Adab Murid Kepada Gurunya
ADAB MURID KEPADA GURUNYA
Karena pada dasarnya ilmu itu tidak bisa dipelajari dari buku, akan tetapi harus dari guru yang membimbingmu me-nguasai kunci-kunci belajar agar engkau selamat dari kesalah-an dan ketergelinciran; oleh karena itu, engkau harus menjaga sikap hormat kepada guru. Sungguh, sikap hormat kepada guru merupakan indikasi kesuksesan, keberhasilan, dan taufik. Hendaklah engkau menghormati, memuliakan, menghargai, dan bersikap ramah kepada gurumu. Laksanakan semua adab sopan santun kepada guru ketika engkau duduk bersamanya dan ber-bicara dengannya. Hendaknya engkau bertanya dengan baik, mendengar dengan saksama, sopan dalam membaca buku dan membawa buku di hadapannya. Jangan bersikap lancang dan ber-debat di hadapannya. Jangan mendahuluinya berbicara atau berja-lan. Jangan banyak bicara di hadapannya, menyela pembicaraan dan pelajarannya, atau mendesaknya menjawab pertanyaan.
Hindarilah banyak bertanya, ferutama di hadapan khalayak ra mai, Sebab, semua itu akan membuatmu lupa diri dan gurumu bosan.
Jangan memanggil gurumu dengan menyebut namanya saja atau menyebut nama dan julukannya, misalnya: “Wahai Guru Fulan!” Tetapi, katakan, “Wahai guruku!” Atau, “Wahai guru kami!” Jangan menyebut namanya karena yang demikian itu lebih santun. Jangan berbicara kepadanya dengan menggu nakan kata ganti “kamu” atau memanggilnya dari jauh kecuali dalam keadaan darurat.
Perhatikan petunjuk yang disebutkan oleh Allah ten-tang adab kepada “guru yang mengajarkan kebaikan kepada se-luruh manusia, yaitu Nabi Muhammad, dalam firman-Nya:
لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُم بَعْضًا …
Artinya: “Jangan kaujadikan panggilanmu kepada Rasul seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian lain…” (QS. An-Nûr [24: 64)
Tidak sepatutnya engkau memanggil ayah kandungmu de-ngan panggilan, “Wahai Fulan (menyebut namanya peneri)!” atau “Wahai Ayahku Fulan!” Begitu pula halnya, tidak baik jika eng-kau memanggil gurumu seperti itu. Berusahalah selalu menghormati forum belajar, menun-jukkan rasa gembira terhadap pelajaran, dan mengambil manfaat darinya.
Jika engkau mengetahui kesalahan atau kekhilafan guru, jangan sampai hal itu menjatuhkan kedudukannya di matamu, karena sikap itu akan menyebabkanmu terhalang dari menda patkan ilmunya. Siapakah orang yang bisa sama sekali bersih dari kesalahan?
Hindari melakukan hal-hal yang mengesalkan guru dan apa yang disebut oleh orang-orang Arab keturunan sebagai “perang urat saraf, yaitu: menguji kemampuan ilmiah dan kesabaran guru.
Jika engkau memandang perlu pindah kepada guru lain maka mintalah izin kepadanya. Itu lebih memelihara sikap hor-matmu kepadanya dan lebih menjaga hatinya agar tetap mencintai dan me-nyayangimu.
Laksanakan berbagai adab lain yang secara naluriah bisa diketahui oleh setiap orang yang mendapat taufik dan diberkati dalam rangka memenuhi hak gurumu sebagai “ayah spiritual” atau yang dalam beberapa konstitusi disebut sebagai “radha’ ad-abi”. Sebutan “ayah spiritual” yang dilakukan oleh para ulama lebih tepat, namun meninggalkannya lebih baik. Ketahuilah, se-suai dengan kadar penjagaan rasa hormatmu kepada guru akan diperoleh kesuksesan, sebaliknya sesuai dengan kadar pengabai-annya terlihat tanda-tanda kegagalan.
Peringatan Penting!
Aku memohon agar Allah melindungimu dari perilaku orang-orang Ajam, para pengikut tarikat dan ahli bid’ah di kalangan khalaf, yaitu sikap hormat yang menyimpang dari adab-adab syar’i, seperti: menjilat tangan, mencium pundak, memegangi tangan kanan guru dengan kedua tangan ketika bersalaman seperti keadaan orang-orang dewasa ketika me nunjukkan kasih sayang kepada anak-anak, membungkuk ketika mengucapkan salam, menggunakan istilah istilah yang merendahkan seperti: tuan, sayyidi, maulaya, dan sebagainya yang biasa digunakan oleh para pembantu dan budak.
Perhatikan perkataan Ulama Salafi, Syaikh Muhammad Basyir Ibrahimi Al-Jazairi (w. 1380 H) Buku tersebut luar biasa. 36 dalam Al-Basha ir.
. Wahai Penuntut Ilmu, Modalmu dari Gurumu
Modalmu dari gurumu adalah meneladani akhlak baik dan sifat mulianya. Adapun kegiatan belajar dan mengajar adalah ke untungan tambahan. Tapi, janganlah kecintaanmu kepada guru itu menjerumuskanmu dalam keburukan sedangkan engkau ti-dak merasa, padahal semua orang yang melihatmu mengetahui. Jangan meniru suara, nada bicara, cara berjalan, gerakan, dan penampilan gurumu. Ia menjadi guru yang dihormati dengan semua hal itu, tapi jangan merendahkan dirimu dengan menirunya dalam hal-hal seperti ini.
