Saat Menempuh Perjalanan Jauh Untuk Menuntut Ilmu
Saat Menempuh Perjalanan Jauh Untuk Menuntut Ilmu – Segala puji hanyalah milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada panutan kita, Nabi Muhammad, beserta keluarga dan para sahabat beliau, serta siapa saja yang berkomitmen mengikuti sunnah-sunnah beliau, sampai akhir zaman.
Perjalanan Nabi Musa Untuk Menuntut Ilmu
Imam Abu Abdillah al Bukhari menyebutkan dalam Shahihnya, kitab Al-‘Ilm,1:153,bab Ma Dzukira fi ahabi Musa fil Bahr ilal Khadhr ‘Alaihimas Salam, dan firman Allah:
هل اتبعك على ان تعلمن مما علمت رشدا (66)
Artinya: “…Dan bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu.” (QS. Al-Kahfi [18]: 66)
Kemudian, Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya kepada Ibnu Abbas, bahwa ia (Ibnu Abbas) berselisih pendapat dengan Hurr bin Qais al-Fizari tentang kawan Musa, siapakah dia? Ibnu Abbas berkata, ”Dia adalah Khadhir”.
Lalu Ubay bin Ka’ab melewati keduanya. Ibnu Abbas memanggilnya dan berkata, “Aku berselisih pendapat dengan sahabatku ini tentang kawan Musa, dimana Musa bertanya tentang jalan menemuinya. Apakah kamu pernah mendengar Nabi menyinggung tentang perkara ini?” Ubay menjawab, “Ya, aku mendengar Rasulullah bersabda ,’Ketika Nabi Musa berada di tengah-tengah Bani Israil, ia didatangi oleh seorang laki-laki. Laki-laki itu bertanya, ‘Apakah kamu mengetahui orang yang lebih berilmu daripada dirimu ?’ Musa menjawab, “Tidak ada’ Maka, Allah mewahyukan kepada Musa, ‘Ada.Dia adalah hamba kami Khadhir.’ Lalu, Musa bertanya tentang jalan menemuinya, dan Allah menjadikan ikan sebagai tanda. Dikatakan kepada Musa, ’Jika kamu kehilangan ikan ini, maka kembalilah, karena kamu akan menemuinya.’
Musa menelusuri jejak ikan itu di laut, maka muridnya ِberkata kepadanya:
قَالَ اَرَاَيْتَ اِذْ اَوَيْنَآ اِلَى الصَّخْرَةِ فَاِنِّيْ نَسِيْتُ الْحُوْتَۖ وَمَآ اَنْسٰنِيْهُ اِلَّا الشَّيْطٰنُ اَنْ اَذْكُرَهۚ وَاتَّخَذَ سَبِيْلَه فِى الْبَحْرِ عَجَبًا(63) قَالَ ذٰلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِۖ فَارْتَدَّا عَلٰٓى اٰثَارِهِمَا قَصَصا(64)
Artinya: ‘Muridnya berkata, ”Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa menceritakan tentang ikan itu. Dan tidak ada yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali setan. Dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.’ Musa berkata, ‘Itulah (tempat) yang kita cari. ‘Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula.’ (QS. Al-Kahfi [18]: 63-64)
Maka, keduanya bertemu dengan Khadhir. Kisah dua orang ini selanjutnya seperti yang Allah ceritakan di dalam kitab-Nya.
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari, 1: 153,menjelaskan hadits ini, “Bab ini dicantumkan untuk memberi dorongan dalam memikul kesulitan dalam menuntut ilmu. Karena, kesulitan memang harus dipikul demi menggapai sesuatu yang membanggakan. Kedudukan tinggi yang telah diraih Musa menghalanginya untuk menuntut ilmu, serta melakukan perjalanan darat dan laut demi ilmu. Di dalam hadits ini terdapat dorongan menyeberangi lautan untuk menuntut ilmu, bahkan untuk memperbanyak ilmu dan keharusan bertawadhuk dalam segala kondisi.”
