Indahnya Saling Memaafkan dalam Cahaya Syariat
Indahnya Saling Memaafkan dalam Cahaya Syariat
Pendahuluan
Memaafkan merupakan salah satu akhlak agung dalam Islam. Allah mendidik kaum Muslimin agar menjadikan pemaaf sebagai karakter utama, karena sifat ini mencerminkan kelembutan hati, ketakwaan, dan kesempurnaan iman. Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak terlepas dari kesalahan, perselisihan, dan kekhilafan. Di sinilah syariat mengajarkan bahwa memaafkan adalah jalan terbaik untuk meraih ketenangan jiwa dan ridha Allah. Hendaknya manusia semua tahu, bahwa ajaran islam akan tetap tegak dan menang dihadapan dengan ajaran yang lainnya. Akhlak akan tetap bisa dipraktekkan oleh umat islam dari zaman ke zaman, bahkan diharapkan untuk bisa dijadikan sebagai contoh terhadap agama laiinya supaya mereka tertarik terhadap agama islam dan akhirnya masuk kedalam agama islam, diantara akhlak mulia ummat islam adalah saling memaafkan.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ، وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
Artinya: “Dan Allah menang atas urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Yûsuf [12]: 21)
Landasan Al-Qur’an tentang Memaafkan
- Perintah untuk Memaafkan
Allah Ta’ala berfirman: “Maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS. Al-Māidah 5: 13)
Ayat ini turun sebagai bimbingan akhlak: sekalipun seseorang disakiti, ampunan dan kelembutan tetap menjadi sikap terbaik.
- Keutamaan Memaafkan
Allah Ta’ala berfirman: “Dan barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya di sisi Allah.” (QS. Asy-Syūrā 42: 40)
Allah menegaskan bahwa pahala memaafkan bukan hanya kebaikan di dunia, tetapi balasan istimewa di sisi-Nya.
- Memaafkan sebagai Tanda Ketakwaan
Dalam ayat lain Allah memuji orang bertakwa: “…dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Āli ‘Imrān 3: 134)
Ayat ini menyebutkan dua tingkatan akhlak:
- Menahan amarah,
- Memaafkan.
Tidak hanya tidak membalas, tetapi juga melapangkan dada.
Hadits Shahih tentang Keutamaan Memaafkan
- Memaafkan Membawa Kemuliaan
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Sedekah tidak mengurangi harta, tidaklah seseorang memaafkan kecuali Allah menambah kemuliaannya…” (HR. Muslim no. 2588)
Hadits ini menunjukkan bahwa memaafkan tidak membuat kita “rugi”, justru Allah meninggikan derajat.
- Menghubungkan Silaturahmi Meski Disakiti
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Bukanlah orang yang menjaga silaturahmi itu yang hanya membalas kunjungan, tetapi yang menyambung silaturahmi adalah yang tetap menjalin hubungan meski hubungan itu diputuskan.” (HR. Bukhari no. 5991)
Salah satu bentuk menyambung adalah memaafkan kesalahan keluarga.
- Menahan Amarah dan Memaafkan Adalah Keutamaan Besar
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Siapa yang menahan amarah padahal ia mampu untuk meluapkannya, maka Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan seluruh makhluk, lalu Allah persilakan ia memilih bidadari mana yang ia inginkan.” (HR. Abu Dawud no. 4777, Tirmidzi no. 2021, dinyatakan hasan oleh Al-Albani)
Menahan amarah adalah pintu menuju sifat pemaaf.
Mengapa Kita Harus Memaafkan?
- Karena Kita Pun Penuh Kekhilafan
Tidak ada manusia yang sempurna. Maka jika kita ingin diampuni, kita pun harus mudah memaafkan.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman: “…hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kalian tidak ingin Allah mengampuni kalian?” (QS. An-Nūr 24: 22)
- Memaafkan Membawa Kedamaian Batin
Dendam memakan hati, sementara memaafkan melegakan jiwa. Sikap ini menghapus sakit hati, fikiran buruk, dan kegelisahan.
- Memaafkan Membuka Pintu Rezeki dan Silaturahmi
Orang yang lapang dada dalam memaafkan lebih mudah menjaga hubungan baik, dan hubungan baik adalah sebab datangnya pertolongan Allah.
Teladan Nabi dalam Memaafkan
Rasulullah adalah manusia paling pemaaf.
Dalam peristiwa Fathu Makkah, ketika beliau memiliki kekuasaan penuh untuk membalas kezaliman Quraisy, beliau justru berkata:
“Pergilah kalian, kalian bebas.” (HR. Al-Baihaqi, Dala’ilun Nubuwwah, 5/93 sanad hasan)
Ini adalah puncak pemaafan yang tidak tertandingi dalam sejarah.
Cara Melatih Hati Agar Mudah Memaafkan
- Ingat bahwa Allah Maha Pengampun jika Allah saja memaafkan hamba-Nya, bagaimana mungkin kita enggan memaafkan sesama?
- Fokus pada pahala, bukan luka memaafkan bukan berarti melupakan, tapi memilih pahala daripada dendam.
- Berdoa agar dilapangkan dada Nabi sering berdoa memohon kelembutan hati.
- Biasakan husnuzan (berbaik sangka) banyak kesalahpahaman terjadi karena prasangka.
- Belajar menahan amarah karena menahan amarah adalah kunci menuju sifat pemaaf.
Kesimpulan:
Memaafkan bukan kelemahan; memaafkan justru adalah tanda kekuatan iman dan keluhuran akhlak. Syariat Islam menjadikan sifat pemaaf sebagai salah satu ciri orang bertakwa dan menjanjikan balasan besar bagi siapa pun yang mampu melakukannya. Dalam kehidupan, memaafkan membuka pintu ketenangan, mendamaikan hati, dan menjadi sebab diraihnya ampunan Allah.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang menahan amarah dan mudah memaafkan. Aamiin.
Daftar Referensi:
Al-Qur’an:
QS. Al-Māidah 5:13
QS. Asy-Syūrā 42:40
QS. Āli ‘Imrān 3:134
QS. An-Nūr 24:22
Hadits Shahih:
Muslim no. 2588
Bukhari no. 5991
Abu Dawud no. 4777
Tirmidzi no. 2021
Al-Baihaqi, Dala’ilun Nubuwwah (sanad hasan)
Disusun oleh: Retia Abillila (Guru Diniyyah SDI Abu Hurairah)
Tempat: Lahat, 21 Desember 2025
Baca juga artikel:
