Delapan Barometer Ibadah Yang Baik Dan Diterima (Part 1)
Delapan Barometer Ibadah Yang Baik Dan Diterima (Part 1) – Maka hikmah dari penciptaan adalah ibadah dan menjalani serangkaian cobaan adalah untuk mendapatkan ibadah dengan baik dan sempurna. Kata “ibadah” memiliki dua makna:
- Makna dari sisi hakikatnya
- Makna dari sisi istilahnya
Dengan ungkapan lain: makna dari sisi peribadahan itu sendiri, dan makna dari sisi apa yang digunakan untuk beribadah:
Makna pertama adalah kesempurnaan cinta yang disertai dengan ketundukan dan kehinaan yang sempurna. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, Yang artinya: “Dan Dia-Lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari dan adalah Arsy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah diantara kalian yang lebih baik amalannya, dan jika kamu berkata (kepada orang-orang musyrik), ‘Sesungguhnya kalian akan dibangkitkan sesudah mati, niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata, ‘Ini tidak lain adalah sihir yang nyata’.” (QS. Hud: 7)
Makna kedua adalah sebagaimana yang telah didefinisikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, “Ibadah adalah suatu nama yang mencakup setiap sesuatu yang dicintai oleh Allah dan diridhai-Nya, berupa perkataan dan perbuatan lahir maupun batin.” Ibadah yang baik adalah ibadah yang sempurna, yaitu dilakukan sesuai dengan apa yang diridhai oleh Dzat yang diibadahi. Allah berfirman tentang Khalil-Nya, nabi Ibrahim Alaihis Salam:
وَاِذِ ابْتَلٰى اِبْراهمَ رَبُّه بِكَلِمٰتٍ فَاَتَمَّهُنَّۗ قَالَ اِنِّيْ جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ اِمَامًاۗ قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْۗ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِى الظّالِمِيْنَ
Artinya: “Dan ingatlah, ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna. Allah berfirman, ‘Sesungguhnya aku menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi seluruh manusia’.” (QS. Al-Baqarah: 124)
Nabi Ibrahim berhak untuk mendapat kepemimpinan karena telah menyempurnakan ibadahnya. Rasulullah telah menafsirkan makna ihsan yang merupakan kedudukan tertinggi dalam agama, melalui sabda beliau:
ان تعبد الله كانك تراه فان لم تكن تراه فانه يراك
Artinya: “Kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya dan jika kamu melihat-Nya, maka Dia melihatmu.” (Muttafaqun Alaih)
Beliau menjadikan ihsan berkutat antara keadaan mencari Rahmat Allah dan lari dari azab-Nya. Allah
telah menetapkan untuk hamba-Nya sebab-sebab yang dengannya mereka bisa melakukan ibadah yang baik, dan hal itu telah diwujudkan oleh nabi-Nya, tercakup di dalamnya antara hakikat peribadahan dan kemudahan ibadah.
Sudah sepantasnya bagi orang yang berakal cerdas dan orang yang memiliki keteguhan untuk memahami hikmah-hikmah ini agar tidak luput dari hatinya dan agar dia memperhatikan kebaikan ibadahnya, hingga terpenuhi semua unsurnya, sebagaimana telah Allah perintahkan kepada makhluk terbaik ciptaan-Nya, penghulu para ahli ibadah, penutup para nabi dan rasul untuk mengucapkan:
قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعالَمِيْنَۙ
Artinya: “Sesungguhnya shalatku, sembelihku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, tuhan seluruh alam.” (QS. Al-An’am: 162)
Seseorang yang beramal dengan tepat, baik dan bagus, maka bisa jadi dia akan mendapatkan pencapaian yang tidak pernah dicapai oleh orang lain, berbeda halnya dengan amalan yang banyak. Berikut ada delapan sebab yang diperoleh dari dalil-dalil Al-Qur’an dan as-sunnah, serta pemahaman generasi salaf dari umat ini, yang dapat membantu terwujudnya maksud yang mulia ini.
