
Oleh : Ust. Fahmi Abu Abbas
Kata ” Toleransi ” adalah sebuah kata yang tidak asing di telinga. Semua orang sepakat bahwa setiap orang harus memiliki sikap toleransi. Dengan bertoleransi, dua belah pihak yang sebelumnya saling mencela bisa menjadi bergandengan tangan. Orang yang sebelumnya bermusuhan, dapat bersatu. Yang berselisih menjadi saling menghargai.
Di samping itu, banyak sekali hadits-hadits Rosululloh Shalallahu ‘alaihi wassalam yang memuji orang-orang yang memiliki rasa toleransi yang tinggi. Beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
رَحِمَ اللَّهُ عَبْدًا سَمْحًا إِذَا بَاعَ إِذَا اشْتَرَى سَمْحًا إِذَا اقْتَضَى
“Alloh mencintai seorang hamba yang lapang dada saat membeli, saat menjual dan saat membayar hutang.” (HR. Bukhori 2076)
Yaitu, Alloh ‘Azza wa jalla akan merahmati seorang hamba yang saling bertoleransi baik dalam jual beli maupun utang piutang.
Mengingat betapa besarnya keutamaan sikap bertoleransi, maka banyak pula dijumpai seruan untuk saling bertoleransi khususnya di antara kaum muslimin. Bahkan tidak sebikit pula orang-orang barat menyerukan agar seluruh umat beragama saling bertoleransi.
Satu kata memiliki banyak makna
Secara umum toleransi memiliki pengertian saling mengerti dan memahami adanya perbedaan dan tidak dibenarkan untuk saling mencela atau menyalahkan satu dengan yang lainnya. Baik itu dalam masalah agama (keyakinan), ibadah ataupun muamalah. Sehingga dengan adanya sikap toleransi ini diharapkan masing-masing individu dapat memahami adanya perbedaan, dan tidak menjadikan perbedaan tersebut sebagai jalan untuk saling menyalahkan.
Sekilas pengertian tersebut sangat bisa diterima, karena bisa menyatukan seluruh kalangan masyarakat. Dengan sikap saling toleransi bisa menghapus rasa paling benar sendiri atau keingingan untuk memaksakan keyakinan kepada orang lain.
Akan tetapi pengertian seperti itu tidak dapat diterima secara mutlak. Karena dengan pengertian seperti itu mengharuskan seorang mukmin untuk membenarkan ajaran agama lain tanpa diperbolehkan untuk mencelanya
Pengertian Toleransi menurut islam
Toleransi dalam Islam biasa disebut dengan tasamuh atau samahah. Yang berarti saling menghargai, atau memaafkan kesalahan atau lapang dada terhadap suatu perbedaan. Sesungguhnya agama Islam sangatlah menjunjung tinggi prinsip saling toleransi. Bahkan agama ini juga dibangun atas dasar toleransi..
Alloh ta’ala berfirman :
وَأَن تَعْفُواْ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى
“Jika engkau memaafkan, itu lebih dekat kepada taqwa” (QS. Al Baqarah: 237)
Adapun bentuk toleransi yang pernah dipraktekkan oleh Rosululloh pun sangatlah banyak.
Lihatlah bagaimana beliau sangat menjunjung tinggi sikap toleransi kepada orang-orang munafiq. Dan beliaupun berkali-kali memaafkan orang-orang munafik seperti Abdullah bin Ubay sehingga ia tetap bisa hidup dengan tenang di Madinah. Ketika sakit, beliau kunjungi, pun ketika meninggal dunia Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersedia untuk memberikan pakainnya sebagai kafan kemudian menyolatinya. Sampai akhirnya turunlah ayat yang melarang menshalati orang-orang munafik. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman “
وَلاَ تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلاَ تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ إِنَّهُمْ كَفَرُوْا بِالله
“Janganlah engkau menyalatkan seorang yang mati di antara mereka selama-lamanya, dan janganlah engkau berdiri di atas kuburnya, sesungguhnya mereka kafir kepada Allah.“(QS. At Taubah:84)
Alloh telah melarang untuk menyolati orang-orang munafiq, adapun toleransi dalam bermualah masih dilakukan oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam.
Sedangkan dalil yang sangat jelas bahwa islam adalah agama penuh toleransi adalah sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam:
إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ بِالْيَهُودِيَّةِ وَلَا بِالنَّصْرَانِيَّةِ وَلَكِنِّي بُعِثْتُ بِالْحَنِيفِيَّةِ السَّمْحَةِ
“Sesungguhnya aku tidaklah diutus membawa agama yahudi ataupun nasrani. Akan tetapi aku diutus membawa agama al-hanifiyah as-samhah.” (HR. Ahmad)
Dari hadits ini, dapat difahami bahwa agama islam tidaklah dibangun di atas dasar yang memberatkan, namun sebaliknya islam dibangun dengan prinsip kemudahan. Dan yang dimaksud dengan tasamuh (toleransi) dalam islam adalah dalam hal kebaikan, atau terjadi juga dalam masalah muamalah atau pergaulan. Bukan dalam masalah agama atau keyakinan. Untuk itu, menghargai atau membenarkan agama lain atau keyakinan yang menyimpang bukanlah toleransi menurut agama islam.
Pengertian Toleransi menurut Orang barat
Adapun pengertian toleransi menurut barat sangatlah berbeda dengan teori toleransi dalam ajaran islam. Secara umum itilah t’oleransi dikenal di barat sejak adanya Revolusi Prancis, yang mana hal ini berkaitan dengan dengan slogan kebebasan, persamaan dan persaudaraan yang menjadi inti revolusi di Perancis.
Dan definisi teleransi menurut mereka adalah “suatu sikap untuk menerima adanya pandangan yang berbeda berkaitan dengan perbedaan perilaku dan pendapat yang tidak sesuai dengan pendapatnya. Dan sikap ini berkaitan dengan kebebasan berinteraksi kepada masyarakat. Diamana setiap orang diberi kebebasan dalam beragama dan berpendapat. (lihat Mu’jam mustholahat ulum ijtima’iyyah hal. 462)
Singkatnya toleransi menurut barat adalah menerima perbedaan dan pendapat orang lain dalam segala aspek kehidupan dan tidak boleh ikut campur urusan orang lain. Sehingga teori ini mengharuskan untuk meyakini kebenaran agama ataupun budaya lain . Dan juga mengharuskan sikap saling menghargai sikap dan perilaku orang lain. Karena tiap individu memiliki kemerdekan dalam berkeyakinan maupun berpendapat atau biasa yang disebut dengan Hak Asasi Manusia. Sehingga dengan teori ini manusia bebas mau melakukan apa saja tanpa ada pertentangan dari orang lain.
Apabila diperhatikan dari teori tersebut. Maka dapat kita saksikan bahwa negara-negara barat sendiri sangat kesulitan atau tidak mampu menerapkannya di negara mereka, mereka sangatlah fanatik terhadap kebudayaan mereka sendiri, dan tidak mau menerima kebudayaan dari negara lain. Bahkan pada kenyataannya mereka memaksakan negara lain untuk mengikuti kebudayaan mereka. Sehingga teori yang telah mereka buat hanyalah sebagai alat agar kebudayaan dan ajaran mereka bisa diterima negara lain.
Sebagai contoh di negara Prancis sebagai awal mula terciptanya faham toleransi ini. Seluruh dunia telah menyaksikan bahwa negara tersebut telah melarang wanita muslimah memakai hijab atau niqob ketika keluar rumah. Seandainya mereka mau berpedoman kepada teori yang telah mereka buat, tentu seharusnya mereka membiarkan wanita-wanita muslimah untuk memakai cadar.
Begitu pula negara-negara yang dikuasai orang kuffar, tidak ada yang bisa memberi kebebasan secara mutlak kepada kaum muslimin untuk mengungkapkan keyakinan mereka atau memberikan kebebasan dalam beragama. Justru yang terjadi adalah sebaliknya, kaum muslimin yang hidup di negara-negara barat dipersempit ruang geraknya dan dilarang memperlihatkan identitas mereka sebagai muslim di depan umum.
Di balik isu toleransi
Dari teori toleransi yang telah dipaparkan dapat difahami bahwa negara barat memiliki tujuan besar di balik semua itu, yaitu menginginkan agar kaum muslimin bisa menerima dan meyakini kebenaran agama dan kebudayaan mereka.
Sungguh benar firman Alloh ‘azza wa jalla:
وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗوَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ
“Orang-orang Yahudi dan Nashroni tidak akan pernah ridho kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Alloh itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allooh tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. Al-Baqoroh:120)
Begitu pula sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam :
لَتَتَّبِعَنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَ ذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتىَّ لَوْ دَخَلُوْا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوْهُمْ قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ اليَهُوْدُ وَ النَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ
“Kalian pasti akan mengikuti tradisi umat-umat terdahulu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Hingga sekalipun mereka masuk lubang biawak, kalian pasti mengikutinya.” Kami bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu kaum Yahudi dan Nasrani? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Siapa lagi kalau bukan mereka!”(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Sungguh sangat disayangkan ada diantara kaum muslimin yang terpengaruh dengan teori toleransi ala barat ini. Sehingga mereka mulai mendengungkan ajaran toleransi antar umat beragama yang berarti menganggap semua agama sama. Diantara bentuk toleransi yang mereka ajarkan adalah saling mengucapkan terhadap perayaan ibadah umat agama lain dan merayakannya bersama. Bahkan mereka juga mengajak untuk berdo’a bersama lintas agama..
Dan yang lebih parah lagi, para pengibar bendera toleransi dari kalangan kaum muslimin sendiri, tidak ragu-ragu untuk melarang sebagian kaum muslimin yang ingin mengagungkan syiar agama islam dengan mengenakan pakaian yang sesuai syariat. Atas nama toleransi mereka mengucilkan wanita yang memakai jilbab secara sempurna (baca:cadar), karena dianggap tidak mau bertoleransi kepada umumnya masyarakat dan menyelisihnya. Dan atas nama toleransi menuduh kaum muslimin yang berusaha mengamalkan agama ini sebagai kelompok ekstrimis karena tidak mau mengikuti adat dan kebiasaan masyarakat.. Lalu sikap toleransi seperti apa yang mereka inginkan?
Toleransi menurut mereka adalah kaum muslimin harus mau mengakui dan menerima ajaran meraka, dan mereka pada dasarnya tidak mau menghargai kaum muslimin apalagi mengakui keberadaan agama islam. Mereka hanyalah menginginkan kaum muslimin agar meninggalkan agamanya. Berawal dari menghargai agama mereka, lalu meyakini kebenarannya kemudian tujuan akhir adal agar kaum muslimin murtad dari agama islam.. Na’udzubillah min dzalik.
Untuk itu, hendaklah kaum muslimin benar-benar memahami apa yang dimaksud dengan toleransi menurut ajaran agama islam serta mengamalkannya. Dan tidak terjebak dalam pemahaman toleransi menurut barat. Allohu A’lam.
Sumber: Majalah Lentera Qolbu Edisi 08 Tahun 03
Leave a Reply