Macam-Macam Syirik Besar
MACAM -MACAM SYIRIK BESAR
Masih dari Ibnu Rajab Rahimahullah, “Allah menikmati orang-orang musyrik bahwa mereka adalah orang-orang yang mengikuti hawa nafsu dalam beberapa ayat dalam kitabNya Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
فَاِنْ لَّمْ يَسْتَجِيْبُوْا لَكَ فَاعْلَمْ اَنَّمَا يَتَّبِعُوْنَ اَهْوَاۤءَهُمْۗ وَمَنْ اَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوٰىهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ
Artinya:
“Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), maka ketahuilah bahwa mereka hanyalah mengikuti keinginan mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti keinginannya tanpa mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun? Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” ( QS Al-Qoshosh : 50)
Demikian juga Ahli bid’ah, iya lahir karena mendahulukan hawa nafsu atas syariat, karena itu ahli bid’ah disebut juga pengikut hawa nafsu. Demikian juga kemaksiatan, iya lahir karena mendahulukan hawa nafsu di atas cinta Allah dan apa yang Allah cintai. Demikian juga cinta seseorang, yang semestinya dicintai mengikuti apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam seorang mukmin wajib mencintai Allah, mencintai apa yang Allah cintai, yaitu malaikat-malaikat, para rasul, para nabi, para Sodiqin, syuhada, dan orang-orang Saleh secara umum.
Hal-hal lain yang menafikan tauhid.
Ada hal-hal yang juga menafikan tauhid dan menyebabkan murtad dari Islam. Di antaranya adalah berburu sangka kepada allah, menghina sesuatu yang mengandung dzikir kepada Allah subhanahu wa Ta’ala.
Pertama: berburuk sangka kepada allah
Berburuk sangka kepada allah subhanallah Ta’ala sangatlah berbahaya, karena di antara tuntutan tauhid adalah berbaik sangka kepada allah, dan berburuk sangka kepada Allah ta’ala menafikan tauhid.
Allah subhanallah Ta’ala menyipati orang-orang munafik, bahwa mereka menyangka tidak benar terhadap Allah, Allah ta’ala berfirman:
ثُمَّ اَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ الْغَمِّ اَمَنَةً نُّعَاسًا يَّغْشٰى طَۤاىِفَةً مِّنْكُمْ ۙ وَطَۤاىِفَةٌ قَدْ اَهَمَّتْهُمْ اَنْفُسُهُمْ يَظُنُّوْنَ بِاللّٰهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ ۗ يَقُوْلُوْنَ هَلْ لَّنَا مِنَ الْاَمْرِ مِنْ شَيْءٍ ۗ قُلْ اِنَّ الْاَمْرَ كُلَّه لِلّٰهِ ۗ يُخْفُوْنَ فِيْٓ اَنْفُسِهِمْ مَّا لَا يُبْدُوْنَ لَكَ ۗ يَقُوْلُوْنَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الْاَمْرِ شَيْءٌ مَّا قُتِلْنَا هٰهُنَا ۗ قُلْ لَّوْ كُنْتُمْ فِيْ بُيُوْتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِيْنَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ اِلٰى مَضَاجِعِهِمْ ۚ وَلِيَبْتَلِيَ اللّٰهُ مَا فِيْ صُدُوْرِكُمْ وَلِيُمَحِّصَ مَا فِيْ قُلُوْبِكُمْ ۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ ۢبِذَاتِ الصُّدُوْرِ
Artinya:
“Kemudian setelah kamu ditimpa kesedihan, Dia menurunkan rasa aman kepadamu (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari kamu, sedangkan segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah. Mereka berkata, “Adakah sesuatu yang dapat kita perbuat dalam urusan ini?” Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya segala urusan itu di tangan Allah.” Mereka menyembunyikan dalam hatinya apa yang tidak mereka terangkan kepadamu. Mereka berkata, “Sekiranya ada sesuatu yang dapat kita perbuat dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini.” Katakanlah (Muhammad), “Meskipun kamu ada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditetapkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh.” Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Dan Allah Maha Mengetahui isi hati.” (QS Ali Imran ayat 154).
Allah ta’ala mengabarkan tentang mereka di ayat lain bahwa mereka buruk sangka kepada allah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَّيُعَذِّبَ الْمُنافِقِيْنَ وَالْمُنافِقاتِ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَالْمُشْرِكاتِ الظَّاۤنِّيْنَ بِاللّٰهِ ظَنَّ السَّوْءِۗ عَلَيْهِمْ دَاۤىِرَةُ السَّوْءِۚ وَغَضِبَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ وَلَعَنَهُمْ وَاَعَدَّ لَهُمْ جَهَنَّمَۗ وَسَاۤءَتْ مَصِيْرًا.
Artinya:
“dan Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, dan (juga) orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (azab) yang buruk dan Allah murka kepada mereka dan mengutuk mereka serta menyediakan neraka Jahanam bagi mereka. Dan (neraka Jahanam) itu seburuk-buruk tempat kembali”. (QS Al Fatah: 6)
Imam Ibnu qayyim rahimahullah berkata tentang tafsir ayat-ayat pertama, prasangka yang tidak layak kepada Allah ditafsirkan bahwa (maksud mereka) Allah tidak menolong rasulNya, bahwa dakwah beliau akan gagal. Ditafsirkan juga dengan prasangka mereka bahwa apa yang menimpa karena bukan karena Qodho dan Qodar Allah dan tidak mengandung hikmah baginya padanya. Ditafsirkan juga dengan mengingkaran hikmah, pengingkaran Qadar, pengingkaran bahwa Allah akan memenangkan dakwah rasulnya dan mengunggulkannya di atas seluruh agama.
Ini adalah prasangka buruk orang-orang munafik dan orang-orang musyrik yang Allah sebutkan dalam surat al-fath ini adalah prasangka buruk, karena ia adalah prasangka yang tidak layak bagi Allah, tidak layak dengan hikmah, ujian dan janjinya yang benar. Barang siapa berprasangka bahwa Allah akan memenangkan kebatilan atas kebenaran secara terus-menerus sehingga kebenaran akan terkikis, atau mengingkari bahwa apa yang terjadi adalah dengan qada dan qadar Allah, atau mengingkari bahwa Qadar Allah mengandung hikmah mendalam yang karenanya dia berhak dipuji, sebaliknya dia mengklaim bahwa ia hanya karena kehendak semata. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاۤءَ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ۗذٰلِكَ ظَنُّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَوَيْلٌ لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنَ النَّارِۗ
Artinya:
“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia. Itu anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang yang kafir itu karena mereka akan masuk neraka”. (QS. Shad: 27).
Mayoritas manusia berprasangka terhadap Allah dengan prasangka buruk dalam perkara yang sebenarnya merupakan tindakan mereka sendiri, dan tentang apa yang Allah lakukan terhadap selain mereka; tidak ada yang selamat dari hal itu kecuali siapa yang mengetahui Allah, nama-namaNya , sifat-sifatNya, tuntutan hikmah dan pujianNya….. Maka hendaknya orang-orang yang berakal yang menasehati dirinya memperhatikan masalah ini, hendaknya bertaubat kepada Allah, berikhtisar kepadanya dari prasangka buruknya terhadap Tuhannya.
Bila anda teliti siapa yang anda teliti, niscaya Anda menemukan penentangan terhadap Qadar padanya, kemarahan terhadapnya, bahwa semestinya urusannya adalah begini dan begini. Ada yang sedikit dan ada yang banyak. Periksalah diri Anda apakah Anda selamat darinya?
Bila kamu selamat darinya, kamu selamat dari sesuatu yang besar
Bila tidak, maka sesungguhnya aku mendugamu tidak selamat.
Imam Ibnu qayyim rahimahullah juga berkata, barang siapa berprasangka bahwa Allah tidak menolong rasulNya, tidak memenangkan dakwahnya, tidak mendukungnya dan tidak mendukung para pengikutnya, tidak meninggalkan mereka dan memenangkan musuh mereka atas mereka dan mengunggulkan mereka, bahwa Allah tidak menolong agama yang dan kitabNya, bahwa dia memenangkan syirik atas tauhid, kebatilan atas kebenaran secara terus-menerus sehingga tauhid dan kebenaran tersisih dan tidak tega untuk selamanya, maka dia telah berprasangka buruk terhadap Allah, meni sebarkan Allah kepada perbuatan yang tidak sesuai dengan kesempurnaan, keagungan, dan si Fatih sifatnya, sesungguhnya kemuliaan, keperkasaan, hikmah dan uluhiyah Allah menolak hal itu, menolak mengalahkan bala tentara dan golongan Nya , menolak bila kemenangan dan keunggulan abadi untuk musuh-musuhnya kaum musyrikin yang berpaling darinya. Barang siapa berprasangka demikian maka dia tidak mengetahui Allah, tidak mengetahui nama-namanya, sifat-sifatnya dan kesempurnaannya.
Demikian juga barang siapa mengingkari bahwa hal itu terjadi dengan Qodho Allah, maka dia tidak mengetahui Allah, tidak mengetahui Rububiyah, kekuasaan dan keagunganNya.
Demikian juga barang siapa mengingkari bahwa mentakdirkan apa yang dia takdirkan dari hal itu dan lainnya karena sebuah hikmah mendalam yang karenanya. Dia berhak dipuji, bahwa hal itu berasal dari hendaknya semata yang kosong dari hikmah dan tujuan yang dituntut yang dia lebih cintai darinya kenyataannya, bahwa sebab-sebab yang dibenci yang mengantarkan kepadanya penetapannya tidak keluar dari hikmah karena ia mengantarkan kepada apa yang dia cintai sekalipun ia dibenci, sehingga apa yang dia takdirkan adalah sia-sia, dan apa yang dia jadikan adalah main-main, dan apa yang dia ciptakan adalah batil. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاۤءَ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ۗذٰلِكَ ظَنُّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَوَيْلٌ لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنَ النَّارِۗ
Artinya:
”Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia. Itu anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang yang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.” (QS. Shad: 27)
Mayoritas manusia berprasangka terhadap Allah azza wa jalla dengan prasangka buruk dalam perkara yang khusus dengan mereka dan tentang apa yang Allah lakukan terhadap selain mereka, tidak ada yang selamat dalam hal itu kecuali siapa yang mengetahui Allah, nama-namanya, sifat-sifatnya, tuntutan hikmah dan pujianNya.
Barang siapa membolehkan Allah mengazab wali-walinya padahal mereka berbuat baik dan ikhlas, Allah menyamakan mereka dengan musuh-musuhnya, maka dia berprasangka buruk terhadap Allah.
Barang siapa berprasangka bahwa Allah azza wa jalla membiarkan makhlukNya sia-sia, tidak diperintah dan tidak dilarang, tidak mengutus para rasul kepada mereka, tidak menurunkan kitab-kitab kepada mereka, sebaliknya Allah membiarkan mereka begitu saja seperti hewan, maka dia berprasangka buruk terhadap Allah.
Barang siapa berprasangka bahwa Allah ta’ala tidak mengumpulkan hamba-hambanya ketika mereka mati untuk memberi mereka pahala dan hukuman di alam yang di sana Allah membalas orang yang berbuat baik karena kebaikannya dan membalas orang jahat karena kejahatannya, menjelaskan kepada makhlukNya hakikat dari apa yang mereka perselisihan menunjukkan karena seluruh alam kebenarannya dan kebenaran rasulnya, bahwa musuh-musuhnya adalah orang-orang yang berdusta, maka dia menduga buruk terhadap Allah.
Barang siapa berprasangka bahwa Allah menyia-nyiakan amal sholeh seseorang yang dia kerjakan secara ikhlas karena wajahnya yang mulia sebagai pelaksanaan terhadap perintahnya membatalkan nya tanpa ada sebab dari hamba atau Allah menghukumnya karena sesuai yang dia tidak memiliki perbuatan, pilihan kekuasaan dan kehendak dalam terwujudnya, sebaliknya menghukumnya atas perbuatannya terhadapnya, atau dia menduga bahwa Allah mungkin mendukung musuh-musuhnya yang berdusta atasnya dengan mukjizat-mukjizat yang dengannya dia mendukung nabi-nabi dan rasul-rasulnya, Allah membuat mukjizat tersebut terjadi lewat tangan para pendusta itu yang dengannya mereka menyesatkan hamba-hamba, bahwa segala sesuatu darinya adalah bayi, termasuk mengajak orang yang menghabiskan umurnya dalam ketaatan kepadanya, lalu Allah mengekalkannya di dalam neraka jahanam di tingkatan paling rendah memberi nikmat orang yang menghabiskan usianya dalam memusuhinya, memusuhi rasul-rasulnya dan agamanya; meninggikan derajatnya hingga dillliyyin tertinggi, perkara tersebut bagi Allah adalah sama-sama baik, dan tidak diketahui kemustahilan salah satunya dan terjadinya yang lain kecuali melalui berita yang benar, karena bila tidak maka akan tidak memutuskan keburukan salah satunya dan kebaikan yang lain, maka dia berprasangka buruk terhadap Allah.
REFERENSI:
DI TULIS OLEH Syaikh Dr Shalih bin Fauzan Al Fauzan , DI RINGKAS MULIYADI
DI AMBIL DARI BUKU MEMBENAHI AKIDAH
Baca juga artikel:
