Skip to content

Kapan Anda Menangis

ykkokut
8 menit baca
kapan anda menangis

Kapan Anda Menangis – Alhamdulilah bini’matihi tatimmu as-shalihat was shalatu was salamu ala musthafa muhammadin shallallahu alaihi wa sallam waala alihi wa ashhabihi waman tabiahum biikhsanin ila yaumiddin amma ba’du:

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah, Pernahkah anda duduk sendiri dalam hening malam, ketika semua orang telah terlelap, dan hati terasa begitu sempit lalu tiba-tiba air mata jatuh tanpa bisa ditahan? Bukan karena kehilangan harta, bukan karena patah hati, bukan pula karena kegagalan dunia. Tapi karena sebuah kesadaran yang dalam: betapa banyak dosa yang telah dilakukan, betapa sering lalai, dan betapa jauhnya dari Allah. Di saat itulah, hati yang selama ini keras tiba-tiba melembut, dan mata yang kering mulai basah. Tangisan itu bukan sembarang tangisan ia adalah air mata yang lahir dari rasa takut kepada siksa Allah subhanahu wata’ala, dari penyesalan atas dosa-dosa yang bertumpuk, dan dari kerinduan untuk kembali kepada-Nya.

Menangis karena Allah bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti bahwa hati masih hidup. Ia adalah pertanda bahwa di balik segala kelalaian, masih ada cahaya iman yang menyala. Rasulullah, manusia paling mulia yang diampuni dosa-dosanya baik yang telah lalu maupun yang akan datang, namun beliau menangis dalam munajatnya kepada Allah subhanahu wata’ala. Beliau menangis karena takut akan siksa-Nya, karena merasa belum cukup bersyukur, dan karena begitu dalam cintanya kepada Rabb semesta alam. Maka bagaimana dengan kita, yang setiap hari bergelimang dosa, namun hati begitu keras dan mata begitu kering, dalam kehidupan yang semakin sibuk, penuh hiruk-pikuk dan godaan duniawi, kita seringkali melupakan tujuan utama hidup ini, yaitu: beribadah kepada Allah dan mempersiapkan bekal untuk akhirat. Kita tertawa karena dunia, tetapi jarang menangis karena akhirat, kita takut kehilangan pekerjaan, tapi tidak takut meski meninggalkan salat, Kita panik saat jatuh miskin, tapi tenang-tenang saja meski hari demi hari bergelimang maksiat. Seakan-akan dosa bukan sesuatu yang mengerikan, padahal satu saja dosa, jika Allah tidak ampuni, cukup untuk melemparkan seorang hamba ke neraka.

Tangisan karena Allah adalah bentuk taubat yang paling jujur. Ia tidak memerlukan kata-kata mewah, tidak pula perlu didengar manusia. Cukup antara kita dan Allah. Saat air mata jatuh, hati yang keras mulai mencair, dan jalan kembali kepada-Nya mulai terbuka. Maka pertanyaannya adalah: kapan terakhir kali kita menangis karena Allah? Bukan karena dunia, bukan karena manusia, tapi karena rasa takut kepada siksa-Nya, dan rasa malu atas dosa-dosa yang kita perbuat.

Menangis adalah fitrah manusia yang menunjukkan kepekaan hati. Namun, tidak semua tangisan memiliki nilai di sisi Allah subhanahu wata’ala. Tangisan yang paling mulia adalah menangis karena Allah subhanahu wata’ala, karena rasa takut, cinta, rindu, atau kekhusyukan kepada-Nya. Tangisan ini merupakan tanda keimanan, kelembutan hati, dan kesadaran akan kebesaran Allah subhanahu wata’ala serta kesadaran akan dosa-dosa diri.

Menangis karena Allah bukan sekadar luapan emosi, akan tetapi merupakan buah dari ketundukan hati, keimanan, penghayatan akan ayat-ayat Allah, dan rasa takut akan siksa-Nya serta harapan akan rahmat-Nya, mengingat akan dosa-dosa yang telah dilakukan. Orang yang menangis karena Allah berarti hatinya hidup, peka terhadap kebenaran, dan tidak keras membatu.

Wahai jiwa yang lemah, wahai hati yang telah lama lalai, renungkanlah sejenak: kapan terakhir kali engkau menangis karena dosa-dosamu? Kapan terakhir kali engkau merasa bersalah atas maksiat yang kau lakukan di hadapan Rabmu? Ataukah hatimu telah keras, matamu kering, dan dosamu menumpuk tanpa penyesalan?

Setiap kita adalah pendosa. Tak ada manusia yang luput dari kesalahan. Namun, yang membedakan seorang hamba yang dicintai Allah dan yang dibenci-Nya adalah: apakah ia segera kembali bertaubat dan menangis kepada-Nya, atau terus larut dalam dosa?

Allah Maha Pengampun: Selalu Membuka Pintu Taubat

Allah tidak pernah menutup pintu ampunan-Nya, bahkan untuk dosa-dosa sebesar gunung sekalipun. Yang tertutup adalah hati kita, yang enggan kembali dan malu mengakui kesalahan.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Artinya: “Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)

Ayat ini adalah seruan cinta dari Allah untuk para pendosa. Bukan sekadar ajakan, tetapi panggilan hangat dari Rabb yang rindu pada hamba-Nya yang kembali.

Wahai saudaraku Jangan Menunda Taubat, Setan akan selalu membisikkan bahwa masih ada waktu. Tapi kematian tak menunggu taubat, dan hidup tidak menjamin esok. Betapa banyak orang yang menunda taubat, lalu ajal datang tiba-tiba. Mereka menyesal, namun segalanya sudah terlambat.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama ruh belum sampai di tenggorokan.” (HR. Tirmidzi no. 3537 – hasan)

Selama nyawa masih di badan, pintu taubat masih terbuka. Tapi apakah kita yakin akan hidup hingga esok pagi?

Wahai saudaraku, Kapan Terakhir Engkau Menangis Karena Dosa? Apakah dosa-dosamu tidak cukup besar untuk membuatmu menangis? Apakah engkau lupa: Pandangan yang haram yang pernah engkau lakukan? Lidah yang pernah menyakiti, memfitnah, dan berbohong? Shalat yang sering engkau lalaikan? Hati yang sering lebih mencintai dunia daripada Rabbmu? Lalu mengapa engkau menangis karena dunia, tapi tak mampu menangis karena dosa?

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Tangisan karena dosa lebih dicintai Allah daripada tasbih orang yang sombong.”

Tangisan karena dosa adalah bukti hidupnya hati, dan hati yang hidup adalah awal dari jalan menuju Allah.

Wahai saudaraku tempuhlah Langkah untuk Kembali kepada Allah

  1. Akui dosa-dosamu dengan jujur. Berhentilah membela kesalahanmu. Katakan pada dirimu: “Aku bersalah”.
  2. Segera tinggalkan maksiat dan cari ampunan. Jangan tunggu hari esok. Taubat adalah sekarang.
  3. Perbanyak istighfar dan menangislah dalam kesendirian. Air mata yang jatuh karena takut pada Allah akan menjadi cahaya di Hari Kiamat dan tidak akan tersentuh neraka.
  4. Perbaiki ibadah dan dekatkan diri dengan membaca Al-Qur’an dan dzikir. Hati yang kembali butuh akan nutrisi ruhani.
  5. Berdoalah dengan memohon ampunan akan dosa-dosa yang lalu dan akan datang dan mohonlah agar diberikan keistiqamahan di atas agama islam.

Cara Menumbuhkan Tangisan Karena Allah

  1. Membaca dan menghayati Al-Qur’an dengan tafsir dan maknanya.
  2. Mengingat dosa-dosa pribadi dan betapa lemahnya kita sebagai hamba.
  3. Merenungkan nikmat Allah dan betapa luas rahmat-Nya.
  4. Menjauhkan hati dari maksiat dan hal-hal yang mengeraskan hati.
  5. Berdoa kepada Allah agar diberi hati yang lembut dan mudah menangis.

Keutamaan Menangis Karena Allah

  1.  Mendapatkan Naungan di Hari Kiamat

Salah satu dari tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya adalah orang yang menangis karena Allah.

Dalil Hadis:

“Ada tujuh golongan yang akan mendapat naungan dari Allah pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya… (di antaranya): seorang yang mengingat Allah dalam kesendirian lalu matanya meneteskan air mata.” (HR. Bukhari no. 1423 dan Muslim no. 1031)

  •  Dijauhkan dari Api Neraka

Orang yang menangis karena takut kepada Allah dijamin tidak akan tersentuh oleh api neraka.

Dalil Hadis:

“Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah hingga air susu kembali ke payudara (yang mustahil terjadi)…”

(HR. Tirmidzi no. 1633 – hasan sahih)

  •  Tanda Hati yang Lembut dan Iman yang Hidup

Menangis karena Allah adalah bukti bahwa hati seseorang tidak keras dan mati, melainkan hidup dan sadar akan tujuan penciptaannya.

Dalil Al-Qur’an: “Dan mereka menyungkurkan wajah sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk.”(QS. Al-Isra: 109)

Ayat ini menggambarkan keadaan orang-orang yang ketika mendengar ayat-ayat Allah dibacakan, mereka menangis dan semakin tunduk kepada-Nya.

Contoh Para Salaf dalam menangis karena Allah subhanahu wata’ala:

Para sahabat dan salafus shalih sangat mudah menangis ketika shalat, membaca Al-Qur’an, atau mengingat dosa-dosa mereka.

  •  Umar bin Khattab dikenal sering menangis hingga air mata membasahi jenggotnya.
  •  Abu Bakr Ash-Shiddiq sangat lembut hatinya, bahkan saat menjadi imam shalat, ia sulit menyembunyikan tangisannya.

Perkataan Ulama Salaf Tentang Menangis Karena Allah

1. Abu Sulaiman Ad-Darani rahimahullah: “Tidak ada sesuatu yang lebih aku sukai daripada menangis karena takut kepada Allah.” (Ibnu al-Jawzi dalam Shaidul Khathir, hal. 240).

2. Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah

“Tangisan karena takut kepada Allah lebih aku sukai daripada sedekah seribu dinar.” (Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhd no. 377).

3. Hassan Al-Bashri rahimahullah

“Tangisilah dirimu sebelum engkau ditangisi oleh orang lain.” ( Ibnul Jawzi, Shaidul Khathir, hal. 81).

Dan beliau juga berkata:

“Sesungguhnya orang mukmin menangis – walau sedikit – karena dosa yang ia anggap besar, sedangkan orang munafik tertawa – walau banyak – atas dosa yang ia anggap kecil.” (Az-Zuhd karya Imam Ahmad, hlm. 331).

4. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah

“Tangisan karena dosa lebih baik daripada tasbih orang yang sombong.” ( Madarijus Salikin, 1/177).

Dan beliau juga mengatakan:

“Tidak ada yang lebih dicintai oleh Allah dari seorang hamba yang menangis karena takut kepada-Nya.” (Madarijus Salikin, 1/177).

5. Ibrahim bin Adham rahimahullah

“Tangisan satu mata karena takut kepada Allah lebih baik daripada seribu rakaat shalat sunnah.” (Hilyatul Auliya’ oleh Abu Nu’aim, 8/15).

6. Ma’ruf Al-Karkhi rahimahullah

“Air mata orang-orang yang takut kepada Allah adalah cahaya di wajah mereka, penyejuk di hati mereka, dan alasan keselamatan di akhirat mereka.” ( Hilyatul Auliya’, 8/367).

7. Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah

“Aku lebih suka duduk menangis karena takut kepada Allah daripada duduk bersama orang-orang yang membicarakan dunia.” (Az-Zuhd Ibnul Mubarak, no. 22).

8. Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah:

“Menangis dalam ketakutan kepada Allah adalah kemenangan terbesar.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 7/230).

Menangis karena Allah adalah ibadah hati yang mulia. Ia tidak membutuhkan suara lantang atau air mata yang terlihat, tapi keikhlasan yang tulus dan kesadaran penuh akan kebesaran Allah. Para ulama salaf sangat menekankan bahwa menangis karena takut kepada Allah adalah ibadah yang agung, bahkan lebih utama dari banyak amal lahiriah. Itu adalah tanda lembutnya hati, hidupnya iman, dan tulusnya taubat.Tangisan bukan kelemahan. Dalam Islam, itu adalah kekuatan ruhani—cahaya yang menghidupkan hati dan menyelamatkan jiwa dari kelalaian. Semoga Allah melembutkan hati kita, menjadikannya mudah tersentuh oleh kebenaran, dan memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang mendapat naungan dan cinta-Nya. “Ya Allah, karuniakan kepada kami hati yang khusyuk, mata yang mudah menangis karena takut kepada-Mu, dan amal yang diterima di sisi-Mu.”

REFERENSI:

Sumber pustaka: Madarijus Salikin, Az-Zuhd Ibnul Mubarak, Siyar A’lam An-Nubala’ Hilyatul Auliya’ oleh Abu Nu’aim. Penulis Artikel: Jupriyanto, M.Pd.

BACA JUGA :

Bagikan:

Artikel Terkait

benteng hati
Tazkiyatun Nufus 16/10/2025

Benteng Hati

Benteng Hati – Berdo’a dan berdzikir ialah kunci segala kebaikan yang diperoleh seorang hamba baik didunia maupun di  akhirat, sebagai pencegah segala keburukan, menolak datangnya bahaya, dan mendatangkan berbagai manfaat untuk hati yang gersang dari berdzikir kepada-Nya. Seorang hamba yang selalu meminta dan memohon perlindungan dari berbagai keburukan dengan berdzikir dan berdo’a kepada Allah maka […]

empat racun hati
Tazkiyatun Nufus 29/09/2025

Empat Racun Hati

Empat Racun Hati – Hati adalah raja dan pemimpin bagi tubuh manusia. Hati memerintahkan anggota tubuh untuk melakukan suatu aktivitas yang diniatkan oleh hati. Anggota badan itu ibarat prajurit, sedangkan hati adalah rajanya. Di akhirat nanti, hati akan ditanya mengenai apa saja yang ia perintahkan kepada prajuritnya. Perkara hati sangat penting untuk dikaji dan diseriusi […]

LAZ Kunci Kebaikan

Dana yang disalurkan melalui LAZ Kunci Kebaikan hanya bersumber dari dana halal, tidak bertujuan untuk pencucian uang, terorisme, maupun tindakan kejahatan lainnya.

Legalitas LAZ

Izin Kanwil nomor:
...........................

QRIS Zakat

ZAKAT YKK

Rek. BSI

8643916700

a.n. Zakat YKK

Wajib Konfirmasi ke:

Bpk. Heri Setiawan, S.Pd.
(0822-6666-0856)

Tanpa konfirmasi, dianggap sedekah biasa.

QRIS Zakat

PEDULI SESAMA YKK

Rek. BSI

4557498470

a.n. Peduli Sesama YKK

(Tanpa konfirmasi digunakan untuk program-program LAZ)

Donasi khusus tidak akan dipotong jasa penyaluran.

Sekretariat:

Kompleks Ponpes Darul-Qur'an Wal-Hadits, Jl Tuanku Imam Bonjol, Bunga Mayang, Peracak, OKU Timur, Sumsel (32315)

Klik: Google Map