Jagalah lisan kalian
JAGALAH LISAN KALIAN
Lisan manusia ibaratkan pisau bermata dua yang dapat melukai hati yang mendengarnya, akan tetapi lisan juga bisa menjadi air yang digunakan untuk menyiram tanaman sehingga dia bisa menjadi subur karna nya. Tapi jangan pernah lupakan bahwa sejatinya hati merupakan raja dari seluruh anggota badan, dalam hadits riwayat muslim disebutkan: “jika ia (Hati) baik maka seluruh badan akan baik, jika ia rusak maka seluruh badan akan rusak”
Dimana dapat diartikan bahwa semua yang dilakukan oleh anggota tubuh kita ini tergantung oleh hati kita, begitu pula dengan lisan, ia tidak akan melukai hati pendengarnya jika ia dikendalikan dengan hati yang baik, ia tidak akan menyakiti hati pendengarnya jika ia jika ia dekendalikan oleh hati yang sehat, maka dari itulah yang pertama kita perbaiki adalah hati kita.
Kita harus bisa memastikan hati kita bersih dari segala penyakit, segala hal yang dapat mengotori hati kita seperti maksiat, maka dari itu seorang yang dapat mengendalikan dirinya dari maksiat tidak akan mudah melukai hati pendengarnya, ia akan menjaga lisannya dari segala hal yang dapat melukai hati pendengarnya.
Ibarat pisau bermata dua, lisan yang shalih akan menghasilkan kebahagiaan di dunia dan akhirat sebagaimana yang dialami oleh Nabi Ayyub, Nabi Nuh dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka; yang senantiasa bersyukur ketika mendapatkan nikmat dan bersabar tak pernah mengeluh kepada manu-sia saat tertimpa musibah. Pun juga bisa berpotensi mendatangkan bala’ dan musibah, sebagaimana yang dialami oleh lisan-lisan orang yang tak pandai menggunakannya.
Pentingnya Menjaga Lisan
Pada hakikatnya lisan merupakan salah satu anggota tubuh yang tak bertulang, akan tetapi ia cukup pandai dalam bertarung sampai-sampai kebanyakan orang mengatakannya “bersilat lidah” istilah kata ini sangat sering kita dengar di kalangan masyarakat dari dulu sampai saat ini. Dan banyak perkataan lain yang menunjukkan betapa hebatnya lidah atau lisan ini. Lidah mudah berucap dan mudah menyelisihi ucapan sebelumnya, sehingga pantas disebut bagian tubuh yang tak bertulang sebab plin-plan nya.
Perintah menjaga lisan
Terdapat beberapa dalil dari al-Qur’an maupun dari Sunnah yang secara tidak langsung memerintahkan menjaga lisan. Di antaranya firman allah Subhanahu Wata’ala:
مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
Artinya: “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18)
Al-Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah berkata: “Tiada terucap, yaitu oleh anak Adam (manusia) suatu ucapan pun, yaitu tiada berucap dengan satu kata pun, melain-kan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang se-lalu hadir, artinya melainkan ada baginya Malaikat yang mengawasinya memperhitungkannya dengan mencatatnya. Tiada dia tinggalkan satu kata pun atau satu gerakan pun. Sebagaimana firman Allah (QS. al-Infithar: 10-12):
وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ كِرَامًا كَيْبِينَ يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ
Artinya: “Padahal Sesungguhnya bagi kamu ada (malai-kat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu). Yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (peker-jaan-pekerjaanmu itu). Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Tafsir Ibnu Katsir, 7/398).
Allah Subhanahu Wata’ala juga berfirman:
يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُم بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Artinya: “Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki me-reka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. an-Nur: 24)
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لَا يَرَى لَهَا بَأْسًا يَهْوِي بِهَا سَبْعِينَ خَرِيفًا فِي النَّارِ
Artinya: “Sesungguhnya seorang laki-laki benar-benar akan berucap dengan satu kata saja yang ia tidak memandang kata itu ada bahayanya sehingga ia dengan sebab kata itu jatuh ke dalam neraka se-lama tujuh puluh masa.” (HR. at-Tirmidzi: 2314, Ibnu Majah: 3970 dengan sanad hasan shahih, Shahih Sunan Tirmidzi: 1884)
Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam juga bersabda:
وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا، أَوْ ليَصْمُتْ
Artinya: “Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia bicara yang baik atau diam.” (HR. al-Bukhari: 6018, Muslim: 182)
Mengapa wajib menjaga lisan?
Ada beberapa alasan mengapa wajib menjaga lisan selain sebab menjaga lisan itu diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Di antara sebab-sebab itu ialah karena bahayanya membiarkan lisan tak terjaga. Berikut ini sebab-sebab lain mengapa harus menjaga lisan:
- Diantara perkara yang paling dikhawatir-kan Rasulullah bahayanya terhadap manusia ialah lisan.Beliau pernah ditanya oleh Sufyan bin Abdil-lah tentang perkara apa yang paling beliau kha-watirkan bahayanya atasnya, beliau kemudian menunjuk lisannya sendiri seraya mengatakan, “Ini.” (HR. at-Tirmidzi, dan berkata, ‘Hadits ini hasan shahih,’ Ibnu Majah, Ibnu Hibban di dalam Shahih-nya, dan al-Hakim dan berkata, ‘Sanadnya shahih, Shahihut Targhib no. 2862)
- Karena lisan seorang muslim yaitu yang tidak mengganggu orang lain.
Abu Musa pernah bertanya kepada Rasulullah “Wahai Rasulullah, di antara kaum muslimin ini siapa yang paling afdhal islamnya?” Beliau men-jawab:
مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
Artinya: “(Yang paling afdhal ialah) siapa yang kaum muslimin selamat dari (gangguan) lisannya dan tangannya.” (HR. al-Bukhari: 11, Muslim: 172)
3. Dianjurkan berlindung dari keburukan lisan.
Di antara perkara yang bahayanya mengancam manusia sehingga kita diperintahkan oleh Rasu-lullah untuk berlindung darinya ialah bahaya lisan.
Diriwayatkan dari Syakal bin Humaid., bahwa be-liau pernah mendatangi Nabi lalu berkata, “Wa-hai Rasulullah, ajarkan kepadaku ta’awwudz (doa mohon perlindungan) yang aku akan berta’awwudz dengannya. Maka beliau memegang telapak tangannya seraya mengajarinya ta’awwudz berikut:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِي وَمِنْ شَرِّ بَصَرِي وَمِنْ شَرِّ لِسَانِي وَمِنْ شَرِّ قَلْبِي وَمِنْ شَرِّ مَنِي
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Mu dari keburukan pendengaranku, dan darj keburukan penglihatanku, dan dari keburukan lisanku, dan dari keburukan hatiku, dan dari ke. burukan maniku (yaitu farji).” (HR. at-Tirmidzi 3492 dengan sanad shahih)
4. Menjaga lisan sebab mendapat jaminan surga.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحَيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ
Artinya: “Barangsiapa yang menjaga sesuatu yang ada di antara dua tulang rahangnya (yaitu lisannya) dan apa yang ada di antara dua pahanya (yai-tu farjinya) niscaya aku jamin ia masuk surga.” (HR. al-Bukhari: 6474)
5. Manusia yang banyak bicara paling dibenci Nabi dan kelak di akhirat tempatnya paling jauh dari beliau.
Diriwayatkan dari Jabir bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُم أَخْلَاقًا وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الثَّرْتَارُوْنَ وَالْمُتَشَدِّقُوْنَ وَالْمُتَفَيْهِقُوْنَ قَالُوْا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ عَلِمْنَا الثَّرْثَارُوْنَ وَالْمُتَشَدِّقُوْنَ فَمَا الْمُتَفَيْهِقُوْنَ ؟ قَالَ الْمُتَكَبِّرُوْنَ
Artinya: “Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dari kalian dan yang kelak di hari kiamat pal-ing dekat denganku kedudukannya ialah yang paling baik akhlaknya di antara kalian. Sedang-kan orang yang paling aku benci di antara kalian dan yang tempatnya paling jauh dariku kelak di hari kiamat ialah ats-Tsartsarun dan al-Mu-tasyaddiqun, dan al-Mutafaihiqun.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, kami telah tahu ats-Tsartsarun dan al-Mutasyaddiqun, lalu siapa al-Mutafaihiqun itu?” Rasulullah bersabda, “Mereka yang sombong.” (HR. at-Tirmidzi: 2018 dengan sanad shahih, ash-Shahihah: 791)
Al-Mubarakfuri (Tuhfatul Ahwadzi 5/272) menyebutkan, bahwa di dalam an-Nihayah dise-butkan, bahwa ats-Tsartsarun ialah orang yang banyak bicara dan memaksakan diri bicara apa saja dan agar berkilah dari yang haq, termasuk yang banyak bicara dan mengulang-ulang bicaranya. Se-dangkan al-Mutasyaddiqun ialah orang yang bebas lepas bicara tanpa kehati-hatian dan kewaspadaan dari salah. Dan al-Mutafaihiqun ialah orang yang bebas lepas bicaranya dengan muluk-muluk serta bebas pula dalam membuka mulut saat berbicara. Hal demikian dilakukan karena merasa wah dengan bicaranya dan kefasihannya dan untuk menunjuk-kan bahwa dirinya lebih dari yang lain. Oleh kare-nanya, Nabi menafsirkan dengan orang yang sombong, yaitu sombong dalam bicaranya.
Referensi:
Diambil dari majalah: al-Mawadah yang berjudul Menjaga Lisan
Penulis : Ust. Abu Ammar al-Ghoyami
Diringkas oleh: Neyza Hendira (Pengajar Rumah Tahfidz Umar bin al-Khattab Prabumulih)
Pada Tanggal: 22 Juli 2025
Baca juga artikel:
