Qadha dan Qadhar, Diangkatnya Pena dan Keringnya Cahaya
Qadha dan Qadhar, Diangkatnya Pena dan Keringnya Cahaya – “Ketahuilah, seandainya seluruh umat ini berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak akan memberikan manfaat, melainkan dengan sesuatu yang Allah tetapkan bagimu. Dan seandainya seluruh umat ini berkumpul untuk menimpakan mudharat (bahaya) kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak akan dapat memberikan mudharat (bahaya) kepadamu melainkan dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu.”
Jadi, apapun yang telah Allah tentukan bagi kita_baik berupa kebaikan maupun keburukan pasti akan kita terima walaupn seluruh manusia berusaha untuk mencegahnya.
Sebagai contoh, apabila ada pedagang yang merasa bahwa seolah-olah keuntungan besar sudah ada didepan mata dan pembeli sudah bersedia memberikan uangnya, akan tetapi jika Allah tidak menghendakinya, maka transaksi itu tidak akan terjad. Hal ini adalah mudah bagi Allah.
Demikianlah, walaupun seluruh manusia akan memberikan manfaat kepada kita dan seluruh usaha telah kita lakukan, akan tetapi jika hal itu telah dikehendaki oleh Allah maka manfaat itu tidak akan kita terima. Hal ini haris kita Yakini dengan benar.
Keyakinan tentang hal ini Qadha dan Qadar akan membuahkan kebahagiaan di dunia dan akhirat, dan orang yang meyakininya adalah orang yang paling bahagia. Sebaiknya, apabila ada orang yang tidak meyakini hal ini,maka orang tersebut akan selalu berada dalam penyesalan seumur hidupnya.
Demikian juga, walaupun seluruh manusia akan menimpakan keburukan kepada kita dan seluruh usaha telah mereka lakukan, akan tetapi jika itu tidak dikehendaki oleh Allah, maka keburukan itu tidak akan menimpa kita. Hal ini pun harus kita Yakini dengan benar.
Allah telah menjelaskan dalam firman-Nya:
قُلْ لَّنْ يُّصِيْبَنَآ اِلَّا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَنَاۚ هُوَ مَوْلٰانَا وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ
Artinya: “Katakanlah (Muhammad), Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami dan hanya kepada Allah bertawakallah orang-orang yang beriman.” (QS. At-Taubah: 51)
Ada dua tingkatan bagi orang muknin terhadap qadha dan qadhar dalam musibah:
Pertama: Ia Ridha dengannya. Inilah tingkatan yang paling tinggi. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِۗ وَمَنْ يُّؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ يَهْدِ قَلْبَه وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ
Artinya: “Tidak ada suatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-tagaabun: 11)
Alqamah berkata, “Musibah tersebut adalah musibah yang menimpa seseorang, kemudian ia mengetahui bahwa musibah tersebut berasal dari Allah, lalu ia menerima dan ridha dengannya.”
Barang siapa yang mencapai tingkatan tersebut, maka seluruh kehidupanya berada dalam kesenangan dan kebahagiaan.
Kedua: Ia sabar terhadap apa yang menimpanya. Maksudnya bersabar terhadap musibah dan cobaan, dan ini diperuntukkan bagi orang yang tidak mampu untuk ridho terhadap takdir.
Maka ridha adalah keutamaan yang disunnahkan, sedangkan bersabar adalah kewajiban yang pasti atas seorang mukmin. Didalam kesabaran terhadap kebaikan yang banyak bagi pelakunya karena Allah menyuruh akan hal itu dan menyediakan pahala yang melimpah baginya. Allah ta’ala berfirman:
اِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ …
Artinya: “…hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa perhitungan.” (QS. Az-Zumar: 10)
Al-Hasan al-Bashri berkata, “Ridha itu berat sekali, namun sabar adalah pegangan seorang mukmin.”
Perbedaan antara ridha dengan sabar ialah, sabar adalah menahan jiwa dari rasa yang tidak puas dengan disertai rasa sakit, mengiginkan rasa sakit itu hilang, dan menahan organ tubuh dari mengerjakan hal-hal yang merupakan tuntunan keluh-kesah.
