Mendidik Anak Tanpa Amarah (Bagian 3)
Bismillah, alhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du. Berikut merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya yang bisa dibaca melalui tautan berikut: Mendidik Anak Tanpa Amarah (Bagian 2).
Mengetahui Buah Keikhlasan dan Bahaya Niat yang Melenceng
Yaitu dengan terus mempelajari dan memperhatikan bagaimana esensi, kedudukan serta keutamaan ikhlas dalam mendidik dan mengasuh anak. Sebaliknya kita juga mengetahui tentang bahaya besar dari niat yang melenceng. Kita harus menyadari kelemahan jiwa kita. Kita kerap kali diliputi kejahilan dan kelalaian. Karena itu kita membutuhkan ilmu dan nasehat. Sesungguhnya nasehat itu akan bermanfaat bagi yang beriman.
Allah Ta’ala berfirman:
وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَىٰ تَنفَعُ الْمُؤْمِنِينَ ﴿٥٥﴾
Artinya: “Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman”. (QS. Adz-Dzaariyat: 55)
Takut Terhadap Murka Allah subhanahu wata’ala
Al-Hasan al-Bashri Rahimahullah mengatakan, “Tidak ada yang takut kepada Allah kecuali seorang mukmin. Dan tidak ada yang merasa aman dari-Nya kecuali seorang munafik.”
Hendaknya kita menyadari bahwa mengejar pujian Allah jauh lebih utama daripada mengejar pujian manusia. Sebagaimana lari dari menghindar dari celaan Allah jauh lebih utama daripada lari dan menghindar dari celaan manusia. Sebab pujian dan celaan manusia itu hanya bersifat sementara dan belum tentu benar. Sedangkan orang yang dicela Allah pasti ia tercela. Sebaliknya siapa yang mendapat pujian dan keridhaan Allah sungguh ia telah meraih kemuliaan dan keutamaan.
Seorang mukmin akan berusaha mempersembahkan amal terbaiknya, sementara hatinya dipenuhi rasa takut dan kekhawatiran amalnya itu tidak diterima oleh Allah subhanahu wata’ala. Sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya:
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ ﴿٦٠﴾
Artinya: “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka”. (QS. Al-Mukminun: 60)
Mengenal Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah
Di antara hal yang akan membantu kita meraih keikhlasan adalah menyadari bahwa Allah subhanahu wata’ala memiliki kekuasaan yang mutlak dan pujian yang sempurna. Dialah Rabb yang berkuasa atas segala sesuatu. Hati seluruh makhluk bermuara kepada-Nya. Hal gaib adalah perkara nyata bagi-Nya dan rahasia adalah hal yang sangat jelas bagi-Nya. Dia mengetahui apa yang telah terjadi, apa yang sedang terjadi dan apa yang akan terjadi. Dan dia Maha Mengetahui segala yang disembunyikan dan dirahasiakan. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
وَأَسِرُّوا قَوْلَكُمْ أَوِ اجْهَرُوا بِهِ ۖ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ ﴿١٣﴾
Artinya: “Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati”. (QS. Al-Mulk: 13)
Hendaknya kita juga mengetahui keagungan kerajaan Allah subhanahu wata’ala. Dialah yang menguasai dan mengatur kerajaan-Nya. Dialah yang berhak memerintah dan melarang. Dia pula yang berhak memuliakan siapa yang dikehendaki-Nya dan menghinakan siapa yang dikehendaki-Nya.
لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ ﴿٢٣﴾
Artinya: “Dia tidak ditanya apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai. (QS. Al-Anbiyaa’: 23)
Mengingat Sifat Dunia yang Fana
Apabila seseorang memahami kerendahan dan kehinaan dunia niscaya akan lebih mudah baginya untuk mengikhlaskan setiap ucapan dan perbuatannya untuk meraih keridhaan Allah dan negeri akhirat. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ ﴿٢٠﴾
Artinya: “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS. Al-Hadiid: 20)
Pada suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati pasar, sedangkan para sahabat ada di samping kanan dan kiri beliau. Mereka melewati bangkai kambing yang telinganya sangat kecil (cacat). Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menarik telinga bangkai itu seraya bertanya, “Adakah di antara kalian yang menginginkan bangkai ini seharga satu dirham?” Mereka menjawab, “Kami tidak berminat membelinya. Apa yang bisa kami perbuat dengannya?” kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Apakah kalian ingin memilikinya secara gratis?” mereka menjawab, “Sungguh bila masih hidup sekalipun, hewan ini cacat karena telinganya terlalu kecil. Apalagi ia telah mati seperti sekarang.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh, demi Allah! Dunia ini lebih rendah dalam pandangan Allah daripada bangkai ini dalam pandangan kalian.”[1]
Berkawan dengan Orang yang Ikhlas
Dekatilah orang-orang yang ikhlas dan jadikan mereka sebagai sahabat. sebab ini akan berpengaruh besar terhadap hati. ketika kita menyaksikan ketulusan dan keikhlasan mereka, kelembutan dan ketakwaan mereka Maka Ambillah Serumpun Perangai terpuji mereka. selama mereka dan hiduplah bersamanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wali-wali Allah adalah orang-orang yang bila mereka dilihat akan mengingatkan kepada Allah.”[2]
Ja’far bin Sulaiman mengatakan, “jika aku menemukan kekerasan di dalam hatiku, aku akan segera pergi dan melihat ke wajah Muhammad bin Wasi. wajahnya menceritakan seakan-akan dia baru kehilangan anaknya.”[3]
Meresapi kondisi manusia pada hari kiamat
Cobalah untuk menghadirkan kondisi ketika manusia dikumpulkan dan dibangkitkan pada hari kiamat, dalam keadaan tanpa berpakaian sehelai pun, tidak beralas kaki, tidak berkhitan dan tanpa membawa harta sedikit pun. Mereka dikumpulkan sebagaimana keadaan mereka ketika dilahirkan ke dunia, tanpa dikurangi atau ditambah.
Manusia akan berdiri di padang mahsyar bertahun-tahun lamanya sedangkan matahari tepat berada di atas kepala mereka. Perlu mereka terus mengalir, sesuai dengan keburukan dan dosa yang telah mereka kerjakan di dunia. Ada yang mengeluarkan peluh setinggi 2 mata kaki, ada yang menyentuh lutut, setinggi paha, dada dan bahkan ada di antara mereka yang tenggelam oleh peluhnya sendiri.
Bagaimana pula Ketika manusia menyaksikan neraka jahanam memiliki tujuh puluh ribu kekang dan tiap kekang ditarik oleh tujuh puluh ribu malaikat.
Setiap manusia akan ditanya seluruh tindakan dan ucapannya mereka akan menyeberangi ash-Shirath yang membentang di atas Jahanam, dan keadaan mengerikan lainnya yang telah dikabarkan kepada manusia.
Jika seorang muslim dapat berkonsentrasi untuk membayangkan situasi ini, niscaya ia tidak akan menyerahkan hatinya kepada seorang makhluk pun dan tidak menunggu pujian dari mereka. Ia hanya disibukkan untuk mempersembahkan amalnya kepada Allah subhanahu wata’ala, mengharap ridha dan rahmat-Nya.
Ingatlah… Anakmu Adalah Anugerah
Jangan suka marah.. ingatlah, anakmu adalah anugerah. Maka bagaimanapun keadaannya, pandanglah ia sebagai anugerah. Allah subhanahu wata’ala telah menyebut anak sebagai hibah atau hadiah. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
لِّلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۚ يَهَبُ لِمَن يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَن يَشَاءُ الذُّكُورَ ﴿٤٩﴾ أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا ۖ وَيَجْعَلُ مَن يَشَاءُ عَقِيمًا ۚ إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ ﴿٥٠﴾
Artinya: “Kepunyaan Allah lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha Kuasa. (QS. Asy-Syuuraa: 49-50)
Anak adalah hadiah yang tak ternilai harganya. Mereka adalah pembawa bahagia, pelipur lara dan penolong bagi kedua orang tuanya. Betapa beruntungnya, ketika Allah subhanahu wata’ala berkenan memberikan anugerah itu kepada kita. Lihatlah di luar sana, betapa banyak pasangan yang lelah berharap untuk memiliki momongan, namun Allah subhanahu wata’ala belum berkenan memberikan anak kepada mereka. Padahal semua yang disarankan orang sudah dilakukan, dan siang malam doa mereka panjatkan.