Hal-hal yang Dapat Merealisasikan Ibadah yang Baik
Pertama: Ikhlas Untuk Allah semata
Ini adalah intisari agama, pokok dakwah para rasul, jenjang tertinggi para hamba berbeda-beda dalam tingkatannya, permata berharga yang orang-orang shalih berlomba-lomba untuk mewujudkannya dan menghindari perkara-perkara yang dapat menodainya. Tidaklah ibadah terlaksana kecuali dengannya, tidaklah ibadah menjadi benar kecuali dengan disertainya. Telah banyak dalil-dalil yang bersumber dari Al-Qur’an dan as-sunnah yang mensyaratkannya dan memotivasinya.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
إِنَّآ أَنزَلْنَآ إِلَيْكَ ٱلْكِتَـٰبَ بِٱلْحَقِّ فَٱعْبُدِ ٱللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ ٱلدِّينَ
Artinya: “Sesungguhnya kami menurunkan kitab Al-Qur’an kepadamu wahai rasul dengan membawa kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan tulus Ikhlas beragama kepada-Nya. Ingatlah hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik dan keburukan).” (QS. Az-Zumar: 2)
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
قُلِ اللّٰهَ اَعْبُدُ مُخْلِصًا لَّه دِيْنِيْۚ
Artinya: “Katakanlah, ‘Hanya Allah yang aku ibadahi, sebagai seorang yang mengikhlaskan agama (ketaatanku) hanya kepada-Nya’.” (QS. Az-Zumar: 14)
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
قُلْ اِنِّيْٓ اُمِرْتُ اَنْ اَعْبُدَ اللّٰهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّيْنَ
Artinya: “Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku diperintahkan agar beribadah kepada Allah sebagai orang yang mengikhlaskan agama (ketaatan) hanya kepada-Nya.’” (QS. Az-Zumar: 11)
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
مَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ
Artinya: “Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali agar beribadah kepada Allah sebagai orang-orang yang mengikhlaskan agama (ketaatan) hanya kepada-Nya bagi orang-orang yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Para as-salaf as-shahih (orang-orang shalih terdahulu) memiliki keadaan-keadaan, kondisi-kondisi, usaha-usaha keras, dan perkataan-perkataan tentang ini: Hamman bin Zaid berkata, “Ayyub as-Sakhtiyani terkadang meriwayatkan hadist dan dia berkata, ‘Alangkah hebatnya penyakit pilek.’ Dia menampakkan diri seolah-olah dia menyembunyikan pilek hanya untuk menyembunyikan tangisan.”
Dari Muhammad bin Wasi’, dia berkata, “Aku telah mendapati beberapa orang yang salah satu diantara mereka kepalanya Bersama kepala istrinya di atas satu bantal, air matanya telah membasahi sesuatu yang ada di bawah pipinya, sementara istrinya tidak mengetahui tentang hal itu. Aku juga telah mendapati beberapa orang yang salah satu diantara mereka berdiri dalam shaf, lalu air matanya berlinang di pipinya, hal itu tidak diketahui oleh orang yang berdiri di sampingnya.”
Dari Ibnu Abu Adi, dia berkata, “Dawud berpuasa selama empat puluh tahun dan hal itu tidak diketahui oleh keluarganya. Dia seorang pedagang sutera, dia membawa makan siangnya dari rumah lalu di sedekahkan makanan itu di jalan, kemudian pulang pada sore hari dan berbuka Bersama keluarganya di rumah.” Yang dimaksud bukanlah puasa setahun penuh, melainkan dia berpuasa dengan puasa yang disyariatkan dan setiap hari yang dia berpuasa padanya, itu tidak diketahui oleh keluarganya.”
Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Telah sampai berita kepadaku bahwa seorang hamba melakukan suatu amalan secara tersembunyi, maka setan selalu saja berusaha menggodanya hingga mengalahkannya, maka hamba itu melakukan amalan secara terng-terangan, kemudian setan masih saja menggodanya hingga dia suka untuk dipuji, maka dia mengakhiri sikap terang-tengannya itu dan beralih kepada riya’.” Maka ikhlas merupakan sebab yang paling besar untuk mewujudkan ibadah yang baik dan ikhlas ini membutuhkan perhatian, pencermatan, pembiasaan, perjuangan, pengawasan, dan evaluasi dari seorang hamba, sehingga jiwanya menjadi suci dan dia menyerahkan diri kepada Allah, tidak menoleh kepada siapapun selain-Nya.
Kedua: Bermutaba’ah Kepada Nabi
Yaitu dengan menjadikan Rasulullah sebagai imamnya dan membayangkan seolah-olah beliau ada di depannya, dimana setiap kali dia hendak melakukan suatu amalan, maka dia bertanya kepada dirinya sendiri, “Jika Rasulullah dalam situasi seperti ini, apa yang beliau lakukan?” kemudian dia mencari petunjuk dari sunnah nabi tentang apa yang beliau lakukan dan apa yang beliau tinggalkan. Diantara dalil-dalil yang menunjukkan pada hal ini adalah:
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
Artinya: “Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagi kalian yaitu bagi orang yang mengharap Rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan berdzikir (mengingat dan menyebut) Allah dengan banyak.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
وَمَآ اٰتاكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْاۚ
Artinya: “Apa yang dibawa rasul kepada kalian, maka terimalah dan apa yang dia larang kalian darinya, maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7)
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berfirman:
صلوا كما رايتموني اصلي
Artinya: “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (Muttafaqun Alaih)
Dalam riwayat lain,
من عمل عملا ليس عليه فهو رد
Artinya: “Barangsiapa yang melakukan suatu amal yang tidak berdasarkan urusan agama kami, maka ia tertolak.” (HR. Muslim)
Ibnu Mas’ud Rahimahullah berkata: “Seserhana dalam melakukan as-sunnah lebih baik daripada bersusah payah dalam melakukan bid’ah.” Berdasarkan hal ini, maka orang yang beribadah tidak boleh membernarkan bid’ah dan jangan membiarkan bid’ah itu terjadi pada dirinya, tetapi dia harus konsisten pada as-sunnah, baik lahir maupun batin.”
