Skip to content

Beberapa Kesalahan Yang Wajib Dijauhi Penuntut Ilmu

Khoirul Anam
4 menit baca
Beberapa Kesalahan Yang Wajib Dijauhi Penuntut Ilmu

Beberapa Kesalahan Yang Wajib Dijauhi Penuntut Ilmu

Seorang penuntut ilmu harus senantiasa mengintrospeksi diri dan berusaha untuk menghilangkan kesalahan-kesalahan dari dalam dirinya. Di antaranya:

Pertama:

• HASAD (DENGKI/IRI)

Artinya membenci datangnya nikmat Allah kepada orang lain. Jadi, hasad tidak mesti mengharapkan hilangnya nikmat Allah dari orang lain. Bahkan, ia adalah semata-mata ketidaksenangan seseorang terhadap nikmat yang Allah berikan kepada selainnya. Maka ini adalah hasad, baik ia mengharapkan hilangnya nikmat itu atau tetap ada, tetapi ia membenci hal itu.

Pengertian ini sebagaimana yang ditetapkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمة الله beliau berkata,”Hasad adalah kebencian seseorang terhadap nikmat yang Allah berikan kepada orang lain.”

Ini merupakan salah satu bahaya yang menimpa seorang penuntut ilmu, yang dapat menghilangkan keberkahan ilmu. Apabila hal ini menimpa seorang penuntut ilmu, maka akan rusak akhiratnya. Semakin dalam ia tenggelam, semakin besar pula bahaya yang akan menimpanya. Dengki akan mengurangi pahala seseorang dalam mencari ilmu, memperlemah hafalannya, dan mengurangi konsentrasinya dalam menghadiri dan memahami ilmu.

Seorang Muslim dan Muslimah tidak boleh dengki karena dengki adalah sifat tercela, sifat orang-orang Yahudi, dan dapat merusak amal. Allah Ta’ala melarang seseorang mengharapkan segala apa yang Allah Ta’ala lebihkan dan utamakan atas sebagian manusia dari sebagian yang lain.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَيْنَ وَسْتَلُوا اللَّهَ مِن فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

Artinya: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nisa’: 32)

Sifat hasad ini memiliki beberapa sebab, namun ada obatnya. Ketahuilah bahwa jika hal ini tumbuh dalam diri Anda, maka janganlah meremehkan dan melalaikannya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمة الله berkata, “Karena nya dikatakan: tidak ada jiwa yang terbebas dari hasad. Namun orang yang tercela menampakkannya, sedangkan orang yang mulia menyembunyikannya.”

Kedua:

• BERFATWA TANPA ILMU

Fatwa adalah kedudukan yang agung, pelakunya mencurahkan pikiran untuk menjelaskan apa yang samar bagi umat tentang urusan agama mereka dan membimbing mereka ke jalan yang lurus. Oleh karena itu, kedudukan ini tidak bisa disandang, kecuali oleh ahlinya.

Sesungguhnya di antara kejahatan yang terbesar adalah seseorang mengatakan tentang sesuatu bahwa ini halal padahal dia tidak mengetahui hukum Allah tentang hal itu. Atau berkata tentang sesuatu bahwa ini haram padahal dia tidak mengetahui hukum Allah tentang hal itu.

Allah تبارك الله وتعالى berfirman:

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلَالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ

Artinya: “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidah secara dusta ini halal dan ini haram untuk mengadakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Nama Allah tidak akan beruntung.” (QS. An-Nahl: 116)

Rasulullah صلى الله عَلَيه وسلم bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا إِتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوسًا جُهَالًا ، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

Artinya: “Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mencabut ilmu dari para hamba sekaligus, akan tetapi Dia mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Sehingga, apabila tidak menyisakan lagi seorang yang alim, manusia akan mengangkat para pemimpin yang bodoh, mereka ditanya lalu berfatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan orang lain.” (Muttafaqun Alaih)

Ketiga:

•KIBR (SOMBONG)

Seorang thalibul ilmi (penuntut ilmu) harus tunduk kepada kebenaran, harus taslim (menerima), tidak boleh sekali-kali menolak kebenaran dengan ra’yunya, hawa nafsunya, atau lainnya. Apabila disampaikan ayat Al-Qur’an dan As-Sunnah, ia berkewajiban untuk menerima kebenarannya. Orang yang sombong tidak masuk Surga.

Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ.

Artinya: “Tidak masuk Surga orang yang di dalam hatinya ada kibr (sombong) seberat dzarrah.” (Muttafaqun Alaih)

Nabi صلى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم telah menafsirkan makna dari al-kibr (sombong) dengan penafsiran yang amat jelas dan luas. Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ.

Artinya: “Kibr (sombong) adalah menolak kebenaran dan merendahkan (meremehkan) manusia.” (Muttafaqun Alaih)

Termasuk sombong adalah engkau membantah orang yang mengajarimu, baik dengan memperpanjang pembicaraan maupun dengan adab yang jelek terhadapnya. Juga termasuk sombong menganggap rendah orang yang belajar kepadamu dari kalangan orang-orang yang lebih rendah darimu. Hal ini banyak menimpa para penuntut ilmu.

Keempat:

• FANATIK KEPADA MAZHAB DAN PENDAPAT

Penuntut ilmu wajib menghindari sikap berkelompok dan bergolong-golongan di mana ia mengikat loyalitas (kecintaan) kepada kelompok tertentu atau golongan tertentu. Tidak diragukan lagi bahwa hal ini menyimpang dari manhaj Salaf. Salafush Shalih tidak bergolong-golongan, tetapi mereka satu golongan.

Mereka termasuk dalam firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :

هُوَ سَمَّنكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِن قَبْلُ

Artinya:

“…Dia (Allah) telah menamakan kamu orang-orang muslim sejak dahulu…” (QS. Al-Hajj: 78)

Dan sangat disayangkan banyak kaum Muslimin bahkan dari kalangan penuntut ilmu dan ulamanya mereka fanatik dan taklid kepada madzhab tertentu meskipun pendapatnya itu bertentangan dengan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih, baik kepada Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali, maupun yang lainnya. Padahal para Imam Madzhab tersebut melarang kaum Muslimin taklid kepada mereka, dan mereka sepakat untuk mengatakan bahwa apabila ada hadits yang shahih, maka itulah madzhab (pendapat) mereka.

REFERENSI:

Diringkas dari buku Adab & Akhlak Penuntut Ilmu, Karya Yazid Abdul Qadiir Jawas

Diringkas Oleh Gebi Piorela, (Pengajar Yayasan Mutiara Rumah Yatim, Dhu’afa dan Rumah Qur’an Al Barkah).

Baca juga artikel:

Problem Solving Remaja Muslim

Keutamaan Puasa

Bagikan:

Artikel Terkait

Kapan Mulai Mengenalkan Ibadah Kepada Anak?
Adab 10/03/2026

Kapan Mulai Mengenalkan Ibadah Kepada Anak?

Kapan mulai mengenalkan ibadah kepada anak? Hal ini sangat penting diketahui oleh orang tua, karena orang tua yang diamanahi untuk menjaga fitrah anak, jangan sampai fitrahnya berubah menjadi Yahudi, Nasrani, Majusi atau ateis karena kelalaian orang tua yang tidak mau menjaga kesucian hati buah hatinya. Ketahuilah bahwa Allah 3% menciptakan manusia agar beribadah hanya kepada […]

Indahnya Saling Memaafkan dalam Cahaya Syariat
Adab 28/02/2026

Indahnya Saling Memaafkan dalam Cahaya Syariat

Indahnya Saling Memaafkan dalam Cahaya Syariat Pendahuluan Memaafkan merupakan salah satu akhlak agung dalam Islam. Allah mendidik kaum Muslimin agar menjadikan pemaaf sebagai karakter utama, karena sifat ini mencerminkan kelembutan hati, ketakwaan, dan kesempurnaan iman. Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak terlepas dari kesalahan, perselisihan, dan kekhilafan. Di sinilah syariat mengajarkan bahwa memaafkan adalah jalan terbaik […]

LAZ Kunci Kebaikan

Dana yang disalurkan melalui LAZ Kunci Kebaikan hanya bersumber dari dana halal, tidak bertujuan untuk pencucian uang, terorisme, maupun tindakan kejahatan lainnya.

Legalitas LAZ

Izin Kanwil nomor:
...........................

QRIS Zakat

ZAKAT YKK

Rek. BSI

8643916700

a.n. Zakat YKK

Wajib Konfirmasi ke:

Bpk. Heri Setiawan, S.Pd.
(0822-6666-0856)

Tanpa konfirmasi, dianggap sedekah biasa.

QRIS Zakat

PEDULI SESAMA YKK

Rek. BSI

4557498470

a.n. Peduli Sesama YKK

(Tanpa konfirmasi digunakan untuk program-program LAZ)

Donasi khusus tidak akan dipotong jasa penyaluran.

Sekretariat:

Kompleks Ponpes Darul-Qur'an Wal-Hadits, Jl Tuanku Imam Bonjol, Bunga Mayang, Peracak, OKU Timur, Sumsel (32315)

Klik: Google Map