Luasnya Samudera Rezeki
Luasnya Samudera Rezeki – Sesuatu yang dimaklumi, bahwa semua orang butuh rezeki Termasuk kita, sangat butuh rezeki. Tiada seorang pun yang hidup melainkan ia berusaha meraup rezeki untuk kelangsungan hidupnya. Dan telah dimaklumi pula bahwa tidak hanya manusia, namun semua makhluk Allah juga butuh rezeki. Para Malaikat, jin, binatang, tetumbuhan, langit, bumi, lautan, awan, gunung-gunung, gugusan bintang, semua makhluk Allah butuh rezeki dari-Nya. Karena hanya dengan rezeki dari-Nya seluruh makhluk bisa hidup sesuai dengan alam yang telah ditetapkan oleh Allah 54 bagi masing-masingnya.
Rezeki Allah tak terhingga
Harus diketahui, bahwa rezeki Allah tak terhingga jumlah, jenis serta kadarnya. Sehingga tiada satu makhluk pun yang tidak memperoleh rezeki dari-Nya. Bahkan tiada makhluk yang harus berebut rezeki karena khawatir tidak memperoleh rezeki. Justru Allah telah menanggung dan akan tetap menanggung rezeki seluruh makhluk-Nya. Dia Subhanahu Wata’ala berfirman:
وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَبٍ مُّبِينٍ
Artinya: “Dan tiada suatu binatang melata pun di bumi me-lainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”. (QS. Hud: 6)
Termasuk semua manusia telah ditanggung rezekinya masing-masing oleh Allah. Tiada seorang manusia pun melainkan telah tetap jatah rezekinya dalam tanggungan yang Allah akan berikan ke-padanya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقَهُ فِي بَطْنِ أُمَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ عَلْقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحوَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتُبٍ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ
Artinya: “Sesungguhnya seorang di antara kalian itu dikum-pulkan penciptaannya di perut ibunya selama empat puluh hari sebagai nuthfah. Lalu berangsur-angsur berkembang menjadi ‘alaqah (segumpal darah) selama empat puluh hari juga. Lalu berangsur-angsur berkembang menjadi mudhghah (sekerat daging) selama empat puluh hari juga. Kemudian diutuslah seorang Malaikat sehingga ia tiupkan ruh pada-nya dan diperintahkan agar dicatat empat ketetapan baginya, ketetapan rezekinya, ajal atau tempo hidupnya di dunia, amal perbuatannya, dan apakah ia termasuk orang yang celaka atau bahagia.” (HR. Muslim: 6893)
Oleh karenanya jika setiap manusia meminta kepada Allah rezeki, niscaya Dia akan berikan bagi masing-masing sesuai permintaannya, tanpa mengurangi hak rezeki seseorang lainnya dan tak se-berapa mengurangi perbendaharaan karunia yang ada di sisi-Nya. Dalam hadits qudsi Allah ber-kata:
يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلَّا كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ
Artinya: “Wahai hamba-Ku, jikalau kalian seluruhnya, baik yang terdahulu maupun yang belakangan, dari kalangan manusia maupun jin, tegak berdiri di suatu tempat terbuka, lalu seluruh kalian meminta kepadaku dan aku pun berikan kepada setiap masing-masing sesuai yang dimintanya, maka hal itu tiada kan mengurangi apa pun yang ada di sisi-Ku selain hanya seperti jarum yang mengurangi air saat dicelupkan ke lautan”. (HR. Muslim: 6737)
Jika demikian maka penting untuk diketahui apa sesungguhnya rezeki itu yang begitu melimpah, bak air samudra yang luas dan penuh dengan limpahan airnya? Berikut ini beberapa uraian tentang hal yang dimaksud yang penulis rangkum dari uraian Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin di dalam Majmu Fatawa wa Rasa’il (8/165-168), sebagaimana di dalam Maktabah Syamilah, juga dari beberapa sumber lainnya. Semoga banyak bermanfaat.
Apa artinya rezeki?
Tatkala menjelaskan QS. adz Dzariyat: 56-57, di antaranya beliau menjelaskan tentang makna rezeki, bahwa ia bermakna pemberian. Makna tersebut terambil dari firman Allah Subhanahu Wata’ala:
وَإِذَا حَضَرَ الْقِسْمَةَ أُولُوا الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينُ فَارْزُقُوهُم مِّنْهُ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا
Artinya: “Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatım dan orang miskin, maka berikanlah rezeki mereka dari harta itu (sekadarnya) dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang baik”. (QS. an Nisa’: 8)
Arti dari berikanlah rezeki mereka, ialah berilah mereka pemberian.
Kami (penulis) katakan, jadi setiap pemberian dari Allah yang diterima oleh seluruh makhluk adalah rezeki.
Macam-macam rezeki
Rezeki itu ada yang khusus ada juga yang umum Rezeki yang umum ialah seluruh pemberian yang bermanfaat untuk badan atau fisik, baik yang halal maupun yang haram tetap namanya rezeki. Dan baik yang diberi itu seorang muslim maupun seorang kafir maka tetap namanya rezeki.
Jika ada seseorang yang menyangka bahwa sesungguhnya rezeki itu hanya yang halal saja tentu maknanya bahwa setiap orang yang makan yang haram mereka tidak mendapat rezeki, padahal Allah telah memberi mereka apa saja yang baik untuk badan atau fisik mereka. Jadi yang benar rezeki itu baik yang halal maupun yang haram, semuanya merupakan rezeki. Jadi, memang rezeki itu ada dua macam, ada yang thayyib (baik) ada pula yang khabits (jelek), seperti yang Allah firmankan:
قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ. وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ
Artinya: “Katakanlah, “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” (QS. al-A’raf: 32)
Di dalam ayat tersebut Allah tidak berfirman, dan rezeki akan tetapi Dia berfirman, “….dari sebagian rezeki.” Hal itulah yang menunjukkan bahwa rezeki itu ada yang thayyib dan yang khabits atau haram.
Sedangkan rezeki yang khusus ialah seluruh pemberian yang bermanfaat untuk tegaknya agama seseorang, berupa ilmu yang bermanfaat, amal shalih, dan seluruh rezeki halal yang menjadi sarana pembantu taat kepada Allah. Hal ini sebagaimana yang disebutkan di dalam sebuah ayat:
إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
Artinya: “Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh”. (QS. adz-Dzariyat 58)
Dia berfirman, “Ar-Razzaq,” bukan, “Ar-Raziq” Hal demikian, sebab begitu banyaknya rezeki-Nya dan begitu banyaknya siapa yang Dia beri rezeki. Allah yang memberinya rezeki dalam keadaan tiada terhingga rezeki-Nya ditinjau dari jenisnya, macamnya, apalagi tiap satuannya. Dan Allah memberi rezeki sesuai dengan situasi dan kondisi yang diberi rezeki.
Rezeki tak semata uang
Jadi rezeki itu tak sekadar uang yang berupa upah, gaji, insentif, atau lainnya. Rezeki juga bukan sekadar makanan, minuman, atau pakaian. Banyak orang yang menyebut-nyebut uang yang ia dapat. makanan, minuman, pakaian yang diberikan kepadanya itulah rezeki. Seolah-olah yang lainnya bukan rezeki. Padahal seluruh apa yang kita dapati sebagai penunjang hidupnya jasad dan hati merupakan rezeki.
Di dalam beberapa ayat, Allah menyebutkan bahwa di langit ada rezeki (QS. adz-Dzariyat: 22). maksudnya mencakup wahyu yang merupakan ilmu penunjang hidupnya hati dan jiwa, juga Lauh Mahfuzh yang ada di sisi-Nya, juga mencakup hujan yang di turunkan oleh-Nya. Ini menunjukkan bahwa rezeki itu tak sekadar yang disebutkan
Allah Subhanahu Wata’ala juga berfirman:
هُوَ الَّذِي يُرِيكُمْ آيَاتِهِ، وَيُبَرِّكُ لَكُم مِّنَ السَّمَاءِ رِزْقًا وَمَا يَتَذَكَّرُ إِلَّا مَن يُنِيبُ
Artinya: “Dialah yang memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Nya dan menurunkan untukmu rezki dari langit. Dan tiadalah mendapat pelajaran kecuali orang-orang yang kembali (kepada Allah)”. (QS Ghafir. 13)
Dan hujan itu disebut rezeki karena ia meru pakan sebab rezeki. Jika hujan turun ke bumi maka bumi akan mengeluarkan mata air dan padang rerumputan serta tetumbuhan yang merupakan kesenangan manusia dan binatang ternak. Bahkan hujan merupakan bahan pokok sebab sebab rezeki.
Di dalam ayat lainnya Allah menyebutkan, bahwa apa yang ada di bumi juga rezeki. Padahal yang ada di bumi sangat banyak jenisnya, macam nya, dan beraneka juga manfaatnya bagi manusia. Semuanya diberikan oleh Allah untuk manusia yang beriman (QS. al-Baqarah: 29)
Di bumi, selain ada segala yang untuk dimakan, diminum, dijadikan tempat tinggal, dijadikan sara na mencari penghidupan dan sebagainya juga ada pasangan hidup yaitu istri atau suami, anak-anak keturunan dan sebagainya, sehingga semua itu pun termasuk rezeki Karena semuanya juga anugerah atau pemberian Allah buat makhluk lebih khusus nya manusia.
Haruskah berusaha mencari rezeki?
Pertanyaan ini muncul sebab ayat di atas menyebutkan bahwa Allah Maha Pemberi rezeki Jadi, seolah tidak perlu usaha mencarinya.
Anggapan seperti itu tidak benar Seperti halnya Dia 5% Maha Pengampun, maknanya bukanlah jika Anda butuh ampunan-Nya tidak perlu usaha atau mencari sebab-sebab diampuninya dosa Namun tetap berusaha dan mendatangkan sebab sebab diampuninya dosa. Demikian juga dalam hal Dia Maha Pemberi rezeki, kita tetap diharuskan berusaha dan mendatangkan sebab-sebab rezeki Se bagaimana di dalam firman-Nya:
هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا كُلُوا مِن رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
Artinya: “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian darı rezeki-Nya, dan hanya ke pada-Nya lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”.(QS al-Mulk 15)
Doa memohon rezeki
Jadi, harus ada upaya yang sesuai syariat agar seseorang mendapatkan rezeki dari Nya salah satunya ialah dengan doa. Anas bin Malik berkata, bahwa doa memohon pemberian atau rezeki yang paling sering dibaca oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam ialah:
اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذاب النار
Artinya: “Ya Allah, ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharulah kami dari siksa neraka (Sebagaimana di dalam QS al Baqarah: 201, juga HR al-Bukharı. 6389 dan Mus lim: 7016)
Inilah doa yang sebaik-baiknya bagi seorang muslim oleh karena ia merupakan permohonan diberi rezeki, berupa seluruh kebaikan di dunia dan di akhirat Wallahul Muwaffiq Amin.
REFERENSI:
Pengarang: Ustadz Aby Ammar al-ghoyami
Judul: Luasnya Samudera Rezeki
Sumber: Majalah al-mawaddah
BACA JUGA :
