Raih Syafaat Dengan Puasa Dan Al-Qur’an
Raih Syafaat Dengan Puasa Dan Al-Qur’an – Setiap manusia pasti akan mati dan dibangkitkan kembali setelah kiamat. Pada saat itu amal perbuatan kita di dunia harus dipertanggungjawabkan. Dalam momen yang penuh ketakutan dan penyesalan itu, adakah sesuatu yang dapat menolong kita? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan kabar gembira bahwa ada dua amalan istimewa yang akan menjadi syafaat bagi seorang hamba, yaitu puasa dan Al-Qur’an.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
الصيامُ والقرآنُ يشفعانِ للعبدِ يومَ القيامَةِ، يقولُ الصيامُ: أي ربِّ إِنَّي منعْتُهُ الطعامَ والشهواتِ بالنهارِ فشفِّعْنِي فيه، يقولُ القرآنُ ربِّ منعتُهُ النومَ بالليلِ فشفعني فيه، فيَشْفَعانِ
Artinya: “Puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafaat (pertolongan) untuk seorang hamba pada hari kiamat. Puasa akan berkata, ‘Ya Rabb-ku, aku telah menjauhkannya dari makanan dan syahwat pada siang hari, maka izinkanlah aku memberikan syafaat untuknya.’ Al-Qur’an juga berkata, ‘Aku telah menahannya dari tidur pada malam hari, maka perkenankanlah aku memberi syafaat untuknya.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Keduanya diizinkan Allah untuk memberi syafaat”. (HR. Ahmad no. 6629)
Puasa merupakan bentuk ketaatan yang mengajarkan kesabaran dan pengendalian diri, sementara Al-Qur’an adalah petunjuk hidup yang menerangi jalan menuju ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala. Keduanya bukan sekadar ibadah, tetapi juga pembela kita di akhirat. Bayangkan, ketika manusia kebingungan mencari pertolongan, puasa datang dan berkata, “Ya Rabb, aku telah menahannya dari makan dan syahwat di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafaat untuknya.” Ali Shabh berkata, “Ini menggambarkan puasa seolah-olah sebagai seorang pembela yang membela orang yang berpuasa di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Puasa akan menolongnya dari siksa dan kesulitan pada hari kiamat.” Begitu pula Al-Quran. Dia akan berkata, “Aku telah menahannya dari tidur pada malam hari, maka izinkanlah aku membelanya.”
Puasa dan Al-Qur’an memiliki hubungan yang sangat erat, terutama dalam bulan Ramadhan. Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan sebagai petunjuk hidup bagi umat manusia, dan salah satu cara terbaik untuk menghidupkan bulan mulia ini adalah dengan berpuasa sambil memperbanyak bacaan Al-Qur’an. Puasa tidak hanya mengajarkan kita untuk menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari hal-hal yang dapat mengurangi kualitas ibadah kita, termasuk mengabaikan bacaan Al-Qur’an.
Secara bahasa, syafaat berarti “genap” — yaitu lawan dari ganjil — atau menjadikan sesuatu yang ganjil menjadi genap. Adapun secara syariat, Abdul Rahman bin Shamayil As-Sulami berkata bahwa syafaat adalah permohonan kebaikan bagi orang lain dengan menjadi perantara kepada pihak yang memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan orang yang dimintakan syafaat.
Para ulama membagi syafaat menjadi dua:
- Syafaat di dunia, misalnya menjadi perantara yang memperkenalkan seorang teman dan teman lainnya untuk suatu keperluan.
- Syafaat di akhirat, yaitu seseorang yang bertauhid atau sebuah amal shalih dapat menjadi sebab datangnya kebaikan kepada seorang hamba di akhirat, berupa diselamatkan dari neraka, dinaikkan derajatnya di surga, serta bentuk lainnya. Syafaat jenis inilah yang akan dikupas dalam tulisan ini.
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, dalam Al-Qawai’dul Arba’, menyebutkan dua jenis syafaat: Pertama, syafaat yang ditolak yaitu syafaat yang diminta kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam perkara yang hanya bisa dilakukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kedua, syafaat yang diterima yaitu syafaat yang dimohonkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Mutun Thalibil ‘Ilm, hlm. 35)
Syaikh Abdurrahman Al-Barrak menjelaskan makna dari syafaat yang ditolak dan syafaat yang diterima:
1. Syafaat yang ditolak.
Syafaat ini adalah syafaat yang diminta kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam perkara yang hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala mampu melakukannya. Syafaat jenis ini adalah keyakinan kaum musyrikin, yang menganggap bahwa syafaat di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala sama seperti syafaat di antara makhluk. Mereka percaya bahwa para wali dan malaikat bisa memberi syafaat di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana seorang menteri memberi syafaat kepada raja atau seorang teman membantu temannya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menolak syafaat jenis ini di dalam firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَّا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang suatu hari yang tidak ada jual beli, tidak ada persahabatan, dan tidak ada syafaat. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang zalim”. (QS. Al-Baqarah: 254)
Berdasarkan ayat tersebut, syafaat yang diyakini kaum musyrikin seperti pertolongan berhala atau malaikat yang mereka sembah di dunia tidak akan terjadi pada hari kiamat.
2. Syafaat yang diterima.
Syafaat ini terjadi hanya dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan hanya diberikan kepada orang-orang yang diridhai oleh-Nya, yaitu orang-orang yang bertauhid. Dalil dari Al-Qur’an yang menetapkan adanya syafaat ini di antaranya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَكَم مِّن مَّلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلَّا مِن بَعْدِ أَن يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَن يَشَاءُ وَيَرْضَىٰ
Artinya: “Dan berapa banyak malaikat di langit, yang syafaat mereka tidak berguna sedikit pun, kecuali setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengizinkannya bagi siapa pun yang Dia kehendaki dan Dia ridhai”. (QS. An-Najm: 26)
firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَىٰ
Artinya: “Dan mereka tidak memberi syafaat kecuali kepada orang yang diridhai-Nya”. (QS. Al-Anbiya: 28)
Dan juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
مَّن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ
Artinya: “Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya kecuali dengan izin-Nya?”. (QS. Al-Baqarah: 255)
Maknanya, tidak ada seorang pun yang dapat memberi syafaat di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali setelah mendapatkan izin-Nya. Oleh karena itu, tatkala Nabi Muhammad diminta untuk memberi syafaat pada hari kiamat, beliau tidak langsung memulai syafaat, melainkan terlebih dahulu bersujud kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengizinkan beliau untuk memberikan syafaat.
Syafaat adalah bentuk kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang hanya diberikan kepada orang-orang yang memenuhi kriteria tertentu. Syaikh Ziyad bin Hamd Al-A’mir menyebutkan, “Dalil-dalil tentang syafaat menetapkan dua syarat agar syafaat diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala: Pertama, izin dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengizinkan adanya syafaat ini. Kedua, ridha dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhai ucapan syafaat tersebut.” Izin dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengizinkan pemberi syafaat untuk memberi syafaat. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di Al-Qur’an:
مَّن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ
Artinya: “Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya kecuali dengan izin-Nya?”. (QS. Al-Baqarah: 255)
Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa tidak ada yang bisa memberikan syafaat di hadapan-Nya, kecuali setelah Dia memberikan izin. Izin Allah Subhanahu wa Ta’ala ini menunjukkan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak-Nya, termasuk syafaat yang akan diberikan kepada hamba-Nya yang beriman. Syafaat hanya akan diterima dari orang yang diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana disebutkan di Al-Qur’an:
وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَىٰ
Artinya: “Dan mereka tidak memberi syafaat, kecuali kepada orang yang diridhai-Nya”. (QS. Al-Anbiya: 28)
Syaikh Saad bin Wafh Al-Qahtani menyebutkan bahwa pemberi syafaat di akhirat sangat banyak, di antaranya adalah syafaat khusus dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa syafaat kubra tatkala beliau memberikan syafaat bagi umat manusia ketika mereka berada di padang mahsyar, dalam rangka mempercepat keputusan di antara mereka, setelah para nabi lainnya menolak untuk memberikan syafaat. Syafaat ini adalah bentuk pertolongan yang sangat besar dan istimewa karena hanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diberi hak untuk memberikan syafaat ini. Beliau akan memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar keputusan-keputusan yang ditunggu-tunggu oleh umat manusia segera dipercepat, sehingga mereka bisa masuk ke dalam surga atau segera menerima keputusan yang adil dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syafaat untuk segera masuk surga dibutuhkan setelah mereka menjalani keadaan yang berat sebelumnya.
Kedua jenis syafaat tersebut adalah syafaat yang khusus diberikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai penghormatan dan kedudukan istimewa beliau di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun, selain syafaat Nabi, terdapat pula jenis syafaat lainnya yang diberikan kepada orang-orang beriman, begitu juga dari amalan seperti syafaat dari puasa dan Al-Qur’an. Syafaat ini diberikan bagi orang-orang beriman yang akan masuk neraka agar mereka tidak jadi memasukinya. Syafaat ini merupakan bentuk pertolongan bagi orang-orang beriman yang memiliki dosa yang masih menghalangi mereka untuk masuk surga. Selain itu, syafaat juga diberikan bagi orang-orang beriman yang telah masuk neraka agar mereka dikeluarkan darinya. Syafaat ini menunjukkan betapa besar kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun, penting untuk diingat bahwa tidak semua orang yang beriman akan memerlukan syafaat ini karena ada sekelompok orang yang akan dikeluarkan dari neraka tanpa adanya syafaat, melainkan karena rahmat dan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala semata.
Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, pahala dilipatgandakan, dan kesempatan untuk memperoleh syafaat dari puasa dan Al-Qur’an sangat terbuka lebar. Sebagai umat Islam, kita dianjurkan untuk memanfaatkan waktu ini sebaik-baiknya dengan menjalankan ibadah puasa penuh ketulusan dan meningkatkan intensitas dalam membaca Al-Qur’an. Sebagai penutup, mari tingkatkan semangat untuk memanfaatkan Ramadhan kali ini untuk memperbaiki diri dengan menjalankan puasa dengan ikhlas dan mengharap pahala dari Allah, serta tak lupa membaca Al-Qur’an sebanyak-banyaknya. Dengan cara ini, kita telah berusaha untuk mempersiapkan diri agar dapat memperoleh syafaat pada hari kiamat.
Semoga amalan puasa dan bacaan Al-Qur’an kita diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjadi amal yang memberikan manfaat di dunia dan akhirat, tentunya juga dapat menjadi syafaat bagi kita. Amin.
Referensi: Ditulis oleh : Abu Ady
Majalah HSI Edisi Edisi 75 Ramadhan 1446 H
Diringkas oleh : Aryadi Erwansah (Staf Ponpes Darul Qur’an Wal Hadits OKU Timur).
BACA JUGA :