Keimanan kepada Qadha dan Qadhar akan membuahkan perasaan tidak mudah putus asa dan berlebihan dalam berduka cita terhadap apapun yang terluput dan apapun musibah yang menimpa. Misalnya, tertimpa penyakit berat, bencana, malapetaka, kebanjiran, keguguran, dan sebagainya. Semua hal itu Allah tetapkan, karena tidak ada gunanya berputus asa dan berduka-cita secara berlebihan.
Keimanan Qadha dan Qadhar juga akan membuahkan perasaan tidak terlalu bergembira atas segala nikmat yang datang yang kita terima. Sebab, segala sesuatu itu akan hilang dan akan meningalkan kita.
Akan tetapi, bukan berarti sebagai manusia kita tidak boleh bersedih, menangis, atau tidak boleh bergembira. Namun hendaklah kita menyikapi segala musibah atau nikmat yang kita terima dengan sewajarnya, tidak berlebihan. Sebab, Nabi pun menangis tatkala putra tercintanya, Ibrahim, meninggal dunia.
Yang dilarang oleh syari’at adalah meratap (menangis dengan tidak teriak-teriak yang keras manampar pipi, merobek baju dan lainnya), tidak sabar terhadap musibah yang menimpa, atau berburuk sangka kepada Allah. Inilah yang dilarang syari’at.
Seorang mukmin wajib bersyukur atas segala nikmat yang Allah karuniakan dan mengunakan atas nikmat-nikmat tersebut untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah, seorang mukmin wajib bersabar atas segala musibah, penyakit, atau beriman kepada Qadha dan Qadhar yang baik ataupun yang buruk serta meyakini bahwa semua yang terjadi sudah ditetapkan oleh Allah akan membuat seorang mukmin menjadi tenang, tenteram, selalu berdo’a, takut dan mengharapkan hanya kepada Allah Ta’ala.
Iman kepada Qadha terbagi menjadi empat tingkatan:
- Al-Ilmu
- Al-kitaabah
- Al-Masyii-ah
- Al-Khalq
Maksudnya seorang mukmin yang beriman kepada qadhar harus meyakini bahwa Allah Maha Mengetahui semua yang ada di alam ini (ini tingkatan pertama, al-ilmu), kemudian ia meyakini bahwa semua kejadian-baik yang telah, sedang, maupun akan terjadi-telah Allah tuliskan di Lauhul Mahfuzh (ini tingkatan kedua, al-kitaabah), dan meyakini bahwa semua hal yang terjadi tidak lepas dari kehendak Allah (ini tingkatan ketiga, al-masyii’ah), serta meyakini bahwa semua yang terjadi ini sudah Allah ciptakan (ini tingkatan keempat, al-khalq).
Allah Ta’ala berfirman:
وَاللّٰهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُوْنَ
Artinya: “padahal Allah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” (QS. Ash-Shaaffaat: 96)
Akan tetapi, harus diyakini pula bahwa dalam permasalahan Qadha dan Qadhar manusia tidak memiliki ilmu tentangnya melainkan sedikit sekali. Serta wajib bagi manusia untuk beramal, karena itulah yang diperintahkan oleh Allah. Tidak boleh bagi kita untuk bergantung kepada Qadha dan Qadhar, sebab tidak ada yang mengetahuinya melainka hanya Allah Ta’ala.
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa seorang shahabat bertanya kepada Nabi, “Wahai Rasulaullah apakah kita beramal menurut apa yang telah Allah tuliskan?” Rasulaullah menjawab “Bahkan menurut apa yang Allah tetapkan.”
Maksudnya, seorang hamba yang telah ditetapkan sebagai hamba yang shalih akan dikemudahkan untuk mengerjakan amal-amal keburukan.
Referensi:
Nama buku: Wasiat Nabi Kepada Ibnu Abbas
Nama penulis: Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Diringkas oleh: Syifa Khasanah
BACA JUGA :
