Skip to content

Hidayah Bukan di Tangan Kita

Khoirul Anam
7 menit baca
Hidayah Bukan Milik kita

Hidayah Bukan di Tangan Kita

Kita harus berusaha semaksimal mungkin. Kita harus menuntun anak ke jalan hidayah. Hiasilah diri dengan ilmu dan keshalihan! Curahkan segenap kemampuan! Didiklah anak dengan penuh kesungguhan. Siapa yang menebar benih, ia akan memanen hasilnya. Namun kita harus tetap sadar bahwa hidayah bukan di tangan kita. Pemberi hidayah hanyalah Allah semata.

Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya dan menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya pula.

فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

Artinya: “Maka Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Faathir: 8)

Jikalau Rasulullah, hamba yang paling bertakwa, tak mampu memberi hidayah kepada paman beliau tercinta, lalu bagaimana pula kita?

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman kepada Nabi-Nya:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَـكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Artinya: “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashash: 56)

Apalah arti keshalihan kita dibanding Nabiyullah Nuh عليه السلام. Kalau beliau saja tak mampu memberi hidayah kepada anaknya tercinta, lalu bagaimana pula kita?

Di saat air bah melanda, Nuh عليه السلام bersikukuh mengatakan kepada anaknya:

يَا بُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلَا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِينَ

Artinya: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama Kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.” (QS. Huud: 42)

Namun Allah tidak berkenan memberi petunjuk kepada anaknya tersebut. Anak itu berkata:

سَآوِي إِلَىٰ جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ

Artinya: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” (QS. Huud: 43)

Kemudian ayahnya berkata:

لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَنْ رَحِمَ ۚ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ

Artinya: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) yang Maha Penyayang.” Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; Maka jadilah anak itu Termasuk orang-orang yang ditenggelamkan”. (QS. Huud: 43)

Ketika itu rasa sayang seorang bapak terhadap anaknya menguasai diri nabi Nuh عليه السلام, beliau berseru:

رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ

Artinya: “Ya Rabbi, Sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan Sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah hakim yang seadil-adilnya.” (QS. Huud: 45)

Namun Allah Subhanahu Wata’ala memperingatkan Nuh عليه السلام:

قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلَا تَسْأَلْنِ مَاقَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلَا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۖ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

Artinya: Allah berfirman: “Hai Nuh, Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan). Sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (QS. Huud: 46)

Kemudian Nabi Nuh عليه السلام meminta maaf seraya berkata:

رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ ۖ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Artinya: “Ya Rabbi, Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari memohon kepada-Mu sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. dan Sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan Termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Huud: 47)

Kisah ini semakin menyadarkan kita bahwa yang mampu memberikan hidayah kepada kita dan anak-anak kita hanyalah Allah. Kita hanya bisa berusaha dan memohon hidayah itu kepada-Nya.

Maka selayaknya setiap saat kita harus merasa fakir (membutuhkan) di hadapan-Nya. Setiap usaha dan jerih payah yang kita kerahkan untuk mengasuh dan mendidik mereka agar menjadi anak shalih, hendaknya kita iringi dengan permohonan yang tulus kepada-Nya. Ikhlaskan segala kerepotan kita. Semoga Allah cukupkan kerepotan itu sampai disitu saja. Tidak berlarut-larut hingga akhirat. Sebab di hari kiamat setiap kerepotan tak dapat diselesaikan, kecuali apabila kita mendapat syafa’at.

Tatkala engkau bangun di tengah malam membuatkan susu untuk sang buah hati, aduklah susu itu sungguh-sungguh sambil mengharap agar tiap tetes yang masuk ke kerongkongannya akan menyuburkan setiap benih kebaikan dan menyingkirkan setiap bisikan yang buruk. Di saat engkau menyuapkan makanan untuknya, mohonlah kepada Allah agar setiap makanan yang mengalirkan darah di tubuh mereka akan mengokohkan tulang-tulang mereka, membentuk daging mereka dan membangkitkan jiwa mereka sebagai penolong-penolong agama Allah. Semoga dengan itu, setiap suapan yang masuk ke mulut mereka akan membangkitkan semangat dan meninggikan martabat. Mereka bersemangat untuk senantiasa menuntut ilmu, menunaikan amanah dan meninggikan kalimat Allah.

Selanjutnya, bila kita sadar sepenuhnya bahwa hanya Allah yang bisa memberikan hidayah kepada kita dan anak-anak kita. Kita tak punya kuasa apa-apa kecuali sekedar usaha dan doa. Lantas pantaskah kita seakan-akan memaksa Allah dengan amarah kita, agar Dia berkenan merubah anak kita… sungguh itu sangat tidak pantas.

Bersabarlah, bulatkan harapan hanya kepada-Nya … tahan emosi kita!

  • Kenali Dunia yang Jauh dari Sempurna

Jika kita ingin tenang, tenteram dan bahagia, jangan pernah berimajinasi dan berkhayal mendapatkan sesuatu yang sempurna dalam hidup ini. Jangan muluk-muluk …. Jangan pula larut dalam amarah dan kekecewaan ….

Sebab inilah dunia yang serba kurang. Dunia bukan surga yang memiliki kesempurnaan. Allah berkehendak menghimpun dua perkara yang berlawanan di alam dunia. Kebaikan dan kejahatan, kedamaian dan kerusakan, kesenangan dan kesedihan, kepuasan dan kekecewaan, kebahagiaan dan penderitaan, sakit dan sehat, tangis dan tawa.

Dunia adalah kesenangan yang menyusahkan dan menyibukkan. Kehidupan dunia ini penuh dengan resiko, penuh keanekaragaman, banyak bercampur dengan kekeruhan, serta sarat dengan kepayahan dan keletihan. Tentu tak selamanya anak membuat kita tersenyum bahagia. Pasti adakalanya mereka juga membuat hati kita sesak dan kecewa.

Tak heran bila Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلَّا ذِكْرَ اللهِ وَمَا وَالَاهُ، وَعَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا

Artinya: “Dunia itu terlaknat dan terlaknat apa yang ada di dalamnya kecuali dzikrullah, amal ketaatan kepada Allah dan seorang alim atau penuntut ilmu.”(hasan, shahihul jami’, no. 3414)

Sabda Nabi, ‘Dunia ini terlaknat dan terlaknat pula apa yang ada di dalamnya’ maksudnya adalah dijauhkan dari Allah dan dari rahmat-Nya serta ditinggalkan apa-apa yang ada di dalamnya. Atau maknanya dunia dan apa yang ada di dalamnya akan menjauhkan seseorang dari Allah, membuatnya lalai dari Allah.

Sabda Nabi, ‘apa yang mendekatkan diri kepada-Nya?’ yaitu amal shalih dan ketaatan. Karenanya, jika kita ingin bahagia, terima dan hadapi dunia ini apa adanya. Cintai anakmu dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Jangan marah!

Jangan menggerutu dan jangan pula larut dalam kekecewaan. Sebab, terlalu banyak yang mengecewakan dalam hidup ini. Berlatihlah untuk beradaptasi dengan dunia. Posisikanlah diri dalam menghadapi kondisi yang tidak mengenakkan, agar kita mendapatkan jalan keluar yang aman. Boleh jadi sesuatu yang tidak kita sukai, Allah menjadikan padanya suatu kebaikan yang banyak. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Artinya: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Jika ada yang menyodorkan sesuatu yang buruk kepada kita, maka segera cari cara untuk mengambil yang baik darinya dan tinggalkan sisanya yang buruk. Demikian pula ketika menghadapi suasana yang tidak mengenakkan, maka cari dan perhatikanlah celah yang memancarkan sinar darinya. Segeralah hengkang dari kesempitan … sebab hidup harus terus berjalan, tidak mundur ke belakang.

Ucapkan selalu ‘Alhamdulillah’ apapun yang kita terima, baik maupun buruk, manis maupun pahit, suka maupun tidak suka. Nabi mengajarkan kepada kita sebuah doa tatkala menerima ketetapan Allah, apapun ketetapan itu …

‘Aisyah رضي الله عنها meriwayatkan bahwa apabila Rasulullah melihat sesuatu yang menggembirakan maka beliau mengucapkan:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ

“Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya amal-amal shalih dapat terlaksana.”

Apabila beliau melihat sesuatu yang tidak menyenangkan, beliau mengucapkan:

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

“(Segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan).”

Merenung dan Bersyukurlah, di saat syaitan berusaha keras menyulut kekecewaan dan amarah kita ….

Banyak-banyaklah merenung dan memikirkan, niscaya kita akan mendapati bahwa Allah telah melimpahkan nikmat yang tak terkira kepada kita dari segenap penjuru. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

Artinya: “Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu minta kepadanya. Dan sekiranya kamu berusaha untuk menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim: 34)

Percayalah, kita tak akan dapat berlapang dada dan meraih bahagia, hingga kita mengenal nikmat-nikmat Allah, selalu menyebut dan mengingatnya, serta senantiasa mensyukurinya. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

Artinya: “Dan barang siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (QS. An-Naml: 40).

REFERENSI:

Diringkas ulang oleh Nurmimi Haria Putri

Diambil dari buku mendidik anak tanpa amarah

Karya ummu Ihsan choiriyah & Abu Ihsan al Atsari

Baca juga artikel:

Tetap Berbagi Meskipun Sedikit

Kitab Tauhid

Bagikan:

Artikel Terkait

qonaah telaga yang tak pernah kering
Tarbiyah 07/02/2026

Qona’ah: Telaga yang Tak Pernah Kering

Qona’ah: Telaga yang Tak Pernah Kering – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, manusia seolah tidak pernah merasa cukup. Setiap hari muncul keinginan baru, kebutuhan baru, bahkan cita-cita baru yang tidak ada ujungnya. Orang berlomba-lomba memperbanyak harta, menaikkan status sosial, dan menampilkan kehidupan sempurna di hadapan orang lain. Namun di balik semua itu, banyak hati yang […]

Allah tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadanya
Aqidah 06/02/2026

Allah tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadanya

Allah tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadanya Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, rabb semesta alam, atas segala nikmatnya. Dia-lah yang menurunkan Al-Qur’an melalui malaikat jibril kepada nabi kita muhammad shalallahu’alaihi wasallam, sebgai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Siapa yang diberi petunjuk, maka tidak akan ada yang bisa menyesatkannya dan siapa yang disesatkan […]

LAZ Kunci Kebaikan

Dana yang disalurkan melalui LAZ Kunci Kebaikan hanya bersumber dari dana halal, tidak bertujuan untuk pencucian uang, terorisme, maupun tindakan kejahatan lainnya.

Legalitas LAZ

Izin Kanwil nomor:
...........................

QRIS Zakat

ZAKAT YKK

Rek. BSI

8643916700

a.n. Zakat YKK

Wajib Konfirmasi ke:

Bpk. Heri Setiawan, S.Pd.
(0822-6666-0856)

Tanpa konfirmasi, dianggap sedekah biasa.

QRIS Zakat

PEDULI SESAMA YKK

Rek. BSI

4557498470

a.n. Peduli Sesama YKK

(Tanpa konfirmasi digunakan untuk program-program LAZ)

Donasi khusus tidak akan dipotong jasa penyaluran.

Sekretariat:

Kompleks Ponpes Darul-Qur'an Wal-Hadits, Jl Tuanku Imam Bonjol, Bunga Mayang, Peracak, OKU Timur, Sumsel (32315)

Klik: Google Map