Introspeksi Diri Atau Muhasabatun Nafsi
Introspeksi diri dalam bahasa ilmiah dikenal dengan istilah Muhasabatun-nafs. Dia merupakan perkara yang sangat penting. Jiwa manusia tidak akan baik kecuali mau mengintrospeksi dirinya sendiri. Barangsiapa yang introspeksi diri pada hari ini dia akan selamat pada hari esoknya, insya Allohu Ta’ala.
Definisi Muhasabatun-Nafs
Imam al-Mawardi rahimahullah mengatakan: “Muhasabah adalah mengintrospeksi diri pada malam hari terhadap aktivitasnya di siang hari. Apabila terpuji maka dilanjutkan dengan perbuatan yang semisal. Jika ternyata jelek, dia akan memperbaiki dan tidak mengulanginya di hari esok.”
Muhasabah adalah ketika akal memperhatikan kondisi jiwa, semakin baik atau semakin rusak. Selalu bertanya terhadap perbuatan yang dikerjakan. Mengapa dikerjakan, dan untuk siapa? Jika kebaikan ini karena Alloh ta’ala dia akan meneruskannya, jika tidak maka dihentikan. Dia akan selalu mencela jiwa atas kelalaian dan kesalahan, jika bisa ditambal dengan perbuatan baik yang menghapusnya, dia akan segera mengerjakannya.”
Hukumnya
Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan : “karena seorang hamba akan dihisab atas segala sesuatu, sampai pendengaran, mata dan hatinya sebagaimana Alloh Ta’ala berfirman:
إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً
Artinya: “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” [1]
Semestinya setiap insan muhasabah dirinya sebelum dia diteliti dalam perhitungan hari kiamat. Yang menunjukkan wajibnya introspeksi diri adalah firman Alloh ta’ala yang berbunyi:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Alloh dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” [2]
Yaitu hendaklah setiap orang melihat apa yang sudah diperbuatnya untuk hari kiamat, apakah amalannya termasuk amalan yang sholih yang bisa menyelamatkan dirinya ataukah amalan yang jelek yang akan membinasakannya. Walhasil, bahwa kebaikan hati adalah dengan muhasabah diri. Hati akan jelek jika diremehkan dan ditinggalkan.”
[3]Klasifikasi Jiwa Manusia
Jiwa manusia ada tiga macam:
1. Jiwa yang jelek
Dia adalah jiwa yang selalu memerintahkan berbuat kejelekan, mengikuti hawa nafsu, kesesatan dan tempat-tempat yang jelek. Mengenai jenis jiwa ini Alloh ta’ala berfirman:
وَمَآ أُبَرِّئُ نَفْسِىٓ ۚ إِنَّ ٱلنَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ ۚ إِنَّ رَبِّى غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Artinya: “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Robbku. Sesungguhnya Robbku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yusuf: 53)
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: “Kejelekan jiwa itu berkisar dua perkara: mengerjakan kemakSiatan atau lemah dalam mengerjakan ketaatan.”
2. Jiwa yang tenang dan bagus
Dia adalah jiwa yang memerintahkan kebaikan dan melarang dari kejelekan. Selalu tenang ingat kepada Alloh ta’ala, kembali dan taubat kepada-Nya, dan selalu dekat dan rindu berjumpa dengan Alloh.
3. Jiwa yang selalu mencela dan menyesal
Jiwa jenis ini ada yang mengatakan adalah sifat bagi jiwa yang baik dan jelek. Karena jiwa yang baik akan mencela perbuatan jelek, dan jiwa yang jelek akan mencela perbuatan baik.
Keutamaan dan manfaat introspeksi diri
1. Alloh ta’ala memerintahkannya
Berdasarkan firman Alloh ta’ala yang berbunyi :
يَٰا أَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ ١٨.
وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّذِينَ نَسُوا۟ ٱللَّهَ فَأَنسَٰهُمْ أَنفُسَهُمْ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ ١٩
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Alloh dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Alloh, sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Alloh, lalu Alloh menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” [4]
Syaikh Abdurrohman as-Sa’di rahimahullah mengatakan: “Ayat yang mulia ini adalah dalil tentang muhasabah seorang hamba terhadap dirinya. Dan sudah selayaknya bagi manusia untuk berintrospeksi diri. Jika dia menjumpai kekurangan, maka wajib menambalnya dan berlepas diri dari dosa dengan taubat serta berpaling dari segala sebab yang bisa membawa dosa. Jika dia menilai bahwa dirinya banyak meremehkan perintah-perintah Alloh ta’ala, maka hendaknya ia bersungguh-sungguh dan meminta pertolongan kepada Alloh ta’ala agar diberikan kekuatan untuk menjalankan perintah. Maka yang terhalang dari kebaikan adalah orang yang lalai dari perkara ini, dia seperti kaum yang lupa kepada Alloh ta’ala, tidak ingat hak-hak Alloh, dan dia malah berpaling mengikuti hawa nafsu! Akibatnya Alloh ta’ala melupakan mereka, melupakan kebaikan dan manfaat bagi mereka. Jadilah perkara mereka tidak membuahkan apa pun. Mereka kembali dalam keadaan merugi dunia dan akhirat, tertipu dan tidak mungkin ditambal, karena mereka dalah orang-orang yang fasik.”
2. Introspeksi diri adalah jalan selamat bagi jiwa
Seorang muslim diibaratkan sebagai tawanan di dunia ini. Dia tidak akan merasa aman sedikitpun hingga berjumpa dengan Alloh ta’ala. Segala tindakannya akan ditanya pada hari esok. Oleh karenanya bagi orang yang berintrospeksi diri kemudian bangkit dengan memperbaiki arah hidupnya, dia akan memetik buahnya di hari yang tiada guna lagi harta dan anak. Alloh ta’ala berfirman:
يَوْمَ يَبْعَثُهُمُ ٱللَّهُ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُهُم بِمَا عَمِلُوٓا۟ ۚ أَحْصَاهُ ٱللَّهُ وَنَسُوهُ ۚ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ شَهِيدٌ
Artinya: “Pada hari ketika mereka dibangkitkan Alloh semuanya, lalu diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Alloh mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Alloh Maha Menyaksikan segala sesuatu.”[5]
3. Introspeksi diri akan menghantarkan taubat kepada Alloh ta’ala
Orang yang melihat keadaan dirinya ternyata berada dalam kekurangan akan segera memperbaiki dan bertaubat kepada Alloh ta’ala.
Alloh ta’ala berfirman:
إِنَّ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ إِذَا مَسَّهُمْ طَٰٓئِفٌ مِّنَ ٱلشَّيْطَٰنِ تَذَكَّرُوا۟ فَإِذَا هُم مُّبْصِرُونَ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Alloh, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” [6]
Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: “Seorang hamba akan senantiasa berada dalam kebaikan selama dia introspeksi diri dan hal itu menjadi perhatiannya.”
4. Mengingatkan perhitungan di akhirat
Seluruh hamba pasti akan diadili Alloh ta’ala. Sebelum kita mengalami, ada baiknya kita introspeksi diri dan menghitung amalan sendiri. Alangkah bagusnya ucapan sahabat mulia Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu tatkala berkata: “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang. Karena hal itu akan lebih ringan bagi kalian dalam menghadapi hari hisab besok.”
6. Disibukkan dengan aib diri sendiri
Abu Darda radhiyallahu ‘anhu berkata: “Tidaklah seseorang dikatakan faqih hingga dia membenci manusia karena Alloh ta’ala kemudian dia menilai dirinya sendiri, sehingga dia akan sangat benci terhadap dirinya.”
REFERENSI:
Diringkas oleh : Ramadheo Syanufa (pengabdian) Ponpes Darul Qur’an Wal Hadits Oku Timur
Referensi : Majalah Al Furqon Menebar Dakwah Salafiyah, Ahlus Sunnah wal Jama’ah Edisi 08 Tahun Ke-9 1431/2010
[1] (QS. Al-Isro’ : 36)
[2] (QS. al-Hasyr (59): 18)
[3] (QS. Yusuf (12): 53)
[4] (QS. al-Hasyr (59): 18-19)
[5] (QS. al-Mujadilah (58): 6)
[6] (QS: al-A’rof (7): 201)
BACA JUGA :
