Tag: dunia

  • Cara Meraih Dunia dan Akhirat Sekaligus

    Cara Meraih Dunia dan Akhirat Sekaligus

    Cara Meraih Dunia dan Akhirat Sekaligus

    Ibnul Qayyim Rahimahullah menegaskan: Orang yang paling sempurna nikmatnya adalah orang yang bisa merasakan kenikmatan hati, jiwa dan raga.

    Dia diharuskan memanfaatkan kenikmatannya itu yang halal dan dengan cara yang ia tidak akan mengurangi kebahagiaannya di akhirat.

    Dia tidak akan terputus menikmati kelezatan mengenal dan mencintai Rabbnya.

    Dialah orang yang diceritakan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya :

    قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِيْنَةَ اللّٰهِ الَّتِيْ اَخْرَجَ لِعِبَادِه وَالطَّيِّبٰتِ مِنَ الرِّزْقِ قُلْ هِيَ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَّوْمَ الْقِيٰمَةِ كَذٰلِكَ نُفَصِّلُ الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّعْلَمُوْنَ

    Artinya ‘’Katakanlah (Nabi Muhammad), “Siapakah yang mengharamkan perhiasan (dari) Allah yang telah Dia sediakan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik-baik? Katakanlah, ‘Semua itu adalah untuk orang-orang yang beriman (dan juga tidak beriman) dalam kehidupan dunia, (tetapi ia akan menjadi) khusus (untuk mereka yang beriman saja) pada hari Kiamat.’’ (QS.Al-A’raf; 32)

    Dan orang yang paling merugi akibat kenikmatan adalah orang yang menggunakan kenikmatan yang dimilikinya untuk hal-hal yang akhirnya menghalangi pribadinya dari kenikmatan akhirat. Jika begitu, akan di katakana kepadanya nanti :

    وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا عَلَى النَّارِۗ اَذْهَبْتُمْ طَيِّبٰتِكُمْ فِيْ حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَاسْتَمْتَعْتُمْ بِهَاۚ فَالْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُوْنِ بِمَا كُنْتُمْ تَسْتَكْبِرُوْنَ فِى الْاَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَبِمَا كُنْتُمْ تَفْسُقُوْنَ

    Artinya; Pada hari (ketika) orang-orang yang kufur dihadapkan pada neraka, (dikatakan kepada mereka,) “Kamu telah menghabiskan (rezeki) yang baik dalam kehidupan duniamu dan bersenang-senang dengannya. Pada hari ini kamu dibalas dengan azab yang menghinakan karena kamu takabur di bumi, padahal tidak berhak (untuk sombong), dan  (juga) karena kamu selalu durhaka.” (QS.Al-Ahqaf 20)

    Baik golongan pertama ataupun golongan kedua sebenarnya sama-sama bersenang-senang menikmati kelezatan dunia. Akan tetapi , cara mereka melakukannya benar-benar berbeda.

    Golongan pertama bersenang-senang dengan cara yang dibenarkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala , sehingga mereka dapat meraih kenikmatan dunia dan akhirat sekaligus.

    Adapun golongan kedua bersenang-senang dengan cara menurut keinginan hawa nafsu saja, terlepas apakah hal tersebut diizinkan atau tidak. Ini berakibat terputusnya kenikmatan mereka di dunia, sedang kenikmatan akhirat mereka tidak bisa mereka raih.

    Oleh karena itulah, siapa yang ingin mendapatkan kenikmatan yang kekal dan kehidupan yang baik harus menjadikan kenikmatan dunia sebagai perantara guna meraih kenikmatan akhirat. Ini dilakukan dengan cara memanfaatkan secara Ikhlas karena Allah Subhanahu wa ta’ala selaras dengan kehendak-Nya , dan dalam ranah ibadah kepada Allah. Dia harus berupaya meraih kenikmatan yang kekal itu dengan cara mengerhkan usaha sendiri bukan dengan mengedepankan hawa nafsu.

    Adapun orang- orang yang ingin menghindar dari kenikmatan duniawi, maka sejatihnya dia senantiasa berharap sanggup menjadikan segala kekurangan yang pernah dialami sebagai factor penambah kenihmatan di akhirat kelak.

    Untuk itu , semestinya dia menenangkan jiwanya di dunia dengan cara meninggalkan kehidupan duniawi demi memperoleh kesempurnaan ukhrawi atau hidup di akhirat.

    Segala Kebaikan dan kenikmatan dunia merupakan sebaik-baik penolong bagi siapapun yang benar-benar mencarinya dengan Ikhlas , demi mendapa Ridha Allah Subhanahu wa ta’ala  dan kenikmatan hari akhirat . jadim orang itu sebenarnya hanyalah ingin meraih kenikmatan yang dijanjikan di akhirat, semata-mata ukhrawi tujuannya.

    Adapun orang-orang yang tujuan dan cita-citanya hanya berkisar pada kenikmatan dunia dan orientasi duniawi  sebagai tempat mendengkur, maka dia termasuk orang yang paling celaka.

    Tatkala kita membaca sirah kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam , kita akan mendapati bahwa beliau sosok pemimpin orang-orang  zuhud dan selalu qana’ah atas dunia. Padahal kalau mau, beliau bisa saja memperoleh kenikmatan yang didapat oleh para raja. Dunia pernah ditawarkan kepada beliau, namun beliau menolaknya.

    Aisyah Radhiallahu Anha, meriwayatkan bahwa keluarga Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah merasa kenyang selama dua hari berturut-turut sampai beliau wafat . hal itu karena yang mereka makan hanya roti gandum.

    Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu Anhu meriwayatkan bahwa suatu hari Rasulullah tertidur beralaskan tikar kecil. Saat bangun , terlihat bekas tikar tersebut di pinggul beliau. Parah Sahabat pun pertanya ;’’ wahai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam , maukah engkau jika kami buatkan alas tidur untukmu? ,’’beliau menjawab’’ Apa urusanku dengan dunia? Aku tinggal di dunia tak ubahnya bak pengembara yang sedang mencari tempat berteduh di bawah sebatang pohon, kemudian dia pergi dan meninggalkan pohon itu.’’

    Aisyah Radhiallahu Anha , menceritakan bahwa pada suatu hari seorang Wanita Anshar menemuinya dirumahnya. Wanita itu kemudian melihat Kasur Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam keadaan terlipat memanjang . dan dia lantas pulang kerumahnya, tak lama kemudian, dia Kembali datang membawa sebuah Kasur yang terbuat dari bulu domba dan memberikannya kepada Aisyah.

    Beberapa saat dari situ, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam datang. Beliau bertanya,’’apa ini? Aisyah menjawab, ‘’ tadi ada seorang Wanita Anshar kemari. Dia melihat Kasur kita, Dia pun pulang, dan Kembali lagi membawa Kasur ini.’’

    Maka beliau bersabda;’’ kembalikan lah Kasur itu.’’

    Aisyah tidak mau mengembalikannya, karena dia merasa suka atau senang memiliki Kasur itu.

    Rasulullah terus memerintahkan Aisyah agar mengembalikan Kasur itu, perintah tersebut di ulangi hingga tiga kali, beliau lalu bersabda;

    Yang artinya’’ Wahai Aisyah, kembalikanlah Kasur itu , Demi Allah, kalau aku mau , niscaya Allah akan memberiku gunung dari emas dan perak.’’

    Bahkan manakala Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam masih hidup beliau senantiasa berdoa:

    Artinya’’Ya Allah, berikanlah rezeki bagi keluarga Muhammad cukup dengan sepotong roti’’

    Beliau juga sering berdoa, yakni pada kesempatan yang lainnya;

    Artinya’’ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, cabutlah nyawaku dalam keadaan miskin , serta kumpulkanlah aku kelak bersama orang -orang miskin di hari kiamat’’.

    Demikian pula, Ketika membaca Riwayat hidup para salaf seperti Sa’in bin Al-Musayyib, Sufyan ats-Tsauri, Ahmad bin Hanbal, Khalil bin Ahmad, dan para ulama’ besar yang lain, kita benar-benar akan takjub dengan sikap zuhud dan qana’ah mereka terhadap dunia .

    Makanan pokok mereka ialah sepotong roti kering, dengan segelas air dan kadang dicampur minyak samin. Terkadang mereka lapar selama berhari-hari dan tidak bisa mendapatkan makanan. Terkadang memperoleh sepotong roti yang terbuat dari gandum. Padahal, mereka ini selalu dikejar-kejar dunia, hadiah para penguasa terus menanti, hanya saja mereka selalu menolak dan menghindar darinya.

    Barangkali hal ini merupakan buah dari ilmu yang bermanfaat yang mempengaruhi kehidupan dan akhlak mereka. Karena itu, mereka akan selalu dan selamanya terus diingat serta disanjung. Kebaikan mereka untuk seluruh makhluk , ilmu mereka bermanfaat . keutamaan mereka begitu tersohor . pujian atas mereka datang dari semua orang.

    Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa ta’ala merahmati mereka dan mudah-mudahan dia mengumpulkan kita bersama mereka Aamiin.

    Kondisi Nabi Ketika Wafat

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah penghulu orang-orang yang zuhud . sifat inilah yang melekat pada diri beliau sebagai utusan Allah yang mulia, hingga wafat bertemu dengan-Nya

    Amru bin Harist, Saudara Juwairiyah binti Harist, istri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam , meriwayatkan bahwa Ketika wafat beliau tidak meninggalkan uang satu dinar pun, tidak juga seorang budak, baik budak laki-laki maupun Perempuan. Beliau hanya meninggalkan seekor kuda betina kecil berwarna putih yang biasa dikendarainya, senjata, dan sepetak tanah yang telah diwakafkan untuk ibnu sabil.’’(HR.Bukhori/4461)

    Hal tersebut tentunya tidak mengherankan, sebab Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri pernah bersabda;

    Yang artinya’’seandainya aku memiliki emas sebesar Gunung Uhud niscaya aku akan senang apabila hart aitu tidak tersisa sedikitpun sebelum berlalu tiga malam, kecuali sedikit saja yang aku simpan untuk membayar utang.’’ (muttafaq alaih)

    Di dalam hadist lain, Aisyah Radhiallahu Anha meriwayatkan bahwa Ketika Rasulullah wafat , baju besi beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam masih tergadai di tangan salah seorang yahudi , sebagai jaminan atas 30 sha gandum.’’ (muttafaq alaih)

    Aisyah Radhiallahu Anha berkata;’’Rasulullah wafat , sedangkan di rumahku tidak ada sedikit pun makanan, hanya ada sedikit gandum yang tersisa di rak dapurku. Aku lantas memakannya hingga kenyang. Setelah itu, aku ingin menakarnya, ternyata sudah habis.’’ (muttafaq alaih)

    Kisah Teladan Orang-Orang Zuhud

    Umar bin al-Khatab Radhiallahu Anhu

    Dia adalah salah satu sosok sahabat yang tawdhu (rendah hati ) di hadapan Allah Subhanahu wa ta’ala . kehidupannay keras dan makanannya kasar. Dia tegas dalam segala sesuatu yang berhubungan dengan hak Allah Subhanahu wa ta’ala bajunya compang-camping , banyak tambalan. Punya kedudukan terhormat, tetapi tetap memikul air sendiri. Dia biasanya mengendarai keledai tanpa tutup kepala. Dia sedikit tertawa dan jarang bergurau. Dia mengukir cincinnya dengan kata-kata ;’’ cukuplah kematian itu sebagai peringatan, wahai umar’’

    Ketika diangkat sebagai khalifah kaum muslimin Umar Radhiallahu Anhu berkata; ‘’tidak ada harta Allahyang halal bagiku kecuali dua baju; baju untuk musim dingin dan satu baju lagi untuk di musim panas. Makanan pokok keluargaku sama seperti makanan orang Quraisy yang tidak kaya. Aku sendiri bagian dari kaum muslim.

    Ibnu Jauzi menceritakan keutamaan umar Radhiallahu Anhu  dengan mengutip ucapan Abdul Aziz bin Abu Jamilah;’’ suatu Ketika, Umar bin Al-Khatab pernah terlambat datang ke masjid guna menunaikan shalat jum’at. Saat tiba , dia langsung naik mimbar dan menyampaikan permintaan maaf kepada para jamaah seraya berkata;’’baju inilah yang membuatku terlambat.’’konon, bajunya tersebut berwarna putih, banyak tambalannya, serta ukurannya kecil dan tidak melebihi pergelangan tangan.;; (Ath-Thabaqt III/215)

     Humaid bin Hilal meriwayatkan bahwa Hafsh bin Abu al-Ash dipersilakan menikmati makanannya. Umar lalu bertanya kepadanya;’’mengapa kamu tidak mau memakan hidangan kami?

    Hafsh menjawab ;’’Makananmu ini keras dan kasar , sedangkan aku lebih suka makanan halus yang memang khusus dibuat untukku. Hanya itu yang mau kumakan.’’

    Umar lantas berkata;’’ Apakah kamu mengira aku tidak bisa meminta tolong seseorang untuk menyembelih kambing dan mengulitinya, mengayak tepung dengan saringan lantas menjadikannya roti yang empuk, serta membeli satu sha kismis lantas mencampurinya dengan lemak, lalu menuangkan air ke adonan tersebut sehingga menjadi seperti jarring laba-laba?’’

    Hafsh pun menjawab;’’ Sungguh, kini aku mengerti bahwa pada dasarnya engkau tahu bagaimana membuat makanan enak.’’

    Umar berkata:’’ tentu saja! Demi Allah, andaikata aku tidak khawatir kebaikanku berkurang , niscaya aku telah mengikuti kalian membuat makanan yang empuk dan halus.’’

    Mungkin hanya ini yang bisa kami sampaikan dalam artikel kali ini dan in syaa Allah kita akan melanjutkan kisah Umar Radhiallahu Anhu dan juga kisah-kisah orang teladan dan semoga artikel singkat ini bermanfaat untuk kita semua Aamiin.

    REFERENSI:

    USTADZ ABU IHSAN AL-ATSARI DAN UMMU IHSAN AL-ATSARI/ CINTA DUNIA : CARA MERAIH DUNIA DAN AKHIRAT SEKALIGUS / DI RINGKAS DARI BUKU TERAPI PENYAKIT WAHN(CINTA DUNIA) /Anas Arlaya

    Baca juga artikel:

    Konsep Hidup Sukses Dunia Akhirat

    Nifaq dan Kufur Kecil

  • Konsep Hidup Sukses Dunia Akhirat

    Konsep Hidup Sukses Dunia Akhirat

    Konsep Hidup Sukses Dunia Akhirat – Beragam tipe manusia, berbagai kesibukan mereka dalam mengarungi kehidupan ini, bermacam-macam obsesi dan cita-cita yang mereka impikan. Ada yang menggantungkan obsesinya pada jabatan dan kedudukan, sehingga rela mengorbankan segalanya, harta dan semua yang dimilikinya untuk mengejar jabatan dan kedudukan yang dia impikan. Beda lagi dengan sebagian lainnya, mereka tidak peduli dengan jabatan, bagi mereka yang harus dicari adalah harta kekayaan yang melimpah. Ada lagi yang menjadikan puncak hidupnya dalam makanan dan kesenangan hidup. Dia rela mengorbankan hartanya hanya untuk itu. Bahkan, kami pernah mendengar satu kisah ajaib. Ada seseorang yang tinggal di Jakarta, lalu dia berangkat ke Surabaya dengan mengorbankan waktu, tenaga dan biaya. Ajaibnya, itu dia lakukan hanya untuk bisa makan di rumah makan tertentu yang bagi dia sangat enak. Tidak ada tujuan lain kecuali itu, lalu dia kembali ke Jakarta!

    Semua ragam hidup dan kehidupan manusia itu, apa yang sebenarnya mereka cari? Kalau kita jeli memandang, mereka hanya mencari satu yang sama, yaitu kesuksesan dalam hidup yang dia anggap bisa mengantarkannya pada kebahagiaan. Tapi, apakah kesuksesan hidup sejati bisa diraih hanya dengan itu semua? Yang pasti, belum tentu.

    Orang yang mencarinya lewat harta melimpah. Karenanya, dia berupaya mencari sumber-sumbernya dengan berpeluh. Setelah dia peroleh harta tersebut, terkadang masih sering hatinya gundah dan gelisah. Ada saja yang membuat hati itu gelisah, kadang-kadang muncul dari anak-anak, kadang-kadang dari istrinya, tidak jarang juga datang dari usaha itu sendiri.

