH ORANG HIDUP UNTUK ORANG YANG TELAH MENINGGAL DUNIA BAB SATU: Orang Mati Bisa Mendapat Manfaat Dari Amal Ibadah Orang Hidup Bahwa orang yang sudah mati bisa mendapatkan manfaat dari amal ibadah orang yang masih hidup telah ditetapkan di dalam al-Qur’an, hadits yang shahih, dan ijma para ulama. A. Dalil dari al-Qur’an, as-Sunnah, […]

SUMBER PENGAMBILAN AQIDAH ISLAM
Aqidah 19/09/2026

Sumber Pengambilan Aqidah Islam

Sumber Pengambilan Aqidah Islam Seperti telah diketahui bahwa nabi Muhammad adalah orang yang paling mengerti tentang Allah. Beliau orang yang paling antusias menasehati manusia dan yang paling fasih ungkapannya dalam memberikan penjelasan jadi, dalam diri beliau berpadu antara kesempurnaan ilmu, kemampuan dan kemauan. Sehingga dengannya beliau bisa memberikan penjelasan yang komplit terhadap masalah-masalah agama, baik […]

LAZ Kunci Kebaikan

Dana yang disalurkan melalui LAZ Kunci Kebaikan hanya bersumber dari dana halal, tidak bertujuan untuk pencucian uang, terorisme, maupun tindakan kejahatan lainnya.

Legalitas LAZ

Izin Kanwil nomor:
337 Tahun 2026 (29 Juli 2026 )

QRIS Zakat

ZAKAT YKK

Rek. BSI

8643916700

a.n. Zakat YKK

Wajib Konfirmasi ke:

Bpk. Heri Setiawan, S.Pd.
(0822-6666-0856)

Tanpa konfirmasi, dianggap sedekah biasa.

QRIS Zakat

PEDULI SESAMA YKK

Rek. BSI

4557498470

a.n. Peduli Sesama YKK

(Tanpa konfirmasi digunakan untuk program-program LAZ)

Donasi khusus tidak akan dipotong jasa penyaluran.

Sekretariat:

Kompleks Ponpes Darul-Qur'an Wal-Hadits, Jl Tuanku Imam Bonjol, Bunga Mayang, Peracak, OKU Timur, Sumsel (32315)

Klik: Google Map