Skip to content

Apakah Jin Mukmin Akan Masuk Surga?

Khoirul Anam
11 menit baca
Apakah Jin Mukmin Masuk Islam?

Apakah Jin Mukmin Akan Masuk Surga?

Para ulama, baik dari kalangan salaf dan khalaf, telah bersepakat bahwa jin kafir akan masuk neraka. Tetapi, mereka berbeda pendapat mengenai jin Mukmin. Apakah mereka akan masuk surga seperti halnya manusia yang beriman? Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani Rahimahullah berkata, “Ada empat pendapat para ulama mengenai hal ini: Pendapat pertama: Jin muslim juga akan masuk surga. Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Pendapat kedua: Mereka bertempat tinggal di dalam surga. Pendapat ini dinukil dari Imam Malik dan segolongan ulama yang lain. Pendapat ketiga: Mereka termasuk golongan “Ashhabul A’raf (Golongan yang berada di atas pagar yang terletak di antara surga dan neraka). Pendapat keempat Tidak memberikan jawaban mengenai hal ini. Ibnu Katsir berkata, “Pada hakikatnya, jin Mukmin sama persis dengan manusia yang beriman. Mereka akan masuk surga, dan ini adalah menurut mazhab jumhur ulama salaf. Sebagian dari mereka mengambil dalil dalam menyatakan hal ini dari firman Allah Subhanahu Wata’ala:

لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌّ

Artinya:

“Mereka (bidadari-bidadari surga itu) tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.” (QS. Ar-Rahmân: 74).

               la Tetapi, pengambilan dalil dari ayat ini masih perlu dipertimbangkan lagi. Dalil yang lebih tepat adalah firman Allah Subhanahu Wata’ala:

وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Artinya:

Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Rabb-nya ada dua surga. Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman: 46-47).

                Yang dimaksud dua surga di sini adalah, yang satu untuk manusia yang satu lagi untuk jin. Ada juga ahli Tafsir yang berpendapat surga dunia dan surga akhirat. Allah memberikan karunia berupa surga kepada mereka yang berbuat kebajikan dari kalangan jin dan manusia. Ucapan syukur bangsa jin atas turunnya karunia Allah ini lebih mendalam dibandingkan bangsa manusia, mereka mengatakan, “Tidak ada sedikit pun dari berbagai karunia-Mu yang kami dustakan wahai Rabb kami, hanya untuk Mulah segala puji.” Oleh karena itu, Allah tidak akan menanugerahkan kepada mereka kenikmatan yang tidak bisa mereka raih.”

 Saya katakan, ‘Hal ini mengisyaratkan kepada hadits yang diriwayatkan Imam Tirmidzi, dari Jabir bin Abdullah, bahwa dia berkata, ‘Rasulullah pernah membaca surah Ar-Rahman hingga khatam. Lalu beliau bersabda, ‘Mengapa kalian hanya diam? Sesungguhnya jawaban dari kalangan jin lebih baik daripada kalian, setiap kali aku membacakan ayat ini:

فَبِأَيِّ الَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Artinya:

“Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?” Mereka selalu mengatakan, ‘Tidak ada sedikit pun dari berbagai karunia-Mu yang kami dustakan wahai Rabb kami, hanya untuk-Mu-lah segala puji’.” (HR. At-Tirmidzi dalam sunannya)

Ibnu Taimiyyah Rahimahullah berkata: “Di akhirat kelak, jin yang kafir akan disiksa, dan ini sudah menjadi kesepakatan kalangan ulama. Sedangkan jin yang beriman, akan masuk surga, dan ini adalah pendapat jumhur ulama.”

