SEBAB-SEBAB SELAMAT DARI SIKSA KUBUR
- Iman dan takwa
Iman dan takwa adalah sebaik-baik bekal untuk menghadap Allah. Allah menjanjikan segala kemudahan, pertolongan dan jalan keluar dari segala kesulitan bagi orang-orang yang bertakwa. Barangsiapa yang beriman dan bertakwa, niscaya akan dimudahkan dalam menghadapi segala kesulitan di dunia, alam Barzakh dan akhirat kelak. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata’ala:
ومن يتق الله يجعل له مخرجاً (۲) ويرزقه من حيث لا يحتسب (۳)
Artinya: “Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. (QS. Ath-Thalaq [65]: 2-3)
Orang-orang yang beriman dan bertakwa adalah wali-wali Allah menjamin keamanan dan ketenangan hidup bagi mereka. Oleh karenanya, mereka tidak merasa takut dan sedih dalam menjalani kehidupan di alam dunia, barzakh dan akhirat. Sebagaimana dijelaskan oleh firman Allah Subhanahu Wata’ala:
أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (٦۲) الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (٦۳) لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (٦٤)
Artinya: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar”. (QS. Yunus [10]: 62-64)
- Istiqamah
Istiqamah adalah kontinu dan teratur dalam iman dan amal shalih. Maksudnya, seorang hamba senantiasa menjaga, merawat dan menumbuh suburkan keimanan dan amal shalihnya. Dia dengan teratur melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Orang yang istiqamah mendapat jaminan keselamatan dan kemudahan dari Allah, baik saat hidup di alam dunia, barzakh maupun akhirat. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata’ala:
إنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ (۳۰) نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ (۳۱) نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ (۳۲)
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan ‘Rabb kami adalah Allah’, kemudian mereka istiqamah (teguh menjalankannya hingga datangnya kematian), maka para malaikat akan turun kepada mereka sembari memberi kabar gembira, “Janganlah kalian takut! Jangan pula kalian bersedih! Dan bergembiralah kalian dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepada kalian.” Sesungguhnya kami adalah para pelindung kalian dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Di dalamnya (surga) kalian akan mendapatkan apa yang kalian inginkan dan memperoleh pula apa yang kalian minta. Sebagai hidangan bagi kalian dari Rabb Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Fushilat [41]: 30-32)
Dalam ayat ini dijelaskan bahwa seorang hamba yang istiqamah di atas keimanan akan mendapatkan berita gembira pada detik-detik terakhir usianya. Imam Mujahid, Zaid ibnu Aslam, Abdurahman bin Zaid, Ikrimah, dan As-Sudi mengatakan, “Maksudnya adalah para malaikat akan turun kepadanya pada saat dia akan mati, dengan memberikan kabar gembira kepadanya, ‘Janganlah engkau takut menghadapi urusan akhirat yang akan engkau datangi, dan jangan pula sedih memikirkan urusan keluarga, harta, hutang, dan urusan duniawi lainnya yang engkau tinggalkan!’
Imam Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkan bahwa Zaid bin Aslam mengatakan, “Maksudnya adalah para malaikat akan memberikan kabar gembira kepadanya pada saat dia akan mati, saat dia berada di alam kubur, dan saat dia dibangkitkan.”
Saat menjelaskan makna ‘Sesungguhnya kami adalah para pelindung kalian dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, Imam Ibnu Katsir berkata, “Para malaikat akan memberi kabar gembira kepada seorang mukmin saat dia tengah menghadapi kematiannya ‘Sesungguhnya kami adalah kawan kawan akrab kalan saat kalian masih hidup di dunia. Di dunia, kamilah yang meluruskan, memberi taufik, dan menjaga kalian atas perintah Allah Demikian pula kami akan tetap menyertai kalian dalam kehidupan di akhirat. Kamilah yang akan menghibur kesepian kalian di alam kubur dan saat peniupan sangkakala. Kamilah yang akan menenangkan kalian dari rasa takut pada hari kebangkitan dan pengumpulan. Kami pula yang akan meloloskan kalian saat melewati ash-shirat. Kami akan mengantarkan kalian ke dalam surga.[1]
- Mati syahid di medan jihad
Orang-orang yang berperang di jalan Allah demi menegakkan dan membela agama Allah, sehingga mereka gugur sebagai syahid atau terluka, akan mendapatkan keamanan yang sempurna di alam kubur dan akhirat. Mereka sama sekali tidak merasakan takut saat menghadapi pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir. Mereka tidak akan mengalami siksaan sedikit pun di alam kubur. Mereka juga akan aman dari kedahsyatan kiamat, kebangkitan dari alam kubur dan hisab di padang Mahsyar.
Sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits yang shahih:
عَنْ رَاشِدِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ مَا بَالُ الْمُؤْمِنِينَ يُفْتَنُوْنَ فِي قُبُوْرِهِمْ إِلَّا الشَّهِيدَ؟ قَالَ: كَفَى بِبَارِقَةِ السُّيُوفِ عَلَى رَأْسِهِ فِتْنَةٌ
Artinya: Dari Rasyid bin Sa’ad, dari seorang sahabat Nabi bahwasanya ada seorang sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa orang-orang mukmin itu mengalami fitnah kubur, kecuali orang yang mati syahid (tidak mengalami fitnah kubur)?” Beliau menjawab, “Cukuplah kilatan pedang di atas kepalanya (kedahsyatan dan kengerian kecamuk perang di jalan Allah) sebagai fitnah baginya.”[2]
Dalam hadits yang lain:
عَنِ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِي كَرِبَ الْكِنْدِي قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ لِلشَّهِيدِ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ سِتُ خِصَالٍ: أَنْ يُغْفَرَ لَهُ فِي أَوَّلِ دَفْعَةٍ مِنْ دَمِهِ، وَيَرَى مَقْعَدَهُ مِنْ الْجَنَّةِ، وَيُحَلَّى حُلَّةَ الْإِيمَانِ، وَيُزَوَّجَ مِنْ الْحُورِ الْعِينِ، وَيُجَارَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَيَأْمَنَ مِنْ الْفَزَعِ الْأَكْبَرِ، وَيُوْضَعَ عَلَى رَأْسِهِ تَاجُ الْوَقَارِ الْيَاقُوْتَةُ مِنْهُ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا وَيُزَوَّجَ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ زَوْجَةً مِنْ الْحُوْرِ الْعِيْنِ وَيُشَفَّعَ فِي سَبْعِينَ إِنْسَانًا مِنْ أَقَارِبِهِ
Artinya: Dari Miqdam bin Ma’di Karib Al-Kindi, dia berkata, Rasulullah telah bersabda, ‘Orang yang mati syahid di medan peperangan akan mendapatkan enam (dalam riwayat lain tujuh) karunia: diampuni dosa-dosanya sejak tetesan darah yang pertama, dia bisa melihat tempatnya di surga kelak, dipakaikan untuknya perhiasan keimanan, dinikahkan dengan bidadari surga, dijauhkan dari adzab kubur, merasa aman pada hari ketakutan yang paling besar (hari kebangkitan), pada kepalanya dikenakan mahkota kemuliaan yang satu butir intan Yakut padanyalebih baik dari dunia dan seisinya, dinikahkan dengan tujuh puluh dua bidadari surga, dan diperkenankan memberi syafa’at bagi tujuh puluh orang kerabatnya.”[3]
Mereka mendapat kemuliaan tersebut, karena mereka telah merasakan rasa takut yang luar biasa selama mereka hidup di dunia. Rasa takut yang begitu besar di dunia tersebut terjadi pada saat mereka rela mengorbankan tenaga, waktu, harta dan nyawanya dalam rangka menegakkan agama Allah. Rasa takut yang mereka alami di dunia saat berjuang di jalan Allah tersebut, Allah gantikan dengan rasa aman di alam kubur.
- Ribath
Ribath adalah berjaga-jaga di daerah Islam yang berbatasan dengan daerah musuh demi menjaga keselamatan kaum muslimin. Orang-orang yang berjaga-jaga di daerah perbatasan dengan daerah musuh untuk menjaga kaum muslimin-disebut murabith-, juga tidak akan merasakan rasa takut sedikit pun di alam kubur dan padang Mahsyar. Sebagaimana disebutkan dalam hadits:
عَنْ سَلْمَانَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامٍ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ، وَإِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُهُ، وَأُجْريَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ وَأَمِنَ الْفَتَانَ
Artinya: Dari Salman Al-Farisi, dia berkata, saya telah mendengar Rasulullah bersabda, “Ribath (berjaga-jaga di daerah yang berbatasan dengan daerah musuh) selama sehari semalam itu lebih baik dari melaksanakan shaum sunah dan shalat malam selama sebulan. Barangsiapa yang meninggal dalam masa ribath niscaya amalnya terus menerus dituliskan untuknya setelah dia mati. Dia akan mendapat curahan rezeki (di alam kuburnya) dan aman dari dua malaikat pembawa fitnah kubur (malaikat Munkar dan Nakir).[4]
عَنْ فَضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: كُلُّ الْمَيِّتِ يُخْتَمُ عَلَى عَمَلِهِ إِلَّا الْمُرَابِطَ فَإِنَّهُ يَنْمُو لَهُ عَمَلُهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَيُؤَمَّنُ مِنْ فَتَّانِ الْقَبْرِ
Artinya: Dari Fadhalah bin Ubaid bahwasanya Rasulullah telah bersabda, “Setiap orang yang meninggal itu ditutup buku catatan amalnya, kecuali orang yang melaksanakan ribath. Baginya akan dituliskan amalnya sampai hari kiamat kelak, dan dia akan diberi keamanan dari dua malaikat pembawa fitnah kubur (malaikat Munkar dan Nakir).”[5]
- Menghafal, membaca dan mengamalkan surat Al-Mulk
Surat Al-Mulk adalah surat yang ke enam puluh tujuh (67) menurut urutan mushaf, terdiri dari tiga puluh ayat. Seorang muslim yang membiasakan diri membaca, menghafal, dan mengamalkan isinya, niscaya akan diselamatkan dari adzab kubur. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
سُورَةُ تَبَارَكَ هِيَ الْمَانِعَةُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ
Artinya: Surat Tabaraka (Al-Mulk) adalah penghalang dari siksaan kubur.[6]
Abdullah bin Mas’ud berkata, “Seseorang didatangi oleh malaikat di dalam kuburnya. Dia didatangi dari arah kedua kakinya, namun kakinya berkata, “Kalian tidak bisa mendatanginya dari arahku, karena dia biasa membaca surat Al-Mulk.” Lalu dia didatangi dari arah dada atau perutnya, namun dada atau perutnya berkata, “Kalian tidak bisa mendatanginya dari arahku, karena dia biasa membaca surat Al-Mulk.” Lalu dia didatangi dari arah kepalanya, namun kepalanya berkata, “Kalian tidak bisa mendatanginya dari arahku, karena dia biasa membaca surat Al-Mulk.” Surat Al-Mulk adalah penghalang, yaitu menghalangi dari siksa kubur. Di dalam Taurat, dia juga disebut surat Al-Mulk. Barangsiapa membacanya pada suatu malam, niscaya dia telah melakukan amalan yang banyak dan bagus.”
Perkataan Ibnu Mas’ud ini mempunyai hukum marfu’ yaitu sama nilainya dengan hadits Nabi karena berkenaan dengan hal yang ghaib, yang hanya mungkin bersumber kepada wahyu dan akal sama sekali tidak mempunyai hak untuk berijtihad. Besar kemungkinan Ibnu Mas’ud mendengar penjelasan Rasulullah, lalu dia menerangkan kembali dengan yang lafazh dari dirinya sendiri. Terdapat beberapa hadits lain nilainya shahih, hasan dan lemah tentang keutamaan surat dari siksa di alam kubur. Hadits-hadits tersebut, satu sama Al-Mulk yang memberi syafa’at di akhirat dan menyelamatkan lain, saling menguatkan.
- Menjauhi semua ucapan dan perbuatan yang menyebabkan datangnya adzab kubur
menyebabkan datangnya adzab kubur Untuk bisa selamat dari segala jenis penyakit, manusia harus mau menjauhi segala makanan, minuman, kebiasaan, dan hal-hal yang telah positip menyebabkan penyakit. Demikian pula halnya, untuk bisa selamat dari adzab kubur, setiap muslim harus menjauhi segala perbuatan dan ucapan penyebab datangnya adzab kubur.
- Melakukan taubat nashuha
Dari Syadad bin Aus dari Nabi, beliau bersabda, “Sayyidul istighfar adalah engkau mengucapkan,
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنتَ
Artinya: Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada yang berhak diibadahi selain engkau, aku adalah hamba-Mu, aku mengikuti perjanjian dan janji-Mu sesuai kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan perbuatanku. Aku mengakui nikmat-nikmat-Mu kepadaku, dan aku juga mengakui dosa-dosaku. Maka ampunilah aku, karena tidak ada yang bisa mengampuni dosa selain Engkau.”
“Barangsiapa mengucapkannya di waktu pagi dengan meyakini maknanya, kemudian dia mati pada hari tersebut sebelum memasuki waktu sore, niscaya dia termasuk penduduk surga. Dan barangsiapa mengucapkannya di waktu malam dengan meyakini maknanya, kemudian dia mati pada malam tersebut sebelum memasuki waktu pagi, niscaya dia termasuk penduduk surga.”[7]
Membaca sayyidul istighfar yang dimaksud dalam hadits ini tentunya bukan sekedar melafazhkan di bibir sebanyak sekali atau beberapa kali di waktu pagi dan sore semata. Lebih dari itu, maknanya adalah bertaubat dengan sungguh-sungguh. Mengakui dosa-dosanya, menyesali segala kesalahan yang telah diperbuat, menyadari keagungan nikmat-Nya, dan segera beramal shalih sebelum datangnya kematian. Orang yang seperti inilah yang akan menjadi penduduk surga, dan menjadi penduduk surga berarti mendapatkan keamanan dari adzab kubur selama masa penantian di alam Barzakh.
Referensi:
misteri alam barzakh, Abu fatiah Al-Adnani, Granada Mediatama, cetakan pertama, November 2016 (edisi revisi)
Diringkas oleh : Dia Silvia (pengabdian ponpes DQH Oku Timur)
[1] Tafsir Ibnu Katsir, 7/177.
[2] HR. An-Nasai no. 2026. Dinyatakan shalih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no. 1380 dan Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir no. 4483.
[3] HR. Tirmidzi no. 1712, Ibnu Majah no. 2899, Ath-Thabrani no. 17017 dan Ahmad no. 16553.
[4] HR. Muslim no. 3537, Tirmidzi no. 1716, dan Nasai no. 3117.
[5] HR. Abu Daud no. 2139, Tirmidzi no. 1546, Al-Hikmah no. 2376, dan Ibnu Hibban no. 4708. Dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no. 1218 dan Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir no. 4562
[6] Hr. Al-Hakim no. 1475, sanadnya dinyatakan shahih oleh Al-Hikmah dan disetujui oleh Adz-Dzahabi. Dinyatakan hasan Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa at-Tarhib no. 1475.
[7] HR. Bukhari no. 5831
Baca juga artikel:
