Skip to content

Fiqih Tarawih Dibulan Ramadhan

ykkokut
6 menit baca
fiqih tarawih di bulan ramadhan

Fiqih Tarawih Dibulan Ramadhan – Tarawih  التراويح secara bahasa artinya istirahat. Sholat ini dinamai “sholat tarawih” lantaran kebiasaan kaum muslimin pada zaman dahulu melakukan sholat setiap empat roka’at (dengan salam setiap dua roka’at), lalu mereka istirahat sejenak, kemudian melanjutkan kembali sholatnya, sebagaimana yang dikatakan oleh Aisyah tentang cara sholat tarawih Rosululloh Shallallahu Alaihi Wasallam:

أَنَّ النَّبِيَّ كَانَ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا

Artinya: “Bahwasanya Nabi melaksanakan sholat (tarawih) empat roka’at, tidak usah engkau tanyakan bagus dan panjangnya; kemudian beliau sholat empat roka’at lagi, tidak usah engkau tanyakan bagus dan panjangnya; kemudian beliau sholat tiga roka’at.” (HR. al-Bukhori dan Muslim)

KEUTAMAAN SHALAT TARAWIH BERJAMA’AH

Rosululloh menganjurkan kepada umat-nya untuk menegakkan sholat tarawih secara berjama’ah dan menjanjikan pahala yang besar bagi pelakunya, di antaranya sabda beliau :

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya: “Barang siapa melaksanakan sholat tarawih karena iman dan mengharap pahala, pasti akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. al-Bukhori dan Muslim)

Dalam hadits yang lain Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam menyebutkan: “Barang siapa mati di atas hal itu (mengucapkan syahadatain, melaksanakan sholat lima waktu, puasa Romadhon, sholat tarawih, dan membayar zakat) maka dia ditulis sebagai orang yang jujur dan termasuk orang yang mati syahid.” (HR. Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Shohih at-Targhib wat-Tarhib: 749)

Dalam hadits lain disebutkan: “Barang siapa melaksanakan sholat tarawih bersama imam sampai selesai, maka dia dicatat telah menegakkan sholat selama satu malam suntuk.” (HR. Ahmad)

WAKTU TARAWIH YANG UTAMA

Sholat tarawih boleh dilakukan setelah melaksanakan sholat Isya’ dan diakhiri dengan datangnya waktu sholat Shubuh (terbit fajar), sebagaimana sabda Rosululloh Shallallahu Alaihi Wasallam:

إِنَّ اللَّهَ زَادَكُمْ صَلَاةً هِيَ الْوِتْرُ فَصَلُّوْهَا بَيْنَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ إِلَى صَلَاةِ الْفَجْرِ

Artinya: “Sesungguhnya Alloh menambahkan bagi kalian suatu sholat, yaitu sholat witir, lakukanlah antara sholat Isya’ sampai sholat Shubuh.” (HR. Ahmad)

Apabila seseorang mampu menegakkan sholat tarawih di akhir malam secara berjama’ah, maka hal ini yang afdhol (lebih utama) baginya daripada sholat tarawih di awal malam, karena sholat di akhir malam dipersaksikan oleh para malaikat; sebagaimana dalam sebuah hadits:

فَإِنَّ صَلَاةَ آخِرِ اللَّيْلِ مَشْهُودَةٌ، وَذَلِكَ أَفْضَلُ

Artinya: “Sesungguhnya sholat di akhir malam itu dipersaksikan, dan itu lebih utama.” (HR. Muslim)

Akan tetapi, apabila seseorang dihadapkan pada dua kemungkinan,  antara sholat tarawih di akhir malam tetapi sendirian atau sholat tarawih di awal waktu tetapi berjama’ah, maka yang lebih utama adalah sholat tarawih berjama’ah di awal waktu karena orang yang sholat tarawih di awal waktu secara berjama’ah hukumnya sama dengan orang yang melakukan sholat malam dari awal hingga akhir malam (semalam suntuk). Hal ini didasari oleh sabda Rosululloh Shallallahu Alaihi Wasallam:

مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ

Artinya: “Barang siapa melaksanakan sholat tarawih bersama imam sampai selesai, maka dia dicatat telah menegakkan sholat satu malam penuh.” (HR. Ahmad)

Oleh karena itu, demikianlah kaum muslimin melaksanakan sholat tarawih semenjak zaman sahabat Rosululloh (yaitu secara berjama’ah di awal waktu, Red), sebagaimana yang dikatakan oleh Abdurrohman bin Abdin al-Qori keadaan pada zaman Umar bin Khoththob Radhiyallahu Anhu:

وَكَانَ النَّاسُ يَقُوْمُوْنَ أَوَّلَهُ

Artinya: “Adalah manusia (di zaman kholifah Umar) menegakkan (tarawih berjama’ah) di awal waktunya.” (HR. Bukhori)

Dan demikianlah kebiasaan kaum muslimin hingga pada zaman Imam Ahmad bin Hanbal Beliau (Imam Ahmad) ditanya: “Apakah sholat tarawih ditegakkan pada akhir malam?” Beliau menjawab: “Tidak, aku lebih menyukai kebiasaan kaum muslimin (tarawih berjama’ah di awal malam).”

RIWAYAT-RIWAYAT YANG SAH DALAM CARA SHALAT TARAWIH

Ada beberapa riwayat yang sah dalam tata cara sholat tarawih yang dilakukan oleh Rosululloh di antaranya:

1. 9 roka’at; tasyahud awal pada roka’at ke-6 dan salam pada roka’at ke-7, lalu sholat 2 roka’at lagi.

Sebagaimana akan datang keterangan hadits masalah ini pada cara kedua.

2. 11 roka’at; tasyahud awal pada roka’at ke-8 dan salam pada roka’at ke 9, lalu sholat 2 roka’at.

Dua cara di atas didasari oleh perkataan Aisyah ketika ditanya oleh Sa’ad bin Hisyam tentang cara sholat malam Rosululloh beliau mengatakan: “Dan Rosululloh sholat malam g roka’at, tidak duduk (tasyahud) kecuali pada roka’at ke-8, beliau berdzikir, bertahmid, dan berdo’a, dan tidak salam lalu bangkit menuju roka’at ke-9, lalu beliau berdzikir, bertahmid, dan berdo’a dan salam sampai ter-dengar oleh kami, kemudian beliau sholat lagi 2 roka’at sambil duduk, maka itu semuanya 11 roka’at wahai anakku. Dan tatkala usia beliau telah tua dan mulai gemuk, beliau melaksanakan sholat witir (sholat malam) 7 roka’at, dan beliau melakukan sholat 2 roka’at lagi seperti yang dilakukan dalam cara pertama tadi; maka semuanya 9 roka’at wahai anakku.” (HR. Muslim)

3. 11 roka’at, salam setiap 2 roka’at, lalu ditutup dengan 1 roka’at.

Hal ini didasari oleh hadits Aisyah, beliau Radhiyallahu Anha mengatakan:

كَانَ النَّبِيُّ يُصَلِّى مَا بَيْنَ الْعِشَاءِ إِلَى الْفَجْرِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُسَلِّمُ فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ يُوتِرُ بِوَاحِدَةٍ.

Artinya: “Adalah kebiasaan Nabi melaksanakan sholat malam antara Isya’ sampai menjelang Shubuh sebanyak 11 roka’at, dengan salam setiap 2 roka’at, dan ditutup de-ngan 1 roka’at.” (HR. Muslim)

4. 11 roka’at, salam setiap 4 roka’at, lalu ditutup 3 roka’at tanpa tasyahud awal

Cara seperti ini didasari oleh hadits Aisyah beliau mengatakan:

مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا

Artinya: “Tidak pernah Rosululloh menambah sholat malam baik ketika Romadhon atau selainnya lebih dari 11 roka’at; beliau sholat 4 roka’at, tidak usah engkau ta-nyakan tentang bagus dan panjang sholatnya, lalu sholat 4 roka’at lagi, tidak usah engkau tanyakan ten-tang bagus dan panjang sholatnya; kemudian sholat 3 roka’at.” (HR. Bukhori dan Muslim)

5. 13 roka’at; diawali 2 roka’at yang ringkas, lalu salam setiap 2 roka’at, dan ditutup 1 roka’at.

Hal ini didasari oleh sabda Rosululloh dari Zaid bin Kholid al-Juhani beliau mengatakan: “Sungguh aku akan mempraktikkan sholat Rosululloh di malam ini. Beliau sholat 2 roka’at yang ringkas, lalu sholat 2 roka’at yang panjang/lama, lalu sholat 2 roka’at lebih pendek dari yang sebelumnya, lalu sholat 2 roka’at lebih pendek dari yang sebelumnya, lalu sholat 2 roka’at lebih pendek dari yang sebelumnya, lalu sholat 2 roka’at lebih pendek dari yang sebelumnya, kemudian sholat witir, maka jumlahnya 13 roka’at.” (HR. Muslim)

6. 13 roka’at; salam setiap 2 roka’at, lalu witir 5 roka’at tanpa tasyahud awal.