Di tempat lain, banyak pula orang tua yang harus kehilangan anak yang sangat dikasihinya, pergi untuk selamanya. Anak yang semula sempurna tiba-tiba menjadi cacat karena suatu bencana. Atau anak yang semula sehat tiba-tiba tergeletak karena penyakit kronis yang tak pernah diduga sebelumnya.
Anak adalah anugerah, apalagi anak-anak yang shalih. Sebab, sejauh apa pun kaki melangkah, umur kita akan berakhir juga. Kelak di suatu waktu yang kita tak pernah tahu kapan datangnya, Allah subhanahu wata’ala akan mengirim utusan-Nya untuk menemui kita dan mengantarkan ruh kita ke hadapan-Nya.
Saat itulah catatan amal ditutup. Segala kesempatan pupus dan semua amal kita terputus. Namun, kabar gembira bagi orang tua yang shalih, yang bersungguh-sungguh mengasuh dan mendidik anak hingga tumbuh menjadi hamba yang shalih. Orang tua yang telah mencurahkan segenap kemampuan untuk memberikan pengajaran terbaik bagi si buah hati. Yang telah menorehkan tinta ilmu dan iman dalam kalbu anaknya. Bergembiralah, karena kebaikan yang kita ajarkan kepada anak-anak kita dan doa anak shalih untuk kita, akan terus mengalir pahala sekalipun jasad kita telah lapuk dimakan tanah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, yang artinya: “Jika seorang insan meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendoakan kebaikan untuknya.”[4]
Bahwa permohonan ampunan mereka akan mengangkat derajat kita di sisi Allah subhanahu wata’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, yang artinya: “Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di dalam Surga. Maka ia berkata: ‘Wahai Rabb-ku, dari manakah aku mendapatkan ini?’ Allah menjawab, ‘Dari istighfar (permohonan ampunan) anakmu untukmu.’”[5]
Sambutlah kabar gembira, jikalau anak kita menjalani hidup penuh keshalihan, sungguh itu akan mengantar kita pada kemuliaan. Bagaimana tidak? Setiap kali mereka melakukan ibadah dan amal shalih, selalu ada pahala kebaikan tercatat untuk kita. Bukankah kita yang mengajarkan kebaikan pada mereka? Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, yang artinya: “Barangsiapa menunjukkan sebuah kebaikan maka baginya pahala seperti pahala orang yang melakukan kebaikan tersebut.”[6]
Allah subhanahu wata’ala berfirman:
جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَن صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ ۖ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِم مِّن كُلِّ بَابٍ ﴿٢٣﴾
Artinya: “(yaitu) syurga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu.” (QS. Ar-Ra’du: 23)
Lihatlah! Allah subhanahu wata’ala sudah menciptakan surga ‘Adn untuk orang tua dan anak-anaknya yang shalih. Sudah Dia ciptakan pula malaikat-malaikat yang akan masuk dari segala pintu untuk melayani segala keinginan mereka. Sudah Dia ciptakan semua itu untuk orang-orang yang mendapat keberuntungan besar.
Bersambung ke bagian berikutnya, insyaallah.
Referensi:
diringkas dari buku: Mendidik Anak Tanpa Amarah
Penulis: Ummu Ihsan Choiriyah & Abu Ihsan al Atsary
Penerbit: Pustaka Al Khoir
Diringkas Oleh: Abu Muhammad Fauzan (Staf Ponpes Darul-Qur’an Wal-Hadits OKU Timur)
[1] Hadits riwayat Muslim (7607) dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu.
[2] Hadits riwayat ath-Thabraani dalam Mu’jamul Kabiir (12325) dan dihasankan oleh al-Albaani dalam Shaihul Jaami’ (2557) dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu.
[3] Siyar A’lamin-Nubala (VI/120).
[4] Hadits riwayat Muslim (4310).
[5] Hadits riwayat Ahmad (10890). Disebutkan dalam az-Zawaaid: “Sanadnya shahih dan perawi-perawinya tsiqat.” Dan dihasankan oleh al-Albani dalam Silsilah Ahadits Shahihah (1598).
[6] Hadits riwayat Muslim (5007).
BACA JUGA :
