Jangan Salah Mencintai
Jangan Salah Mencintai – Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang karena nikmat-Nya kebaikan-kebaikan menjadi sempurna. Tidak ada ketaatan, zikir, bacaan Al-Qur’an, sedekah, maupun amal saleh yang dapat dikerjakan melainkan itu adalah nikmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tanpa nikmat-Nya, seorang hamba tidak akan mampu menjalankan ketaatan tersebut. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan untuk hamba kekasih Allah, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, istri-istri, putra-putri, dan seluruh sahabat beliau.
Hakikat Ketetapan Allah Tentang Cinta
Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala dalam kitabnya Al-Wabilus Sayyib menjelaskan sebuah ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak bisa ditolak dan tidak bisa dibantah:
“Barang siapa yang mencintai sesuatu selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dia akan disiksa dengan sesuatu yang dicintainya tersebut.” [1]
Sesuatu yang seharusnya membawa ketenangan, kebahagiaan, dan ketentraman, justru akan membawa bala dan petaka apabila dijadikan objek cinta utama selain Allah. Hal ini dipertegas dalam Al-Qur’an ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai harta dan anak-anak orang kafir:
فَلَا تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُمْ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُم بِهَا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُونَ
Artinya: “Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir.” (QS. At-Taubah: 55).
Harta dan anak yang sangat dicintai bisa berubah menjadi alat penyiksaan di dunia sebelum siksa di akhirat. Pemiliknya akan terbuai hingga mati dalam kondisi kafir tanpa sempat bertobat. Begitu pula dalam hal rasa takut; barang siapa yang takut kepada selain Allah, maka Allah akan menjadikan sesuatu yang ditakutinya itu berkuasa atas dirinya. Barang siapa yang menyibukkan diri dengan selain Allah, maka kesibukan tersebut akan menjadi petaka baginya. Barang siapa yang mementingkan selain Allah, maka Allah tidak akan memberikan keberkahan di sana. Bahkan, barang siapa yang mencari keridaan manusia dengan membuat Allah murka, maka Allah akan menjadikan manusia tersebut membencinya.
Ujian Syahwat dan Fitnah Dunia
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menanamkan dalam diri manusia kecenderungan terhadap syahwat:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
Artinya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran: 14).
Bagi laki-laki, fitnah terbesar adalah wanita. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa beliau tidak meninggalkan ujian yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki selain wanita. Solusi syar’i untuk menjaga pandangan dan kemaluan adalah pernikahan. Perbedaan mendasar antara nikah dan zina adalah pada keterbukaan dan keberkahannya. Pernikahan diumumkan, disyariatkan, dan dirayakan dengan rebana agar masyarakat tahu, sementara zina dilakukan secara sembunyi-sembunyi dalam kegundahan.
Cinta manusia terhadap harta juga sangat kuat, sebagaimana disebutkan:
وإنَّهُ لِحُبِّ الخَيْرِ لَشَدِيدٌ
“Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.” (QS. Al-Adiyat: 8).
وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا
“Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al-Fajr: 20).
Kecintaan yang berlebihan pada dunia ini seringkali membuat manusia mengabaikan akhirat. Konser musik yang mahal dihadiri dengan antusias, sementara kajian agama yang gratis seringkali sepi. Hal ini mencerminkan peringatan Allah dalam surat Al-Qiyamah bahwa manusia mencintai dunia dan meninggalkan akhirat. Kecintaan pada dunia yang melampaui batas dapat mengubah manusia menjadi seperti binatang yang hanya sibuk dengan urusan perut dan syahwat di bawah perut.
Pertentangan Ambisi Dunia dan Akhirat
Berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Musa al-Asy’ari Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ أَحَبَّ دُنْيَاهُ أَضَرَّ بِآخِرَتِهِ، وَمَنْ أَحَبَّ آخِرَتَهُ أَضَرَّ بِدُنْيَاهُ
Artinya:”Barangsiapa mencintai dunianya, maka ia akan merugikan akhiratnya. Dan barangsiapa mencintai akhiratnya, maka ia akan merugikan dunianya.” [2]
Cinta tidak bisa dibagi secara setara antara ambisi dunia dan akhirat. Memilih ambisi akhirat bukan berarti harus menjadi miskin. Nabi Sulaiman Alaihissalam adalah contoh raja yang kaya raya namun ambisinya adalah akhirat. Ketika kecintaan beliau pada kuda-kuda hebat sempat membuatnya lalai dari berzikir kepada Allah hingga matahari terbenam, beliau menyembelih kuda-kuda tersebut sebagai bentuk pertobatan, dan Allah menggantinya dengan angin yang tunduk pada perintahnya. Begitu pula sahabat seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, dan Thalha bin Ubaidillah Radhiallahu ‘anhum yang kaya raya namun hati mereka tetap terpaut pada akhirat. Thalha bin Ubaidillah pernah tidak bisa tidur karena memiliki uang 400.000 dirham (setara ratusan miliar rupiah) di rumahnya, dan baru bisa tenang setelah membagikan seluruh uang tersebut kepada fakir miskin hingga subuh.
Dunia Sebagai Permainan dan Akhirat Sebagai Kehidupan Sejati
Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan hakikat dunia:
وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabut: 64).
Dunia disebut lahw (melalaikan) karena seringkali menyibukkan manusia dengan hal-hal yang tidak penting, seperti penggunaan gawai yang berlebihan hingga meninggalkan tilawah Al-Qur’an. Dunia juga disebut la’ib (permainan), seperti anak-anak yang bermain benteng pasir di pantai atau jual-jualan dengan daun; setelah selesai, semuanya ditinggalkan tanpa dibawa pulang. Kekuasaan, jabatan, dan harta benda hanyalah perhiasan sementara yang akan ditinggal mati.
Kisah Qarun menjadi pelajaran nyata. Meskipun kekayaannya sangat luar biasa hingga kunci gudang hartanya harus dipikul oleh banyak orang kuat, namun karena kesombongan dan kecintaannya pada dunia, Allah menenggelamkannya ke dalam bumi. Orang yang tidak berilmu memandang Qarun sebagai orang sukses, namun orang yang berilmu mengetahui bahwa pahala Allah jauh lebih baik.
Pilihan Istri-Istri Nabi: Dunia atau Allah & Rasul-Nya
Setelah perang Khaibar pada tahun 7 Hijriah, kondisi ekonomi kaum muslimin membaik. Istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sempat menginginkan kemewahan dunia, yang kemudian membuat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersumpah untuk menjauhi mereka selama satu bulan demi memberikan pendidikan. Allah kemudian menurunkan ayat pilihan:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ إِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا وَإِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا
“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, ‘Jika kamu menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka kemarilah agar kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu menginginkan Allah dan Rasul-Nya serta negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan pahala yang besar bagi orang-orang yang berbuat baik di antara kamu’.” (QS. Al-Ahzab: 28-29).
Istri-istri Nabi akhirnya memilih Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat. Hal ini mengajarkan bahwa kenikmatan surga jauh lebih unggul, di mana segala keinginan jiwa akan terpenuhi, termasuk kuda bersayap dari permata merah bagi mereka yang mencintai kuda.
Dampak Salah Mencintai di Akhir Zaman
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan bahwa menjelang kiamat, manusia akan semakin rakus terhadap dunia dan semakin jauh dari Allah. Beliau bersabda:
“Barangsiapa yang dunia menjadi ambisinya, maka Allah akan menjadikan kefakiran di depan matanya, mencerai-beraikan urusannya, dan dunia tidak akan mendatanginya kecuali apa yang telah ditetapkan baginya. Dan barangsiapa yang akhirat menjadi ambisinya, maka Allah akan menjadikan kekayaan di dalam hatinya, memudahkan urusannya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan tunduk.” [3]
Kekayaan yang sejati bukanlah banyaknya harta, melainkan kekayaan jiwa (ghinan nafs). Orang yang ambisinya dunia akan selalu merasa cemas, takut bangkrut, dan hidupnya ruwet meskipun hartanya melimpah. Sebaliknya, orang yang ambisinya akhirat akan merasa cukup, tenang, dan urusannya disederhanakan oleh Allah.
Fenomena Al-Wahan (cinta dunia dan takut mati) juga menjadi penyebab lemahnya umat Islam. Meskipun jumlah umat Islam besar (seperti buih di lautan), namun rasa gentar musuh telah dicabut karena penyakit ini. Umat menjadi sasaran empuk bangsa lain karena kehilangan bobot iman akibat kecintaan pada dunia.
Kategori Kecintaan pada Harta
Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hanbali membagi kecintaan pada dunia menjadi dua bentuk:
- Cinta yang mubah namun tercela: Mencari harta dari jalan halal secara bersungguh-sungguh hingga menguras energi, namun tidak melanggar kewajiban agama. Hal ini diperbolehkan, namun berisiko melalaikan dan akan memperberat hisab di akhirat. Orang miskin akan masuk surga 500 tahun lebih dahulu daripada orang kaya karena ringannya hisab mereka.
- Cinta yang haram: Mencari dunia tanpa mempedulikan halal dan haram, serta bertujuan untuk berbangga-banggaan (flexing), kesombongan, dan pamer kekayaan.
Sebagai penutup, dunia diibaratkan seperti bejana berisi madu. Lalat yang hanya mencicipi di pinggiran akan bisa terbang kembali, namun lalat yang terjun ke tengah karena ketamakan akan tenggelam dan mati di dalamnya. Maka, ambillah dunia secukupnya sebagai bekal menuju Allah, dan jangan biarkan ia menguasai hati.
Sumber: [1] Ibnul Qayyim Al-Jauziyah dalam Al-Wabilus Sayyib. [2] Hadis Riwayat Ahmad dan Al-Hakim, disahihkan oleh Al-Hakim dan disetujui oleh Adz-Dzahabi. [3] Hadis Riwayat Ibnu Majah, No. 4105. [4] Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim terkait ghinan nafs. [5] Hadis Riwayat Abu Daud dan Ahmad terkait penyakit Al-Wahan.
REFERENSI:
Diringkas oleh: Asandri, S.Pd (pegawai ponpes Darul-Qur’an Wal-Hadits OKU Timur)
Meringkas intisari kajian:
Jangan Salah Mencintai | Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah M.A