Hal ini didasari oleh perkataan Aisyah, beliau Radhiyallahu Anha mengatakan:

كَانَ يَرْقُدُ فَإِذَا اسْتَيْقَظَ تَسَوَّكَ ثُمَّ تَوَضَّأَ ثُمَّ صَلَّى ثَمَانِي رَكَعَاتٍ يَجْلِسُ فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ فَيُسَلِّمُ ثُمَّ يُوتِرُ بِخَمْسٍ رَكَعَاتٍ لَا يَجْلِسُ إِلَّا فِي الْخَامِسَةِ

Artinya: “Biasanya Rosululloh tidur, lalu apabila bangun beliau bersiwak, kemudian berwudhu, lalu sholat 8 roka’at, salam setiap 2 roka’at; kemudian sholat witir 5 roka’at, tidak duduk (tasyahud) kecuali pada roka’at ke-5.” (HR. Muslim)

BACAAN AL-QUR’AN DALAM SHALAT WITIR

Adapun tentang bacaan dalam sholat tarawih, Nabi tidak membatasi dan tidak menentukan surat-surat tertentu yang dibaca, bahkan bacaan Rosululloh sangat beragam panjang atau pendeknya. Kadang-kadang beliau membaca dalam satu roka’at Surat al-Muzammil, kadang-kadang membaca sebanyak kira-kira 50 ayat.

Beliau juga pernah bersabda: “Barang siapa sholat di malam hari membaca 100 ayat, maka dia tidak dicatat sebagai orang yang lalai.”

Dalam hadits lain beliau mengatakan: “Barang siapa membaca 200 ayat, maka dia dicatat sebagai orang yang selalu taat kepada Alloh dan orang yang ikhlas.”

Dan beliau pernah membaca Surat al-Baqoroh, Ali Imron, an-Nisa’, al-Ma’idah, al-An’am, al-A’rof, dan at-Taubah dalam suatu kali sholat malamnya.

Atas dasar ini, apabila seseorang sholat sendi-rian atau bersama orang yang sependapat dengan-nya, maka hendaklah ia panjangkan sesukanya, karena makin panjang sholatnya makin dicintai oleh Alloh. Adapun apabila dia menjadi imam, maka hendaklah ia lakukan sholat tarawih tanpa memberatkan para makmumnya.”

Referensi :

majalah al-Furqon edisi khusus tahun ke 8 INDAHNYA KEBERSAMAAN DALAM BERHARI RAYA, judul Fiqih Tarawih, diringkas oleh Airen Tyarni (pengabdian rumah tahfidz umar bin al-khaththab)

BACA JUGA :

Bagikan:

Artikel Terkait

sedekah utama dan sedekah jariyah
Fiqh 24/02/2026

Sedekah Utama Dan Bentuk Sedekah Jariyah

SEDEKAH-SEDEKAH YANG PALING UTAMA Pertama : Sedekah tersembunyi, karena amalan ini adalah yang paling dekat dengan keikhlasan dibanding dengan cara terang-terangan. Mengenai hal itu, Allah Azza wa Jalla berfirman: إِن تُبْدُواْ الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاء فَهُوَ خَيْرٌ لُّكُمْ Artinya: “Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya […]

seputar adzan dan iqamah
Fiqh 23/02/2026

Seputaran Yang Berhubungan Dengan Adzan Dan Iqamah

Seputaran Yang Berhubungan Dengan Adzan Dan Iqamah – Setiap hari kita mendengar kumandang azan. Kaum Muslimin pun bersegera pergi ke masjid. Adzan adalah seruan pemberitahuan bahwa waktu shalat telah tiba. Adzan dikumandangkan setelah masuk waktu shalat fardhu lima waktu, maupun shalat jum’at. Adzan mengajak kaum Muslimin agar segera bersiap-siap mendirikan shalat. Selain adzan, ada juga […]

LAZ Kunci Kebaikan

Dana yang disalurkan melalui LAZ Kunci Kebaikan hanya bersumber dari dana halal, tidak bertujuan untuk pencucian uang, terorisme, maupun tindakan kejahatan lainnya.

Legalitas LAZ

Izin Kanwil nomor:
...........................

QRIS Zakat

ZAKAT YKK

Rek. BSI

8643916700

a.n. Zakat YKK

Wajib Konfirmasi ke:

Bpk. Heri Setiawan, S.Pd.
(0822-6666-0856)

Tanpa konfirmasi, dianggap sedekah biasa.

QRIS Zakat

PEDULI SESAMA YKK

Rek. BSI

4557498470

a.n. Peduli Sesama YKK

(Tanpa konfirmasi digunakan untuk program-program LAZ)

Donasi khusus tidak akan dipotong jasa penyaluran.

Sekretariat:

Kompleks Ponpes Darul-Qur'an Wal-Hadits, Jl Tuanku Imam Bonjol, Bunga Mayang, Peracak, OKU Timur, Sumsel (32315)

Klik: Google Map