Ketiga: Melaksanakannya Disertai Rasa Takut dan Berharap
Inilah keadaan-keadaan orang-orang yang beriman yang bertauhid kepada Allah dan telah Allah beri pujian kepada mereka melalui firman-Nya:
اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ يَبْتَغُوْنَ اِلٰى رَبِّهِمُ الْوَسِيْلَةَ اَيُّهُمْ اَقْرَبُ وَيَرْجُوْنَ رَحْمَتَه وَيَخَافُوْنَ عَذَابَه اِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُوْرًا
Artinya: “Makhluk-makhluk yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan untuk mendekatkan diri kepada tuhan mereka, siapa diantara mereka yang lebih dekat kepada-Nya dan mereka mengharapkan Rahmat-Nya serta takut akan azab-Nya. Sesungguhnya azab tuhanmu adalah sesuatu yang harus diwaspadai.” (QS. Al-Isra’:57)
Inilah cara beriman paling baik, yang sesuai dengan kejiwaan, dengannya akan terwujud peribadahan secara mutlak. Rasa takut dan berharap bagaikan sepasang sayap, yang dengan kedua sayap itulah seorang hamba terbang m,enuju tuhannya. Allah telah menyifati keadaan orang0orang yang beribadah dengan benar, dia berfirman:
وَالَّذِيْنَ يُؤْتُوْنَ مَآ اٰتَوْا وَّقُلُوْبُهُمْ وَجِلَةٌ اَنَّهمْ اِلٰى رَبِّهِمْ راجِعُوْنَۙ
Artinya: “Dan mereka yang memberikan apa yang mereka berikan (sedekah) dengan hati yang penuh rasa takut karena mereka tau bahwa sesungguhnya mereka akan Kembali kepada tuhannya” (QS. Al-Mu’minun: 60)
Ibnu Katsir Rahimahullah berkata, “Yakni mereka memberikan suatu pemberian, sementara mereka khawatir dan takut jika pemberian itu tidak diterima, karena ketakutan mereka jika pemberian itu tidak memenuhi syarat pemberian, ini adalah sikap ketelitian dan kehati-hatian.” Allah berfirman Ketika mengisahkan tentang nabi Ibrahim Khalilullah dan putranya, nabi Ismail saat keduanya meninggalkan dasar-dasar Baitullah:
وَاِذْ يَرْفَعُ اِبْراهيْم الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَاِسْمٰعِيْلُۗ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّاۗ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Artinya: “Wahai tuhan kami, terimalah amal dari kami. Sesungguhnya Engkaulah yang maha mendengar lagi maha mengetahui.” (Al-Baqarah: 127)
Abu Ad-Darda’ berkata, “Seandainya aku bisa memastikan bahwa Allah telah menerima satu shalat dariku, maka hal itu lebih aku sukai daripada dunia beserta isinya, karena sesungguhnya Allah Subhanhau Wata’ala telah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Ma’idah: 27.
Keempat: Khusyu’, Rendah Hati dan Lapang Dada
Ini adalah kondisi istimewa yang merupakan hasil dari sikap sebelumnya, Dimana orang yang beriman mempunyai kepribadian ini secara lahir maupun batin, Dimana hatinya menjadi tenang, dan ini akan tampak pada raut mukanya dan gerakan anggota badannya pada semua ibadah-ibadah yang dia lakukan. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman tentang shalat:
قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَۙ الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلَاتِهِمْ خاشِعُوْنَ
Artinya: “Sesungguhnya beruntung orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam shalat mereka.” (QS. Al-Mu’minun:1-2)
Referensi:
Penulis: Dr. Ahmad bin Abdurrahman al-Qadhi
Judul Buku: Delapan Barometer Ibadah yang Baik dan Diterima. Cetakan ke-1, Sya’ban 1437 H (05.2016 M)
Penerbit: Darul Haq, Jakarta. Diringkas oleh: Wahyu Puspa Melati
BACA JUGA :