 Dia berkata, “Ada sebuah riwayat yang mengatakan bahwa mereka berada di “Rabdhul Jannah” (suatu tempat di surga yang bisa dilihat bangsa manusia, namun penghuninya tidak bisa melihat mereka). Pendapat ini dinukil dari Imam Malik, Imam Syafi’i, Abu Yusuf dan Muhammad dua ulama terkemuka yang merupakan murid Abu Hanifah ada juga yang mengatakan bahwa ganjaran yang diperoleh kalangan jin adalah keselamatan dari api neraka. Pendapat ini dinukil dari Imam Abu Hanifah. “

Jin Takut kepada Manusia

Ibnu Abid Dunya meriwayatkan bahwa Mujahid pernah berkata, “Pada suatu malam, ketika saya sedang melakukan shalat, tiba-tiba sesosok makhluk yang mirip anak kecil berdiri di hadapan saya.” Dia berkata, “Saya pun mendekatinya untuk menangkapnya, tetapi dia segera meloncat ke belakang tembok, hingga saya mendengarkan suara loncatannya. Dan setelah itu, dia tidak pernah datang lagi.” Mujahid melanjutkan, “Sesungguhnya bangsa jin merasa takut kepada kalian, sebagaimana kalian juga merasa takut kepada mereka.” Mujahid juga berkata, “Setan lebih takut kepada kalian daripada rasa takut kalian kepadanya. Jika dia muncul di hadapan kalian, janganlah kalian merasa takut kepadanya, karena jika kalian takut, dia akan mampu mengendarai (menguasai) kalian. Tetapi hampirilah dia, karena dia akan pergi.”

Al-Hafizh Abu Bakar Muhammad bin Muhammad bin Sulaiman Al-Baghindi berkata, “Ahmad bin Bakar bin Abu Maimunah bercerita kepada kami, “Ghiyats bercerita kepada kami bahwa Mujahid berkata, ‘Setiap kali saya melaksanakan shalat, setan selalu menjelma di hadapan saya dalam bentuk Abdullah bin Abbas, maka saya teringat dengan perkataan Ibnu Abbas Suatu ketika, saya meletakkan pisau di samping tempat shalat, tiba-tiba setan menjelma di hadapan saya, saya pun menghampirinya dan menusuknya. hingga makanannya terjatuh. Setelah itu, saya tidak pernah lagi melihatnya’.”

Al-Hafizh Al-Baghindi ini pernah dikomentari Al-Hafizh Ibnu Hajar. ‘Dia seorang rawi yang terkenal mudallis (suka menutup-nutupi/menipu dalam meriwayatkan), meski dia juga seorang yang jujur dan terpercaya. Tetapi saya katakan. ‘Dalam riwayat ini Al-Baghindi menggunakan metode ‘tahdits’ (bercerita). Dengan begitu ketadlisannya tidak dianggap.

Jin Merasa Dengki kepada Manusia

 Ibnul Qayyim berkata, “Ada dua jenis mata, mata manusia dan mata jin. Dalam sebuah hadits shahih riwayat, Ummu Salamah bercerita Rasulullah pernah melihat seorang budak perempuan yang wajahnya terdapat warna kuning (sufah), yang berada di dalam rumahnya (Ummu Salamah). Maka beliau bersabda, “Bacalah ruqyah untuk sarana perlindungan diri darinya. karena dia memiliki pandangan.” Husein bin Masud Al-Fara berkata, “Maksud dari sufah adalah pandangan yang datang dari jin.” Saya berkata, “Hadits ini diriwayatkan “Asy-Syaikhani” (Imam Bukhari dan Muslim).

Imam Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits yang dianggap hasan oleh Nasa’i dari Abu Said Al-Khudria, ia berkata bahwa Rasulullah berlindung dari bangsa jin dan pandangan manusia, sampai diturunkannya surah Al- Mu’awwidzatain (Al-Falaq dan An-Nas). Maka beliau pun meninggalkan bacaan yang lain.” Sampai di sini, jelaslah bagi kita bahwa bangsa jin terkadang merasa dengki kepada manusia. Adapun terapi terhadap gangguan jin karena kedengkiannya. akan kami sebutkan pada buku yang lain (serial buku kedua), insya Allah.

Apakah Jin Menikah dan Mempunyai Keturunan?

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ وَ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلًا

Artinya:

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka dia mendurhakai perintah Rabb-nya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu. Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang dzalim.” (QS. Al-Kahfi: 50).

Al-Qadhi Badruddin Muhammad bin Abdullah Asy-Syibli berkata, “Ayat mulia ini menunjukkan bahwa bangsa jin juga melakukan pernikahan demi memperoleh keturunan.” Sebagian ulama juga berpendapat bahwa bangsa jin juga melakukan pernikahan dengan berdalil pada firman Allah Subhanahu Wata’ala:

فِيهِنَّ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌّ

Artinya:

“Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin.” (Ar-Rahman: 56).

 Sedangkan Al-Baihaqi meriwayatkan, “Dari Abdullah bin Masud , ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ خَمْسَةَ عَشَرَ بَنِي إِخْوَةٍ وَبَنِي عَمَّ يَأْتُونِي اللَّيْلَةَ أَقْرَأُ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنَ

Artinya:

“Sesungguhnya sebanyak lima belas jin dari Bani Ikhwah dan Bani ‘Ammin hadir pada malam aku membacakan Al-Qur’an kepada mereka”. (HR. Al-Baihaqi)

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Wahab bin Munabbih, bahwa dia pernah ditanya mengenai hakikat jin; apakah mereka makan, minum, menemui ajal dan saling menikah? Dia menjawab, “Mereka terdiri dari beberapa jenis. Jin yang paling murni (asli) adalah berupa angin, mereka tidak makan, tidak minum, tidak mati dan juga tidak mempunyai berketurunan. Tetapi, ada juga jenis jin yang makan, minum, mati dan melakukan perkawinan.”

Pada hari kiamat, jin akan memberikan persaksian bagi orang yang mengumandangkan adzan. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Said Al- Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda kepadanya: “Aku perhatikan kamu sangat menyukai kambing dan menggembalakannya ke lembah. Jika kamu berada di suatu lembah bersama kambingmu, lalu kamu ingin mengumandangkan suara adzan untuk shalat, keraskanlah suaramu.

 Karena setiap jin, manusia dan apa saja yang mendengar suara muadzin yang mengumandangkan adzan, kelak pada akan menjadi saksi baginya hari kiamat.” Oleh karena itu, setiap kali setan mendengarkan kumandang adzan, dia akan lari terbirit-birit, menjauh dan dia akan mengeluarkan kentut, supaya tidak bisa mendengarnya. Sebab, kalau mendengarnya, kelak pada hari kiamat dia akan ikut memberikan persaksian kepadanya. Padahal dia adalah musuh bebuyutan bagi orang yang beriman. Lalu bagaimana mungkin dia akan memberikan persaksian kepada musuhnya?

Imam Malik, Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah bersabda: “Jika adzan dikumandangkan untuk melaksanakan shalat, setan akan berpaling dengan mengeluarkan kentut supaya dia tidak mendengarkan suara adzan tersebut. Dan setelah kumandang adzan selesai, dia akan kembali hingga iqamah untuk shalat dikumandangkan, dan setelah iqamah selesai, dia kembali lagi. lalu dia mengganggu orang yang shalat dan berkata, “Ingatlah ini, ingatlah itu, padahal sebelumnya dia tidak pernah memikirkannya, hingga orang tersebut tidak mengetahui; sudah berapa rakaatkah shalatnya!”

Kapan setan-setan berpencar?

 Di dalam “Ash-Shahihain” terdapat hadits yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ أَوْ أَمْسَيْتُمْ فَكُفُوا صِبْيَانَكُمْ فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ تَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ. فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةً مِنَ اللَّيْلِ فَخَلُوْهُمْ وَأَغْلِقُوا الْأَبْوَابَ وَذَكَرُوا اسْمَ الله فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لا يَفْتَحُ بَابًا مُغَلَّقًا وَأَوْكُوْا قِرَبَكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهُ وَخَمْرُوا آنِيَتِكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ الله وَلَوْ أَنْ تُعْرِضُوا عَلَيْهَا شَيْئًا وَأَطْفِئُوا مَصَابِيحَكُمْ

Artinya:

Jika malam mulai menjelang masuk waktu maghrib, tahanlah anak-anak kalian di dalam rumah; karena pada waktu itu, setan-setan berpencar. Jika telah berlalu satu jam, lepakanlah mereka dan tutuplah pintu-pintu rumahmu serta sebutlah nama Allah; karena setan tidak dapat membuka pintu yang tertutup. Tutupilah geriba-geriba kalian dan sebutlah nama Allah, tutuplah wadah-wadah kalian dan sebutlah nama Allah, meskipun hanya dengan melintangkan kayu di atasnya. Dan padamkanlah lampu-lampu kalian.” (Muttafaqun Alaih)

Ada lima perkara penting yang dapat disimpulkan dari hadits ini, yaitu:

1. Memelihara anak-anak.

2. Menutup pintu-pintu.

3. Mengikat geriba-geriba dengan menyebut nama Allah.

4. Menutup wadah-wadah dengan menyebut nama Allah.

5. Memadamkan lampu ketika akan tidur.

 Adapun penyebab perkara pertama dan kedua, telah dijelaskan langsung oleh Rasulullah di dalam hadits ini. Sedangkan perkara yang ketiga dan keempat, penyebabnya dijelaskan oleh hadits lain yang diriwayatkan di dalam “Ash-Shahihain” juga bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

غَطُوا الإِناءَ وَأَوْكُوا السَّقَاءَ وَأَغْلِقُوا الْبَابَ وَأَطْفِئُوا السَّرَاجَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لا يَحُلُّ سَفَاءَ وَلَا يَفْتَحُ بَابًا وَلَا يَكْشِفُ إِنَاءً فَإِنْ لَمْ يَجِدُ أَحَدُكُمْ إِلَّا أَنْ يَعْرُضُ عَلَى إِنَّائِهِ عُوْدُ وَيَذْكُرُ اسْمَ اللَّهُ فَلْيَفْعَلْ

Artinya:

“Tutuplah wadah dan tempat air minum serta pintu-pintu rumah kalian, dan padamkanlah lampu kalian; karena setan tidak dapat menempati geriba, membuka pintu dan tidak juga menyingkap wadah. Jika kalian tidak mendapati penutup tempat-tempat air kecuali hanya seranting kayu, maka lakukanlah dengan menyebut nama Allah.” (Muttafaqun Alaih)

 Adapun perkara yang kelima, penyebabnya dijelaskan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan dishahihkan oleh Hakim dan Ibnu Hibban dari Abdullah bin Abbas dia berkata: “Ada seekor tikus datang, lalu menarik sumbu, kemudian aku membawanya di hadapan baginda Rasulullah di atas tikar kecil yang sedang beliau duduki, maka ia membakar tikar tersebut sehingga meninggalkan bekas bakaran sebesar uang dirham. Kemudian Nabi Muhammad bersabda, “Jika kalian hendak tidur, padamkanlah lampu kalian; karena dengan lampu ini setan dapat menuntun tikus ini pada tempat seperti ini, lalu dia akan membakarnya.” Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Pada hadits ini terdapat penjelasan bahwa yang menuntun tikus untuk menarik sumbu itu adalah setan. Dan dia (setan) meminta bantuan kepada musuh manusia yang lain, yaitu api. Semoga Allah melindungi kita semua dari perbuatan jahat musuh-musuh kita. Sesungguhnya Allah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Di dalam shahih Muslim terdapat sebuah hadits-marfu-yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdullaha, ia berkata, “Janganlah kalian biarkan unta, lembu, kambing dan yang sejenisnya, serta anak-anak kalian masih berkeliaran di luar rumah ketika matahari terbenam hingga kabut malam (waktu Isya’) sirna; karena setan-setan bertebaran ketika matahari terbenam, hingga kabut malam sirna.

Ibnul Jauzi Rahimahullah berkata, “Hikmah dari bertebarnya bangsa jin pada saat itu adalah; bahwa gerakan mereka di waktu malam lebih leluasa daripada di waktu siang, karena kegelapan lebih dapat memberikan kekuatan bagi setan daripada siang. Begitu juga dengan setiap warna yang hitam. Oleh karena itu, di dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Dzarr Al-Ghifari dikatakan, ‘Anjing hitam adalah setan’.” Perkataan ini dinukil oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar dari Ibnul Jauzi di dalam Fathul Bari.

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal Rahimahullah berkata, “Ayah saya selalu tidur pada pertengahan waktu siang; baik di waktu musim dingin maupun musim panas. Dan dia menyuruh saya untuk mengikutinya, dia berkata, ‘Umar bin Khatthab berkata, ‘Hendaknya kalian tidur di waktu siang, karena setan tidak perah tidur siang’.”

 Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Nuaim secara marfu’ sedangkan, Al- Albani menganggapnya sanadnya hasan.”

Sebagian Hewan Dapat Melihat Setan

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمْ نَهِيقَ الْحِمَارِ فَتَعَوَّذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهَا رَأَتْ شَيْطَانًا وَإِذَا سَمِعْتُمْ صِيَاحَ الدَّيْكَةِ فَسَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ فَإِنَّهَا رَأَتْ مَلَكًا

Artinya:

“Jika kalian mendengarkan suara ringkikan keledai, maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari (gangguan) setan; karena ia melihat setan. Dan jika kalian mendengarkan kokokan ayam jantan, mohonlah karunia kepada Allah; karena ia melihat malaikat”. (Muttafaq ‘alaih).

Referensi:

Judul Buku          : Ruqyyah Jin Sihir dan Terapinya(lanjutan artikel bulan januari)

Penulis                 : Syaikh Wahid Abdussalam Bali

Diringkas oleh    : Ashilah Zahra

Tanggal                : 21 Febuari 2026

Baca juga artikel:

Luasnya Samudera Rezeki

Jangan Kalah dengan Ayam Jantan

Bagikan:

Artikel Terkait

kunci rezeki perspektif syariat islam 1
Aqidah 04/03/2026

Kunci-Kunci Rezeki Dalam Perspektif Syariat Islam (Bagian Ke-1)

Kunci-Kunci Rezeki Dalam Perspektif Syariat Islam (Bagian Ke-1) – Syaikh Abdurrohman as-Sa’di rohimahullah berkata: “Allah Azza wajalla menyebut orang-orang yang mendustakan para nabi, bahwa mereka ditimpa kesengsaraan hidup sebagai peringatan dan ancaman, dan diuji dengan kesenangan sampai waktu yang ditentukan, sebagai tipu daya dan mereka akan dibinasakan bila saatnya tiba. Kemudian Allah Azza wajalla menyebutkan […]

Aqidah 27/02/2026

Qadha dan Qadhar, Diangkatnya Pena dan Keringnya Cahaya

Qadha dan Qadhar, Diangkatnya Pena dan Keringnya Cahaya – “Ketahuilah, seandainya seluruh umat ini berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak akan memberikan manfaat, melainkan dengan sesuatu yang Allah tetapkan bagimu. Dan seandainya seluruh umat ini berkumpul untuk menimpakan mudharat (bahaya) kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak akan dapat memberikan mudharat (bahaya) […]

LAZ Kunci Kebaikan

Dana yang disalurkan melalui LAZ Kunci Kebaikan hanya bersumber dari dana halal, tidak bertujuan untuk pencucian uang, terorisme, maupun tindakan kejahatan lainnya.

Legalitas LAZ

Izin Kanwil nomor:
...........................

QRIS Zakat

ZAKAT YKK

Rek. BSI

8643916700

a.n. Zakat YKK

Wajib Konfirmasi ke:

Bpk. Heri Setiawan, S.Pd.
(0822-6666-0856)

Tanpa konfirmasi, dianggap sedekah biasa.

QRIS Zakat

PEDULI SESAMA YKK

Rek. BSI

4557498470

a.n. Peduli Sesama YKK

(Tanpa konfirmasi digunakan untuk program-program LAZ)

Donasi khusus tidak akan dipotong jasa penyaluran.

Sekretariat:

Kompleks Ponpes Darul-Qur'an Wal-Hadits, Jl Tuanku Imam Bonjol, Bunga Mayang, Peracak, OKU Timur, Sumsel (32315)

Klik: Google Map