Semangat Mengajar Guru
Semangat mengajar guru tergantung sejauh mana murid mendengarkan pelajaran dengan saksama dan berkonsentrasi di dalamnya. Tergantung pula kepada reaksi inderanya terhadap guru dalam pelajaran. Oleh karena itu, berhati-hatilah jangan sampai engkau menjadi saraana yang menghambat ilmunya de ngan bermalas-malas, lelah, bersandar, serta tidak atau kurang konsentrasi.
Khathib Baghdadi mengatakan”:
حَقُّ الْفَائِدَةِ أَلَّا تُسَاقَ إِلَّا إِلَى مُبْتَغِيْهَا وَلَا تُعْرَضَ إِلَّا عَلَى الرَّاغِبِ فِيْهَا، فَإِذَا رَأَى الْمُحَدِّثُ بَعْضَ الْفُتُوْرِ مِنَ الْمُسْتَمِعِ فَلْيَسْكُتُ، فَإِنَّ بَعْضَ الْأَدَبَاءِ قَالَ: نَشَاطُ الْقَائِلِ عَلَى قَدْرِ فَهُمِ الْمُسْتَمِعِ
Terjemahannya: “Hak ilmu adalah hendaknya ia tidak diberikan kepada orang yang tidak menginginkannya, jangan disodorkan ke-pada orang yang tidak berminat kepadanya. Jika seorang pembicara melihat kelesuan pada pendengar, hendaklah ia diam. Karena sebagian pujangga mengatakan: ‘Semangat pembicara itu tergantung kepada kadar kepahaman pende-ngar.”
Kemudian, ia membawakan riwayat dengan sanad dari Zaid bin Wahab, ia berkata: Abdullah berkata:
حَدَثِ الْقَوْمَ مَا رَمَقُوكَ بِأَبْصَارِهِمْ فَإِذَا رَأَيْتَ مِنْهُمْ فترة فالزغ
Terjemahannya: “Berbicaralah kepada orang-orang selama mereka menga rahkan pandangan mata kepadamu. Jika kaulihat kelesuan pada mereka, berhentilah!”
Menulis Ucapan Guru
Mengenai menulis ucapan guru, keadaan antara satu guru berbeda dengan guru yang lain maka pahamlah!
Hal ini memiliki adab dan syarat. Adapun adabnya adalah, seyogianya kauberitahu gurumu bahwa engkau akan menulis atau telah menulis ucapan yang telah kaudengarkan sebagai ba-han pelajaran.
Adapun syaratnya, hendaklah kausebutkan bahwa engkau menulisnya dari mendengarkan pelajarannya.
Belajar dari Ahlubid’ah
Berhati-hatilah terhadap “abu jahal” (biang kebodohan), yaitu ahlubid’ah, yang telah dipengaruhi oleh penyimpangan akidah dan diliputi oleh awan khurafat, yang menjadikan hawa nafsu sebagai anutan, menyebutnya sebagai akal, dan mening-galkan nash. Bukankah akal yang sebenarnya itu mengikuti nash?! la berpegang kepada riwayat dha’if dan menjauhi riwayat shahih. Para ahlubid’ah, kadang juga disebut dengan ahlusyubu-hatth atau ahluahwa’. Oleh karena itu, Ibnu Mubarak menyebut para ahlubid’ah dengan sebutan ashaghir (orang-orang kecil).
Imam Dzahabi Rahimahullah mengatakan:
إِذَا رَأَيْتَ الْمُتَكَلِّمَ الْمُبْتَدِعَ يَقُولُ: دَعْنَا مِنَ الْكِتَابِ وَالْأَحَادِيثِ وَهَاتِ الْعَقْلَ، فَاعْلَمْ أَنَّهُ أَبُو جَهْلٍ، وَإِذَا رَأَيْتَ السَّالِكَ التَّوْحِيدِي يَقُوْلُ : دَعْنَا مِنَ الْنَّقْلِ وَمِنَ الْعَقْلِ وَهَاتِ النَّوْقَ وَالْوَجْدَ، فَاعْلَمْ أَنَّهُ إِبْلِيسُ قَدْ ظَهَرَ بِصُورَةِ بَشَرٍ أَوْ قَدْ حَلَّ فِيْهِ، فَإِنْ جَبْنْتَ مِنْهُ فَاهْرُبْ وَإِلَّا فَاصْرَعْهُ وَابْرُكْ عَلَى صَدْرِهِ وَاقْرَأْ عَلَيْهِ آيَةَ الْكُرْسِي، وَاخْنُقْهُ.
Terjemahannya: “Jika engkau melihat seorang ahlukalam, yang juga ahli-bid’ah, mengatakan: ‘Biarkan kami meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, tetapi berikan kepada kami “akal”, maka ketahuilah sesungguhnya dia itu biang kebodohan. Dan jika engkau melihat orang-orang sufi mengatakan: ‘Biarkan kami meninggalkan dalil naqli maupun aqli, berikan kepada kami perasaan’, maka ketahuilah bahwa ia itu Iblis yang telah menjelma sebagai manusia atau telah merasukinya. Jika eng-kau takut kepadanya, larilah darinya. Jika tidak takut maka. Wallahu taala a’lam.
REFERENSI:
Di Tulis Oleh : Bakr bin Abdullah Abuzaid, DI Ambil Dari : Buku Hilyah Thalibil Ilmi
Diringkas Oleh : Abdul Hadi,S.Pd.
Baca juga artikel:
