Hafalan Buyar Tanda Tak Pintar (Part 1)
HAFALAN BUYAR TANDA TAK PINTAR (Part 1)
Ajakan Untuk Menghafalkan Ilmu
Riwayat yang membahas tentang ilmu sangatlah banyak, tetapi cukuplah kiranya saya sampaikan firman Allah Subhanahu Wata’ala:
فَانْشُرُوا يَرْفَعِ اللَّهُ ءَامَنُواْ مِنْكُمْ وَالَذِيْنَ أُوتُواْ العِلْمَ دَرَجَاتٍ
Artinya: “Allah akan meninggikan orang-orang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS, Al-mujadillah [58]: 11)
Juga sabda Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, “Sesungguhnya malaikat itu meletakkan sayapnya untuk pencari ilmu.” Cukuplah kiranya saya sampaikan sebuah ucapan yang indah, “sesungguhnya ilmu itu akan ditinggalkan oleh orang bodoh yang bukan pemiliknya. Ia akan lari menuju kebodohan si bodoh. Tak pelak lagi bahwa tingginya kedudukan orang yang berilmu itu diukur dengan ilmunya. Jika ilmunya sedikit maka sedikit pula keunggulannya.”
Sebuah hadits berbunyi, “Dikatakan kepada orang yang membaca (menghafal) Al-Qur’an, ‘Bacalah dan naiklah kedudukanmu adalah pada ayat terakhir yang kau baca.” Orang yang hafal separuh Al-Qur’an tentu tidak sama dengan orang yang hafal Al Qur’an sepenuhnya (30 juz), penghafal seratus hadits pasti berbeda dengan penghafal seribu hadits. Berdasarkan pernyataan ini maka tiadalah ilmu kecuali apa yang berhasil dihafalkan.
Abdurrazzaq bin Hamam berkata, “Semua ilmu itu tidak masuk bersama pemiliknya ke kamar mandi, maka janganlah kamu menghitungnya.” Lantas dia bersajak,
Ilmu itu bukanlah yang mengisi lemari buku
Ilmu adalah apa yang terkandung dalam hati
Betapa banyak manusia yang mengisi keranjangnya
Dengan kitab-kitab ilmu, dia yang menghitung dan menatanya
Ketika kamu menguji ilmunya
Dia berkata, “ Wahai kekasihku, ilmuku ada di dalam keranjang,
di dalam buku-buku yang indah dan terjaga
dengan bermacam-macam tulisan.”
Karena itu katakana kepada dia, “kalau begitu berikanlah kepadaku.”
Niscaya dia hanya akan menggaruk-garuk jenggot dan kumis serta mencabutnya.
Karakter Fisik Orang yang Mudah Menghafal dan yang Sulit Menghafal
Apabila seseorang mempunyai bentuk kepala yang tidak rata, itu menunjukkan buruknya Jika seseorang mempunyai kepala yang besar maka itu tidak secara otomatis menjadi tengara bagusnya kualitas otak bila tidak diiringi dengan bagusnya bentuk fisiknya. Apabila seseorang memiliki leher yang keras maka itu menunjukkan kuatnya otak dan kesempurnaannya. Jika lehernya pendek dan lemah maka itu menunjukka sebaliknya. Orang yang kondisi fisiknya tidak ideal itu biasanya buruk pula pemahaman dan akalnya, seperti orang yang gendut perutnya, pendek jari jemarinya, bulat wajahnya, besar perawakan tubuhnya, kecil kepalanya, gemuk dahinya. Apabila keadaan mata membalik, maka pemiliknya adalah orang yang malas. Pipi yang hitam menjadi tengara kemalasan dan kebodohan. Apabila hidungnya keras dan penuh maka dia adalah 0rang yang sedikit kepahamannya.
Barang siapa yang wajahnya kurus, maka dia memiliki kepahaman. Perut yang lembut menunjukkan bagus kualitas akal. Kebodohan dan kelalaian lebih banyak terjadi pada orang yang tinggi postur tubuhnya. Kelembutan pada orang yang kurus dan orang miskin itu lebih jelas. Ketika anggota tubuh seseorang tersusun serasi dan dia mampu berdiri tegak lurus maka biasanya akalnya sempurna, kepahamannya sempurna, kesiapan untuk menuntut ilmu sudah ada. Kadang-kadang kesiapan ini sudah terwujud pada diri seseorang, namun kedian perangai asli menguasai, akhirnya kesiapannya terganggu. Sesungguhnya ketika rona hitam menyelimuti wajah maka hilanglah hafalan, sedang ketika rona kekuning-kuningan terpancar pada wajah, maka tidak mengganggu hafalan. Ibrahim Al-Harabi berkata, “orang yang rona mukanya kehitam-hitaman itu takkan mampu menghafalkan apapun yang mampu menghafal hanyalah orang yang memiliki rona muka kekunung-kuningan.”
Manakala perangainya dingin maka si pemilik perangai itu adalah orang yang bodoh sedikit pemahamannya. Salah satu indikasi rendahnya perangai adalah dinginnya sentuhan, putihnyanwarna kulit serta sedikitnya rambut dan berwarna putih. Ketika perangai seseorang itu hangat, maka itu menunjukkan kecerdasan, kepandaian dan keberanian. Tandanya adalah banyak rambut, keriting dan berwarna hitam. Perangai yang pertengahan adalah yang paling sempurna adalah yang paling sempurna pemilik perangai ini adalah orang yang cerdas dan memiliki kepahaman, orang yang pandai dan pemberani, senantiasa bertindak adil dalam segala hal. Tandanya dalah mempunyai sentuhan yang sedang-sedang, yaitu antara panas dan dingin dan postur tubuhnya juga sedang, antara kurus dan gemuk.
Menghafal Dimulai Sejak Kecil
Ketika perangai seseorang sudah ideal maka akalnya akan bekerja secara sinergis. Kondisi itu dapat membangkitkan kemampuan anak kecil ketika dia masih berusia dini, sehingga anda akan melihat dia menginginkan sesuatu yang paling unggul. Jika dia mencari keunggulan dari dunia, maka hal itu menunjukkan dangkalnya pemahaman dia. Mengapa? Karena siapa saja yang akalnya sudah dapat berjalan normal, maka akal itu akan memberinya petunjuk menuju Sang Pencipta, yakni bahwa dia harus menaati-Nyadan melaksanakan perintah-Nya, sehingga dia ingin mendekatkan diri kepada-Nya. Dia mengetahui secar pasti bahwa dirinya takkan dapat mendekati Allah melainkan dengan ilmu dan amalan, sehingga dia akan mencari ilmu dengan sendirinya tanpa harus disuruh dan diajak terlebih dahulu. Anda akan melihat dia menuntut berbagai ilmu hingga mencapai puncaknya. Selanjutnya, ilmu yang didapatkan akan menghasilkan sikap zuhud terhadap dunia dan menghasilkan berbagai perbuatan utama, hingga akhirnya dia naik pada derajat cinta Allah. Dari situlah kesempurnaan akan didapatkan.
Allah ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ اٰتَيْنَآ اِبْرٰهِيْمَ رُشْدَهُ قَبْلُ وَكُنَّا بِه عٰلِمِيْنَ
Artinya: “Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan)nya. (QS. Al-Anbiya’[21]: 51).”
Inilah karakter yang mahal harganya. Mengapa? Sebab dia tidak lagi memerlukan orang lain untuk memotvasinya beramal. Cita-citanya terus berjalan walaupun dia sedang memerlukan motivasi, dan ini adalah kondisi mayoritas anak. Ada pula sebagian kecil dari mereka yang hanya perlu diingatkan dengan peringatan ringan. Ada pula sebagian lainnya yang susah dibimbing, sehingga pengajar harus memaksanya, karena anak tidak mau berlatih.
Mengajari Anak Untuk Menghafal
ketika perangai sudah ideal dan akal telah sempurna, maka hal itu akan menyadarkan anak. Siapa saja yang dikaruniai anak oleh Allah ta’ala, maka hendaknya ia bersungguh-sungguh dalam mengurusnya, karena taufik Allah ta’ala tersembunyi di belakang hal itu. Sebaiknya orang tua membiasakan anaknya untuk menjaga kebersihan dan kesucian dirinya, serta membekalinya dengan adab dan etika. Ketika anak itu sudah berusia lima tahun, hendaklah dia sudah dididik untuk menghafalkan ilmu. Sesunggunya menghafal di waktu kecil itu bagaikan mengukir di atas batu. Ketika seorang anak sudah beranjak dewasa sedang dia belum mempunyai dorongan yang kuat untuk mencari ilmu, maka tidak ada kejayaan baginya.
Obat-obatan yang Dapat Membantu Menguatkan Hafalan
Ketahuilah bahwasannya lupa terhadap sesuatu yang pernah dihafal itu termasuk penyakit otak. Kondisi itu bias any terjadi akibat perangai yang dingin sehingga melembabkan otak. Ini biasanya terjadi diakibatkan oleh adanya campuran berlendir yang menguap. Dan hal itu disebabkan karena banyak mengkonsumsi bawang merah, makanan yang menyengat baunya atau buah-buahan. Yang menyebabkan rusaknya ingatan adalah makanan yang dingin. Jika yang dikonsumsi itu basah maka orang yang mengkonsumsinya tidak dapat menghafalkan apa yang telah direkam pada benaknya. Jika makanan yang dikonsumsi itu kering maka dia tidak dapat megingat peristiwa yang sudah berlalu, namun dia masih bisa mengingat peristiwa yang baru saja terjadi. Jika makanan itu kering sekaligus panas maka keduanya akan terjadi pada otak. Yang paling sering menyebabkan lupa adalah makanan yang dingin dan basah. Makanan yang terlalu kering juga tidak menguntungkan karena dia melemahkan kerja otak dan menjadikannya seperti batu, tidak bisa merekam sesuatu sedikit pun. Orang bijak berkata, “Iblis berkata, ‘Aku tidak menjumpai seseorang yang mendapat nikmat, lupa pada sesembahannya (Allah ta’ala).”
Hal-hal yang menyebabkan lupa itu sangatlah banyak, diantaranya adalah, bekam pada waktu nuqrah[1], makan buah karizah[2] yang basah, apel yang masam, berjalan diantara dua unta yang dilumuri cat, ,melihat air tenang dan kencing padanya, melihat banyaknya salib, mencampakkan kutu, memakan sisa makanan tikus. Az-Zuhri[3] berkata, “Buah apel menyebabkan lupa.”
Makanan yang Dapat Membantu Menguatkan Hafalan
Ali radiyallahu ‘anhu berkata, “Hendaklah kalian mengonsumsi buah delima yang manis, karena itu baik untuk organ pencernaan. Seorang lelaki mengadu kepada Ali bahwa dia sering lupa. Ali radiyallahu ‘anhu berkata, “Kamu harus mengonsumsi tanaman Lubban (olibanum: dupa), karena dapat memelihara hati dan sering lupa.[4] Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhuma berkata, “Mencukur rambut bagian belakang kepala itu menambah kuatnya hafalan.” Dan beliau juga berkata, “Ambillah beberapa takar kundur[5] dan gula secukupnya, lantas tumbuklah keduanya sampain lembut, kemudian minumlah tumbukan itu, karena sesungguhnya itu baik untuk menghilangkan lupa.”
Az-Zuhri berkata, “Anda harus mengonsumsi madu, karena itu baik untuk membantu hafalan.” Dan Az-Zuhri juga berkata, “Siapa yang ingin menghafalkan hadist maka hendaklah dia mengkonsumsi kismis.” Al-Ju’abi[6] berkata, “Saya dulu adalah orang yang tidak mampu dalam menghafal. Kemudian para dokter berkata pada saya ‘konsumsilah kue susu.’ Kemudian saya mengonsumsinya selama empat puluh hari, setiap pagi dan sore tanpa makan-makanan yang lainnya. Lalu pikiran saya menjadi bersih, hingga saya menjadi seorang hafizh, dan mampu menghafal tiga ratus hadist setiapn hari.”
Adapun beberapa resep yang disarankan oleh para dokter yang dapat membantu hafalan adalah tanaman waj, kayu gaharu, myrobalan (nama salah satu jenis tumbuhan), masing-masing sebanyak sepuluh dirham.[7]
Waktu Ideal Untuk Menghafal
Waktu yang paling ideal untuk mengasah akal batin kita adalah pada waktu malam hari atau sebelum tidur, untuk itulah mengapa Allah Ta’ala menyebutkan kata “tsaqila” (berat) sebelum katam “lail” (malam) dalam firman-Nya pada surat Al-Muzammil:
اِنَّا سَنُلْقِيْ عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيْل لَّيْلِ هِيَ اَشَدُّ وَطْـًٔا وَّاَقْوَمُ قِيْلًا اِنَّ نَاشِئَةَ الَّيْلِ هِيَ اَشَدُّ وَطْـًٔا وَّاَقْوَمُ قِيْلًا
Artinya: “Sesungguhnya kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (QS. Al-Muzzammil: 5)
Yaitu bahwa waktu malam itu adalah waktu yang paling utama untuk merenungi, memikirkan dan menghafalkan Al-Qur’an. Sebuah penelitian membuktikan bahwa otak manusia itu tetap bekerja aktif dan tidak berhenti melaksanakan tugasnya walaupun manusia sedang tidur. Otak mampu melekatkan hafalan dan merekam apa-apa yang dia dengar saat si empunya tidur.
Cara Menguatkan Hafalan
Cara untuk menguatkan hafalan adalah dengan banyak mengulang. Manusia berbeda-beda kemampuannya dalam hal ini. Di antara mereka ada hafalannya dapat langsung masuk memori otaknya walau hanya dengan sedikit pengulangan. Di antara mereka ada juga yang tidak bisa hafal kecuali dengan menghafalnya berulang-ulang. Oleh karena itu, sebaiknya manusia selalu mengulangi materi hafalannya sesudah dia hafal agar hafalannya tetap kokoh tersimpan pada memori otaknya. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
تَعَاهَدُوا هَذَا القُرْآنَ فَإِنَّهُ أَشَدُّ تَفَصِّياً مِنْ صُدُوْرِ الرِّجَالِ مِنَ النَّعَمِ مِنْ عُقُلِهَا
Artinya: “Jagalah Al-Qur’an karena dia lebih cepat terlepasnya dari hati seseorang daeipada lepasnya unta dari tali kekangnya.[8]”
Abu Ishaq Asy-Syirazi[9] biasanya mengulangi pelajaran yang dia dapatkan sebanyak seratus kali. Al-Hasan bin Abu Bakar An-Naisaburi Al-Faqih berkata, “Seseorang tidak akan hafal sampai ia mengulanginya sebanyak lima puluh kali.” Al-Hasan mengatakan kepada kami bahwa orang yang faqih seharusnya mengulangi pelajaran berkali-kali di rumahnya. Ada seorang perempuan tua di rumahnya berkomentar, “Demi Allah aku telah hafal.” Al-Hasan berkata, “Ulangilah!”, maka wanita tua itu
mengulanginya. Sesudah beberapa hari berlalu, Al-Hasan berkata, “Hai perempuan tua, ulangilah pelajaran itu.” Perempuan itu menjawab, “Aku tidak hafal.” Al-Hasan berkata, “Sesungguhnya aku mengulang-ulang pelajaran itu berkali-kali agar aku tidak tertimpa penyakit lupa seperti yang menimpamu sekarang ini.
Waktu-waktu yang Tepat untuk Mengulang Hafalan
Orang yang ingin menghafalkan sesuatu sebaiknya berusaha keras pada waktu kemauan dan potensi diri terkumpul. Manakala dia melihat hatinya sedang sibuk, maka sebaiknya dia tidak menghafal terlebih dahulu. Hendaknya dia menjaga apa yang telah dia hafal sebisa mungkin. Karena yang sedikit itu justru akan menetap sedangkan yang banyak itu biaanya tak didapatkan. Waktu menghafal yang disarankan adalah pada waktu sahur, karena pada waktu itu seluruh potensi terkumpul. Bisa juga pada waktu pagi atau pada tengah malam. Sebaiknya tidak menghafalkan sesuatu di tepi sungai atau di depan panorama alam yang hijau, agar hati tidak sibuk dengan hal itu. Dan tempat yang tinggi lebih baik daripada tempat yang rendah. Sebaiknya memberi kelonggaran kepada jiwa untuk menghafal dalam waktu satu atau dua hari, agar jiwa itu menjadi seperti bangunan yang nyaman untuk bertempat tinggal.
Referensi:
Penulis: Al-Imam Abul Faraj Abdurrahman Ibnul Jauzi
Judul Buku: Hafalan Buyar Tanda Tak Pintar. Cetakan pertama: Januari 2018
Penerbit: Pustaka Arafah, Diringkas oleh: Wahyu Puspa Melati
[1]An-Nuqrah artinya sangat panas.
[2] Al-Karizah adalah salah satu jenis buah, seperti anggur.
[3] Beliau adalah Muhammad bin Muslim bin Abullah bin Syihab, julukannya adalah Abu Bakar Az-Zuhri.
[4] Ath-Thibb An-Nabawi karya Ibnul Qayyim 387.
[5] Kundur itu adalah Liban atau Oliban atau Olibanum. Oliban adalah tumbuhan sebangsa dupa yang mengeluarkan getah.
[6] Al-Ju’abi adalah Muhammad bin Salm.
[7] 1 dirham = 2,949 gram.
[8] Hadist ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad
[9] Beliau adalah Ibrahim bin Ali bin Yusuf, Kunyahnya adalah Abu Ishaq.
Baca juga artikel:
