Skip to content

Sejarah Berdarah Hitam Sekte Syiah

Khoirul Anam
7 menit baca
Sejarah Berdarah Hitam Sekte Syiah

SEJARAH BERDARAH HITAM SEKTE SYIAH

Mereka membunuh semuanya, para ulama, kaum usia lanjut, para wanita, bahkan balita!

Apabila kita membicarakan tentang kejahatan kaum Syi’ah maka sangatlah banyak, dari zaman dahulu hingga sekarang. Terlalu sering kita mendengar berita tentang pembantaian ahlus sunnah, bahkan para ulama ahlus sunnah di Iran dan Iraq. Semua itu merupakan hal yang lumrah di mata syi’ah.

Jika kita menyaksikan pembantaian anak-anak, para wanita, orang-orang tua, penyiksaan dan pemerkosaan yang dilakukan oleh kaum Syi’ah di Suria maka tidak perlu heran, pembantaian ahlus sunnah merupakan ibadah di mata syi’ah. Mereka telah mewarisi adat kebiasaan tersebut dari nenek moyang mereka. Terlalu banyak potongan klip-klip video tentang pembantaian ahlus sunnah di Suria yang dilakukan oleh Syi’ah An-Nushairiyah dengan cara yang sangat biadab. Sebagian bisa dilihat di (http://videosyiah.com/?dir=Membunuh%20Ummat%20Islam)

Sementara kenyataan yang ada tatkala syi’ah hidup di negeri ahlus sunnah, mereka sama sekali hidup dengan tenang dan dapat menjalankan ibadah mereka dengan tenang tanpa ada gangguan dari ahlus sunnah. Lihatlah bagaimana syi’ah bisa bebas bermondar-mandir di negara Arab Saudi yang merupakan basisnya ahlus sunnah. Demikian pula keberadaan syi’ah di negeri Yaman, mereka bisa hidup dengan tenang, hanya saja akhir-akhir ini terjadi peperangan sunnah versus syi’ah diakibatkan syi’ah yang memulai terlebih dahulu menyerang sunnah.

AHLUS SUNNAH NAJIS DAN HALAL DIBUNUH MENU-RUT KAUM SYI’AH

Bagi siapa saja yang menelaah tentang akidah syi’ah terhadap ahlus sunnah, ia tidak akan heran dengan pembantaian-pembantaian yang dilakukan syi’ah terhadap ahlus sunnah. Syi’ah memandang kafirnya ahlus sunnah, bahkan najis.

As-Sayyid Nimatullahi Al-Jazaairi (wafat 1112 H), seorang ulama terkemuka syi’ah dalam kitabnya yang sangat masyhur, Al-Anwaar An-Nu’maaniyah dan dijadikan rujukan oleh kaum Syi’ah yang diterbitkan Daar Al-Kuufah, cetakan pertama tahun 1429 H/1998 M. Agar lebih jelas, isi buku tersebut akan kami kemukakan dalam pembahasan ini.

Ia berkata:

واما الناصبي واحواله واحكامه فهو مما يتم ببيان امرين الأول في بيان معنى الناصب الذي ورد في الاخبار انه نجس وانه شر من اليهودي والنصراني والمجوسي وانه كافر نجس باجماع علماء الامامية رضوان الله عليهم فالذي ذهب اليه اكثر الاصحاب هو ان المراد به من نصب العداوة لآل بيت محمد الله وتظاهر ببغضهم كما هو الموجود في الخوارج وبعض ما وراء النهر ورتبوا الاحكام في باب الطهارة والنجاسة والكفر والايمان وجواز النكاح وعدمه على الناصبي بهذا المعنى.

“Adapun Nashibi (ahlus sunnah)…, makna nashibi yang datang dalam riwayat-riwayat bahwasanya ia adalah najis, dan lebih buruk daripada seorang Yahudi, Nasharani, dan Majusi, dan ia adalah kafir najis berdasarkan ijmak ulama imamiyah (Syi’ah/Rafidhah), dan pendapat yang dipilih oleh mayoritas Ashaab (ulama syi’ah) bahwasanya yang dimaksud dengan nashibi adalah orang yang menegakkan permusuhan kepada ahlul bait Muhammad dan tampak kebencian mereka sebagaimana yang ada pada khawarij.” (Al-Anwaar An-Nu’maaniyah, 2/210)

وقد تفطن شيخنا الشهيد الثاني قدس الله روحه من الاطلاع على غرائب الاخبار يذهب الى ان الناصبي هو الذي نصب العداوة الشيعة اهل البيت عنه وتظاهر بالرفوع فيهم كما هو حال اكثر المخالفين لنا في هذه الاعصار في كل الامصار، وعلى هذا فلا يخرج من التعب سوى المستضعفين منهم والمقلدين والبله والنساء ونحو ذلك وهذا المعنى هو الأولى: ويدل عليه ما رواه الصدوق قدس الله روحه في كتاب علل الشرايع باسناد معتبر من الصادق قال ليس الناصب من نصب لنا أهل البيت لانك لا تجد رجلا يقول انا ابغض محمد وآل محمد ولكن الناصب من نصب لكم وهو يعلم انكم تتولونا وانكم من شيعتنا وفي معناه اخبار كثيرة.

Guru kami Asy-Syahiid Ats-Tsani berpendapat bahwa Nashibi adalah orang yang menegakkan permusuhan kepada syi’ah ahlul bait, dan tampak menjelek-jelekkan mereka, sebagaimana kondisi mayoritas al-mukhalifin/para penyelisih (yaitu ahlus sunnah) di zaman ini di setiap kota. Dengan demikian, tidak keluar dari definisi nashibi, kecuali orang-orang yang lemah dari mereka, orang-orang yang taklid buta, orang-orang pandir, para wanita dan yang semisalnya. Definisi nashibi ini lebih utama. Hal tersebut ditunjukkan oleh sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh Ash-Shaduuq, ia berkata: “Bukanlah nashibi orang yang menegakkan permusuhan kepada ahlul bait, karena engkau tidak akan mendapati seorang pun yang berkata “Aku membenci Muhammad dan keluarga Muhammad,” tetapi nashibi adalah orang yang menegakkan permusuhan kepada kalian, padahal ia tahu bahwasanya kalian ber-walaa’ kepada kami, dan kalian adalah syi’ah kami.” Ada banyak riwayat yang semakna dengan ini.

وقد روى عن النبي الله ان علامة النواصب تقديم غير علي عليه وهذه خاصة شاملة لا خاصة ويمكن ارجاعها ايضاً الى الاول بان يكون المراد تقديم غيره عليه على وجه الاعتقاد والجزم ليخرج المقلدون والمستضعفون فان تقديمهم غيره عليه انما نشأ من تقليد علمائهم وآبائهم واسلافهم والا فليس لهم إلى الاطلاع والجزم بهذا سبيل.

Dan telah diriwayatkan dari Nabi bahwa tanda orang-orang nashibi adalah mendahulukan selain Ali atas Ali. Maksudnya, mendahulukan selain Ali di atas Ali, yaitu dengan cara meyakini hal tersebut dan memastikan.

ويؤيد هذا المعنى أن الأئمة على وخواصهم اطلقوا لفظ الناصبي على أبي حنيفة والمثاله مع ان أبا حنيفة لم يكن ممن نصب العداوة لاهل البيت عنه بل كان له انقطاع اليهم وكان يظهر لهم التودد نعم كان يخالف آرائهم ويقول قال علي وانا اقول، ومن هذا يقوى قول السيد المرتضى و ابن ادريس قدس الله روحيهما وبعض مشائخنا المعاصرين بنجاسة المخالفين كلهم نظراً الى اطلاق الكفر والشرك عليهم في الكتاب والسنة فيتناولهم هذا اللفظ حيث يطلق ولانك قد تحققت ان اكثرهم نواصب بهذا المعنى.

Definisi ini didukung dengan pernyataan bahwa para imam dan pemuka-pemuka syi’ah telah memberikan lafal nashibi kepada Abu Hanifah dan yang semisalnya. Padahal Abu Hanifah tidaklah menegakkan permusuhan kepada ahlul bait, bahkan ia mengkhususkan waktu untuk ke ahlul bait, dan menampakkan kecintaannya kepada ahlul bait. Memang benar, ia menyelisihi pendapat ahlul bait, ia berkata, “Ali berpendapat demikian, dan aku berpendapat demikian.’

Keterangan tersebut memperkuat pendapat As-Sayyid Al-Murtadha dan Ibnu Idris, serta sebagian guru-guru kami di zaman ini akan najisnya seluruh para penyelisih (ahlus sunnah), memandang adanya penggunaan kalimat kufur dan syirik kepada mereka dalam al-kitab dan as-sunnah, dan lafal ini mencakup mereka tatkala di-itla-kan sesungguhnya telah jelas bagi engkau bahwasanya mayoritas mereka adalah nashibi dalam definisi ini (memusuhi syi’ah ahlul bait).

الثاني في جواز اللهم واستباحة أموالهم قد عرفت ان اكثر الاصحاب ذكروا الامني ذلك المعنى الخاص في باب الظهارات والنجاسات وحكمه عندهم كالكافر الحربي في أكثر الاحكام واما على ما ذكرناه له من التفسير فيكون الحكم كاملة كما عرفت روى الصندوق طاب ثراء في العمل مستندا إلى داود بن فرقد قال قلت لأبي عبد الله بعد ما تقول في قتل المناصب ؟ قال حلال الدم لكني اللي عليك فان قدرت ان تقلب عليه حافظاً أو تفرقه في ماء لكي لا يشهد به عليك فافعل فقلت فما ترى في ماله؟ قال هذه ما قدرت

Terjemahannya:

“Perkara yang kedua, yaitu tentang bolehnya membunuh mereka (ahlus sunnah) dan halalnya harta mereka. Dan engkau telah mengetahui bahwasanya mayoritas ashab (para ulama syi’ah) telah menyebutkan pengertian nashibi dengan definisi khusus ini dalam bab thaharah dan najis. Hukum nashibi di sisi mereka (para ulama syi’ah) adalah seperti seorang kafir harbi dalam mayoritas hukum-hukum Fiqh. Adapun berdasarkan definisi yang telah kita sebutkan maka hukumnya mencakup (umum) sebagaimana engkau tahu. Ash-Shaduuq meriwayatkan kepada Dawud bin Farqad, ia berkata, “Aku berkata kepada Abu Abdillah, apa pendapatmu tentang membunuh nashibi?” Ia berkata, “Nashibi darahnya halal, tetapi lindungilah dirimu, jika kau mampu untuk menindihkan dinding kepadanya, atau menenggelamkannya di air agar tidak ada yang menjadi saksi atas perbuatannya, maka lakukanlah!” Aku berkata, “Bagaimana pendapatmu tentang hartanya?” la berkata, “Ambilah semampumu!”

وفي الروايات ان علي بن يقطين وهو وزير الرشيد قد اجتمع في حبسه جماعة من المخالفين وكان من خواص الشيعي فأمر غلمانه وهدموا سقف المحيس على المحبوسين فماتوا كلهم وكانوا خمسمائة رجل تقريباً فاراد الخلاص من تبعات دمائهم فأرسل إلى الإمام مولانا الكاظم هذا فكتب اليه جواب كتابه بأنك لو كنت تقدمت الي قبل قتلهم لما كان عليك شيء من دمائهم وحيث انك لم تتقدم الي فكفر عن كل رجل قتلته منهم بنيس والنيسغير منه فانظر إلى هذه الدية الجزيلة التي لا تعادل دية اليهم الاصغر وهو كلب الصيد فان دينه عشرون درهماً ولا دية اخيهم الأكبر وهو اليهودي أو المجوسي فانها ثمانمائة درهم وحالهم في الآخرة الحس والمجس.

Terjemahannya:

“Dalam riwayat-riwayat bahwasanya Ali bin Yaqthin -adalah perdana menteri Harun Ar-Rasyiid telah terkumpul dipenjaranya sekelompok mukhalifin/penyeltsih (ahlus sunnah). dan Ali bin Yaqthiin termasuk tokoh syťah. Maka is pun memerintahkan anak buahnya merobohkan atap penjara agar menimpa orang-orang yang dipenjara tersebut (yaitu ahlus sunnah) sehingga mereka pun seluruhnya mati. Jumlah mereka sekitar 500 orang. Maka Ali bin Yaqthiin ingin terbebaskan dari urusan darah mereka, lalu ia pun mengirim surat kepada Al-Imam Al-Kazhim (untuk bertanya kepadanya), maka Al-Kazhim menulis kepadanya jawaban suratnya: “Bahwasanya jika engkau mengirim surat kepadaku sebelum engkau membunuh mereka maka engkau tidak akan membayar apa pun karena membunuh mereka. Akan tetapi, karena engkau tidak bertanya kepadaku maka hendaknya engkau membayar kaffarah/denda, atas setiap lelaki yang engkau bunuh di antara mereka dengan seekor kambing, dan kambing lebih baik darinya.” Lihatlah diyat/denda yang sangat rendahan ini, tidak sebanding dengan denda saudara bungsu mereka, yaitu anjing pemburu, karena diyat) denda membunuh anjing pemburu adalah 20 dirham. Hal ini tidak pula sebanding dengan diyat/denda membunuh saudara sulung mereka Yahudi atau Majusi, yaitu 800 dirham. Kondisi mereka (ahlus sunnah) di akhirat lebih rendah dan lebih najis.” (Demikian perkataan Ni’matullah Al-Jazaarir dalam kitabnya Al-Anwaar An-Nu’maaniyah, 2/212)

Kesimpulan dari penjelasan Ni’matullah Al-Jazaairi di atas adalah sebagai berikut.

Pertama, definisi nashibi yang lebih benar adalah orang yang menegakkan permusuhan kepada syi’ah para pembela ahlul bait.

Kedua, dari definisi ini menurut pernyataan para ulama syi’ah, Imam Abu Hanifah termasuk nashibi, meskipun ia menampakkan cintanya kepada ahlul bait, tetapi ia menyelisihi perkataan Ali bin Abi Thalib.

Ketiga, nashibi (ahlus sunnah) hukumnya seluruhnya kafir dan najis. Hanya saja dikecualikan dari mereka para wanita, para orang pandir, para orang lemah, dan orang-orang yang taklid buta.

Keempat, karena nashibi (ahlus sunnah) kafir dan najis, maka boleh membunuh mereka dan merampas harta mereka.

Kelima, kalau bisa membunuh ahlus sunnah dengan cara diam-diam sehingga tidak ketahuan dan terselamatkan dari persaksian orang lain.

Keenam, kalaupun harus membayar diyat (denda) membunuh ahlus sunnah maka cukup dibayar dengan seekor kambing, yang denda ini lebih rendah daripada membunuh seorang Yahudi dan Majusi, bahkan lebih rendah dari denda membunuh seekor anjing. Ahlus sunnah di akhirat kelak lebih najis dan lebih hina lagi.

Oleh karena itu, sebagian syi’ah zaman sekarang berani secara terang-terangan menyatakan wajibnya membunuh ahlus sunnah.

Berkata Hazim Al-A’raji, salah seorang pemimpin pasukan syi’ah, “Fatwa sudah ada… fatwa sudah ada… bahwasanya wahabi najis, bahkan lebih najis daripada anjing… perangilah seluruh wahabi najis.”

Asy-Syirazi-salah seorang ulama besar syi’ah abad ini-berkata:

فالوهابي الإرهابي الكافر الناصبي الوحشي يجب قتله وكل من يؤيدهمن رجل الدين أو غير رجل الدين يجب قتله. ومن لا يقول بوجوب قتل هؤلاء وبوجوب قتل مؤيدهم فهو علانية يكفر بالقرآن

Terjemahannya: “Wahabi yang teroris, kafir, nashibi, bengis wajib untuk dibunuh, dan juga semua orang yang mendukungnya, baik dari kalangan agamis maupun bukan wajib untuk dibunuh. Barangsiapa yang tidak menyatakan wajib membunuh mereka atau wajib membunuh pendukung mereka maka ia telah kafir kepada Al-Qur’an secara terang-terangan.” (http://www.youtube.com/watch?v=2ZTwRWyX3E4)). Wallahu ta’ala a’lam.

REFERENSI:

DiTulis Oleh ; Ustdz Firanda Andirja,MA. Diambil Dari : BuKu Sejarah Berdarah Sekte Syi’ah

Diringkas Oleh : Abdul Hadi

Baca juga artikel:

Panduan Umum Perawatan Kecantikan

Hikmah diutusnya Para Rasul

Bagikan:

Artikel Terkait

Adab Murid Terhadap Gurunya
Umum 24/01/2026

Adab Murid Kepada Gurunya

ADAB MURID KEPADA GURUNYA Karena pada dasarnya ilmu itu tidak bisa dipelajari dari buku, akan tetapi harus dari guru yang membimbingmu me-nguasai kunci-kunci belajar agar engkau selamat dari kesalah-an dan ketergelinciran; oleh karena itu, engkau harus menjaga sikap hormat kepada guru. Sungguh, sikap hormat kepada guru merupakan indikasi kesuksesan, keberhasilan, dan taufik. Hendaklah engkau menghormati, […]

Pintu Yang Menghantarkan Kita Ke Surga
Umum 23/01/2026

Pintu Yang Menghantarkan Kita Ke Surga

PINTU YANG MENGANTARKAN KITA KE SURGA pintu semua kebaikan Jujur adalah sifat orang mukmin, sedangkan dusta adalah sifat orang munafik, kejujutran itu adalah pondasi keimanan, sedangkan kebodohan adalah benih kemunafikan. Apabila kebohongan dan keimanan bertemu, salah satu dari keduannya pasti tumbang. karna ALLAH memberi gambaran berlawanan antara orang munafik dan orang jujur. Allah Subhanahu Wata’ala […]