PERINTAH MEMELIHARA SUNNAH DAN ETIKANYA

Sudah sepatutnya kita berpegang teguh kepada apa yang diriwayatkan secara shahih dari Rasulullah shalallahu`alaihi wasallam, baik berupa ucapan, perbuatan, maupun ketetapan. Rasulullah merupakan suri teladan bagi siapa saja yang beriman kepada allah dan hari akhir serta banyak mengingat-Nya. Setiap jalan adalah buntu kecuali telah dibuka oleh Rasulullah shalallahu`alaihi wasallam atas perintah Allah ta`ala. Allah ta`ala berfirman :

وما أتاكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه فانتهوا واتقوا الله إن الله شديد العقاب

Artinya:

 “ Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya (QS : Al- Hasyr : 7)

Dalam ayat ini Allah `azawajalla menyuruh hamba-hambanya yang beriman untuk mengerjakan apa-apa yang yang diperintahkan dan menjauhi apa-apa yang dilarang Rasulullah shalalllahu`alaihi wasallam.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda :

إذا أمر تكم بأمر فأتوا منه مااستطعتم وما نهيتكم عنه فاجتنبوه

Artinya:

jika aku memerintahkan kalian untuk mengerjakan sesuatu, kerjakanlah sesuai dengan kemampuan kalian, dan apa yang aku larang untuk kalian kerjakan, maka jauhilah ia (secara keseluruhan).” (HR Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa kemampuan manusia untuk mengerjakan perintah nabi shalallahu`alaihi wasallam berbeda-beda sesuai dengan kemampuan masing-masing. Sedangkan dalam meninggalkan larangan, mereka pasti bisa menjauhi dan menghindarinya. Adapun ayat diatas intinya menunjukkan bahwasannya sunnah rasulullah shallahu`alaihi wasalllam adalah hujjah (dalil).

Allah berfirman:

وما ينطق عن الهوى إن هو إلا وحي يوحى

Artinya:

 “dan tidaklah yang diucapkannya itu menurut keinginannya, tidak lain al-qur`an itu adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). QS; An-Najm : 3-4

Allah ta`ala berfirman :

قل إن كنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله ويغفرلكم ذنوبكم

Artinya:

“katakanlah (muhammad) jika kamu mencintai Allah ikutilah aku niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu…(QS: Ali Imran; 31)

Ayat ini menetapkan bahwa siapa saja yang mengaku cinta kepada Allah namun tidak berjalan dijalan yang ditempuh nabi muhammad shallahu`alaihi wasallam maka dia telah berdusta dalam pengakuannya itu. Hingga benar-benar mengikuti syari`at beliau mencakup ucapan dan perbuatan.

Allah ta`ala berfirman :

لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجوا الله واليوم الآخر

Artinya:

 sungguh telah ada pada diri rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang berharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat… ( QS . Al-ahzaab:21)

Ayat ini dasar pokok yang mengharuskan kita untuk menjadikan rasulullah shalallahu`alaihi wasallam sebagai panutan baik dalam uacapan, perbuatan, maupun segala kondisi beliau. Semoga shalawat dan salamNya selalu terlimpahkan kepada beliau sampai hari kiamat.

Allah ta`ala berfirman :

فلا وربك لا يؤمنون حتى يحكموك فيما شجر بينهم ثم لا يجدوا في أنفسهم حرجا مما قضيت ويسلموا تسليما

Artinya:

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. An-nisa`:65)

Allah ta`ala bersumpah dengan mneyebut dirinya sendiri, yang maha mulia lagi maha suci, bahwasannya tidaklah seorang dianggap benar-benar telah beriman kepadanya sebelum dia menjadikan rasulullah shalallahu`alaihi wasallam sebagai pemberi keputusan dalam segala urusan. Apa yang menjadi keputusan beliau, maka itulah yang benar dan yang harus dipatuhi baik secara lahir maupun batin.

Ayat-ayat diatas merupakan dasar pokok terkait kewajiban manusia untuk berhukum kepada Allah dan rasulnya serta berserah diri kepada syari`at yang lurus baik secara lahir maupun batin.

Allah berfirman :

فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله والرسول

Artinya:
Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya). ( QS. An-Nisa` ; 59)

Ayat ini merupan bukti konkret mengenai wajibnya mengembalikan setiap perselisihan yang terjadi ditengah-tengah manusia kepada kitab Allah (Al-qur`an) dan sunnah rasulullah shalallahu`alahi wasallam (Hadits)

Allah ta`ala berfirman :

من يطع الرسول فقد أطاع الله ومن تولى فما أرسلناك عليهم حفيظا

Artinya:
Barang siapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barang siapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.”( QS. An-Nisa` : 80)

 

 

Sebagai penguat pernyataan tersebut, Rasulullah Shalallahu`alaihi wasallam sendiri yang berkata sebagaimana didalam shahihain dari Abu hurairah Rhadiyallahu`anhu bahwa rasulullah bersabda :

من أطاعني فقد أطاع الله ومن عصاني فقد عصى الله ومن أطاع الأمير فهوأطاعني ومن عصى الأميرفقدعصاني

Artinya

barang siapa mentaatiku berarti dia telah mentaati Allah, dan barang siapa yang mendurhakai berarti dia telah mendurhakai Allah. Barang siapa mentaati amiir (penguasa) berarti dia telah mentaatiku. Dan barang siapa mendurhakai amiir berarti dia telah durhaka terhadapku.” (HR Muslim)

Hadits-hadits yang membahas menjaga sunnah dan etikanya

Dari abu hurairah Rhadiyallahu’anhu dari Nabi Shalallahu`alaihi wasallam bersabda :

دعوني ما تركتكم إنما أهلك من كان قبلكم كثرة سؤالهم واختلافهم على أنبيائهم إذا أمر تكم بأمر فأتوا منه مااستطعتم وما نهيتكم عنه فاجتنبوه

Artinya:

“biarkan aku (dan jangan banyak bertanya) tentang apa yang ku tinggalkan dari kalian (tidak diperintah atau dilarang) sebab yang telah membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah karena (mereka) banyak bertanya dan pertentangan mereka terhadap para nabi mereka. Jika aku melarang kalian melakukan sesuatu, maka jauhilah. Dan jika aku perintahkan kalian melakukan sesuatu, maka lakukankanlah sesuai dengan kemampuan kalian.” (muttafaqun`alaih)

Hadits ini diriwayatkan oleh al- Bukhari (XIII/251-Fathul Baari) dan muslim (no.1337)

Kandungan hadits:

  1. Perintah kepada para sahabat untuk tidak menanyakan sesuatu yang belum terjadi, sebab akan mengkhawatirkan akan menurunkan sesuatu kewajiban (beban syari`at), selain itu, banyak bertanya dapat mempersulit urusan dan membuka pintu syubhat yang mengakibatkan munculnya banyak perselisihan sehingga mengantarkan kejurang kebinasaan.
  2. Kewajiban meninggalkan segala yang dilarang
  3. Mengerjakan perintah seringkali menemui kesulitan. Maka itu diperintahkan untuk mengerjakannya sesuai kemampuan
  4. Anjuran untuk mengerjakan hal yang lebih penting yang dibutuhkan segera, daripada hal yang belum dibutuhkan.
  5. Dianjurkan bagi setiap muslim untuk mencari apa-apa yang berasal dari Allah dan Rasulnya.

 

Diringkas dari kitab syarah Riyadhush shalihin, syarah Syaikh Salim bin `Ied al-halali Cetakan Pustaka Imam syafi`i

Disusun lagi oleh : Ali Shadiqin

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.