Al-Hafizh Khatib Al-Baghdadi berkata didalam Ar-Rihlah fi Thalabil Hadits,hal.53,setelah menuturkan hadits ini,”Sebagian ahli ilmu berkata, `ketekunan dan perjalanan yang dilakukan Musa, serta kesabarannya untuk mencari ilmu, ditambah dengan sikap tawadhuk dan kerendahan hatinya kepada Khadhir, juga kesulitan Musa untuk menemuinya, padahal Musa sendiri memiliki kedudukan mulia dan derajat yang tinggi di sisi Allah, dan dia juga seorang nabi yang mulia, semua ini menunjukkan ketinggian dan derajat ilmu dan keluhuran kedudukan pemiliknya, seta keharusan bertawadhuk kepada pemilik ilmu, dimana ilmu dicari dan diambil darinya.`
Seandainya ada orang yang menolak bersikap tawadhuk kepada makhluk dengan alasan derajatnya lebih tinggi dan kedudukannya lebih mulia, maka niscaya yang paling berhak atas hal itu adalah Nabi Musa. Keseriusan, kesungguhan dan kesanggupan meninggalkan negeri untuk bertemu dengan orang yang diharapkan bisa diambil ilmunya, disertai dengan pengakuan kebutuhannya terhadap ilmu yang ingin ia raih yang sebelumnya tidak ia ketahui, maka hal ini menunjukkan bahwa tidak ada manusia yang lebih tinggi dan lebih besar dari kedudukan sebagai ahli ilmu. “Demikian kutipan ini, dengan pelurusan sebisa mungkin.
Perjalanan Abu Dzar Al-Ghifari Merengkuh Hidayah
Dari Ibnu Abbas, bahwa ia berkata, “Ketika Abu Dzar mendengar diutusnya Nabi di Mekkah, dia berkata kepada Unais, saudaranya, `Pergilah ke lembah ini. Carilah informasi untukku tentang laki-laki ini, yang mengaku menerima berita dari langit. Dengarkan kata katanya, dan kemudian pulanglah kepadaku.`
Maka Unais pun segera berangkat. Setelah tiba di Mekkah, ia mendengarkan ceramah Nabi Muhammad. Kemudian dia pulang kepada Abu Dzar. Unais berkata, `Aku melihatnya mengajak kepada keluhuran akhlak, dan aku mendengarnya mengucapkan kata-kata yang bukan syair.` Abu Dzar berkata, ‘Kamu tidak memuaskan keinginanku.`
Abu Dzar menyiapkan perbekalan. Dia membawa kantong usang yang berisi air, sampai akhirnya ia tiba di Mekkah. Ia datang ke masjid. Ia mencari-cari Nabi, namun ia tidak mengetahuinya. Ia tidak ingin bertanya tentang Nabi kepada seorang pun, sampai akhirnya datang waktu malam. Abu Dzar berbaring, dan Ali bin Abi Thalib melihatnya. Ali tahu bahwa ia adalah orang asing. Lalu Ali mengajaknya ke rumah, dan Abu Dzar mengiyakan ajakannya. Malam itu keduanya tidak saling bertanya, sampai pagi tiba.
Kemudian Abu dzar membawa bekal dan kantong airnya menuju masjid. Satu hari berlalu, tanpa melihat Nabi sampai sore. Abu Dzar berbaring, dan Ali kembali melihatnya. Ali berkata, ‘Laki-laki ini belum pulang juga.` Maka, Ali membangunkannya dan mengajaknya ke rumahnya. Keduanya tetap tidak saling bertanya tentang adapun. Hal seperti ini terjadi lagi pada hari ketiga. Akhirnya ,Ali bertanya kepadanya, `Bersediakah Anda berbicara kepadaku, apa yang membuatmu datang kesini?` Abu Dzar menjawab, ‘Jika kamu berjanji dan bersumpah bersedia menunjukkanku, maka aku akan berbicara kepadanya. Ali pun berjanji, dan Abu Dzar segera bercerita kepadanya. Ali berkata, ‘Dia adalah haq, dia adalah Rasulullah. Besok ikutlah aku. Jika aku melihat sesuatu yang aku khawatirkan atasmu, maka aku akan berdiri seolah olah sedang menuang air. Jika aku berjalan, maka ikutilah aku sampai Anda masuk kemana aku masuk. ‘Abu Dzar menyanggupinya. Ia mengikuti Ali sampai datang kepada Nabi, dan ia menemui beliau bersamanya. Abu Dzar mendengarkan sabda Nabi, dan ia pun masuk islam.” (Al-Hadits)
Imam Abdullah bin Farrukh Pergi ke Kufah Untuk Mendengarkan Ilmu
Tercantum dalam Tartibul Madarik karya Al-Qadhi Iyadh tentang biografi Imam Abdullah bin Farrukh Al-Farisi Al-Qairawani (wafat di Mesir tahun 175 H),salah seorang murid Malik, Abu Hanifah,Ats-Tsauri dan lain-lain,ia berkata,” Ketika aku tiba di Kufah, harapan terbesarku adalah mendengarkan ilmu dari Al-A’masy.Aku bertanya tentang dirinya,maka aku mendapatkan jawaban,’Dia sedang marah kepada para ahli hadits,maka ia bersumpah tidak akan berbicara kepada mereka beberapa waktu.’
Aku sendiri telah mendatangi pintu rumahnya berkali kali,dengan harapan bisa bertemu dengannya.Suatu hari,pintu rumahnya dibuka oleh seorang pelayan wanita,dan ia keluar darinya.Dia bertanya,`Ada apa denganmu,mengapa kamu berada di depan pintu kami?`Aku pun menyampaikan ceritaku kepadanya.Dia bertanya,`Dari mana anda berasal?` Aku menjawab,`Afrika.` Maka dia tidak mencurigaiku.Dia bertanya,` anda tahu Qairawan?.` Aku menjawab,` Aku dari sana.` Dia bertanya,` Anda tahu rumah Ibnu Farrukh?.` Aku menjawab.`Akulah orangnya.` Dia mengamatiku,` Abdullah?` Aku menjawab,` Ya.` Ternyata dia adalah hamba sahaya kami,yang dulu kami jual saat masih kecil.Maka,dia pun segera masuk dan berkata kepada Al-A’masy,` Tuanku,orang yang dulu aku ceritakan kepadamu telah berada di depan pintu.` Al-A`Masy pun meminta agar aku diizinkan tinggal di sebuah rumah di depan rumahnya.Aku pun mendengar ilmu darinya,dan dia menyampaikan ilmu kepadaku.”
Perjalanan Ilmiah Fadhl Asy-Sya’rani dan Al-Hafizh Al-Arghiyani
Tercantum dalam Tadzkiratul Huffazh,II :627,karya Al-Hafizh Dzahabi tentang biografi Fadhl Asy-Sya`rani,”Seorang hafizh,imam pengambara,Fadhl Muhammad bin Al-Musayyib al-Baihaqi Asy-Sya’rani,wafat tahun 282 H.Ibnu Al-Muammal berkata,”Tidak ada negeri yang belum diinjak olh Fadhl Asy-Sya’rani dalam mencari hadits,kecuali Andalusia’.”
Tercantum dalam Tadzkiratul Huffazh,II : 789,tentang biografi Al-Hafizh Al-Arghiyani,”Dia adalah seorang hafizh,pakar,pengembara,seorang ahli zuhud dan teladan,Muhammad bin Al-Musayyib bin Ishaq Al-Arghiyani.wafat tahun 213 H.Imam Al-Hakim Abu Abdillah mengatakan,` Dia termasuk ahli ibadah yang bersungguh-sungguh.Aku mendengar dari banyak guru kami,bahwa ia berkata,` Aku tidak mengetahui satu mimbar dari mimbar-mimbar Islam yang belum saya masuki untuk mendengar hadits,.”
REFERENSI:
Diambil dari kitab: Kisah-Kisah Kesabaran Para Ulama, Syaikh Abdul Fattah, Cetakan kedua 1394/1974 M
Pengulas: Zakia Addien, pengabdian DQH
BACA JUGA :
