Skip to content

HANYA LIMA PULUH MENIT DALAM SEHARI SOBATKU

ykkokut
3 menit baca

Ibadah yang amat mulia itu merupakan benang merah antara seorang hamba dan Rabb-nya. Ibadah yang sangat agung itu bagaikan sehilir sungai jernih yang mensucikan noda-noda dosa seorang hamba yang rajin mandi di dalamnya. Ya, dialah: shalat lima waktu.

Namun demikian, meskipun ibadah yang satu ini memiliki keutamaan segudang, namun amat menyedihkan karena di akhir zaman ini, banyak orang yang melalaikannya, termasuk sebagian penduduk tanah air kita tercinta. Seolah-olah meninggalkan shalat bagaikan suatu kebiasaan yang lumrah dan dosa yang sepele.

Jika kaum muslimin sekarang ini diiming-imingi untuk melakukan perbuatan dosa seperti: membunuh, merampas kehormatan wanita, mencuri atau meminum minuman keras, niscaya kebanyakan dari mereka akan menolak mentah-mentah untuk melakukannya, dengan alasan perbuatan tersebut adalah dosa yang sangat besar.

Sadarkah mereka bahwa dosa meninggalkan shalat lima waktu jauh lebih besar dari semua perbuatan dosa besar di atas?

Sang Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا  وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

Artinya: “Perjanjian antara kita (kaum muslimin) dengan mereka (kaum musyrikin) adalah shalat.  Barang siapa yang meninggalkannya maka dia telah kafir”. (HR. Imam at-Tirmidzi no. 2621 dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani).

Ini menunjukkan bahwa dosa orang yang meninggalkan shalat jauh lebih besar dari perbuatan-perbuatan  dosa yang telah disebutkan di atas.

Dalam kondisi apapun seorang muslim dituntut untuk mengerjakan shalat, baik itu dalam keadaan sakit parah, perjalanan jauh, peperangan ataupun kondisi susah lainnya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

Artinya: “Peliharalah shalat-shalatmu dan (peliharalah) shalat Ashar. Dan berdirilah karena Allah  dengan khusyu’.” (QS Al-Baqarah: 238).

Hanya saja, di dalam beberapa keadaan, Allah subhanahu wa ta’ala telah memberikan berbagai dispensasi kepada para hamba-Nya untuk mengerjakannya dengan tata cara yang lebih ringan, namun bukan untuk meninggalkannya secara total. Dalam keadaan sakit yang parah misalnya; kita diperkenankan untuk shalat sambil duduk, jika tidak mampu maka dengan berbaring sebelah kanan, jika tidak mampu maka dengan terlentang, dan jika tidak mampu pula maka cukup dengan isyarat tangan atau mata.

Begitu pula dalam perjalanan jauh; kita diperkenankan bahkan disunnahkan untuk meringkas shalat yang empat rakaat menjadi dua rakaat. Begitu pula diperbolehkan -jika dibutuhkan- untuk menggabungkan shalat Dzhuhur dengan Ashar atau Maghrib dengan Isya’ di salah satu waktu dari dua waktu shalat tersebut.

Banyak sekali keringanan-keringanan yang telah Allah berikan pada kita. Pendek kata, kewajiban shalat tidak akan gugur dari diri seorang hamba, kecuali di saat dia telah dikafani dan dishalati oleh kaum muslimin.

Kalau kita mau jujur, seandainya dalam satu kali shalat saja minimal kita membutuhkan sepuluh menit, lalu kita kalikan lima kali waktu shalat, hasilnya hanyalah lima puluh menit. Subhanallah! Hanya kurang dari satu jam dari dua puluh empat jam, Allah ta’ala meminta kita untuk menyisihkannya guna ’dipersembahkan’ untuk Yang telah memberikan kepada kita segalanya! Layakkah kita berlaku kikir pada-Nya?

Allah ta’ala menceritakan percakapan para penghuni neraka,

مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ (42) قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ

Artinya: ”(Dosa) apakah yang mengakibatkan kalian masuk ke dalam neraka? Mereka menjawab: Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat”. (QS. Al-Muddatstsir: 42-43)

Semoga kita bukan termasuk orang-orang yang mengorbankan nikmat akhirat yang abadi guna meraih fatamorgana keindahan dunia yang fana ini. Amin.

 

 

Dari sobatmu yang mencintaimu karena Allah

 

(MAHASISWA UNIVERSITAS ISLAM MADINAH)

 

Saya (Said Yai) berkata, “Ini adalah tulisan yang disebarkan oleh teman-teman ketika perjalanan pulang menuju Indonesia dalam salah satu liburan musim panas atas saran dari Al-Ustadz Al-Fadhil ‘Abdullah Zaen, M.A. .”

 

Bagikan:

Artikel Terkait

Indahnya Saling Memaafkan dalam Cahaya Syariat
Adab 28/02/2026

Indahnya Saling Memaafkan dalam Cahaya Syariat

Indahnya Saling Memaafkan dalam Cahaya Syariat Pendahuluan Memaafkan merupakan salah satu akhlak agung dalam Islam. Allah mendidik kaum Muslimin agar menjadikan pemaaf sebagai karakter utama, karena sifat ini mencerminkan kelembutan hati, ketakwaan, dan kesempurnaan iman. Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak terlepas dari kesalahan, perselisihan, dan kekhilafan. Di sinilah syariat mengajarkan bahwa memaafkan adalah jalan terbaik […]

PENDAMPING SANTRI MELALUI PENDEKATAN PSIKOLOGI
Adab 14/02/2026

Pelatihan Guru: Pendampingan Santri Melalui Pendekatan Psikologi

Pelatihan Guru: Pendampingan Santri Melalui Pendekatan Psikologi Dalam upaya meningkatkan kualitas pembinaan dan pendampingan santri, sejumlah guru mengikuti kegiatan pelatihan bertajuk “Pendampingan Santri Melalui Pendekatan Psikologi.” Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bentuk penguatan kompetensi pendidik dalam memahami karakter, emosi, serta kebutuhan perkembangan santri secara lebih komprehensif. Pelatihan yang berlangsung dengan suasana interaktif ini menghadirkan materi seputar […]

LAZ Kunci Kebaikan

Dana yang disalurkan melalui LAZ Kunci Kebaikan hanya bersumber dari dana halal, tidak bertujuan untuk pencucian uang, terorisme, maupun tindakan kejahatan lainnya.

Legalitas LAZ

Izin Kanwil nomor:
...........................

QRIS Zakat

ZAKAT YKK

Rek. BSI

8643916700

a.n. Zakat YKK

Wajib Konfirmasi ke:

Bpk. Heri Setiawan, S.Pd.
(0822-6666-0856)

Tanpa konfirmasi, dianggap sedekah biasa.

QRIS Zakat

PEDULI SESAMA YKK

Rek. BSI

4557498470

a.n. Peduli Sesama YKK

(Tanpa konfirmasi digunakan untuk program-program LAZ)

Donasi khusus tidak akan dipotong jasa penyaluran.

Sekretariat:

Kompleks Ponpes Darul-Qur'an Wal-Hadits, Jl Tuanku Imam Bonjol, Bunga Mayang, Peracak, OKU Timur, Sumsel (32315)

Klik: Google Map