Hawa Nafsu dan Syahwat
HAWA NAFSU DAN SYAHWAT
Hawa nafsu adalah condongnya naluri kepada sesuatu wang disenangi, dan kecondongan ini tercipta secara alami dalam rangka mempertahankan eksistensinya. Bayangkan kalau bukan karena condong kepada makanan orang tidak akan makan, kalau bukan condong kepada minuman orang tidak akan minum, kalau bukan karena condong untuk jima orang tidak akan menikah, dan begitulah untuk mendapat-kan semua keinginan. Maka hawa nafsu menjadi pendorong untuk meraih sesuatu yang berfaidah.
Ketika seorang hamba mengikuti hawa nafsu secara ber-lebihan maka jiwanya tertawan, terpenjara dan terikat beleng-gu syahwat yang amat kuat. Sehingga tidak ada tawanan ya-ng paling buruk kecuali orang yang menjadi tawanan hawa nafsu, Tidak ada penjara paling sempit kecuali penjara hawa nafsu, dan tidak ada tali yang paling sulit lepas ketimbang ikatan dan belenggu syahwat. Maka, bagaimana mungkin se-orang hamba bisa berjalan menuju Allah dan kampung akhi-rat sedangkan hatinya tertawan, terpenjara, dan terikat kuat oleh belenggu syahwat?
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
فَأَمَّا مَن طَغَى وَاثَرَ الْحَيَوَةَ الدُّنْيَا فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى
Artinya: “Adapun orang yang melampaui batas. Dan lebih mengutama-kan kehidupan dunia. Maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Nazi’at: 37-39).
Mengikuti ajakan hawa nafsu dan rayuan syahwat pasti tersesat dari jalan Allah. Sedangkan tersesat dari jalan Allah menjadi penghalang utama bertaubat dan kembali kepada Rabbnya, bahkan membuat seorang hamba terlena dalam sua-sana panjang angan-angan, suka menunda-nunda taubat dan malas berbuat kebaikan. Lalu akan membuat dirinya sulit me ngayunkan langkah menuju pintu gerbang istighfar dan pada akhirnya tersesat menempuh jalan menuju kampung akhirat Maka Ibrahim al-Qashaar berkata, “Makhluk paling lemah adalah orang yang lemah melawan syahwatnya dan makh luk paling kuat adalah orang yang paling kuat melawan syah. watnya, “
Gejolak perasaan cinta atau benci selalu muncul pada diri setiap orang karena adanya perkara yang menyenangkan atatu mengecewakan yang dibarengi dengan timbulnya kecondo. ngan terhadapnya. Namun, bila perasaan itu tidak dilandasi ketakwaan kepada perintah Allah dan RasulNya, maka ia ter-masuk orang yang mengekor pada hawa nafsu. Bahkan ia te-lah menjadikan hawa nafsu sebagai Tuhannya, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata’ala:
أَفَرَعَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَنَهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ، وَقَلْبِهِ، وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ، غِشَاوَةٌ
Artinya: “Maka pernahkah kamu melihat orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmunya, dan Allah telah mengunci mati pen-dengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihat-annya?” (QS. Al-Jatsiah: 23).
Mengikuti hawa nafsu dalam urusan agama lebih berba-haya daripada mengikuti hawa nafsu dalam perkara kelezat-an makanan dan harta benda. Dan mengikuti hawa nafsu merupakan karakter utama orang-orang kafir dari kalangan Ahlu Kitab (Yahudi dan Nasrani) dan orang-orang musyrik, seba-gaimana firman Allah Subhanahu Wata’ala:
فَإِن لَّمْ يَسْتَحِبُوا لَكَ فَأَعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبع مَوَنَهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
Artinya: “Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petun-juk dari Allah sedikit pun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim.” (QS. Al-Qashash: 50).
Maka mengikuti perintah Allah dan RasulNya merupa-kan jalan lurus untuk mendapat hidayah, kemenangan dan kebahagiaan. Sebaliknya, orang yang berpaling darinya dan mengikuti rayuan hawa nafsu akan mengantarkan kepada ke-nistaan dan kebinasaan. Maka Ibnu Qayyim berkata, “Tidak-lah hawa nafsu telah bercampur dengan sesuatu kecuali pasti akan merusaknya. Maka, hawa nafsu bila meracuni ilmu pasti akan menyeret pelakunya ke dalam perbuatan bid’ah. “
Seseorang yang keluar dari petunjuk al-Qur’an dan as-Sunnah dari kalangan ulama dan ahli ibadah dapat dianggap sebagai Ahlul Ahwa’, sebagaimana ulama generasi salaf te-lah menyebut mereka sebagai Ahlul Ahwa. Sebab, setiap ora-ng yang tidak mengikuti ilmu agama berarti telah mengikuti hawa nafsu. Sementara ilmu agama tidak akan diperoleh ke-cuali melalui petunjuk Allah, sebagaimana firman-Nya,
وَإِنَّ كَثِيرًا لَّيُضِلُّونَ بِأَهْوَا بِهِم بِغَيْرِ عِلْمٍ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِالْمُعْتَدِينَ
Artinya: “Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-An ‘am: 119).
Abu Darda berkata, “Demi azat yang jiwaku ada di ta nganNya, tidaklah umat binasa kecuali karena mengikuti hawa nafsu dan memuji-muji diri mereka, “
Imam Fudhail bin Iyadh Rahimahullah berkata: “Siapa dikuasai hawa nafsunya dan terus mengikuti syahwat, maka akan tertutup pintu-pintu taufik baginya. “
Hawa nafsu dapat merusak amal shalih seorang hamba dan menjadikan sebagai serdadunya, kemudian mencengkram dan membelenggunya. Jangan heran Anda akan melihat se orang hamba yang tampak secara lahir sangat taat dan sangat zuhud, tapi ternyata dia seorang yang paling jauh dari Allah.
Dosa Batin
Amal shalih orang Mukmin itu menguak tabir langit, lalu naik menuju Allah, seakan-akan ia membuka di langit sebuah jalan dan membuka pintu-pintunya. Jika ia mati dan ruhnya naik, maka ruhnya melihat pintu-pintu terbuka, karena pada hakikatnya yang membuka pintu dan jalan tersebut adalah amal shalihnya. Inilah rahasia dari pernyataan generasi salaf kita mengenai firman Allah Subhanahu Wata’ala:
إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ
Artinya: “KepadaNya-lah naik perkataan-perkataan yang baik, dan amal yang shalih dinaikkanNya.” (QS. Fathir: 10)
Jika seorang hamba tidak memiliki amal shalih, pintu la-ngit tertutup dan tabir langit merapat, karena dia tidak mem-buka jalan dengan amal shalihnya bagi dirinya. Sementara balasan amal shalih itu akan dirasakan dan kembali kepada pelakunya sendiri seperti yang ditegaskan Allah dalam firman-Nya,
وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا وَلأَنفُسِهِمْ يَشْهَدُونَ ))
Artinya: Siapa yang beramal shalih maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan).” (QS. Ar-Rum: 44).
Perhatikanlah kondisi orang-orang kafir dan para penen-tang agama Allah bahwa mereka divonis Allah dengan firman-Nya.
لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ
Artinya: “Sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu la-ngit.” (QS. Al-A’raf: 40)
Imam al-Wahidi dalam tafsirnya menukil dari adh-Dha-hak dari Ibnu Abbas berkata, “Dan tidak dibuka pintu-pintu langit untuk ruh mereka (kaum kuffar), sedangkan dibuka (pintu-pintu langit) untuk ruh kaum Muslimin. “
Dosa besar batin seperti congkak, sombong, dengki, ha-sud, ‘ujub, riya’, bangga diri, angkuh dan terpedaya lebih ga-nas ketimbang zina, meminum khamr, mencuri dan semisal-nya. Sehingga ada seorang hamba berbuat kebaikan malah masuk neraka, sementara seorang hamba yang berbuat ke-burukan malah masuk surga. Wallahu alam
REFERENSI:
Di Tulis Oleh: Zainal Abidin bin Syamsuddin, Diambil Dari Buku: Ya Allah Ampuni Aku, Bertaubat Sebelum Terlambat. Diringkas Oleh: Usman
Baca juga artikel:
