Kiat-Kiat Menyampaikan Teguran
Kiat-Kiat Menyampaikan Teguran – Amar ma’ruf nahi munkar adalah perkara yang harus dihidupkan dalam rumah tangga. Apabila A suami mendapati adanya penyimpangan pada diri istrinya, ia berkewajiban untuk meluruskan dan memperingatkannya. Demikian juga ketika istri mendapati penyimpangan pada diri suaminya.
Akan tetapi, perlu kita pahami di sini bahwa ketika istri menyampaikan nasihat dan teguran kepada suaminya, tentu caranya berbeda dengan cara seorang guru kepada muridnya, atau seorang ustadz kepada orang yang didakwahinya.
Para istri yang mulia. Dalam hal ini seorang istri harus cerdik dalam mengambil langkah. Karena yang engkau kehendaki dari teguran itu tentunya adalah kebaikan pada diri suamimu, yang pada hakikatnya itu juga merupakan kebaikan bagi dirimu. Maka engkau harus mengerahkan segenap kemampuan agar nasihat dan teguranmu itu mendatangkan perbaikan dan bukan malah sebaliknya, mengundang keburukan yang lebih besar.
Dalam hal ini ada beberapa kiat dalam menyampaikan nasihat dan teguran yang perlu kita perhatikan:
Pertama, hendaknya engkau menyampaikan nasihat dan teguran tersebut ikhlas semata-mata karena mengharap wajah Allah. Jangan engkau melakukannya karena didorong rasa kesal dan amarah. Ketahuilah bahwa hal itu hanya akan membawa kerugian. Sebab, apabila tindakanmu itu semata-mata didorong oleh rasa kesal dan marah maka engkau akan terluput dari pahala dan engkau akan bertambah kesal jika ternyata teguranmu itu tidak diterima.
Namun, apabila engkau mendasari tindakanmu itu semata-mata ikhlas karena Allah, niscaya engkau akan menuai pahala. Kalaupun ternyata nasihat dan teguranmu itu tidak diterima, engkau tidak akan putus asa atau kesal. Sebab engkau menyadari hidayah itu datangnya dari Allah dan bukan berada di tangan kita. Tugas kita hanyalah menyampaikan peringatan, dan hanya Allah yang dapat membuka hati siapa saja yang Dia kehendaki.
Kedua, tarik simpati suamimu dengan menunjukkan banyaknya perubahan pada dirimu.
Buktikan bahwa setelah mengenal Islam engkau semakin menjadi istri yang menyenangkan. Semakin taat, semakin santun, semakin sabar dan seterusnya. Mudah-mudahan sikapmu itu dapat membuka hati suamimu, sehingga ia sadar bahwa Islam senantiasa membawa kebaikan
Ketiga, sampaikanlah nasihat dan teguran itu dengan cara yang lemah lembut.
Sebab sifat ini merupakan sifat yang dicintai Allah dan disukai manusia. Bahkan kelembutan merupakan sebab yang penting agar teguranmu diterima.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah bersabda:
إنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ وَمَا لَا يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ
Artinya: “Sungguh, Allah itu bersifat lembut menyukai kelembutan dan Dia memberikan pada kelembutan sesuatu yang tidak diberikan kepada selainnya.” (Muttafaqun Alaih)
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga bersabda:
مَنْ يُحْرَمِ الرِّفْقَ يُحْرَمِ الْخَيْر
Artinya: “Barang siapa yang tidak mempunyai sifat lembut berarti ia tidak mendapat kebaikan.” (HR. Muslim dalam shahihnya)
Dalam hadits yang lain beliau Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ
Artinya: “Kelembutan itu tidak terdapat pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya, dan tidaklah kelembutan itu dicabut dari sesuatu melainkan sesuatu itu menjadi buruk.” (Muttafaqun Alaih)
Keempat, hiasilah dirimu dengan kesabaran.
Hal ini adalah penting! Karena mungkin engkau akan memerlukan waktu yang lama untuk dapat mengubah sebagian penyimpangan atau perangai buruk yang ada pada diri suamimu. Rentang waktu yang mungkin akan menjadi ujian tersendiri bagimu. Bersabarlah, karena kesabaranmu mempergauli suamimu akan menjadi catatan pahala bagimu di sisi Allah. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
Artinya: “Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (QS. Az-Zumar [39]: 10)
Dan teruslah berdoa kepada Allah, karena hanya Dia yang mampu membuka pintu hati suamimu dan mengubah segala keburukannya.
Kelima, perhatikan skala prioritasnya.
Hindarilah terlalu banyak kritik terhadap semua masalah dari yang kecil hingga yang besar. Akan tetapi engkau harus memiliki skala prioritas. Sebab penyimpangan suami tentu bermacam-macam. Ada penyimpangan yang ringan, ada juga penyimpangan yang berat dan membahayakan.
Keenam, hendaklah memperhatikan kapan dan bagaimana cara menyampaikan teguran kepada suami.
Saudariku yang kucintai. Penentuan masa, tempat dan tata cara menyampaikan teguran dan kritik adalah perkara yang sangat berpengaruh pada diterima atau tidaknya teguran itu. Dan masalah ini tidaklah mudah. Butuh kecerdikan dan pertimbangan yang jeli untuk itu.
Terkait poin keenam ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
- Sebagaimana kita tidak suka dan merasa tidak nyaman apabila dikritik atau ditegur di hadapan orang lain, maka janganlah lakukan hal itu terhadap suamimu. Teguran yang disampaikan secara empat mata biasanya akan lebih bisa diterima. Karena hal itu lebih melapangkan jiwa dan menjaga nama baiknya. Sebab, bisa saja hati seseorang sebenarnya dapat menerima teguran yang disampaikan kepada dirinya, namun ia menolaknya demi menjaga harga dirinya di hadapan orang lain.
Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Barang siapa mengingatkan saudaranya secara rahasia, berarti ia telah menasihatinya dan menjaga nama baiknya. Dan barang siapa menasihatinya di hadapan banyak orang, berarti ia telah membongkar aibnya dan merusak nama baiknya.”
- Hendaknya teguran disampaikan dalam perkara yang berat, bukan semua kesalahan atau kekeliruan harus menjadi persoalan. Dan hendaknya engkau menjadi orang pertama yang melaksanakan perkara yang engkau tuntut dari suami. Janganlah engkau mengkritik suatu keburukan pada diri suami sementara keburukan itu ada pada dirimu.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابُ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
Artinya: “Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti?” (QS Al-Baqarah [2]: 44)
Dalam ayat yang lain Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaf [61]: 2-3)
- Memilih waktu yang tepat untuk menyampaikan kritik dan teguran adalah perkara yang sangat penting. Agar kritik dan teguran itu membuahkan hasil dan bermanfaat. Jangan cepat-cepat mengkritik dan menegur! Tahanlah dulu, sebab di sana ada beberapa perkara yang harus diperhatikan, yaitu: Jangan menyampaikan teguran ketika engkau sedang marah.
Sebab dalam keadaan marah engkau akan terdorong untuk mengatakan perkara-perkara yang terlalu dibesar-besarkan dan berbau sentimen. Sehingga, kebanyakan kritikanmu bersumber dari kemarahanmu. Dalam kondisi ini suami akan meyakini bahwa kritikmu itu muncul atas dorongan kemarahanmu. Akibatnya, kritik itu tidak memberikan pengaruh apa pun.
Tergesa-gesa menyampaikan kritik dalam kondisi seperti itu akan membuatmu keliru dalam mengambil sikap. Selanjutnya engkau akan berada pada pihak yang bersalah atau disalahkan. Di sisi lain, jangan pula menyampaikan teguran ketika suamimu sedang marah. Sebab dalam kondisi seperti ini ia tidak siap untuk menerima pernyataan apa pun. Apalagi pernyataan yang berisi kritik; justru akan lebih mengobarkan amarahnya.
Jadi, waktu yang tepat untuk menyampaikan kritik adalah dalam kondisi yang tenang dan kondusif antara kedua belah pihak. Namun bukan juga dalam kondisi gembira, suka cita dan ceria. Sebab menyampaikan kritik pada saat-saat itu bisa merusak suasana. Apalagi waktu-waktu seperti itu sangat jarang ditemukan, maka janganlah sampai engkau menyia-nyiakannya.
Alangkah baiknya bila sepasang suami istri menyediakan waktu khusus untuk saling terbuka antara keduanya terhadap seluruh masalah, hal itu lebih cocok dan lebih baik lagi. Sebab, kondisi jiwa pada saat itu siap untuk menerima perubahan.
Lalu, bagaimana cara menyampaikan teguran itu?
Keahlian menyampaikan teguran kepada suami merupakan seni yang sangat agung dan harus engkau pelajari. Dalam hal ini tentu berbeda antara suami yang satu dengan yang lainnya. Dan engkaulah orang yang paling mengenal watak dan kepribadian suamimu. Seharusnya engkau juga yang paling tahu cara apa yang paling cocok untuk menyampaikan teguran kepadanya.
Intinya, engkau harus memperhatikan metode dan kepatutannya. Hindari suasana gaduh serta kata-kata yang menyakitkan dan melukai perasaan. Hindarilah caci maki, karena itu akan membuat suamimu kecewa. Ingatlah! seorang bisa dapat bencana karena tergelincir lisannya meski ia tidak dapat bencana karena tergelincir kakinya
Jika ada sinyal-sinyal yang menunjukkan ketidaksukaan dan penolakan dari suamimu, sebaiknya engkau segera berhenti dan mengalihkan pembicaraan kepada hal lain. Bersabarlah, dan coba lagi di lain kesempatan. Mungkin suamimu perlu waktu untuk dapat mencerna dan menerima kata-katamu.
Demikian pula jangan lupa untuk membuat lapang dadanya sesudah menyampaikan kritik tersebut dengan menyebut-nyebut keistimewaan dan jasanya atas dirimu. Ini akan mengembalikan suasana hatinya dan menjadikan keadaan kembali rileks.
Satu hal penting yang tidak boleh engkau lalaikan!
Jangan sekali-kali memojokkan suamimu dengan mengklaim dirinya sebagai pria yang tidak shalih, sehingga ia merasa seperti seorang tersangka yang sedang divonis di hadapan hakim. Tunjukkanlah kepada suamimu bahwasanya engkau melakukan semua itu semata-mata karena engkau sayang kepadanya, karena engkau cinta kepadanya dan karena engkau menghendaki kebaikan bagi dirinya.
Sumber :
Surat Terbuka Untuk Para Istri ditulis oleh Ummu Ihsan dan Abu Ihsan al Atsari, Diringkas oleh : Yasmin Yuni Azrah ( Pegawai Ponpes Darul Quran wal Hadits)
BACA JUGA :
