Skip to content

Langkah Sukses Pengusaha Muslim

ykkokut
8 menit baca
langkah sukses pengusaha muslim

Langkah Sukses Pengusaha Muslim – Cermat Manfaatkan Peluang, Dari kisah Abdurrahman bin Auf dan juga Zubair bin Awwam Radhiyallahu Anhuma, kita bisa memetik dua pelajaran penting. Yaitu, kemandirian dan keberanian. Di sini diulas dua kata penting yang sangat diperlukan untuk memulai langkah menjadi pengusaha tersebut.

Kemandirian

    Mengapa kemandirian menjadi penting? Sebab untuk menjadi seorang pengusaha, seseorang mestilah memiliki kehendak untuk hidup mandiri, tidak bergantung kepada orang lain ataupun perusahaan tempatnya bekerja. Apalagi seperti ketergantungan anak kepada orangtuanya.

    Adanya dorongan untuk hidup secara mandiri, itulah yang akan menjadi kekuatan pribadi untuk memiliki energi dan daya tahan lebih. Khususnya saat menghadapi banyak kemungkinan yang terjadi di masa depan.

    Seorang karyawan misalnya. Selama dia bekerja sekian tahun lamanya, atau bahkan puluhan tahun, pada akhirnya dia merasakan kejenuhan disebabkan pola rutinitas kerja yang begitu-begitu saja. Pergi pagi, pulang petang. Sangat kurang memiliki keluwesan waktu. Gaji pun tidak banyak berubah. Ada kenaikan, namun tidak pernah lebih besar daripada peningkatan kebutuhan hidup.

    Dengan kondisi tersebut, karyawan itu terpikir untuk keluar dari tempatnya bekerja dan berkeinginan memiliki usaha sendiri. Atau minimal berjualan, berdagang apa saja. Untuk itu, dia mulai mencari teman-temannya yang sudah lama tidak dihubungi. Secara bertahap, dia mulai mencari siapa saja di antara mereka yang pernah atau mempunyai pengalaman menjalankan bisnis sendiri.

    Kemudian, dia pun mendatangi mereka. Berbincang santai dengan mereka. Hingga mendapatkan inspirasi dan semakin menguatkan keinginannya untuk memulai usaha sendiri. Sebab ternyata, dia melihat mereka yang berbisnis memang tampak kurang gagah lantaran tidak bekerja di ruang ber-AC, tidak berdasi, dan tidak bersepatu resmi-misalnya tetapi mereka lebih punya kebebasan waktu.

    Lebih dari itu, yang tidak kalah menariknya, ternyata mereka walau tidak memiliki gaji bulanan, penghasilan yang didapat jumlah rata-ratanya lebih besar daripada gaji para pekerja kantoran. Meskipun nominalnya tidak pasti sama setiap bulan, namun cenderung selalu berada di atas upah minimum di wilayah tempat mereka tinggal.

    Demikian motivasi umum yang dirasakan karyawan. Berbeda dengan seorang pemuda yang baru selesai kuliah, yang belum juga mendapatkan pekerjaan. Padahal, sudah berlembar-lembar surat lamaran pekerjaan yang dikirim olehnya ke berbagai perusahaan. Berbagai tes penerimaan sudah dia ikuti. Namun, tidak kunjung datang panggilan untuk bekerja di Kantor.

    Akibatnya, pemuda tadi lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Adapun teman-temannya sudah punya kesibukan di tempat kerja masing-masing. Tanpa rutinitas yang menyibukkan dirinya, lama kelamaan rasa jenuh pun datang menghampiri. Tak hanya itu, malu menyertainya. Sekaligus dia menyadari bahwa waktu terus berjalan, dan usia terus bertambah. Sementara, dia harus bermanfaat.

    Dalam kondisi demikian, muncullah di dalam hatinya keinginan untuk hidup mandiri. Memiliki tempat tinggal sendiri, kendaraan sendiri, dan penghasilan sendiri. Inilah impian semua orang yang ingin masa depannya cerah.

    Lamaran pekerjaan yang tak kunjung ada panggilan, ditambah kegelisahan mengubah keadaan diri sendiri, itu semua membangkitkan keinginannya agar mampu hidup mandiri. Berdasar tekad inilah, dia mulai bertanya-tanya, mencari tahu, juga mendalami beberapa referensi untuk memulai bisnis sendiri.

    Kesimpulannya, ada kemandirian waktu dan finansial bagi seorang pengusaha. Selain itu, keinginan untuk hidup mapan adalah modal awal yang sangat penting.

    Tidak sedikit orang yang memulai usaha justru ketika usia sudah memasuki masa pensiun. Di saat kebanyakan pensiunan memanfaatkan sisa usianya untuk beristirahat, atau menikmati masa tuanya dengan menghabiskan waktu bersama cucu-cucu. Realitasnya, tidak sedikit pensiunan yang memulai tantangan baru dengan berwirausaha.

    Tidak bisa dipungkiri, pada usia pensiun energi yang dimiliki tidak sekuat seperti saat masih muda. Meskipun begitu, banyak juga wirausahawan tua yang berhasil.

    Pada umumnya, berwirausaha mereka lakukan untuk mengatasi kejenuhan di masa pensiun. Istilah ilmiahnya post power syndrome, tekanan mental yang melanda oleh sebab keseharian pekerja yang biasa diisi dengan bekerja lalu tiba-tiba harus lebih banyak berada di rumah dengan kegiatan yang bersifat pribadi. Kemudian motivasi untuk bergerak lebih aktif hadir, berupa keinginan untuk tetap hidup mandiri, tidak bergantung dengan dana pensiunan yang rutin didapat setiap bulan. Termasuk uang pesangon yang diperoleh saat secara resmi keluar dari kantornya.

    Ide bisnis pun dikembangkan. Di antara pensiunan itu ada yang membuka usaha kos-kosan, toko material bahan bangunan, toko kelontong, toko sembako, usaha laundry (cuci pakaian), cuci motor, dan sebagainya. Menariknya, para pensiunan yang memulai usaha pada usia yang tidak lagi muda itu ternyata selain memiliki kemandirian lebih dari segi finansial, mereka juga lebih bugar karena pikiran dan fisik dijaga agar tetap aktif serta produktif. Optimis menjalani keseharian karena ada tantangan baru, tidak mudah jenuh karena berdiam diri saja di rumah.

    Berbicara ihwal kemandirian, maka kita akan teringat dengan perjalanan hidup Nabi kita Muhammad. Beliau yatim piatu sejak usia belia, ini membuatnya tegar. Beliau pun terlatih hidup mandiri, sebagai penggembala.

    Hingga beranjak dewasa, beliau menjadi pedagang. Sifat amanah selalu dipegang, sehingga dipercaya orang-orang.

    Selain itu, banyak anjuran dari Rasul  tentang keutamaan hidup mandiri, pun keutamaan bekerja untuk menghidupi diri sendiri dan keluarga, juga menjauh dari sikap meminta-minta atau bergantung kepada orang lain.

    Sebagaimana sabda beliau Shallallahu Alaihi Wasallam:

    لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةٌ عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ

    Artinya: “Sungguh, pikulan satu ikat kayu bakar di atas punggung salah seorang dari kalian untuk dijual adalah lebih baik daripada dia meminta-minta kepada orang lain, baik dia diberi ataupun tidak diberi.” (HR. Bukhari, no. 2074)

    Mandiri berarti menjaga kehormatan diri dari hidup bergantung kepada orang lain. Dan, ini adalah salah satu ciri muslim sejati. Bahkan, inilah ciri khusus orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

    Keberanian

    Setelah memahami arti penting kemandirian, maka perlu pula dipahami bahwa keinginan untuk mandiri dan keinginan menjalankan usaha tidak akan pernah tercapai tanpa ada langkah awal untuk memulainya. Dan, memulai usaha itu membutuhkan keberanian. Sebab ada risiko yang tak mungkin dijalani dengan ketakutan.

    Tidak sedikit orang yang merasa kagum dengan usaha yang dijalankan orang lain dan menuai kesuksesan. Maka mereka pun ingin seperti dia, punya usaha yang berjalan dengan baik, punya banyak karyawan, bahkan cabangnya bisa tersebar di mana-mana. Bahwa produknya digemari banyak orang. Namun, kekaguman hanya selesai sebagai kekaguman, keinginan hanya sebatas angan-angan, yakni jika tidak pernah ada keinginan memulai berwirausaha. Di titik inilah, keberanian dibutuhkan.

    Berani itu beda dengan nekat. Nekat lebih bermakna memulai sesuatu tanpa bekal pengetahuan ihwal apa yang akan dijalani. Risiko kegagalan menganga, sangat terbuka lebar. Bagai orang yang menceburkan diri ke dalam kolam sedangkan dia tidak pernah tahu ilmu berenang dan tidak pernah latihan berenang sebelumnya. Jika bersikap nekat begitu, risiko tenggelam dan celaka ada di pelupuk mata.

    Sementara itu berani ialah memulai langkah pertama setelah merasa sudah cukup ilmu, wawasan, dan latihan. Lengkap dengan perencanaan serta perbekalan. Berani itu saat kita memutuskan mengambil langkah pertama, apa pun jenisnya. Langkah pertama akan menjadi trigger atau pemicu yang mendobrak rasa takut di dalam hati. Ia akan mempertemukan kita dengan langkah kedua, ketiga, dan tahapan-tahapan selanjutnya.

    Banyak sekali orang yang punya cukup modal secara finansial, yang ini biasanya menjadi persoalan bagi orang yang ingin memulai usaha, tapi mereka tidak punya cukup keberanian. Alhasil, uangnya hanya tersimpan begitu saja di bank-misalnya tanpa bisa diolah dan dikembangkan untuk kemanfaatan yang lebih besar. Padahal modal uang ada, modal sosial berupa jaringan pertemanan dan relasi juga ada. Akses ke sumber bahan baku kini sudah mudah. Namun, peluang yang terbuka di hadapan mata itu tidak juga diambil hanya karena satu sekat yang belum dia buka. Sekat itu bernama keberanian.

    Sebaliknya, ada orang yang dengan modal pas-pasan, bahkan tanpa modal materi sama sekali, berani memulai usaha dengan menjualkan produk orang lain. Kemudian, dia mendapatkan bagian keuntungan dari setiap produk yang terjual. Ia terus lakukan itu sampai kemudian jumlah keuntungan yang ditabung mencapai nominal cukup besar hingga bisa dijadikan sebagai modal awal untuk pengadaan produk secara mandiri. Ya, demikian seperti halnya cara Abdurrahman bin Auf berusaha pasca hijrah dari Makkah. Inilah contoh keberanian berwirausaha.

    Urusan uang bukan faktor terbesar yang menentukan suksesnya suatu bisnis, meski tak dipungkiri bahwa modal finansial adalah penunjang penting. Faktor terpenting saat memulai usaha adalah keberanian memulai dan menjalani perjalanan yang penuh risiko.

    Jika kita takut terhadap risiko, maka sadarilah bahwa tiap pilihan dalam hidup kita sebenarnya selalu memiliki risiko. Apakah membiarkan uang kita begitu saja di dalam rekening bank tidak ada risiko? Ada, tentu saja.

    Boleh jadi setiap saat bank itu bangkrut akibat krisis ekonomi. Atau akibat korupsi oknum pejabat bank. Atau mungkin juga uang kita raib akibat kejahatan perbankan.

    Seperti halnya, apakah menjadi karyawan dengan gaji yang pasti itu tanpa risiko? Tidak demikian, ada risikonya Bukankah tiap karyawan bisa diberhentikan atau dimutasi ke tempat yang tidak disukai? Bisa saja saat diberhentikan dia belum memiliki cukup tabungan untuk menyambung hidup, sambil menanti adanya pekerjaan baru.

    Apa pun pilihan dalam hidup ini selalu diikuti risiko. Bahkan pada saat kita tidak menentukan suatu pilihan, itu pun mengandung risiko. Jadi risiko bukan untuk dihindari, karena memang tidak mungkin dijauhi. Risiko hanya bisa kita hadapi. Dan, ia membutuhkan keberanian.

    Maka memilih menjadi pengusaha sebenarnya hampir sama dengan memilih menjadi karyawan. Sama-sama ada risikonya, sama-sama harus dijalani jika sudah diniatkan. Apabila berani menjadi karyawan, mengapa harus takut menjadi pengusaha?

    Keberanian memulai usaha tak akan pernah berakhir atau mendatangkan kerugian semata, tidak sepenuhnya. Bahwa ada risiko gagal, ya. Dalam hal apa pun risiko gagal selalu ada. Tapi, jika kita hanya memikirkan risiko gagal, maka kita tidak akan pernah memulai. Risiko gagal selalu berpasangan dengan risiko sukses, keduanya mirip dengan dua sisi mata uang, yang selalu berdampingan. Bersambung ….

    REFERENSI:

    Muslim Preneur, Nurdin Apud Sarbini, Lc, M.Pd, cetakan pertama, Jumadal Akhirah 1443 H/Januari 2022 M. Diringkas oleh: Nadia Dika Valency

    BACA JUGA :

    Bagikan:

    Artikel Terkait

    pengusaha muslim tangguh
    Muamalah 26/01/2026

    Pengusaha Muslim Tangguh

    Pengusaha Muslim Tangguh – Bismillahirrahmanirrahim. Tujuan Islam ialah membentuk masyarakat madani, tatanan sosial yang solid, sistem ekonomi yang adil, dan aturan moneter yang handal. Harapannya, B. Bertujuan Mulia tiap individu muslim bisa berkasih sayang bagai satu tubuh. Mencipta persaudaraan universal, yang tidak dibatas geografis. Ini sebagaimana digariskan oleh al-Qur-an, bahwa Allah Subhanahu Wata’ala berfirman: يَأَيُّهَا […]

    mengurangi takaran dan timbangan
    Muamalah 06/11/2025

    Mengurangi Takaran Dan Timbangan

    Mengurangi Takaran Dan Timbangan – Allah telah menciptakan  mwnusia dengan sifat sangat mencintai harta, harta ditampakkan indah didalam hatinya. Allah berfirman: و تحبو ن ا لما ل حبا جما. Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan. (QS. al fajr/89:20) Tetapi kecintaan kepada harta ini merupakan ujian dari Allah, jangan sampai dengan sebab kerakusan […]

    LAZ Kunci Kebaikan

    Dana yang disalurkan melalui LAZ Kunci Kebaikan hanya bersumber dari dana halal, tidak bertujuan untuk pencucian uang, terorisme, maupun tindakan kejahatan lainnya.

    Legalitas LAZ

    Izin Kanwil nomor:
    ...........................

    QRIS Zakat

    ZAKAT YKK

    Rek. BSI

    8643916700

    a.n. Zakat YKK

    Wajib Konfirmasi ke:

    Bpk. Heri Setiawan, S.Pd.
    (0822-6666-0856)

    Tanpa konfirmasi, dianggap sedekah biasa.

    QRIS Zakat

    PEDULI SESAMA YKK

    Rek. BSI

    4557498470

    a.n. Peduli Sesama YKK

    (Tanpa konfirmasi digunakan untuk program-program LAZ)

    Donasi khusus tidak akan dipotong jasa penyaluran.

    Sekretariat:

    Kompleks Ponpes Darul-Qur'an Wal-Hadits, Jl Tuanku Imam Bonjol, Bunga Mayang, Peracak, OKU Timur, Sumsel (32315)

    Klik: Google Map