Ketika Amanah Menjadi Fitnah
Ketika Amanah Menjadi Fitnah – Di era ketika batas antara kebenaran dan kebatilan kian kabur, pemimpin bukan hanya dituntut memiliki kecerdasan intelektual, tapi juga kejernihan hati. Sayangnya kekuasaan kerap melahirkan ruang-ruang kosong yang mudah disusupi oleh talbis: menjadikan yang salah tampak benar, dan yang benar tampak tidak releven.
Dalam perjalanan Panjang kehidupan umat manusia, para pemimpin selalu menjadi pelita di ujung jalan. Di bahu mereka bertumpu arah peradapan, dan di tangan mereka terikat harapan Masyarakat. Namun di tempat yang tinggi, angin ujian berhembus lebih kencang; dan sering kali, talbis iblis datang dengan cara yang paling halus: mempermanis ambisi, menyamarkan kesalahan, dan menukar kebenaran dengan ilusi kebaikan. Tidak disadari dan tidak selalu disadarkan.
Ibnu Al-Jauzi Rahimaullahu Ta’ala berkata, “Iblis telah mengacaukan mereka dari banyak sisi, dan kami akan menyebutkan induknya.”
> Pertama: Iblis memperlihatkan kepada mereka bahwa Allah mencintai mereka, karena bila tidak maka Allah tidak menjadikan mereka sebagai sultan, dan tidak menjadikan mereka sebagai penggantiNya pada hamba-hambaNya.
Talbis ini dibongkar dengan mengatakan, “Bila memang para sultan adalah para pengganti Allah pada hamba-hambaNya, maka hendaknya mereka menjadikan syariat Allah sebagai hakim, dan hendaknya mereka mengikuti keridhaanNya, maka saat itu Allah mencintai mereka karena mereka menaatiNya.”
Adapun kerajaan dan kesultanan, maka Allah memberikannya kepada orang-orang yang Dia murkai. Allah melapangkan dunia bagi orang-orang yang Dia tidak melihat kepada mereka. Allah menguasakan beberapa orang dari mereka atas wali-waliNya dan orang-orang shalih, maka orang-orang itu membunuh mereka dan mengalahkan mereka, maka apa yang Allah berikan kepada mereka adalah atas keburukan mereka bukan untuk kebaikan mereka. Hal itu termasuk dalam firman Allah Subhanahu Wata’ala:
وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَنَّمَا نُمْلِيْ لَهُمْ خَيْرٌ لِّاَنْفُسِهِمْۗ اِنَّمَا نُمْلِيْ لَهُمْ لِيَزْدَادُوْٓا اِثْمًاۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُّهِيْنٌ
Artinya: “Sesungguhnya Kami memberi ‘tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka;” (QS. Ali Imran: 178).
> Kedua: Iblis berkata kepada mereka, “Kekuasaan memerlukan wibawa.” Maka mereka menyombongkan diri menolak mencari ilmu, bergaul dengan para ulama, hingga mereka mengamalkan pendapat mereka dan akhirnya merusak agama
Sudah diketahui bahwa tabiat mencuri sifat orang-orang yang bergaul satu sama lain, bila para sultan itu bergaul dengan orang-orang bodoh yang hanya mementingkan dunia, maka tabiat mereka .akan mencuri sifat-sifat mereka di samping dia sendiri sudah memiliki sebagian darinya, dan dia tidak mendapatkan apa yang melawan dan menghardiknya, dan itulah sebab kebinasaan.
> Ketiga: Iblis menakut-nakuti mereka terhadap musuh, dan memerintahkan mereka untuk memperketat penjagaan, hingga orang-orang yang teraniaya tidak bisa menemui mereka.
Abu Maryam al-Asadi mereka dari nabi bahwa beliau Shallalalhu Alaihi Wasallam bersabda: “Barangsiapa Allah serahi sebagian urusan kaum muslimin, lalu dia menutup diri dari mereka dengan tidak menunaikan hajat, kebutuhan dan kemiskinan mereka, maka Allah akan menutup diriNya dari hajat, kebutuhan dan kemiskinannya. ”
> Keempat: Mereka mengangkat orang-orang yang tidak kapabel, tidak berilmu dan tidak bertakwa, sehingga orang-orang mendoakan keburukan atas mereka bukan dengan kebaikan karena mereka berbuat aniaya terhadap mereka, dia memberi makan mereka dari hasil haram melalui jual beli yang rusak, menetapkan hukuman had atas orang yang tak berhak untuk dihukum, dan mereka mengira diri mereka telah berbuat apa yang menjadi kewajiban pemimpin yang Allah tetapkan di pundak mereka.
Mana mungkin, bila seorang amil zakat menyerahkan pembagiannya kepada orang-orang fasik lalu mereka berkhianat maka amil tersebut harus bertanggung jawab.
> Kelima: Iblis membaguskan bagi mereka amal atas dasar akal mereka, maka mereka memotong apa yang tidak boleh dipotong, membunuh .siapa yang tidak halal dibunuh, Iblis mengelabuhi mereka bahwa ini adalah kebijakan, padahal ia mengandung arti bahwa syariat kurang, ia masih memerlukan penambahan, dan kami menyempurnakannya dengan akal kami.
Ini termasuk penipuan paling buruk, karena syariat merupakan kebijakan Hahiyah, mustahil terjadi padanya kekeliruan yang memerlukan pelurusan dari manusia. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا طٰۤىِٕرٍ يَّطِيْرُ بِجَنَاحَيْهِ اِلَّآ اُمَمٌ اَمْثَالُكُمْۗ مَا فَرَّطْنَا فِى الْكِتٰبِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ يُحْشَرُوْنَ
Artinya: “Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun di dalam al-Kitab.” (QS. al-An’am: 38).Dan Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
اَوَلَمْ يَرَوْا اَنَّا نَأْتِى الْاَرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ اَطْرَافِهَاۗ وَاللّٰهُ يَحْكُمُ لَا مُعَقِّبَ لِحُكْمِه وَهُوَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ
Artinya: “Tidak ada yang dapat menolak ketetapanNya;.” (QS. ar-Ra’ad: 41).
Orang yang mengklaim hal itu sama dengan mengklaim adanya kekeliruan dalam syariat, dan ini merupakan saudara kekufuran.
Telah diriwayatkan kepada kami bahwa Adhud ad-Daulah menyukai seorang gadis yang mengusik hatinya, maka dia memerintahkan agar gadis tersebut ditenggelamkan, agar hatinya bisa tenang mengatur kerajaan.
Ini merupakan kegilaan total, karena membunuh seorang muslim tanpa dosa adalah haram, dan meyakini bahwa hal ini boleh adalah kekufuran. Bila dia meyakini bahwa ia tidak boleh namun dia melihatnya sebagai kemaslahatan maka tidak ada kemaslahatan pada sesuatu yang menyimpang dari syariat.
> Keenam: Iblis membuat mereka memandang baik dalam menggunakan harta secara boros, karena mereka menyangka bahwa ia dalam kekuasaan mereka. Ini adalah talbis Iblis, kedok talbis ini dibongkar dengan kewajiban hajr atas orang yang tak mampu membelanjakan hartanya dengan baik, lalu bagaimana dengan orang yang disewa untuk menjaga harta orang lain?! Dia hanya mendapatkan upah sesuai dengan pekerjaannya, sehingga tidak ada alasan membelanjakannya secara boros.
Ibmu Aqil Rahimahullah berkata, “Ini di antara apa yang diriwayatkan dalam bentuk pujian kepada mereka. Padahal ia adalah celaan terhadap mereka, karena yang bersangkutan menghambur-hamburkan harta kaum muslimin.”
Iblis menghiasi untuk sebagian sultan sehingga dia tidak memberi orang yang berhak untuk diberi, dan ini merupakan saudara tabdzir.
> Ketujuh: Iblis membuat indah bagi mereka sikap meremehkan kemaksiatan, Iblis membisikkan kepada mereka, “Kalian telah menjaga jalan, mengamankan negara, yang semua itu akan menolak adzab dari kalian.”
Jawabannya adalah dengan mengatakan, “Kalian diangkat menjadi pemimpin agar kalian menjaga negara dan mengamankan jalan, dan ini merupakan kewajiban mereka, sedangkan sikap meremehkan kemasiatan dilarang, ini tidak menepis adzab dari mereka dengan itu.
> Kedelapan: Iblis mengacaukan kebanyakan dari mereka bahwa dia telah menunaikan kewajiban, dari sisi bahwa keadaan hidup masyarakat terlihat baik. Seandainya yang bersangkutan melihat lebih dalam niscaya dia mengetahui perbedaan yang banyak.
> Kesembilan: Iblis memperindah bagi mereka menarik harta dan mendapatkannya melalui cambukan yang keras, menyita semua harta yang dipunyai oleh koruptor dan menuntutnya bersumpah, padahal jalan yang benar adalah menegakkan bukti atasnya.
Telah diriwayatkan kepada kami dari Umar bin Abdul Aziz bahwa seorang pegawainya menulis kepadanya, isinya, “Ada orang-orang yang mengkorup harta Allah, dan saya tidak kuasa menarik apa yang ada di tangan mereka kecuali bila aku_menimpakan hukuman atas mereka.” Maka Umar menjawab, “Aku lebih suka bila mereka bertemu Allah dengan membawa penghianatan mereka daripada aku bertemu Allah dengan membawa darah mereka.”
> Kesepuluh: Iblis membaguskan bagi mereka sedekah sesudah ghasab, dia memperlihatkan kepada mereka bahwa sedekah bisa menghapusnya, dan dia berkata, “Satu dirham sedekah menghapus sepuluh dosa karena ghasab.”
Ini mustahil, karena dosa ghasab tetap ada, sedangkan bila dirham sedekah itu dari hasil ghasab, maka ia tidak akan diterima. Bila ia dari hasil halal, maka ia tetap tidak menghapus dosa ghasab, karena memberi orang miskin tidak menggugurkan tanggung jawab terhadap orang lain.
> Kesebelas: Iblis membaguskan kepada mereka, di samping terus menerus berbuat dosa, ziarah kepada orang-orang shalih, meminta doa mereka, Iblis memperlihatkan kepada mereka bahwa hal itu meringankan dosa, padahal kebaikan ini tidak menepis keburukan itu.
> Kedua belas: Di antara pemimpin ada yang menjadi bawahan pemimpin lainnya, lalu atasannya memerintahkannya berbuat zhalim maka dia melakukannya, maka Iblis datang mengacaukannya dengan berkata, “Dosanya dipikul oleh atasanmu.”
Ini batil, karena dia telah membantu berbuat zhalim, setiap pembantu perbuatan maksiat adalah pelaku maksiat, karena Rasulullah melaknat sepuluh orang yang terkait dengan khamr. Beliau melaknat pemakan riba, pemberi makan, penulisnya dan dua saksinya.
Termasuk dalam hal ini adalah seorang bawahan menarik uang untuk atasannya, dia mengetahui bahwa atasannya menghamburhamburkannya dan melakukan pengkhianatan padanya, maka orang ini adalah pembantu dalam berbuat zhalim.
Malik bin Dinar Rahimahullah berkata: “Cukuplah seseorang itu dianggap pengkhianat bila dia menjadi orang kepercayaan para pengkhianat.” Allah-lah Pembimbing ke jalan yang benar.
REFERENSI
- Al-Qur’anul karim dan terjemahnya
- Ibnu Al-Jauziy, Talbis Iblis
- Abu Ihsan Al-Atsari, Talbis Iblis: Tipu Daya Iblis Terhadap Manusia
Dikutip oleh: Zalfaa Zakiyah (Pengabdian Ponpes DQH OKU Timur)
BACA JUGA :