    Sedangkan yang mencarinya lewat jabatan, Ketika dilihat mereka yang berkuasa dan bertakhta, secara lahir mereka begitu tampak bahagia hidupnya. Pergi dijemput pulang diantar, ketika dia berkehendak tinggal memesan, perintahnya tidak ada yang menghalangi!! Tetapi setelah diselidiki hingga menembus dinding istananya, akan terdengar keluh kesahnya, dalam harta yang banyak itu terdapat jiwa yang rapuh. Berarti, kebahagiaan dan kesuksesan sejati itu perlu konsep lain dalam menggapainya.

    Di sisi lain, sebagai seorang muslim kita semua menyadari, bahwa hidup kita sekarang ini di alam dunia, sebagaimana dia bukan yang pertama, dia juga bukan yang terakhir. Karena siapa pun, selain Nabi Adam dan Hawa pasti akan mengalami empat fase kehidupan, Pertama, saat masih berada di alam rahim, dan alam itu telah berlalu. Kedua, saat kita di alam dunia ini, inilah alam yang sekarang ini kita jalani. Ketiga, alam barzakh, alam transisi antara dunia dengan alam hakiki. Alam penantian sebelum nantinya menuju alam akhirat. Keempat, alam akhirat, yang merupakan inti kehidupan seorang hamba. (QS ar-Rum: 64).

    Maka sebagai seorang mukmin, saat mengonsep kesuksesan hidup, dia harus melihat dari dua sisi ini, kebahagiaan saat kita masih berada di alam dunia, juga kebahagiaan saat kita menuju alam akhirat nanti Sungguh, sangat salah kalau ada yang memandang kesuksesan itu hanya dari kaca mata dunia saja, padahal bagaimana mungkin bisa itu terjadi? Bukankah paling lama dia hidup hanya sekitar 70-90 tahun? Bahkan rata-rata umur umat Nabi Muhammad hanya berkisar 60-70 tahun Padahal alam akhirat kekal lagi abadi Bandingan hari dunia dengan akhirat adalah satu berbanding seribu (QS. al Hajj 47)

    Bahkan dari sini, seharusnya mencari kesuksesan akhirat lebih dikedepankan daripada kesuksesan dunia. Tapi karena kita sekarang kita hidup di dunia, maka tidak mungkin kita akan meninggalkan dunia. Allah sendiri berfirman:

    وَابْتَغِ فِيمَا اتَنكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةُ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

    Artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi”. (QS. al-Qashash: 77)

    Dan mengonsep kesuksesan dari kaca mata dunia, terlebih akhirat, inilah yang membedakan antara mukmin dengan orang kafir yang hanya mengetahui konsep kesuksesan dunia saja

    Konsep kesuksesan alam dunia

    Allah Maha adil, Dia tidak menjadikan tolok ukur kesuksesan alam dunia ini dari satu kaca mata Kesuksesan alam dunia, tidak murni dipandang dari kekayaan juga bukan dari jabatan semata Betapa banyak orang yang sengsara saat dia bergelimang harta, bahkan ada yang bunuh diri saat berada dalam puncak karir yang diimpikannya Bagaikan seekor tikus yang mati di lumbung padi Dan betapa banyak kita melihat rona kesuksesan dan kebahagiaan memancar dari wajah yang secara keduniaan biasa-biasa saja.

    Maka konsep kesuksesan di alam dunia ini sebenarnya sangat sederhana. Kalau boleh diringkas, adalah.

    Pertama, bersyukur dan qana’ah dengan pemberian Allah. Syukur dan qana’ah adalah modal hidup yang paling agung. Dengan nya seseorang akan sukses dalam menjalani kehidupan. Karena manusia adalah makhluk yang lemah, apa pun cita-cita dan harapannya pasti berada di bawah kekuasaan Allah. Di bawah bayangan takdir Allah. Saat Allah memberikan kepada kita limpahan rezeki-Nya, berapa pun dan bagaimanapun, maka syukurilah dan terimalah dengan lapang dada. Dengan demikian hidup kita akan tenteram dan bahagia, karena merasa telah berkecukupan dengan apa yang kita miliki. Karenanya, syukur ini yang menakjubkan dalam kehidupan seorang mukmin. Rasulullah bersabda, “Alangkah mengherankannya seorang mukmin, semua urusannya baik. Jika dia mendapatkan kebaikan maka dia bersyukur dan jika mendapatkan musibah dia bersabar, dan itu hanya terjadi pada seorang mukmin.” (HR. Muslim) Juga, dengan merasa cukup terhadap rezeki yang Allah berikan niscaya dia akan merasa kaya. Karenanya Rasulullah bersabda kepada Abu Hurairah “Dan ridhalah dengan yang Allah berikan kepadamu, niscaya engkau menjadi orang yang paling kaya” (HR. Ahmad dan at Tirmidzi, ash Shahihah: 930)

    Kedua, dalam urusan dunia pandanglah kepada yang lebih rendah. Sunnatullah dalam hidup menjadikan manusia bertingkat tingkat dalam berbagai masalah Dalam masalah kekayaan, jabatan, kepandaian, status sosial dan lainnya Karena dengan itulah kehidupan bisa berjalan, untuk saling membutuhkan antara satu dan lainnya Bayangkan, kalau manusia itu satu derajat, alangkah susahnya hidup Maka jika kita ingin merasa sukses dan bahagia dalam urusan dunia, lihatlah kepada yang lebih rendah dari kita Rasulullah sendiri pernah mengi- syaratkan. Lihatlah kepada yang lebih rendah dari kalian dan janganlah melihat kepada yang lebih tinggi, karena itu lebih bisa menjadikan kalian tidak meremehkan nikmat Allah pada kalian (HR Muslim).

    Benarlah Rasulullah, dengan cara itulah kita tidak akan meremeh kan nikmat Allah kepada kita. Karena bila cara pandang kita berbalik, dengan senantiasa memandang ke atas, yang ada hanyalah kegundahan hati, untuk mengejar dan mengejar, padahal jatah dunia seseorang sudah Allah tetapkan.

    Ketiga, jadikan obsesi puncak hidup adalah kesuksesan alam abadi. Jadikan puncak obsesi seorang muslim dalam hidup ini untuk menggapai kehidupan sukses di akhirat nanti Karena kehidupan dunia ini sama sekali tidak ada nilainya bila dibandingkan dengan alam akhirat. Bagaimana bisa dibandingkan, padahal kenikmatan terendah di surga adalah sebagaimana yang Rasulullah ceritakan dalam hadits ini, “Aku benar-benar mengetahui seorang penduduk neraka yang paling akhir keluar darinya dan seorang penduduk surga yang paling akhir masuk ke dalam surga Yaitu seorang laki-laki yang keluar dari neraka dengan keadaan merangkak, lalu Allah berkata kepadanya. ‘Pergilah, masuklah ke dalam surga! Nabi bersabda,

    “Lalu dia mendatangi surga, namun dikhayalkan kepadanya bahwa surga telah penuh. Maka, dia kembali lalu berkata, ‘Wa hai Rabbku, aku mendapati surga telah penuh Allah berkata kepadanya, Pergilah, masuklah ke dalam surga Nabi bersabda. “Lalu dia mendatangi surga, namun dikhayalkan kepadanya bahwa surga telah penuh Maka dia kembali lalu berkata, ‘Wahai Rabbku, aku mendapati surga telah penuh Allah berkata lagi kepadanya, Pergilah, masuklah ke dalam surga! Sesungguhnya engkau memiliki semisal dunia dan sepuluh kalinya, atau engkau memiliki sepuluh kali dunia” Nabi melanjutkan, “Laki-laki itu berkata. Apakah Engkau memperolok-olokku (atau Engkau menertawakan aku), padahal Engkau adalah Raja? Abdullah bin Mas’ud (rawı hadits) berkata, “Aku melihat Rasulullah tertawa sampai nampak gigi gerahamnya. Dan dikatakan, bahwa orang itu adalah penduduk surga yang paling rendah derajatnya” (HR. Muslim 308/186).

    Sedangkan jika gagal di akhirat, maka adzab neraka yang paling rendah adalah sebagaimana yang Rasu- lullah sabdakan. Sesungguhnya penduduk neraka yang paling ringan siksaannya adalah orang yang memiliki dua terompah dari neraka. Dua terompah ini dipanaskan, begitu dimasuk kan kedua kakinya, maka akan mendidih otak kepalanya seakan-akan dibuat mendidihnya mirjan. Dia menyangka bahwa tidak ada lagi orang yang lebih berat siksaannya daripada dirinya, padahal inilah siksaan yang paling ringan (HR al-Bukhari, Muslim).

    Konsep kesuksesan alam akhirat

    Sukses yang sebenarnya adalah saat orang masuk ke dalam surga dan jauh dari api neraka. (QS. Ali Imran 185) Berbagai kenikmatan telah Allah persiapkan di sana. Dalam hadis qudsi. Allah juga berfirman:

    أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنَ رَأَتْ ، وَلَا أُذُنَ سَمِعَتْ ، وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ ، فَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةٍ أَعْيُنٍ

    Artinya: “Aku telah persiapkan untuk para hamba-Ku yang shalih kenikmatan yang tak pernah dilihat mata, tak pernah terdengar oleh telinga, dan tak pernah terbetik di hati manusia.” Kemudian Rasulullah berkata, “Kalau mau, silakan kalian baca firman Allah, Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka (QS. as-Sajdah 17)” (HR. al-Bukhari: 3244)

    Sungguh sangat fatal bila seorang mukmin tidak menjadikan puncak harapan kesuksesan hidupnya demi meraih surga, dan masih berkutat dengan ke suksesan dunia belaka. Renungkanlah hadits berikut ini yang menggambarkan bandingan nikmat dunia dengan akhirat Rasulullah bersabda, “Saat penciptaan langit dan bumi, Allah ciptakan seratus rahmat, setiap rahmat itu memenuhi antara langit dan bumi Allah menjadikan satu di antaranya di bumi, dengannya ibu mengasihi anaknya, juga binatang buas dan burung-burung Dan Allah menunda yang sembilan puluh sembilan, dan nantinya akan disempurnakan pada hari kiamat.” [Dalam sebagian riwayat lainnya, “Allah akan menyempurnakan yang sembilan puluh sembilan untuk para wali-Nya pada hari kiamat”] (HR. Ahmad, ash-Shahihah: 1634)

    Lalu bagaimana kita bisa meraih kesuksesan akhirat kelak? Tentu jawabannya adalah menjadi hamba yang taat dan tidak maksiat. Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam bersabda:

    كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ، إِلَّا مَنْ أَبَى. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْتِي قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبِي

    Artinya: “Seluruh umatku akan masuk surga, kecuali yang enggan” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa gerangan yang enggan?” Beliau menjawab, “Barangsiapa yang menaatiku maka dia pasti masuk surga, sedangkan barangsiapa yang mendurhakaiku maka sungguh dia telah enggan (masuk surga).” (HR. al-Bukhari).

    Dan untuk menggapai asa tertinggi itu, cukup dengan konsep yang lebih sederhana; ilmu dan amal.

    Pertama, ilmuilah mana yang merupakan perintah Allah dan Rasul-Nya untuk dikerjakan, mana yang merupakan larangan untuk ditinggalkan. Karena terkadang banyak orang yang saat meninggalkan kewajiban bukan karena ingin maksiat, namun dia tidak mengetahui kalau itu sebuah kewajiban. Juga betapa banyak orang yang saat menerjang larangan dia tidak mengetahui bahwa itu larangan. Benarlah ucapan Imam al-Bukhari, “Ilmu sebelum berucap dan berbuat.”

    Kedua, amal. Setelah mengetahui perintah dan larangan maka berusahalah untuk menaatinya. Mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan. Dan ini berlaku dalam seluruh sisi kehidupan, baik dalam akidah, ibadah, muamalah, hukum, akhlak, dan lainnya. Ini semua adalah konsekuensi peribadatan kita yang mutlak kepada Allah 4. Firman Allah 56:

    وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِينًا

    Artinya: “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi wanita yang mukminah, apa- bila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa yang men- durhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah tersesat secara nyata”. (QS. al-Ahzab: 36)

    Juga firman-Nya:

    وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُوْلَبِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّنَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَبِكَ رَفِيقًا

    Artinya: “Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi, Shiddiqin, orang-orang yang syahid dan orang- orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik- baiknya”. (QS, an-Nisa’: 69)

    Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang yang bisa meraih kesuksesan sejati, sukses dunia dan akhirat. Amin.

    REFERENSI:

    Judul: Konsep Hidup Sukses Dunia Akhirat

    Sumber: Majalah al-Mawaddah

    Pengarang: ustadz Ahmad Sabiq bin Lathif, Lc.

    Tanggal: Rabiul Akhir 1437 H

    Nama peringkas: Sumira (pengabdian alumni ponpes Darul-Qur’an wal-Hadits OKU Timur)

    BACA JUGA :

  • Kaya dan Sukses Dunia Akhirat, Mungkinkah?

    Kaya dan Sukses Dunia Akhirat, Mungkinkah?

    Kaya dan Sukses Dunia Akhirat, Mungkinkah? – Kekayaan dan besarnya penghasilan sering diidentikkan dengan gaya hidup mewah, glamour, cinta dunia yang berlebihan dan ambisi yang tidak pernah puas untuk terus mengejar harta. Karena itu, ada kesan orang-orang yang berduit sangat disibukkan dengan kekayaan mereka yang menyebabkan mereka lalai dari mengingat Allah dan mempersiapkan diri untuk menghadapi hari kemudian.

    Kekayaan ini tentu saja merupakan ancaman fitnah besar bagi seorang hamba yang tidak memiliki benteng iman yang kokoh untuk menghadapi dan menangkal fitnah harta tersebut. Bahkan Rasulullah secara khusus memperingatkan umat dari besarnya bahaya fitnah harta dan kedudukan duniawi dalam merusak agama dan keimanan seseorang dalam sabdanya :

    مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلاَ فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ

    “Tidaklah dua ekor srigala kelaparan yang dilepaskan kepada sekawanan kambing, lebih besar kerusakan (bahaya)nya terhadap sekawanan kambing tersebut, dibandingkan dengan (sifat) rakus seorang manusia terhadap harta dan kedudukan (dalam merusak/membahayakan) agamanya.”[1]

    Timbulnya kerusakan ini dikarenakan kerakusan terhadap harta dan kedudukan akan mendorong orang untuk mengejar dunia dan menjerumuskannya kepada hal-hal yang merusak agamanya. Sebab, umumnya sifat inilah yang membangkitkan dalam diri seseorang sifat sombong dan keinginan berbuat kerusakan di muka bumi, yang sangat tercela dalam agama. Allah berfirman:

    تِلْكَ الدَّارُ الآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الأرْضِ وَلا فَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

    “Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan (maksiat) di (muka) bumi, dan kesudahan (yang baik) itu (surga) adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Qashash/28: 83)

    Kenyataan inilah yang seharusnya menjadikan seorang muslim untuk selalu waspada dan intropeksi diri. Serta tidak terlalu percaya diri dengan merasa imannya kuat dan aman dari kemungkinan terjerumus ke dalam fitnah tersebut. Utamanya orang-orang yang diberikan kekayaan dan rejeki yang berlimpah, cukuplah sikap percaya diri yang berlebihan seperti ini menjadi bukti rapuhnya keimanan dalam hati dan pertanda jauhnya taufik dari Allah kepada hamba tersebut.

    Tidakkah orang yang beriman khawatir dirinya akan ditimpa kerusakan dalam agama dan imannya, sebagai akibat dari fitnah harta, padahal hamba Allah yang paling sempurna imannya. Rasulullah mengkhawatirkan hal ini menimpa umatnya sebagimana tertuang dalam do’a beliau:

    وَلَا تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا في دِيْنِنا ، ولا تَجْعَلِ الدُّنْيا أَكْبَرَ هَمِّنَا

    “(Ya Allah) janganlah Engkau jadikan malapetaka (kerusakan) yang menimpa kami dalam agama kami, dan janganlah Engkau jadikan dunia (harta dan kedudukan) sebagai target utama kami.”[2]

    1. Fitnah Harta dan Dunia

    Rasulullah bersabda:

    إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةَ أُمَّتِي الْمَالُ

    “Sesungguhnya pada setiap umat (kaum) ada fitnah (yang merusak/menyesatkan mereka) dan fitnah (pada) umatku adalah harta.”[3]

    Maksudnya menyibukkan diri dengan harta secara berlebihan adalah fitnah (ujian yang merusak agama seseorang) karena harta dapat melalaikan pikiran manusia dari melaksanakan ketaatan kepada Allah dan membuatnya lupa kepada akhirat, sebagaimana firman-Nya:

    إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

    “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu merupakan fitnah (ujian bagimu), dan di sisi Allah lah pahala yang besar.” (QS. At-Taghâbun/64: 15)

    Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda:

    “Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang aku takutkan (akan merusak agama) kalian, akan tetapi yang aku takutkan bagi kalian adalah jika (perhiasan) dunia dibentangkan (dijadikan berlimpah) bagi kalian sebagaimana (perhiasan) dunia dibentangkan bagi umat (terdahulu) sebelum kalian, maka kalian pun berambisi dan berlomba-lomba mengejar dunia sebagaimana merek berambisi dan berlomba-lomba mengejarnya, sehingga (akibatnya) dunia itu membinasakan kalian sebagaimana dunia membinasakan mereka.”[4]

    Dalam hadits ini terdapat nasehat berharga bagi orang yang dibukakan baginya pintu-pintu harta (orang-orang kaya) supaya mereka bersikap waspada dari keburukan fitnah dan kerusakan harta, dengan tidak berlebihan dalam mencintainya dan terlalu berambisi dalam berlomba-lomba mengejarnya.[5]

    Kerusakan lain yang ditimbulkan dari kecintaan yang berlebihan terhadap harta adalah kerakusan dan ambisi untuk mengejar dunia, karena secara tabiat nafsu manusia tidak akan pernah merasa puas atau cukup dengan harta dan kemewahan dunia yang dimilikinya, bagaimanapun berlimpahnya,[6] kecuali orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah.

    • Memanfaatkan Harta Untuk Meraih Takwa Kepada Allah

    Perlu dicamkan di sini, bahwa ayat-ayat al-Qur’ân dan hadits-hadits Rasulullah yang berisi celaan terhadap harta dan dunia, bukanlah berarti celaan terhadap zat harta dan dunia itu sendiri. Akan tetapi, maksudnya adalah celaan terhadap kecintaan yang berlebihan terhadapnya sehingga melalaikan manusia dari mengingat Allah, dan tidak menunaikan hak Allah padanya, sebagaimana firman-Nya:

    وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

    “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menginfakkannya di jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.” (QS. At-Taubah/9: 34)

    Bahkan banyak ayat Al-Qur’ân dan hadits Rasulullah yang berisi pujian terhadap orang yang memiliki harta dan menggunakannya untuk mencapai ridha Allah, di antaranya:

    رِجَالٌ لا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالأبْصَارُ

    “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut pada hari (pembalasan) yang (pada saat itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” (QS. An-Nûr/24: 37)

    Sabda Rasulullah :

    “Tidak ada hasad/iri (yang terpuji) kecuali kepada dua orang: (yang pertama) orang yang Allah anugerahkan kepadanya harta lalu dia menginfakkan hartanya di (jalan) yang benar (di jalan Allah), (yang kedua) orang yang Allah anugerahkan kepadanya ilmu lalu dia mengamalkannya dan mengajarkannya (kepada orang lain).”[7]

    Dari Anas bin Mâlik dia berkata,

    “Ibuku (Ummu Sulaim) pernah berkata “(Wahai Rasulullah), berdoalah kepada Allah untuk (kebaikan) pelayan kecilmu ini (Anas bin Mâlik)”. Anas berkata, “Maka Rasulullah pun berdoa (meminta kepada Allah) segala kebaikan untukku. Dan doa kebaikan untukku yang terakhir beliau ucapkan: “Ya Allah, perbanyaklah harta dan keturunannya, serta berkahilah harta dan keturunan yang Engkau berikan kepadanya”. Anas berkata, “Demi Allah, sungguh aku memiliki harta yang sangat banyak, dan sungguh anak dan cucuku saat ini (berjumlah) lebih dari seratus orang.”[8]

    Hadits ini menunjukkan keutamaan memiliki banyak harta dan keturunan yang diberkahi Allah dan tidak melalaikan manusia dari ketaatan kepada-Nya.[9]

    • Antara Kaya dan Miskin

    Muncul pertanyaan, siapakah yang lebih utama si sisi Allah, orang kaya yang bersyukur dengan kekayaannya atau orang miskin yang bersabar dengan kemiskinannya?

    Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini, ada yang lebih mengutamakan orang kaya yang bersyukur dan ada yang lebih mengutamakan orang miskin yang bersabar. Kedua pendapat ini juga dinukil dari ucapan Imam Ahmad bin Hambal.[10]

    Kedua pendapat ini masing-masing memiliki dasar argumentasi dari Al-Qur-ân dan hadits Nabi yang sama kuatnya, sehingga para ulama ahli tahqiq (yang terkenal dengan ketelitian dalam berpendapat) tidak menguatkan salah satu di antara dua pendapat tersebut, tapi mereka memilih pendapat yang menggabungkan keduanya, yaitu: yang lebih utama di antara keduanya adalah yang paling besar ketakwaannya kepada Allah, berdasarkan keumuman makna firman-Nya:

    يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

    “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” (QS. Al-Hujurat/49: 13)

    Maka orang kaya yang lebih besar rasa syukurnya lebih utama dibanding orang miskin yang lebih sedikit kesabarannya dan sebaliknya.

    Adapun para sahabat dan Tabi’in, tidak ada satu pun nukilan dari mereka (tentang) keutamaan salah satu dari dua golongan tersebut di atas yang lain. Sejumlah ulama lain berkata: “Masing-masing dari keduanya tidak ada yang lebih utama dibandingkan yang lain kecuali dengan ketakwaan. Maka yang paling kuat iman dan takwanya itulah yang paling utama, kalau iman dan takwa keduanya sama, maka keutamaan keduanya pun sama.”

    Inilah pendapat yang paling benar, karena dalil-dalil dari Al-Qur-ân dan hadits Nabi menunjukkan (bahwa) keutamaan (manusia di sisi Allah dicapai) dengan keimanan dan ketakwaan. Allah berfirman:

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالأقْرَبِينَ إِنْ يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَى بِهِمَا فَلا تَتَّبِعُوا الْهَوَى أَنْ تَعْدِلُوا وَإِنْ تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

    “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika dia (yang terdakwa) kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatan (kebaikannya). Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka ketahuilah Allah Maha Mengetahui terhadap segala apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nisa’/4:135)

    Di antara para Nabi dan sahabat yang terdahulu dan pertama (masuk islam) ada orang-orang kaya yang keutamaannya (di sisi Allah) lebih besar dibandingkan kebanyakan orang-orang miskin (setelah mereka), sebagaimana di antara mereka ada orang-orang miskin yang keutamaannya (di sisi Allah) lebih besar dibandingkan kebanyakan orang-orang kaya (setelah mereka).

    Orang-orang yang sempurna (keimanan dan ketakwaannya) mampu menegakkan dua sifat agung tersebut (syukur dan sabar) secara sempurna (dalam semua kondisi), seperti gambaran yang ada pada diri Nabi Muhammad, dan pada diri (dua sahabat) Abu Bakar dan Umar.

    Akan tetapi, terkadang seseorang lebih baik baginya (dalam keimanan) jika diberi kemiskinan, sementara orang lain lebih baik baginya jika mendapatkan kekayaan, sebagaimana kesehatan lebih baik bagu sebagian manusia dan penyakit lebih baik bagi yang lain…”[11]

    • Teladan Sempurna Dari Ulama Salaf

    Generasi salaf adalah sebaik-baik teladan dalam semua kebaikan dan keutamaan dalam agama ini, tidak terkecuali dalam memanfaatkan harta dan kekayaan untuk meraih ridha Allah. Berikut ini contoh sosok yang terkenal dengan sifat ini adalah sahabat yang mulia Utsmân bin ‘Affân bin Abil ‘Ash al-Umawi, salah seorang dari Khulafâur Râsyidiin dan sepuluh orang sahabat yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah. Sahabat ini sangat terkenal dengan kekayaan dan kedermawanannya.

    Beliaulah yang membeli sumur Rûmah dari pemiliknya seorang Yahudi, untuk air minum bagi kaum muslimin, dan Rasulullah menjanjikan bagi beliau balasan air minum si surga kelak. Ketika Rasulullah ingin memperluas Masjid Nabawi, ‘Utsmân menyumbangkan hartanya untuk membeli tanah perluasan masjid tersebut. Beliau juga yang membiayai persiapan jihad pasukan ‘Usrah dalam perang Tabuk, dengan menyumbangkan 950 ekor unta dan 50 ekor kuda. Setelah itu, Rasulullah bersabda berkali-kali: “Tidak akan merugikan ‘Utsman apa (pun) yang dilakukannya setelah hari ini”.[12]

    • Jadilah Orang Kaya yang Zuhud

    Menjadi orang yang zuhud bukanlah dengan harus menjadi miskin dan menyia-nyiakan harta yang ada, juga bukan dengan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah. Akan tetapi, bersikap zuhud adalah dengan menggunakan harta dan kekayaan yang dimiliki sesuai dengan petunjuk Allah, tanpa adanya keterikatan hati dan kecintaan yang berlebihan kepada harta dan kekayaan tersebut. Atau dengan kata lain, bersikap zuhud adalah dengan tidak menggantungkan angan-angan yang panjang pada harta dan kekayaan yang dimiliki, dengan bersegera menggunakannya untuk hal-hal yang diridhai oleh Allah.

    Inilah arti zuhud yang sesungguhnya sebagaimana ucapan Imam Ahmad bin Hambal ketika beliau ditanya, “Apakah makna zuhud di dunia (yang sebenarnya)?” Beliau berkata, “(Maknanya adalah) tidak panjang angan-angan, (yaitu) seorang yang ketika dia (berada) di waktu pagi dia berkata, “Aku (khawatir) tidak akan (bisa mencapai) wakru sore lagi.”[13]

    Sumber: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA. 2011. Kaya & Sukses Dunia Akhirat, Mungkinkah?. Majalah As-Sunnah.


    [1] HR. at-Tirmidzi no. 2376, Ahmad 3/456, ad-Darimi no. 2730 dan Ibnu Hibban no. 3228, dinyatakan shahih oleh Imam Ibnu Hibban dan Syaikh al-Albani.

    [2] HR. at-Tirmidzi no. 3502, dinyatakan Hasan oleh Iamam at-Tirmidzi dan Syaikh al-Albani.

    [3] HR. at-Tirmidzi no. 2336.

    [4] HR. al-Bukhari no. 2988 dan Muslim no. 2961.

    [5] Nasehat Imam Ibnu Baththal yang dinukil dalam kitab Fathul Bari 11/245.

    [6] Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam Ighatsatul Lahfan hlm. 84 – Mawaridul Aman.

    [7] HR. al-Bukhari no. 73 dan Muslim n0. 816.

    [8] HR. al-Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 2481.

    [9] Tafsir al-Qurthubi 11/80

    [10] Al-Adabusy Syar’iyyah 3/468 dan ‘Uddatush Shabirin hlm. 146.

    [11] Dinukil Imam Ibnul Qayyim dalam ‘Uddatush Shabirin hlm. 149-150.

    [12] HR. at-Tirmidzi no. 3701 dan al-Hakim, dinyatakan shahih oleh al-Hakim, disepakati oleh adz-Dzahabi, dan diyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani.

    [13] Dinukil oleh Ibnu Rajab dalam Jami’ul ‘Ulumi wal Hikam 2/384.

    BACA JUGA :

  • Menjual Dunia Demi Kepentingan Akhirat

    Menjual Dunia Demi Kepentingan Akhirat

    Menjual Dunia Demi Kepentingan Akhirat – Manusia yang bijak akan menggunakan ketajaman akal untuk pikirannya untuk merenungi kekalnya kehidupan Surga.

     Surga yang jernih tanpa keruh, penuh kenikmatan tiada henti, semua tuntutan nafsu terpenuhi . ia berupa kenikmatan yang sebelumnya tidak pernah terlihat mata, terdengar telinga, atau terlintas di hati manusia.

    Kenikmatan Surga yang tak pernah berkurang ataupun berakhir, karena kehidupan di akhirat tak bisa dihitung dengan angka jutaan bahkan ratusan juta tahun. Kalau manusia berusaha memprediksi berapa lama kehidupan akhirat , niscaya perhitungan itu tidak akan berujung, namun kehidupan manusialah yang lebih awal berakhir. Sungguh, kekekalan akhirat tidak ada habisnya.

    Usia manusia amat terbatas, tidak lebih dari 100 tahun. Kalaupun sampai serratus tahun  maka sebelum usia 15 tahun dia masih belia dan tidak tahu apa-apa

    Lalu pada tiga puluh tahun terakhir dari usianya, dia pun melemah serta jadi renta, umummnya separuh usia manusia digunakan untuk tidak tidur , sedang sebagiannya yang lain di gunakan untuk makan, minum, dan bekerja. Adapun masa yang digunakan untuk ibadah hanyalah tersisa sedikit.

    Menyadari fenomena tersebut tidakkah hati kita terketuk untuk membeli akhirat yang kekal ?

    Tidakkah hati kita terketuk untuk dapat membeli akhirat dengan sedikit usia yang kita miliki ?

    Kalau kita enggan, ketahuilah bahwa yang demikian  itu adalah kebodohan serta penyakit yang menyusup ke dalam keimanan !

    Ibnul Qayyim mengatakan bahwa kecintaan pada akhirat tidak akan sempurna jika tidak dibuktikan dengan zuhud terhadap dunia. Adapun zuhud di dunia tidak mungkin  berjalan mulus selain telah merenungi dua hal penting berikut.

    Pertama, merenungi dunia yang amat cepat sirna dan begitu hinanya . harus bersaing dan serakah untuk memperolehnya dan harus menanggung kesedihan dan kesulitan untuk meraihnya, tetapi semua itu justru akan berakhir dengan kehancuran dan kesirnaan . setelah itu, sisa yang tertinggal di dalam jiwa hanyalah penyesalan dan kesedihan.

    Kedua, merenungi akhirat yang amatlah sejahtera, pasti kedatangannya, kekal, sangat agung Kebaikan dan kebahagiaan yang ada disana . di samping merenungi perbedaan kehormatan antara dunia dan akhirat, yang tentu jauh berbeda. Allah Subhanahu wata’ala berfirman :

    وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ وَّاَبْقٰى

    Artinya: ‘’Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.’’ (QS. Al-A’la 87: 17)

    Jika telah merenungi dua hal ini secara sempurna, niscaya setiap orang akan mendahulukan sesuatu yang menurut akal harus lebih di utamakan. Di samping itu, dia akan bersikap zuhud terhadap hal-hal yang memang harus dihindari.

    Zuhud Terhadap Dunia: Bukti Cinta Akhirat

    Zuhud yaitu terbebasnya hati dari belenggu dunia dan ia sebagai wujud Upaya keras untuk meraih derajat – derajat akhirat.

    Seorang yang zuhud selalu berhias dengan sifat qona’ah ( merasa cukup dengan rezeki Allah) dan berupaya agar terus meraih keutamaan-keutamaan ukhrawi atau yang berorientasi akhirat.

    Nabi menjelaskan bahwa zuhud terhadap dunia adalah salah satu factor yang penting untuk meraih cinta Allah

    Sahl bin Sa’ad as Sa’di Radhiallahu Anhu  menukilkan suatu Ketika ada seorang laki-laki mendatangi Rasulullah dan berkata :’’ Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang jika aku mengamalkannya, maka aku akan dicintai oleh Allah dan semua manusia.’’Beliau menjawab:

    ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ، وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ

    Artinya: ‘’Zuhudlah kamu terhadap dunia, pasti Allah akan cinta kepadamu, serta zuhud lah kamu terhadap apa yang ada di tangan manusia, maka pasti mereka akan mencintaimu.’’ (HR. Ibnu Majah (4102), dan di shahihkan oleh al-albani dalam silsilah Ahadist ash-shahihah (944) dari Sahl bin Sa’ad as-Sa’di

    Seorang laki-laki datang menemui Nabi lalu meminta kepada beliau:’’ Berilah aku nasihat, dan jangan bertele-tele.’’ Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  pun menasihatinya:

    إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ، وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ، وَأَجْمِعِ الْيَأْسَ عَمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ

    Artinya: ‘’kalau engkau mengerjakan shalat, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh seolah itu adalah shalat terakhirmu. Janganlah engkau berbicara yang nantinya engkau akan meminta maaf karenanya. Singkirkanlah keinginanmu terhadap apa yang ada di tangan orang lain. (HR. Ibnu Majah, dan lihat juga di shahih sunan Ibnu Majah (II/405). Dan diriwayatkan juga oleh Ahmad (V/412))

    Yakni, bersikap zuhud lah serta menyingkirkan sikap tamak terhadap dunia. Sungguh , tiga wasiat itu sangat berharga. Jika bisa melaksanakannnya, niscaya dia akan menjadi hamba yang berbahagia dan beruntung. Di samping itu, sifat zuhud terhadap dunia ialah factor terbesar yang dapat mendorong Kebaikan kepada umat islam. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

    صلاح أول هذه الأمة بالزهد واليقين ويهلك آخرها بالبخل والأمل

    Artinya: ‘’kebaikan generasi pertama umat ini (ialah buah ) dari sikap zuhud dan keyakinan. Sedang kehancuran generasi akhir umat ini ialah akibat dari kebakhilan dan (banyak) angan-angan. (HR. Ahmad di hasankan oleh al-Albani dalam shahih al-jami’ (3845) dari Abdullah bin Amru.

    Mukmin sejatih akan selalu berhias diri dengan sifat zuhud, sebab dia akan menyadari bahwa kehidupan dunia ini ibarat medan perjuangan. Ia bukan tempat pelampiasan segala keinginan. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda :

    الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ، وَجَنَّةُ الْكَافِرِ

    Artinya: ‘’Dunia merupakan penjara bagi orang mukmin, serta Surga bagi orang kafir’’ ( HR. Muslim 7606)

    Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma meriwayatkan bahwa dia pernah mendapatkan pesan berharga dari Rasulullah , beliau menuturkan bahwa pada suatu hari beliau memegang Pundaknya seraya berkata :

    كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

    Artinya: ‘’Jadilah kamu di dunia ini seperti orang asing ataupun orang yang sedang bepergian .’’ (HR. Al-Bukhori (6416))

    Dari Ibnu Umar Radhiallahu Anhuma lalu berpesan:

    إِذَا أَمْسَيْتَ فَلا تَنْتَظِرِ الصَّباحَ، وإِذَا أَصْبَحْتَ فَلا تَنْتَظِرِ المَساءَ، وخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لمَرَضِكَ، ومِنْ حياتِك لِمَوتِكَ

    Artinya: ‘’Jika engkau berada pada waktu sore, janganlah engkau menunggu waktu pagi hari (untuk berbuat amal ). Begitu pula jika engkau berada pada waktu pagi, janganlah engkau menunggu sore hari (untuk berbuat amal ) . Jadikanlah masa sehatmu untuk persiapan menghadapi masa sakit, dan jadikanlah masa (waktu) hidupmu untuk persiapan menyambut kematian. (HR. Al-Bukhori (6416))

    Nikmatnya Qona’ah

    Demikian Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  menjelaskan hakikat dunia yang fan aini. Maka tidak selayaknya para hamba bersikap rakus terhadap dunia serta tenggelam dalam kenikmatan yang bersifat sementara itu.

    Dalam Al-Qur’an Allah Subhanahu wa ta’ala memberi ancaman yang dahsyat bagi orang-orang yang terlena terhadap kehidupan dunia, lalai akan tanda-tanda kekuasaan-Nya. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman :

    اِنَّ الَّذِيْنَ لَا يَرْجُوْنَ لِقَاۤءَنَا وَرَضُوْا بِالْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَاطْمَـئنُّوْا بِهَا وَالَّذِيْنَ هُمْ عَنْ اٰيٰتِنَا غٰفِلُوْنَ اُولٰۤىئكَ مَأْوٰىهُمُ النَّارُ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

    Artinya; ‘’sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan ) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tentram dengan kehidupan itu, dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya di Neraka, karena apa yang telah mereka lakukan.’’ (QS. Yunus 10/7-8)

    Allah Subhanahu wa ta’ala Juga berfirman:

    اَفَرَءَيْتَ اِنْ مَّتَّعْنٰهُمْ سِنِيْنَ ثُمَّ جَاۤءَهُمْ مَّا كَانُوْا يُوْعَدُوْنَ مَا اَغْنٰى عَنْهُمْ مَّا كَانُوْا يُمَتَّعُوْنَ

    Artinya: ‘’maka bagaimana pendapatmu jika kepada mereka Kami berikan kenikmatan hidup beberapa tahun, kemudian datang kepada mereka azab yang diancamkan kepada mereka, (maka) niscaya tiak berguna bagi mereka kenikmatan yang mereka rasakan ‘’ (QS. Asy-Syu’ara’ 26/205-207)

    Sesungguhnya hamba yang beruntung itu hamba yang mampu berhias dengan sifat qona’ah. Itulah ajaran Islam yang mulia.

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  bersabda:

    قَالَ قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

    Artinya; ‘’beruntunglah orang yang masuk Islam dan memiliki rezeki yang cuku, lantas Allah menjadikannya qana’ah dengan apa yang Dia karuniakan kepadanya.’’ (HR.Muslim 2473)’

    Dalam hadist yang lain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda :

    من أصبح منكم آمناً في سربه، معافى في جسده، عنده قوت يومه، فكأنما حيزت له الدنيا بحذافيرها

    Artinya: ‘’barangsiapa yang di antara kamu yang merasa aman darinya, merasa sehat tubuhnya, dan cukup persediaan makanan pokoknya untuk hari itu, seakan-akan dia telah di berikan semua kenikmatan dunia. (HR. At-Tirmidzi dan di hasankan oleh al-Albani di dalam silsilah ash-shahihah 2318)

    Guna memupuk rasa qana’ah dalam hari kita, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan supaya kita selalu melihat kepada mereka yang berada di bawah kita, yakni dalam keadaannya, sehingga kita pun selalu merasa beruntung. Janganlah mendongak, melihat kepada mereka yang keadaannya di atas kita sehingga kita selalu merasa sial. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam bersabda :

    انظروا إلى من أسفل منكم ولا تنظروا إلى من هو فوقكم فهو أجدر ألا تزدروا نعمة الله قال أبو معاوية عليكم

    Artinya: ‘’lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian. Sebab hal itu lebih pantas dilakukan supaya kalian tidak mengingkari nikmat Allah, Abu Mu’awiyah menambahkan diri kalian. (HR. Muslim 7619)

    Apabila seorang hamba dikaruniai sifat qana’ah di dalam hatinya, pasti dia akan senantiasa berkecukupan. Sebab, qona’ah ibarat pebendaharaan yang tidak akan kunjung habis. Apabila seorang hamba menyibukkan dirinya untuk menyambut akhirat. Pasti Allah Subhanahu wa ta’ala akan menjadikan kekayaan itu ada dalam hatinya dan dunia akan menghampirinya dengan kondisi yang melimpah . sementara orang yang rakus mengejar dunia dan lalai terhadap akhiratnya niscaya akan merugi baik di dunia maupun di akhirat. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

    من كانتِ الآخرةُ هَمَّهُ جعلَ اللَّهُ غناهُ في قلبِهِ وجمعَ لَه شملَهُ وأتتهُ الدُّنيا وَهيَ راغمةٌ ، ومن كانتِ الدُّنيا همَّهُ جعلَ اللَّهُ فقرَهُ بينَ عينيهِ وفرَّقَ عليهِ شملَهُ ، ولم يأتِهِ منَ الدُّنيا إلَّا ما قُدِّرَ لَهُ

    Artinya: ‘’Barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuannya, maka Allah akan menjadikan kekayaan dalam hatinya, Allah akan mengumpulkan kekuatan, dan dunia ini akan mendatanginya dalam keadaan tunduk lagi hina. Dan barangsiapa menjadikan dunia sebagai tujuannya, niscaya Allah akan menjadikan kemiskinan terpampang di hadapan matanya, Allah pun akan menceraiberaikan kekuatannya, dan dia tidak akan memperoleh dunia ini kecuali apa-apa yang telah ditetapkan baginya.’’ (HR. At-Tirmidzi , ahmad dan lainnya di shahihkan oleh al-Albani dalam silsilah ash-shahihah 949)

    REFERENSI:

    Ustadz Abu Ihsan Al-Atsari Dan Ummu Ihsan Al-Atsari/ Cinta Dunia : Dahsyatnya Azab Neraka/ Di Ringkas Dari Buku Terapi Penyakit Wahn (Cinta Dunia)

    Diringkas oleh: Anas Arlaya (Pengajar ponpes Darul-Qur’an Wal-Hadits OKU Timur)

    BACA JUGA :

  • Hakikat Dunia Dalam Permisalan

    Hakikat Dunia Dalam Permisalan

    Hakikat Dunia Dalam Permisalan – Bayak sekali ayat dan hadits yang menjelaskan hakikat tentang kehidupan dunia. Para ulama juga menjelaskan kepada umatnya tentangnya, diantaranya ibnu Qoyyim. Untuk memudahkan memahami hakikat kehidupan ibnu qoyyim memberikan permisalan-permisalan dalam kitab ‘uddatus shabirin ,beliau menghadirkan banyak sekali permisalan. sebagian dari permisalan sebagiannya beliau ambilkan dari hadits-hadits rasullulah yang mengabarkan kehidupan dunia. Sebagian dari permisalan itu sudah  disajikan dalam mabhats yang lain pada edisi ini berikut kami sajikan dalam mabhats yang lain pada edisi ini. Berikut kami sajikan sebagian permisalan lain dengan sedikit penjelasan dari kitab jami’ul ulum wal hikam.Semoga bermanfaat!

    1. Dunia ibarat bunga yang elok dipadang dengan aromanya semerbak mewanginya.

    Permisalan ini disampaikan nabi dalam sebuah hadits yang disepakati keshohihannya. Hadits ini dari abu sa’id al-khuddriy. beliau mengatakan ,”rasullulah berdiri lalu berkata kepada manusia sat itu,

    لا والله ماا خشى عليكم الا ما يخرج الله لكم من زهرة الدنيا

    Demi allah saya tidak mengkhawatirkan (apapun red) atas kalian selain perhiasan dunia yang allah keluarkan untuk kalian. (HR. Bukhari (2842))

    Salah seorang sahabat bertanya ,’wahai Rasulullah! Apakah ada kebaikan yang membawa keburukan ?”bagaimana pertanyaanmu ?”orang itu mengatakan ,”wahai Rasulullah !Apakah ada kebaikan yang membawa keburukan ?rasullulah bersabda yang artinya:

    Sesunguhnya kebaikan itu hanya mendatangkan kebaikan . sesungguhnya diantara tumbuhan di musim semi itu ada yang bisa menyebabkan kematiaan (hewan yang memakannya –red) karena kekeyangan atau hampir menyebabkan kematiannya kecuali hewan yang memakan tumbuhan hijau sampai ketika perutnya terasa penuh dia menghadap ke arah matahari  (untuk berjemur ) lalu mengeluarkan kotoran kemudian kencing lalu mengunyah lagi.Barang siapa mengambil harta  sesuai dengan haknya,maka dia beri keberkahan padanya.Dan barang siapa mengambil harta tidak sesuai  haknya, maka dia seperti orang yang makan tapi tidak pernah kenyang.

    Dalam hadits ini nabi memberitahukan bahwa beliau khawatir dunia (harta) akan mefitnah umat nya .Rasullullah menamakannya zahrah(bunga) sebagai bentuk penyerupaan dunia dunia dengan bunga wangi semerbak , elok dipadang tapi tidak bisa bertahan lama ,sementara dibelakang bunga itu ada buah yang jau lebih baik dari bunga tersebut  dan lebih tahan lama.

    Sabda rasullullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

    و ان مما ينبت الربيع ما يقتل حبطا او يلم

    Artinya: Sesungguhnya diantara  tumbuhan musim semi itu ada yang bisa menyebabkan kematian (hewan yang memakannya) karena kekenyangan atau hampir menyebabkan kematian nya. (HR. Muslim (1052)).

    Permisalan  ini termasuk permisalan yang terbaik yang berisi peringatan (terhadap manusia agar waspada) dari kehidupan dunia ,(tidak) tenggelam dalam kehidupannya dan berlebihan dalam mencintainya. Karena binatang ternak bisa  bisa terpikat dengan tumbuhan musim semi, lau dia memakannya dengan lahap. Bisa jadi tumbuhan di musim semi yang telah memikatnya itu bisa menyebabkan dia mati kekenyangan.

    Begitu juga dengan kecintaan atau ambisi seseorang terhadap harta, bisa jadi ambisi itu menyebabkan dia kematian Betapa banyak orang kaya mati terbunuh karena harta mereka. Mereka sangat terambisi untyk menumpuk harta sementara harta yang ditumpuk itu dibutuhkan oleh orang lain itu tidak bisa mendapatkan harta itu  kecuali dengan cara membunuh orang-orang kaya itu atau dengan cara mengancamnya nyawa si milik harta seperti pengambilan secara paksa.

    Dalam sabda Rasulullah ada tiga faidah:

    1. Binatang ternak itu setelah memenuhi kebutuhan dari pandang rumput, dia segera meninggalkan padang itu lalu ia menderum duduk menghadap ke arah  matahari supaya apa yang telah dimakannya itu berproses dan bisa keluar.
    2. Binatang itu meninggalkan dan berpaling dari apa yang membahayakan  dirinya berupa ambisi terhadap apa yang ada diladang , lalu dia berbalik arah menuju sesuatu  yang bermanfaat yaitu menghadap matahari berjemur untuk menghasilkan panas yang bisa membantu pematangan makanan yang dikomsumsinya lalu mengeluarkannya.
    3. Binatang ternak ini mengeluarkan dan membuang makanan yang dikumpulkan dalam perutnya melalui kencing dan kotoran. Setelah apa yang dimakan itu keluar ,dia bisa istirahat. Seandainya apa yang dimakan itu tetap berada di dalam perut dan tidak bisa keluar ,maka tentu makanan itu akan membunuhnya.

    Begitu juga dengan orang yang ter ambisi mengumpulkan harta , maka untuk kebaikannya mestinya dia melakukan seperti apa yang dilakukan binatang ternak itu.

    2. Dunia seperti danau besar penuh air yang hampir kering karena disesaki manusia dan hewan.

    Dunia ibarat danau besar yang penuh air dan menjadi sumber air penghidupan bagi manusia dan hewan-hewan. Perlahan-lahan,(debit air) danau itu pun menipis karena volume yang datang kepadanya itu begitu banyak, sampai akhirnya tidak tersisa kecuali yang sedikit saja yang keruh di dasar danau. Air yang sedikit itu kini telah dikencingi oleh binatang-binatang ,sementara manusia dan hewan-hewan ternak mencebur kedalamnya. sebagaimana diriwayatkan oleh imam muslim dalam shahihnya, no.2967 dari utbah bin ghazwan. Bahwa ia menyampaikan khutbah kepada mereka .didalamnya ia mengatakan :

    ان الدنيا اذنت بصرم، وولت حذاء، ولممنها الا صبا بة الاناء يتصا بها صاحبها، وانكم منتكلون منها الى دار لازول لها ،فانتقلوا بخير ما بحضر تكم

    Artinya:  sesungguhnya dunia sudah mengisyaratkan akan berakhir,berjalan cepat tanpa disadari dan tidak tersisa darinya kecuali sekedar sisanya saj alayaknya air dalam gelas ,yang dituangkan dalam pemiliknya. Dan sesungguhnya kalian akan berpindah darinya menuju tempat tinggal yang ada kehancurannya.maka,berpindahlah kalian darinya dengan membawa segala yang terbaik yang kalian miliki. (HR. Muslim, no.2967)

    Abdulllah bin mas’ud Radhiyallahu Anhu berkata :

    ان الله تعلى جعل الدنيا كلها قليلا، وما بقي منها الاالقليل، وما بقي منها الا القليل من القليل، ومثل ما بقي منها كالثغب- يعني الغدير- شرب صفوه وبقي كدره

    Artinya: “sesungguhnya allah menjadikan seluruh dunia itu sedikit dari yang sudah sedikit dan yang tersisa itu amat sedikit dari yang sudah sedikit.sisanya serupa dengan air kolam yang kecil yang telah diminum bagiannya yang jernih dan tersisa air yang keruhnya.” (Hasan, Silsilah Ash-Shahihah: 1625)

    3. Permisalan yang mengambarkan betapa banyak orang yang tertipu dengan dunia dan tidak begitu percaya dengan adanya akherat.

    Ibnu abi dunya meriwayatkan dari ishak bin ismail dari rauh bin ubadah dari hisyam bin hasan ,’rasulullah bersabda kepada para sahabat yang artinya:

    Sesungguhnya permisalanku ,kalian dan dunia seperti satu kaum yang melalui satu wilayah yang tidak diketaui jalan keluarnya ,sampai ketika mereka tidak tau ,apakah jalan yang sudah mereka tempuh itu lebih banyak ataukah yang tersisa lebih banyak ?mereka kehabisan bekal dan keletihan. Mereka masih berada ditengah-tengah wilayah tersebut.tanpa bekal dan kemampuan tersebut,tanpa bekal dan kemampuan sehingga mereka yakin bahwa akan mati. Ketika mereka dalam kondisi seperto itu,tiba-tiba ada seorang laki-laki yang berjalan kearah mereka dalam keadaan rambutnya meneteskan air.(melihat ini) mereka mengatakan,’sesungguhnya orang ini baru saja datang dari sebuah perkampungan yang subur. Orang ini baru datang dari tempat yang dekat. ‘ketika orang itu sampai  ketempat mereka ,dia bertanya,”wahai orang-orang  bagaimana keadaan kalian ? mereka menjawab”sebagaimna yang engkau lihat”. Orang itu berkata lagi :”bagaimana menurut kalian jika aku bisa menujukan kepada kalian tempat air yang segar dan kebun yang hijau. Apa yang akan kalian berikan untukku?”mereka menjawab,”kami tidak akan melanggar ucapanmu sedikitpun.”orang itu mengatakan peganglah jaanji kalian karena allah.’rasulullah mengatakan :”mereka berjanji dengan nama allah untuk tidak melanggar ucapan itu sedikitpun. Lalu orang itu membawa mereka keair dan kebun yang menghijau. Orang itu tinggal bersama mereka sampai waktu yang dikehendaki allah ,kemudian dia mengatakan,’wahai orang-orang ! ayo kita berangkat !’(mendengar perintah ini ) mereka mengatakan,’ kemana ?’ orang itu menjawab ,’menuju air yang tidak sama dengan kalian (saat ini) .rasulullah mengatakan ,”sebagian diantara mereka ada yang mengatakan ,’demi allah ! kita tidak akan mendapatkan ini kecuali putus asa dari mendapatkannya .lalu bagaimana kehidupan yang lebih baik dari ini ?kemudian sebagian kecil diantara mereka mengatakan ,’bukanlah kalian sudah berjanji dengan nama allah kepada orang ini untuk tidak melanggar perintahnya sedikitpun . dia sudah membuktikan bagian akhirnya  ucapannya kepada kalian .’rasulullah bersabda ,’lalu orang itu pergi bersama dengan orang yang mengikutinya ,sementara sebagian besar mereka tidak ikut. Tidak lama kemudian mereka tinggal itu diserang musuh ,sehingga sebagian mereka mati terbunuh dan diantara mereka ada yang menjadi tawanan musuh.

    Penyusun jamiul ulum wal hikam mengatakan bahwa permisalan sngat cock dan sesuai dengan keadaan nabi dengan umatnya.nabi datang kepada orang arab, saat itu mereka merupakan orang-orang yang paling hina ,jelek kehidupan mereka . lalu rasulullah menyeru  mereka agar menempuh jalan keselamatan dan rasulullah telah mebuktikan kebenaran sebagai ucapan beliau,sebagaimana permisalan  seorang lelaki (dalam diatas) suatu kaum yang tengah berputus asa karena kehabisan bekal didaerah mereka tidak kenal .lalu orang itu menunjukan sumberair dan daerah perkebunan yang hijau dan menawan.dengan terbuktinnya ucapan nabi ,maka banyak orang yang mengikuti beliau  menjanjikan kepada pengikutnya untuk menaklukan roma dan persia serta menguasai kekayaan mereka berusaha keras dan bersungguh-sungguh untuk akhirat. Setelah itu, mereka mendapati yang dijanjikan oleh rasullulah  itu semuanya benar. Ketika roma dan persia(dunia) sudah mampu mereka kuasai, sebagaimana yang dijanjikan rasulullah,sebagian mereka tersibukkan dengan kesibukkan untuk menumpuk kekayaan , berlomba-lomba dalam masalah dunia,merasa cukuup dengan tinggal didunia. Mereka tidak lagi menyiapkan diri untuk mengosongkan kehidupan akherat.sebagian kecil saja yang tetap berpegang teguh dengan wasiat rasululah dengan bersungguh –sungguh meraik akhirat.

    Kelompok yang sedikit ini adalah kelompok yang selamat dan akan berjumpa dengan nabi mereka diakhirat, karena mereka telah menempuh jalan beliau, melaksanakan wasiatnya,dan mentaati perintahnya.

    Namun kebanyakan mereka terus terlena mabuk dunia dan terus sibuk menempuh dunia. Kesibukan mereka denagn dunia. telah melalaikan mereka dari akhiarat.dalam kondisi seperti itu,tiba-tiba kematian datang menjemput mereka,sehinnga binasalah mereka, ibarat kaum yang diserang musuhnya secara tiba-tiba sehinnga pilihan mereka antara menjadi tawanan atau mati terbunuh (lihat jami’ul ulum. Hlm 1127)

    Itulah diantara permisalan yang menggambarkan hakikat dunia masikah kiata membiarkan  diri kita tertipu dengannya?

    SUMBER:

    Majalah as-sunnah edisi rajab 1436 mei 2015 tahun XIX

    Diringkas oleh : Helmalia putri

    BACA JUGA :

  • Dunia Itu Terkutuk

    Dunia Itu Terkutuk

    Dunia itu Terkutuk (Part. 3)

    Pada artikel yang telah lalu kita telah membahas bagian-bagian tentang celaan terhadap dunia dan pada artikel kali ini penulis akan membahas tentang bagian-bagian Dunia yang Terkutuk lainya:

    • Manusia Banyak yang Tertipu dengan Dunia dan Berlomba-lomba Untuknya

    Seorang muslim diciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribah kepada Sang Khalik, Sang Pencipta mereka ya siapa lagi kalau bukan Rabbul  alamin yaitu Allah  سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَىsebagaimana yang telah tertulis di kitabullah pada surah Adz-Dzariyat:

    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْن

    Artinya:

    Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”  (QS. Adz-Dzariyata: 56)

    Oleh karena itu wajib dia habiskan waktunya hanya untuk beribadah kepada Allah. Janganlah seorang muslim tertipu oleh dengan Dunia, sehingga dia lalai dalam beribadah kepada Allah. Rezeki dan ajal sudah di tentukan oleh Allah, meskipun demikian seorang muslim wajib mencari nafkah sekedarnya untuk untuk kehidupan dia di Dunia. Akan tetapi kesibukan dia dengan usaha, dagang, kerja, dan lainnya itu jangan sampai membuat ia lalai atau bahkan sengaja tidak mau beribadah kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى

     Allah berfirman dalam surah Al-Munaafiqun:

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

    Artinya:

    Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi”.  [al-Munâfiqûn/63: 9]

    Allâh Azza wa Jalla memperingatkan kaum Mukminin dari perilaku kaum munafiqin yang melalaikan dzikrullâh karena sibuk memperhatikan, menangani urusan kekayaan, menikmati dan mengembangkannya; juga lantaran kegembiraan mereka terhadap keberadaan anak-anak dan kesibukan memenuhi kebutuhan para buah hati itu. Kesibukan mereka dengan urusan-urusan tersebut mengakibatkan mereka melalaikan dzikrullâh. Dzikrullâh menurut Syaikh ‘Abdul Muhsin al’Abbâd hafizhahullâh di sini adalah segala ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla. Allâh Azza wa Jalla memberitahukan siapa saja yang terlalaikan dari dzikrullâh karena alasan di atas akan mengalami kerugian yang nyata. Hal ini lantaran orang tersebut telah melenceng dari tujuan penciptaannya untuk menaati dan mengingat (beribadah kepada) Rabbnya. Mereka mengalami kerugian yang hebat, karena telah memperjualbelikan kenikmatan yang abadi dengan kesenangan yang bersifat fana dan sementara.

    Wajib diingat, bahwa kesibukan kita dengan ibadah kepada Allah dengan ikhlas dan ittiba’ serta senantiasa bertakwa kepada Allah akan mendatangkan rezeki dan menutup kekikiran. Seorang muslim muslimah tidak boleh tertipu oleh kehidupan Dunia. Dan hendaklah ia menghabiskan waktunya untuk beribadah kepada Allah. Banyak manusia yang terlalai kan sehingga banyak waktu yang terbuang sia-sia untuk mengejar dunia, waktu yang digunakan mulai dari pagi hingga malam sibuk hanya mengurusi urusan dunia, seperti mencari nafkah, dagang, lembur, mengerjakan tugas-tugas sekolah, kuliah, kantor, dan banyak lagi yang lainya. Sedangkan rizki itu datangnya dengan pasti. Akan tetapi yang belum pasti adalah keadaan kita dihadapan Allah pada hari kiamat kelak, apakah amal kita diterima atau tidak, apakah kita akan masuk surga atau neraka. Oleh karena itu, jangan jadikan dunia ini sebagai tujuan.

    Orang yang tujuannya dunia akan di cerai-beraikan urusannya dan dijadikan kefakiran didepan pelupuk matanya. Sehingga ia selalu merasa kurang, tidak cukup, fakir, padahal Allah telah memberikan nikmat yang sangat banyak kepada akibat hatinya terlah tertupi oleh dunia rakus akan dunia tamak menjadikan dunia prioritasnya. Bersabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam shahih Ahmad yakni:

    مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ ، جَمَعَ اللهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ.

    Artinya:

    “Barang siapa menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya, niscaya Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kefakiran membayangi kedua matanya. Dan dunia tidaklah datang kepadanya melainkan apa yang telah ditetapkan baginya. Dan barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuan hidupnya, maka Allah akan mengumpulkan segala urusannya dan menjadikan kekayaan memenuhi hatinya, serta dunia mendatanginya dalam keadaan hina” (Shahih, HR. Ahmad)

    Akan tetapi dunia tidak akan datang melainkan apa yang telah Allah tentukan, meskipun ia telah Allah tentukan, meskipun  ia telah kerja dari pagi sampai larut malam. Adapun orang yang tujuan nya adalah akherat, maka Allah kumpulkan seluruh urusanya, Allah jadikan hatinya itu merasa cukup dengan rizki yang Allah telah berikan dan dunia akan datang dalam keadaan hina. Orang yang bahagia adalah orang yang merasa cukup dan puas dengan rezeki yang Allah berikan. Bersabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam:

    قَدْ أَفْلَحَ مَنْ هُدِىَ إِلَى الإسلام وَرُزِقَ الْكَفَافَ وَقَنِعَ بِهِ

    Artinya:

    “Sungguh beruntung orang yang diberi petunjuk dalam Islam, diberi rizki yang cukup, dan qana’ah (merasa cukup) dengan rizki tersebut.” (HR. Ibnu Majah no. 4138, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

    Dalam hadits di atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut “beruntung” orang yang memiliki tiga perkara di atas; yaitu sebagai seorang muslim, mendapatkan kecukupan, dan dikaruniakan sikap qana’ah (merasa cukup dengan pemberian Allah tersebut). Falaah (beruntung) berarti mendapatkan semua yang diinginkan dan selamat dari semua yang tidak diinginkan. Ketiga perkara tersebut menjadikan seseorang beruntung, karena ketiga-tiganya menghimpun kebaikan di dunia dan akhirat. Hal itu, karena seorang hamba apabila diberi petunjuk masuk ke dalam Islam yang merupakan agama Allah, dimana hanya agama Islam saja yang diterima-Nya, ia (Islam) juga sebagai kunci seseorang untuk memperoleh pahala terhadap amal salehnya, dan sebagai kunci seseorang selamat dari siksa-Nya. Hal ini merupakan keberuntungan. Kemudian apabila ditambah dengan memperoleh rezeki yang mencukupinya yang membuatnya tidak meminta-minta kepada makhluk yang merupakan kehinaan. Lalu ditambah lagi nikmatnya dengan dikaruniakan oleh Allah sikap qana’ah terhadap pemberian-Nya, maka sesungguhnya ia memperoleh kebaikan di dunia dan akhirat. Keberuntungan apa lagi setelah ini? Di dunia ia mendapatkan kepuasan dan di akhirat mendapatkan kepuasan. Mafhum hadits tersebut adalah apabila ketiga perkara tersebut tidak ada maka ia tidak mendapatkan keberuntungan. Jika agama Islam tidak dimilikinya, maka kerugian yang diperolehnya adalah kerugian yang besar, karena ia akan mendapatkan kesengsaraan yang kekal. Jika ia telah menjadi muslim, tetapi ia tidak diberikan kecukupan, maka yang demikian dapat membuatnya memperoleh madharat dan kekurangan. Dan jika ia telah menjadi muslim serta mendapatkan rezeki yang cukup, namun tidak mendapatkan sikap qana’ah terhadap rezeki yang diperolehnya, maka ia akan selalu miskin. Hal itu karena orang yang kaya, bukanlah orang yang banyak harta, tetapi orang yang kaya adalah orang yang kaya hati. 

    Oleh karena itu, seorang muslim harus zuhud terhadap dunia qana’ah (merasa puas dengan rezeki yang Allah karuniakan). Setiap muslim dan muslimah harus ingat, bahwa kita diciptakan oleh Allah untuk beribadah kepada Allah. Kita wajib meluangkan waktu kita sepenuhnya untuk ibadah kepada Allah. Kalau kota sibukkan diri kita, dengan ibadah, melaksanakan ketaatan kepada Allah dan menjauhi larangan-Nya, maka Allah akan menutupi kefakiran kita. Janganlah kita disibukan dengan dunia, main-main, senda gurau, dan menumpuk-numpuk harta yang membuat kita tertipu dengan dunia.

    Manusia tidak pernah merasa puas terhadap apa yang sudah diperolehnya. Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

    لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ، وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلاَّ التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

    Artinya:

    “Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekai tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 6439 dan Muslim, no.  1048)

    Dalam lafazh lain disebutkan:

    عَنْ عَبَّاسِ بْنِ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ الزُّبَيْرِ عَلَى الْمِنْبَرِ بِمَكَّةَ فِى خُطْبَتِهِ يَقُولُ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَقُولُ « لَوْ أَنَّ ابْنَ آدَمَ أُعْطِىَ وَادِيًا مَلأً مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَانِيًا ، وَلَوْ أُعْطِىَ ثَانِيًا أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَالِثًا ، وَلاَ يَسُدُّ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

    Artinya:

    Dari Ibnu ‘Abbas bin Sahl bin Sa’ad, ia berkata bahwa ia pernah mendengar Ibnu Az Zubair berkata di Makkah di atas mimbar saat khutbah, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Seandainya manusia diberi satu lembah penuh dengan emas, ia tentu ingin lagi yang kedua. Jika ia diberi yang kedua, ia ingin lagi yang ketiga. Tidak ada yang bisa menghalangi isi perutnya selain tanah. Dan Allah Maha Menerima taubat siapa saja yang mau bertaubat.” (HR. Bukhari no. 6438).

    Dalam Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadhis Sholihin yang disusun di antaranya oleh Syaikh Musthofa Al Bugho, yang dimaksud dengan “tidak ada yang memenuhi perutnya kecuali tanah” adalah ia terus menerus memenuhi dirinya dengan harta sampai ia mati lantas di kuburnya isi perutnya dipenuhi dengan tanah kuburan.

    Hadits di atas mengandung beberapa pelajaran:

    1- Semangatnya manusia untuk terus menerus mengumpulkan harta dan kemewahan dunia lainnya. Semangat seperti ini tercela jika sampai membuat lalai dari ketaatan dan hati menjadi sibuk dengan dunia daripada akhirat.

    2- Allah menerima taubat setiap hamba.

    Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,

    اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ  كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ  وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

    Artinya:

    “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak. Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”. [QS. Al-Hadîd/57: 20]

    Imam al-Alûsi rahimahullah berkata, “Setelah Allah Azza wa Jalla menjelaskan keadaan dua kelompok manusia (yaitu orang-orang yang beriman dan orang-orang kafir pada ayat 19-pent), Allah Azza wa Jalla menjelaskan keadaan kehidupan kelompok kedua (yaitu orang-orang kafir) yang merasa tentram dengan dunia, dan disebutkan bahwa kehidupan dunia itu termasuk perkara-perkara kecil yang tidak akan membuat orang-orang yang berakal condong dan tenteram kepadanya. Dunia ini ‘permainan’ yang tidak ada hasilnya kecuali capai, ‘dan suatu yang melalaikan’, melalaikan manusia dari perkara yang bermanfaat dan penting baginya, dan ‘perhiasan’ yang tidak akan menghasilkan kemuliaan hakiki, seperti pakaian-pakaian yang indah dan kendaraan-kendaraan yang bagus serta rumah-rumah yang tinggi, ‘dan bermegah- megah antara kamu’ dengan nasab dan tulang-tulang yang telah lapuk, ‘serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak’, dengan jumlah dan persiapan. Kemudian Allah Azza wa Jalla menjelaskan bahwa bersamaan dengan itu, dunia itu cepat binasa dan segera hancur: ‘Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani’, demikian juga perhiasan dunia sangat mengagumkan orang-orang kafir. Adapun seorang yang beriman, jika melihat perkara yang mengagumkan, maka fikirannya akan tertuju kepada kekuasaan Penciptanya Azza wa Jalla, sehingga dia menjadi kagum terhadap kekuasaan Allah Azza wa Jalla. Sedangkan orang kafir, fikirannya tidak melampaui apa yang dia lihat, sehingga warna-warni dunia membuatnya tenggelam di dalam kekaguman. ‘Kemudian tanaman itu menjadi kering’, bergerak menuju akhirnya, yaitu menjadi kering setelah sebelumnya warmanya hijau dan indah. ‘Dan kamu lihat warnanya kuning’ yang sebelumnya kamu melihatnya indah dan elok, ‘kemudian menjadi hancur’, remuk karena kering. Allah Azza wa Jalla memisalkan waktu yang telah dilalui oleh manusia dengan dengan satu tumbuhan yang tumbuh dari karena air hujan, kemudian hancur dan binasa kurang dari satu tahun. Ini mengisyaratkan alangkah cepat dan dekat kehancurannya. Setelah Allah Azza wa Jalla menjelaskan kehinaan dunia ini dan memerintahkan manusia agar menganggap kecil urusan dunia dan menjauh diri agar tidak tenggelam di dalamnya, Allah Azza wa Jalla menjelaskan keagungan urusan akhirat, mengagungkan kelezatan dan kepedihan siksa di akhirat agar mendorong manusia meraih kenikmatannya yang abadi dan memperingatkan siksanya yang pedih. Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras’, Allah Azza wa Jalla menyebutkan siksa lebih dahulu karena hal ini sebagai akibat tenggelam di dalam keadaan-keadaan kehidupan dunia yang telah dijelaskan, ‘dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya’. Penyebutan siksa yang pedih di hadapan dua perkara: ampunan dari Allah dan keridhaan-Nya; demikian juga penyebutan ‘siksa yang pedih’ tanpa menyebutkan dari Allah Azza wa Jalla, mengisyaratkan kepada dominannya rahmat Allah Azza wa Jalla dan bahwa tujuan yang utama adalah kebaikan. ‘Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu’, yaitu bagi orang yang merasa tentram terhadap dunia dan tidak menjadikan kehidupan dunia ini sebagai sarana untuk kebaikan akhirat dan alat untuk meraih kenikmatannya. Diriwayatkan bahwa Sa’îd bin Jubair Radhiyallahu anhu mengatakan, Dunia itu adalah kesenangan yang menipu, jika dunia melalaikanmu dari mencari akhirat. Namun jika dunia itu mengajakmu untuk mencari ridha Allah Azza wa Jalla dan mencari kebaikan akhirat, maka dunia itu sebaik-baik kesenangan dan sarana.

    Dalam hadits disebutkan:

    عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

    Artinya:

    Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu , dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda, “Sesungguhnya dunia itu manis lagi hijau, dan sesungguhnya Allâh menjadikan kamu sebagai khalifah di dunia ini, lalu Dia akan melihat bagaimana kamu berbuat. Maka jagalah dirimu dari (keburukan) dunia, dan jagalah dirimu dari (keburukan) wanita, karena sesungguhnya penyimpangan pertama kali pada Bani Isrâil terjadi berkaitan dengan wanita”. [HR Muslim, no. 2742].

    Maksud “dunia itu manis lagi hijau” adalah keindahan dan kenikmatan dunia itu seperti buah-buahan yang berwarna hijau dan manis, karena jiwa manusia berusaha untuk mendapatkannya. Atau maksudnya adalah dunia itu segera sirna, seperti sesuatu yang berwarna hijau dan manis juga akan segera rusak. Maksud “sesungguhnya Allâh menjadikan kamu sebagai khalifah di dunia ini”, yaitu Allâh Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kamu sebagai pengganti generasi-generasi sebelum kamu, lalu Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan melihat apakah kamu melakukan ketaatan atau bermaksiat kepada-Nya dan mengikuti syahwat kamu. Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam “maka jagalah dirimu dari (keburukan) dunia, dan jagalah dirimu dari (keburukan) wanita”, yaitu jangan sampai kamu terpedaya dengan dunia dan wanita. Kata wanita dalam hadits ini mencakup semua wanita, termasuk istri dan lainnya. Wanita yang paling banyak menyebabkan fitnah (keburukan) adalah istri, karena fitnahnya terus-menerus dan mayoritas manusia terpedaya dengan para istri. Oleh karena itu jangan sampai kita terpedaya dengan dunia dan melupakan akhirat. Karena seandainya manusia hidup puluhan tahun di dunia ini, dengan berbagai kenikmatan yang dimiliki, sesungguhnya semua itu kecil dibandingkan kenikmatan akhirat. Pengaabaran dari Nabi Muhammad bahwasanya dunia itu indah dan manis mencakup keumuman sifat-sifat dunia tersebut dan apa-apa yang ada didalamnya. Dunia itu manis dalam rasanya, kelezatannya, syahwatnya, dan I dah dalam pemandangannya dan keelokan ya secara zhahir, sebagaimana Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

    زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَاْلأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَئَابِ

    Artinya:

    Dijadikan indah pada pandangan (manusia) kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (surga)”.  [QS. Ali Imran: 14].

    Penjelasan surah tersebut dijadikan indah bagi manusia untuk mencintai apa saja yang mereka sukai, berupa wanita, anak-anak, kekayaan yang melimpah seperi emas, perak dan kuda-kuda yang baik, dan binatang-binatang ternak semisal unta,sapi dan kambing, serta tanah yang di jadikan untuk bercocok tanam dan berladang. Semua itu adalah pesona kehidupan dunia dan perhiasannya yang akan sirna. Dan Allah di sisiNYA terdapat tempat kembali dan pahala yang baik, yaitu surga. Allah  menyampaikan bahwasanya Dia telah menghiasi hidup manusia -sebagai ujian bagi mereka- dengan kecintaan pada kesenangan-kesenangan duniawi, seperti wanita, anak laki-laki, harta yang banyak dan berlimpah berupa emas dan perak, kuda yang bertanda lagi bagus, binatang ternak berupa unta, sapi dan kambing, dan pertanian. Itu adalah kesenangan hidup di dunia yang bisa dinikmati dalam jangka waktu tertentu kemudian hilang. Maka tidak sepatutnya seorang mukmin menggantungkan hidupnya pada kesenangan tersebut. Hanya Allah saja yang memiliki tempat kembali yang baik, yaitu surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Syahwat yang menyenangkan hati itu dibuat menjadi sesuatu yang dicintai oleh manusia, yaitu wanita yang untuk dinikmati dan membuat keturunan, anak laki-laki, harta melimpah yang telah terkumpul atau berlipat-lipat mencapai jumlah yang sangat banyak berupa emas, perak, kuda dari keturunan yang baik dan istimewa yang memiliki beberapa tanda, hewan-hewan ternak (unta, sapi, dan kambing) dan hasil pertanian. Semua yang disebutkan itu adalah sesuatu yang hanya dinikmati di dunia, kemudian menghilang. Dan di sisi Allah itu tempat kembali yang lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Allah mengabarkan dalam dua ayat ini tentang kondisi manusia ketika mendahulukan dunia atas akhirat, lalu antara kedua alam tersebut, di mana Allah mengabarkan bahwa manusia dihiasi dengan perkara-perkara tersebut hingga mereka meliriknya dengan mata mereka, dan mereka ilusikan manisnya dalam hati mereka, jiwa-jiwa mereka terbuai dalam kenikmatan-kenikmatannya. Dan setiap kelompok dari manusia itu condong kepada salah satu jenis dari jenis-jenis kenikmatan tersebut, yang sebenarnya mereka telah menjadikannya sebagai cita-cita terbesar mereka dan puncak dari pengetahuan mereka. Padahal itu semua hanya kenikmatan yang sedikit yang akan lenyap dalam waktu yang sekejap, maka itulah “kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (surga).” Manusia dalam menyikapi hal-hal di atas terbagi menjadi dua golongan: Golongan pertama, golongan yang menjadikan semua itu sebagai tujuan. Oleh karena itu, pikiran, hati dan perbuatan mereka tertuju kepadanya sehingga membuat mereka lupa terhadap sesuatu yang karenanya mereka diciptakan, yaitu ibadah. Mereka tidak ubahnya seperti binatang yang hanya mengejar kesenangan. Mereka tidak peduli bagaimana cara memperoleh kesenangan itu, ke arah mana mereka salurkan dan keluarkan. Semua yang mereka kejar ini sesungguhnya bekal mereka ke negeri tempat kesengsaraan. Golongan kedua, mereka mengetahui maksud dari semua itu, dan bahwa Allah menjadikannya sebaga ujian dan cobaan bagi hamba-hamba-Nya agar diketahui siapa yang lebih mendahulukan ketaatan dan keridhaan Allah daripada kesenangan itu, oleh karenanya mereka menjadikan semua itu sebagai sarana menuju akhirat. Mereka gunakan kesenangan itu untuk dapat membantu memperoleh keridhaan-Nya. Memang mereka memegang semua itu, namun hati mereka tidak memegangnya, dan mereka tahu bahwa semua itu merupakan kesenangan kehidupan dunia. Dalam ayat ini terdapat hiburan bagi kaum fakir yang tidak memperoleh kesenangan itu, ancaman bagi orang-orang yang terpedaya oleh kesenangan tesebut dan membuat zuhud orang-orang yang berakal. Ada beberapa hal yang dapat menghalangi seseorang mengambil pelajaran dari peristiwa di atas, yaitu dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan dan sulit untuk dibendung, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan yang bagus dan terlatih, hewan ternak, dan sawah ladang, atau simbol-simbol kemewahan duniawi lainnya. Itulah kesenangan hidup di dunia yang bersifat sementara dan akan hilang cepat atau lambat, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik, yaitu surga dengan segala keindahan dan kenikmatannya. Hal-hal yang disebut di atas adalah baik dan sesuai dengan naluri manusia, tetapi ada yang lebih baik dari itu semua. Maka katakanlah, wahai nabi Muhammad, kepada orang-orang yang terlalu mencintai dunia dan kepada siapa pun juga, maukah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu’ bagi orang-orang yang bertakwa tersedia di sisi tuhan yang mendidik dan memelihara mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, sehingga mereka tidak perlu lagi bersusah payah mengairi-Nya. Selain tempat tinggal yang nyaman itu, mereka hidup kekal di dalamnya, dan mereka juga dianugerahi pasangan-pasangan yang suci dari segala macam kekotoran jasmani dan rohani seperti haid, nifas, dan perangai buruk, serta kenikmatan rohani yang tidak ada taranya, yaitu rida Allah yang amat besar. Dan anu-gerah tersebut wajar karena Allah maha melihat hamba-hamba-Nya, mengetahui segala keadaan mereka dan memberikan balasan yang terbaik.

    Dalam surah lain Allah Subhanahu Wata’ala menjelaskan:

    إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى ٱلْأَرْضِ زِينَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

    Artinya:

    “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya”. (QS. Al-Kahfi ayat: 7)

    Seperti hewan, tumbuhan, sungai-sungai, tempat tinggal, pemandangan yang indah. Yakni yang paling ikhlas dan paling sesuai dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah mengabarkan bahwa Dia telah menjadikan semua yang ada di muka bumi, baik berupa makanan-makanan yang lezat, aneka minuman, pakaian-pakaian yang bagus, pepohonan, sungai-sungai, sawah-sawah, buah-buahan, panorama yang mengagumkan, kebun-kebun yang memikat, suara-suara yang membangkitkan semangat, rupa-rupa yang manis, emas,perak, kuda, unta, dan lain sebagainya, semuanya Allah ciptakan sebagai perhiasan untuk perkampungan ini (kehidupan dunia) dan sebagai cobaan dan ujian. “Agar Kami menguji siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya,” maksudnya yang paling ikhlas dan paling benar. Sungguh telah tertipu oleh perhiasan dunia orang-orang yang hanya melihat dunia ini dari luarnya saja, mereka berteman dengan dunia seperti pertemanan binatang, kepentingan mereka hanya untuk menunaikan keinginan syahwatnya, dengan segala cara akan mereka lakukan, dan ketika maut datang menghampiri, mereka akan gelisa dan menyesal atas perbuatannya. Sesungguhnya kami telah menjadikan apa yang ada di bumi, yakni beraneka macam hewan, tumbuh-tumbuhan dan kekayaan alam yang tersimpan di dalamnya sebagai perhiasan baginya, yakni bagi bumi dan indah dipandang oleh manusia, untuk kami menguji mereka, di dalam menyikapi keindahan bumi dengan segala isinya. Dengan demikian, kami mengetahui secara nyata siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya, dan siapa yang jahat dan durhaka kepada tuhannya. Dan kelak di hari kiamat, kami benar-benar akan menjadikan apa yang di atasnya, yakni apa yang ada di atas bumi menjadi tanah yang tandus lagi kering, tidak ada lagi keindahannya. Demikianlah Allah menjadikan bumi dengan segala isinya yang dipandang indah oleh manusia sebagai sarana untuk menguji siapa di antara manusia itu yang baik perbuatannya dan siapa yang berbuat jahat. Kelak di hari kiamat kebaikan dan kejahatan itu akan mendapat pembalasan yang seadil-adilnya. Maka seluruh kelezatan yang beragam didalamnya dan pemandangan-pemandangan yang indah, Allah jadikan itu semua sebagai cobaan dan ujian dari-Nya dan menguaskan kepada hamba-hamba-Nya untuk mengelola apa yang ada didakambya, lalu Allah melihat bagaimana kalian berbuat? Barang siapa yang mengambilnya dari yang halal, meletakkanya sesuai dengan haknya, memanfaatkan lnya agar ia bisa beribadah kepada Allah, maka itu semua menjadikan bekal baginya untuk pergi ke tempat yang lebih mulia dan kekal. Dan sempurnakan lah bagianya kebahagian dunia dan akhirat. Tetapi barang siapa yang menjadikan dunia tersebut sebagai cita-cita t rbesarnya dan tujuan ilmu serta kkeinginanya, maka ia mendapat dunia menurut apa yang telah ditetapkan baginya. Akhir kehidupannya yaitu kesengsaraan, dia tidak merasakan kelezatan dan syahwatnya kecuali hanya sebentar saja. KeKezatanya sedikit, tetapi kesedihanya berkepanjangan.

    Demikanlah semua bentuk kelezatan dunia merupakan ujian dan cobaan, semoga setiap ummat masa kini bisa mengahadapi ujian tersebut dengan cerdas dan cermat bagaimana kita menjadikan dunia hanya di genggaman saja.

    Bersambung…….

    REFRENSI:

    Judul buku: Dunia Lebih Jelek Daripada Bangkai Kambing

    Ditulis oleh: Yazid bin Abdul Qadir Jawas

    Cetakan Ke-7: Sya’ban 1440 H

    Penerbit:  Pustaka At-Taqwa

    Summarized by: Latifah Sania Kirani (teacher of Darul Quran wal Hadith)

    baca juga :

  • Gemerlap Dunia

    Gemerlap Dunia

    Gemerlap Dunia – Celaan terhadap dunia bukan ditujukan kepada bumi yang merupakan tempat dunia ini berada.  Bukan pula kepada gunung-gunung, lautan luas, sungai-sungai, dan logam-logamnya. Semuanya itu adalah nikmat Allah ‘Azza wa Jalla Bagi hamba-hambaNya supaya mereka mengambil manfaatnya, mengambil pelajaran darinya, dan menjadikannya sebagai bukti keesaan Allah ‘Azza wa Jalla, kekuasaan, dan keagunganNya. Celaan tersebuat ditujukan kepada pola tingkah anak Adam terhadapNya. Sebab, kebanyakan pola tingkah mereka berakibat butuk.

    Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

    ٱعلَمُوٓاْ أَنَّمَا ٱلحَيَوٰةُ ٱلدُّنيَا لَعِب وَلَهو وَزِينَة وَتَفَاخُرُۢ بَينَكُمۡ وَتَكَاثُر فِي ٱلأَموَٰلِ وَٱلأَوۡلَٰدِۖ

    “Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau yang melalaikan, perhiasan, saling berbangga diri di antara kalian, dan saling berlomba untuk memperbanyak harta dan anak”[1]

    Dalam menyikapi dunia, anak cucu Adam dikelompokkan menjadi dua:

    1. Pertama, mereka yang mengingkari adanya negeri pembalasan setelah alam dunia ini.

    Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

    إِنَّ ٱلَّذِينَ لَا يَرۡجُونَ لِقَآءَنَا وَرَضُواْ بِٱلحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَٱطمَأَنُّواْ بِهَا وَٱلَّذِينَ هُمۡ عَنۡ ءَايَٰتِنَا غَٰفِلُونَ ٧

    “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, merasa puas dengan kehidupan dunia dan merasa tenteram dengan kehidupan itu serta orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya adalah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan”[2]

    Mereka adalah orang-orang yang seluruh citanya hanyalah bersenang-senang, menikmati kehidupan dunia dan berusaha mencapainya sebelum kematian itu tiba.

    Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

    إِنَّ ٱللَّهَ يُدۡخِلُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ جَنَّٰت تَجرِي مِن تَحتِهَا ٱلأَنهَٰرُۖ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يَتَمَتَّعُونَ وَيَأۡكُلُونَ كَمَا تَأۡكُلُ ٱلأَنعَٰمُ وَٱلنَّارُ مَثوى لَّهُمۡ ١٢

    “Dan orang-orang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang. Neraka adalah tempat tinggal mereka”[3]

    • Kedua, mereka yang meyakini adanya alam pembalasan setelah kematian. Merekalah orang-orang yang mengikuti para Rasul. Kelompok ini digolongkan menjadi tiga, yaitu zhalim linafsih, muqtashid, dan sabiq bil khairat bi idznil-Lah.
    • Zhalim linafsih

    Zhalim linafsih adalah orang yang menzhalimi diri sendiri. Jumlah mereka paling banyak dibanding golongan lainya. Kebanyakan mereka terbuai oleh gemerlap dan keindahan dunia. Golongan ini menyikapi dunia dengantidak semestinya. Bagi mereka dunia adalah segalanya. Mereka ridha, murka, berwala’i, dan berbara’ karena dunia. Golongan ini merupakan orang-orang yang disebut dengan ahlul la’b, lahw, dan zinah (ahli bermain-main, bersenda gurau, dan berhias). Mereka beriman kepada akhirat secara global tetapi mereka tidak mengerti apa itu dunia yang merupakan tempat untuk mengumpulkan bekal ke kehidupan berikutnya.

    • Muqtashid

    Muqtashid adalah orang-orang yang menikmati dunia dari arah yang dibenarkan, mubah. Mereka melaksanakan seluruh yang wajib, lalu membiarkan dirinya bersenang-senang dengan kenikmatan dunia. Mereka tidak mendapatkan hukuman, hanya saja derajat mereka rendah.

    • Sabiq bil khairat bi idznil-Lah

    Sabiq bil khairat bi idznil-Lah adalah orang-orang yang oaham tujuan dari dunia dan beramal sesuai dengannya. Mereka mengerti bahwa Allah ‘Azza wa Jallamenempatkan hamba-hambaNya di negeri ini untuk diuji siapa yang paling baik amalnya, siapa yang paling zuhud pada dunia dan paling cinta kepada akhirat.

    Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

    إِنَّا جَعَلنَا مَا عَلَى ٱلأَرۡضِ زِينَة لَّهَا لِنَبلُوَهُمۡ أَيُّهُمۡ أَحسَنُ عَمَلا ٧  وَإِنَّا لَجَٰعِلُونَ مَا عَلَيهَا صَعِيدا جُرُزًا ٨

    “Dan sesungguhnya kami jadikan apa saja yang ada di muka bumi ini sebagai hiasan baginya, supaya Kami uji siapa di antara mereka yang paling baik amalnya. Dan sesungguhnya Kami jadikan (pula) di muka bumi tanah kering yang tandus”[4]

    Golongan ketiga ini merasa cukup dengan cara mengambil dunia sekedar untuk bekalnya sebagai seorang musafir.

    Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    مَا لِيْ وَلِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ إِسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

    “Apa urusanku dengan dunia ini? Hidupku di dunia ini ibarat seorang pejalan yang berlindung di bawah sebatang pohon, beristirahat, lalu meniggalkannya”[5]

    Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْعَابِرُ سَبِيْلٍ

    “Jadilah kamu di dunia seolah-olah seperti orang asing atau seperti orang yang menyeberangi jalan”[6]

    Abu Ahawan Ar-Ra’iniy pernah ditanya, apakah yang dimaksud dengan dunia yang dicela oleh Allah ‘Azza wa Jalladi dalam Al-Qur’an dimana setiap orang yang berakal mesti menjauhinya? Beliau menjawab, “segala yang engkau dapatkan di dunia untuk dunia, itulah yang tercela. Dan segala yang engkau dapatkan di dunia untuk akhirat maka itu tidak tercela.”

    Al-Hasan Al-bashriy berkata, “betapa indahnya dunia ini bagi seorang mukmin karena ia beramal sedikit saja dan mengambil bekalnya di sana menuju surga. Dan betapa buruknya dunia ini bagi orang kafir dan munafik karena keduanya menyia-nyiakan malam-malam di dunia dan dunia ini menjadi bekal mereka menuju neraka.”

    ‘Aun bin Abdullah berkata, “Dunia dan akhirat di hati itu ibarat dua dauntimbangan. Apa saja yang memberatkan yang satu akan meringankan yang lain.”

    Wahb bin Munabbih bertutur, “Susungguhnya dunia dan akhirat itu seperti seorang laki-laki yang mempunyai dua istri. Jika laki-laki itu menyenangkan yang satu, pasti yang satunya lagi jadi benci.”

    Para ulama berkata, “Cinta dunia itu pangkal segala kesalahan dan pasti merusak agama, ditinjau dari berbagai sisi:

    1. Mencintainya akan mengakibatkan pengagungan terhadapnya. Padahal di sisi Allah ‘Azza wa Jalladunia ini sangatlah remeh dan tidak lebih berharga dari sehelai sayap nyamuk. Sifat pengagungan terhadap apa yang diremehkan Allah termasuk dosa besar.
    2. Allah ‘Azza wa Jallatelah melaknat, memurkai, dan membencinya, kecuali yang ditujukan kepadaNya. Barangsiapa yang mencintai sesuatu yang telah dilaknat, dimurkai, dan dibenci oleh Allah ‘Azza wa Jallaberarti ia menyediakan diri untuk mendapat siksa , kemurkaan Allah ‘Azza wa Jalla, dan kebencianNya.
    3. Orang yang cinta dunia pasti menjadikannya sebagai tujuan akhir dari segalanya. Padahal seharusnya ia melakukan itu untuk sampai kepada Allah ‘Azza wa Jalla, sampai ke akhirat. Ia telah membalik urusan dan juga hikmah. Terdapat dua kesalahan dalam hal ini. Pertama, ia menjadikan sarana sebagai tujuan. Kedua, ia berusaha mendapatkan dunia dengan amalan akhirat. Hal ini merupakan sesuatu yang terbalik, keliru, dan buruk.

    Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

    مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلحَيَوٰةَ ٱلدُّنيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيهِمۡ أَعمَٰلَهُمۡ فِيهَا وَهُمۡ فِيهَا لَا يُبخَسُونَ ١٥ أُوْلَٰئِكَ ٱلَّذِينَ لَيسَ لَهُمۡ فِي ٱلأٓخِرَةِ إِلَّا ٱلنَّارُۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُواْ فِيهَا وَبَٰطِل مَّا كَانُواْ يَعمَلُونَ ١٦

    “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia, dan perhiasannya, maka Kami penuhi balasan pekerjaan-pekerjaannya di dunia dan mereka tidak akan dirugikan sedikitpun. Tetapi di akhirat, tidak ada bagi mereka bagian selain neraka. Dan sia-sialah  apa-apa yang mereka perbuat di dunia dan batallah apa-apa yang mereka amalkan”[7]

    Cinta terhadap dunia bisa menghalangi seseorang dari pahala dan bisa merusak amal. Cinta dunia bahkan bisa menjadikan seseorang sebagai orang yang pertama kali masuk neraka.

    • Mencintai dunia akan menghalangi sesorang dari aktivitas yang bermanfaat untuk kehidupan di akhirat kelak. Ia akan sibuk dengan apa yang ia cintai tersebut. Begitulah, kerinduan dan kecintaan kepada dunia pasti membahayakan kehidupan akhirat, dan sebaiknya.
    • Mencintai dunia menjadikan dunia  sebagai harapan terbesar seorang hamba
    • Pecinta dunia adalah manusia dengan adzab yang paling berat. Mereka disiksa di tiga negeri; di dunia, di barzakh, dan di akhirat. Di dunia mereka di adzab dengan kerja keras untuk mendapatkannya dan persaingan dengan orang lain. Di alam barzakh, mereka di adzab dengan perpisahan dengan kekayaan dunia dan kerugian yang nyata atas apa yang mereka kerjakan. Di sana tidak ada sesuatu yang akan menggantikan kedudukan kecintaannya kepada dunia. Kesedihan, kedukaan, dan kerugian terus-menerus mencabik-cabik ruhnya. Peinta dunia di adzab di kuburnya dan juga pada hari pertemuan dengan RabbNya.

    Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

    فَلَا تُعجِبكَ أَموَٰلُهُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُهُمۡۚ إِنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُم بِهَا فِي ٱلحَيَوٰةِ ٱلدُّنيَا وَتَزهَقَ أَنفُسُهُمۡ وَهُمۡ كَٰفِرُونَ ٥٥

    “Janganlah engkau takjub karena harta dan anak-anak mereka. Sesungguhnya lalah menghendaki untuk menyiksa mereka dengannya dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir”[8]

    Menafsirkan ayat tersebut, sebagian ulama salaf berkata, “Mereka diadzab dengan jerih payah dan kerja kerasnya dalam mengumpulkannya. Nyawa mereka akan melayang karena cintanya. Dan mereka menjadi kafir karena tidak menunaikan hak Allah ‘Azza wa JallaSehubungan dengan kemegahan dunia itu.

    • Orang yang rindu dan cinta kepada dunia sehingga lebih mengutamakannya daripada akhirat adalah makhluk yang paing bodo, dungu, dan tidak berakal. Hal ini dikarenakan mereka lebih mendahulukan khayalan daripada sesuatu yang hakiki, mendahulukan impian daripada kenyataan, mendahulukan kenikmatan sesaat daripada kenikmatan abadi, dan mendahulukan negeri yang fana daripada negeri yang kekal selamanya. Mereka menukar kehidupan yang kekal dengan kehidupan yang semu. Manusia yang berakal tentu tidak akan tertipu dengan hal seperti ini.

    Sesuatu yang paling mirip dengan dunia adalah bayang-bayang. Orang yang dungu dan tidak berakal akan menganggap bayang tersebut memiliki hakikat yang tetap, padahal tidak demikian. Bayangan apabila dikejar tidak akan pernah sampai. Dunia juga mirip dengan fatamorgana. Orang yang kehausan akan menyangka fatamorgana tersebut adalah air, padahal saat didekati maka ia tidak akan mendapati sesuatu apapun di tempat itu. Justru ia dapati adalah Allah ‘Azza wa Jalladengan hisabNya.

    Referensi:

    Al-Hambali, Ibnu Rajab, dkk. 2001. Tazkiyatun Nafs. Solo: Pusaka Arafah.

    Diringkas oleh: Siska (Pengajar Pondok Pesantren Darul Qur’an Wal Hadits OKU Timur)


    [1]Al-Hadid: 20

    [2]Yunus: 7

    [3]Muhammad: 12

    [4]Al-Kahfi: 7-8

    [5]HR. At-Tirmidzi

    [6]HR. Bukhori

    [7]Hud: 15-16

    [8]At-Taubah: 55

    BACA JUGA :

  • Amal Sholeh Untuk Tujuan Dunia

    Amal Sholeh Untuk Tujuan Dunia

    Amal Sholeh Untuk Tujuan Dunia – Sesungguhnya Segala Pujian hanyalah milik Allah Semata titik Kami memujinya memohon pertolongan dan meminta ampun kepadanya. Kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri-diri kami dan kejelekan amal-amal perbuatan kami Barang siapa diberi hidayah oleh Allah niscaya tiada seorangpun yang dapat menyesatkannya dalam barangsiapa disesatkan oleh Allah niscaya tiada seorangpun yang dapat memberikan petunjuk kepadanya saya berhasil yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah Dan saya bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam adalah hamba dan utusannya.utu

    Setiap muslim harus menyadari dengan sesada standarnya bahwa Ikhlas merupakan salah satu diantara dua syarat diterimanya amal perbuatan. Syarat-syarat kedua adalah ittiba mengikuti syarat dan sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Tampak kedua syarat ini maka amal ibadah tidak akan diterima titik dalil tentang dua syarat ini sangat banyak disebutkan dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, baik dalil langsung maupun dalil tidak langsung. Dan itu sudah banyak dipaparkan di majalah ini pada edisi edisi terdahulu. Karena itu, di samping ditimbang Ikhlas merupakan keharusan yang mesti diperjuangkan oleh setiap muslim ketika hendak atau sedang melakukan amal-amal ibadah. Selanjutnya, Bagaimana dengan seseorang yang melakukan amal-amal ibadah namun maksudnya untuk memperoleh balasan dunia Apakah ia termasuk orang yang ikhlas dalam beribadah atau tidak?

    Sesungguhnya secara umum, beramal untuk tujuan dunia merupakan perbuatan Syirik yang akan menghilangkan kesempurnaan tauhid yang wajib dan menjadikan amal sholeh yang dilakukan sia-sia tanpa pahala.

    Allah Subhanahu Wata’ala berfirman yang artinya; “Barang siapa yang mengkehendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan amal perbuatan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang di akhirat tidak akan memperoleh apa-apa kecuali neraka, dan lenyaplah di memperoleh apa-apa kecuali neraka, dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud/11: 15-16)

    Imam Ibnu Katsir rahimahullah wafat tahun 774 dalam tafsirnya membawakan riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu anhu yang mengatakan, petik dua sesungguhnya para ahli Ria dengan amal-amal Hasanah atau amal-amal kebaikan yang dilakukannya akan memperoleh apa yang mereka inginkan di dunia tanpa dizalimi sedikitpun.

    Barangsiapa yang melakukan amal saleh baik berupa puasa salat atau tahajud di malam hari, Tetapi semua itu tidak dilakukan kecuali untuk memperoleh dunia maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan ku penuhi semua upah dunia yang ia carinya, tetapi amal yang dimaksudkan untuk mencari dunia itu menjadi sia-sia di akhirat, dan ia akan menjadi golongan orang-orang yang rugi di akhirat.

    Sementara, Syekh Abdurrahman Bin Nasir Asadi rohimahullah wafat 1376 Hijriah dalam tafsirnya tentang Quran surat hud ayat ke-15

    مَنْ كَانَ يُرِيْدُ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا وَزِيْنَتَهَا نُوَفِّ اِلَيْهِمْ اَعْمَالَهُمْ فِيْهَا وَهُمْ فِيْهَا لَا يُبْخَسُوْنَ

    Artinya: “Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan (balasan) penuh atas pekerjaan mereka di dunia (dengan sempurna) dan mereka di dunia tidak akan dirugikan.” (QS. Hud: 15)

    Pengertiannya Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasan masuknya semua kehendaknya hanya terbatas pada keinginan atau memperoleh kehidupan dunia dan perhiasannya baik wanita anak-anak maupun harta benda yang berlimpah berupa emas karena kuda yang bagus, hewan-hewan ternak maupun sawah ladang. Segala keinginan usaha dan perbuatannya hanya dimasukkan untuk hal dunia seperti ini. Keinginannya sama sekali tidak diperlukan untuk memperoleh akhirat. Namun tujuan yang hanya demikian ini, hanya dilakukan oleh orang kafir saja. Sebab jika seseorang itu Mukmin untuk keimanan yang ada pada dirinya akan menghalangi kehendaknya untuk untuk hanya memperoleh tujuan dunia belaka. Bahkan keimanan yang memilikinya serta amal yang dilakukannya Justru karena pengaruh dari keinginannya terhadap akhirat.

    Kalau bukan karena keinginannya terhadap akhirat, Bagaimana mungkin seseorang beriman dan beramal saleh? Artinya, keinginan terhadap akhirat itulah yang menyebabkan seseorang menjadi beriman dan melakukan amal-amal ibadah.

    Sedangkan Syekh Abdurrahman Bin Hasan Al Lusi Syekh rahimahullah wafat tahun 1285 Hijriyah menyebutkan penjelasan Ibnu Abbas rahimahullah tentang ayat ini sebagai berikut:

    Barang siapa menghendaki upah dunia dan perhiasannya berupa harta, niscaya kami Allah akan penuhi segala usaha untuk mendapatkannya, baik kesehatan maupun kesenangan terhadap harta, istri maupun anak. Semuanya itu akan

    Akan diberikan dan tidak akan dikurangi sedikitpun. Tetapi kamu telah akan ayat ini kemudian dibatasi pengertiannya dengan ayat lain yaitu Quran Surat Al Isra ayat ke-18 sehingga tidak semua orang dan tidak semua keinginan yang demikian mesti terpenuhi seluruhnya, tetapi terikat pada kehendak Allah Azza wa Jalla.

    Maksudnya, Tidak semua orang yang menginginkan dunia dengan amal perbuatannya, akan dipenuhi seluruhnya oleh Allah Azza wa Jalla. Tetapi hanya orang yang dikehendakinya saja, dan hanya sesuai dengan kadar yang dikehendakinya pula. Ayat ini masuk adalah Firman Allah Azza wa Jalla:

    مَنْ كَانَ يُرِيْدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَه فِيْهَا مَا نَشَاۤءُ لِمَنْ نُّرِيْدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَه جَهَنَّمَۚ يَصْلٰهَا مَذْمُوْمًا مَّدْحُوْرًا

    Artinya: “Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di (dunia) ini apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki. Kemudian Kami sediakan baginya (di akhirat) neraka Jahanam; dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir”. (QS. Al- Isra’/17: 18)

    Beliau rohimahullah juga membawakan riwayat dari kata rahimahullah yang mengatakan Allah Azza wa Jalla menyatakan bahwa barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai cita-citanya, tuntunan dan tujuannya, maka Allah Azza wa Jalla akan memberikan balasan dari amal-amal perbuatan baiknya di dunia ini. Kemudian ia akan sampai di akhirat sedangkan ia tidak memiliki satu kebaikan pun yang akan diberi balasan. Adapun seorang mukmin maka dengan perbuatan-perbuatan baiknya, ia akan mendapatkan balasan di dunia dan akan mendapatkan pahala pula di akhirat.

    Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga mengingatkan dengan sabdanya:

    Dari Abu Hurairah radhiallahu anhuwa, dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, beliau bersabda: “celahkanlah hamba Dinar hamba dirham dan hamba pakaian indah. Jika Iyan diberi, Celakalah ia dan bersyukurlah pada wajahnya, apabila terkena Duri, ia tidak akan dapat mengeluarkannya meskipun dengan tata. Sebaiknya Berbahagialah karena mendapatkan pohon surga bagi seseorang hamba yang mengendalikan tali ke Kang kudanya untuk berjihad di jalan Allah hingga merebutnya Kusut Masai dan kakinya berdebu. Jika ia bertugas melakukan penjagaan, Ia tetap berada pada tugas penjagaan. Jika ia bertugas di dalam pasukan inti, Ia tetap berada pada pasukan inti. Apabila ia meminta izin, ia tidak mendapatkan kesempatan untuk diberi izin Dan jika ia minta tolong, maka ia tidak memiliki kesempatan untuk ditolong. (HR. Bukhari dan lainnya)

    Hadis ini menjelaskan dua jenis manusia. Pertama, para hamba dunia yang keinginan hidupnya untuk dunia dan perhiasannya. Yang kedua sama para hamba Allah sejati yaitu orang-orang yang selalu Ridho dengan segala yang membuat Allah Ridho tanda komanda membenci segala apa yang mengundang murka Allah Azza wa Jalla.

    Dalam hadis ini dijelaskan:: orang yang menjadi hamba dunia “berhak mendapat doa jelek dari Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam yang akibatnya pasti jelek. Orang yang demikian tentu akan mendapatkan efek jelek dari doa tersebut dengandengan terjerumus ke dalam petaka dunia maupun akhirat: sedangkan hamba Allah sejati adalah orang yang selalu ridho terhadap apa yang diridhoi Allah Azza wa Jalla, dan membenci apa yang mendatangkan kebencian Allah dan rasulnya. Ia selalu membela para Wali Allah dan memusuhi musuh-musuh Allah. Inilah hamba yang imannya benar-benar sempurna. Orang ini berhak mendapatkan janji kebahagiaan hidup di surga.

    Oleh karena itu, hendak masing-masing kita waspada kamu jangan sampai terjerumus menjadi hamba-hambat dan dunia, karena akibatnya sangat berbahaya bagi kehidupan kita di dunia maupun di akhirat.

    IBADAH UNTUK TUJUAN DUNIA

    Kalimat amal ibadah untuk tujuan dunia mempunyai beberapa kemungkinan makna. Ada kemungkinan bermakna Ria atau sumah yaitu Apabila seseorang menghiasi amal perbuatannya dihadapan orang lain supaya terlihat indah dan mendapat pujian. Atau seseorang dengan amal perbuatannya menginginkan upah dunia seperti orang yang berjihad untuk mendapatkan bayaran.

    Apabila yang dimaksud dengan tujuan dunia adalah Riya atau sumah atau pujian orang, maka Syekh Abdurrahman Bin Masirah Asa di rahimahullah memberikan beberapa rincian sebagai berikut:

    Apabila maksud yang mendorong seseorang melakukan amal saleh adalah ingin dilihat orang lain atau pamer, dan keinginan yang susah ini terus lanjut maka amal saleh yang dilakukannya menjadi sia-sia tanpa pahala dan termasuk Syirik asghar. Dan dikhawatirkan menjadi jalan menuju Syirik akbar.

    Apabila yang mendorong seseorang untuk melakukan amal saleh adalah keinginannya untuk mencari wajah Allah dan Ridhonya, tetapi bersamaan dengan itu juga besar keinginannya untuk dilihat orang lain atau pamer Maka menurut Zahir yang ada tentang itu pun menunjukkan bahwa amalan itu batal atau sia-sia.

    Apabila yang mendorong seseorang melakukan amal saleh adalah keinginannya untuk mencari wajah Allah dan ridanya saja, tetapi di tengah pelaksanaan amalnya muncul maka kita ia berusaha menghilangkan Mia ini dan berusaha ikhlas karena Allah Azza wa Jalla, maka hal ini tidak membahayakan nilai amalannya. Namun apabila ia merasa tenang dengan Ria yang muncul di tengah amalannya itu, maka nilai amalannya menjadi berkurang. Pelakunya mengalami kelemahan iman dan ikhlas sesuai dengan kadaria yang ada di dalam hatinya. Nada ria inilah yang telah menggoyang Amal salehnya.

    Riya merupakan penyakit besar yang memerlukan penanganan memerlukan upaya untuk melatih diri agar ikhlas memerlukan perjuangan keras untuk menolak segala keinginan pamer serta tujuan-tujuan berbahaya lainnya dan memerlukan kesungguhan dalam atau meminta pertolongan kepada Allah dalam menyingkirkan keinginan-keinginan besar dari dalam hati. Sehingga dengan demikian Semoga Allah mencerminkan keimanan seorang hamba dari nada dan menegakkan tauhidnya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam:

    Sesungguhnya Hal paling aku khawatirkan bagi diri kalian adalah Syirik Anggar. Para sahabat bertanya apakah ciri khasnya itu? Beliau menjawab Riya Allah selalu beriman kepada para pelaku Ria itu pada hari kiamat ketika dia telah membagi-bagi balasan kepada manusia: Pergilah kalian menuju orang-orang yang kalian berpamer kepada mereka di dunia. Perhatikan, Apakah kalian akan mendapatkan balasan dari mereka? ( Hadis riwayat Ahmad dan lainnya)

    Dan masih banyak hadis lain yang menerangkan larangan tidak demikianlah kesimpulan secara garis besar apabila yang dimaksud dengan beramal untuk tujuan dunia adalah Riya atau pujian orang. Namun apabila yang dimaksud dengan selain pria atau SMA atau pujian orang pemanasannya melakukan amal-amal ibadah atau amal saleh tetapi motivasinya untuk memperoleh balasan dunia seperti upah, kedudukan dengan sebangsanya, maka juga terdapat beberapa perincian.

    Syekh Abdurrahman Bin Nasir fastadi rahimahullah memberikan penjelasan sebagai berikut:

    • Apabila berkehendak seseorang ketika beramal saleh atau beribadah seluruhnya tercurah untuk maksud dunia ini sama sekali tidak menghendaki wajah Allah, Ridhonya dan dan kehidupan akhirat maka orang ini tidak akan memperoleh bagian kebaikan sedikitpun di akhirat. Tetapi perbuatan seperti ini tidak akan dilakukan oleh seorang mukmin, karena seorang mukmin Betapapun lemah imannya pasti dia menginginkan Allah Azza wa Jalla dan kehidupan akhirat.
    • Apabila seseorang melakukan amal perbuatan karena Allah Azza wa Jalla dan juga karena dunia, sedangkan kedua maksud itu berimbang atau kurang lebih sama maka apabila ia Mukmin berarti ia adalah orang yang lemah Iman tauhid dan ikhlasnya. Nilai ama perbuatannya pun berkurang karena kehilangan kesempurnaan keikhlasan.
    • Adapun orang yang ikhlas beramal hanya karena Allah Azza wa Jalla saja keikhlasannya kesempurnaan namun kemudian ia mengambil umpan dari amal perbuatannya, yang dengan upah itu Ia menggunakan pula untuk beribadah dan untuk kepentingan agama, maka hal ini tidak mengandung bahaya apa-apa terhadap keuntungan keimanannya. Misalnya upah yang digunakan untuk kebaikan sosial. Atau seperti seseorang Mujahid yang kemudian menjadi ghamimah atau rezeki atau Seperti mendapat harta wakaf yang digunakan untuk masjid, atau sekolah atau untuk orang-orang yang melakukan tugas-tugas agama. Sebab dengan tindakannya, orang ini tidak memiliki kehidupan dunia tetapi hanya mengharapkan kebaikan bagi Agama dan hal-hal yang dapat membantunya untuk melaksanakan kewajiban agama.
      • Jadi, orang yang beramal karena tujuan dunia, secara umum sangat berbahaya bagi nilai amalannya kecuali jika yang dimaksudkan adalah sebagaimana keterangan terakhir di atas.

    Kesimpulannya, melakukan amal sholeh untuk kepentingan dunia tanpa dimaksudkan untuk kepentingan akhirat sedikitpun hanyalah tindakan orang yang tidak beriman. Sementara jika memiliki tujuan ikhlas karena Allah Azza wa Jalla, tetapi berbaring dengan itu memiliki tujuan duniawi akan bisa mengurangi nilai amalan yang dilakukannya dan menjadi pertanda lemahnya Iman pelakunya. Wallahualam

    Diringkas dari majalah as- sunnah, edisi khusus (02-03) / thn XIX/ sya’ban- ramadhan 1436/juni-juli 2015M

    Disusun oleh ustadz Ahmad faiz asifuddin Hafiz Allah

    Diringkas oleh: Helmi Lia Putri (Pengabdian Rumah tahfiz umar bin Khattab)

    BACA JUGA :

  • Kejujuran Membawa Keselamatan Dunia & Akhirat

    Kejujuran Membawa Keselamatan Dunia & Akhirat

    Kejujuran Membawa Keselamatan Dunia & Akhirat – Kaum muslimin, marilah kita meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah dengan terus berupaya menundukkan nafsu kita agar terus berjalan di garis yang telah ditetapkan Allah, terus berupaya merenungi ayat-ayat Allah dan mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa yang telah terjadi, terutama peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam al-Qur’an ataupun hadits-hadits Rasulullah. Karena kisah-kisah itu mengandung pelajaran penting bagi kita.

    Diantara kisah sekaligus peristiwa penting yang terjadi di zaman Rasulullah dan pasti mengandung banyak pelajaran bagi umat islam yaitu kisah Rasulullah memerintahkan para shahabatnya Rahimahullah untuk memboikot Ka’ab bin Malik Rahimahullah beserta dua shahabat lain yang ikut serta dalam perang Tabuk tanpa memiliki udzur syar’i.

    Dikisahkan bahwa sepulang Rasulullah dari perang tabuk, beberapa orang yang tidak ikut perang datang menghadap kepada beliau untuk menyampaikan alas an mereka tidak ikut dalam peperangan itu. Orang-orang munafik mengemukakan berbagai alas an palsu dan berbohong kepada Rasulullah. beliau menerima alas an mereka dan menyerahkan urusan mereka kepada Allah, karena beliau menghukumi seorang berdasarkan apa yang tampak, adapun yang tidak tampak, maka beliau serahkan urusannya kepada Allah.

    Lihatlah perbedaan antara orang munafik dengan orang yang beriman! Mereka berkata jujur dan siap menerima hukuman dari Nabi sebagai akibat dari kesalahan yang telah mereka perbuat.

    Ka’ab bin Malik Rahimahullah berkata ketika ditanya oleh Rasulullah tentang alas an dia tidak ikut berperang : “Demi Allah! Sungguh, seandainya aku berhadapan dengan penduduk dunia selainmu, niscaya aku bisa terhindar dari kemurkaannya dengan mengemukakan alasan-alasan, karena aku adalah orang yang pandai berdebat. Akan tetapi, Demi Allah! Sungguh aku sudah tahu, jika hari ini aku bisa menyampaikan alas an dusta yang membuatmu tidak marah kepadaku, niscaya nanti Allah akan menjadikanmu murka kepadaku. Jika aku berkata jujur, maka engkau pasti akan menyikapi kesalahanku itu. Aku berharap Allah memberikan ampunan-Nya kepadaku dalam masalah ini. Demi Allah! Saya tidak punya alas an (untuk tidak ikut perang).”[1]  

    Mendengar ini, Rasulullah memerintahkan para Shahabatnya memboikot Ka’ab bin Malik dan kedua Shahabatnya Rahimahullah  dengan tidak mendekati dan tidak berbicara dengan mereka.

    Ketiga Shahabat ini dijauhi oleh para Shahabat rahimahullah yang lain. Terkadang Ka’ab Radhiallahuanhu, berharap ada yang menyapanya. Namun Rasulullah dan mengucapkan salam tapi Ka’ab radhiallahuanhu mengatakan, ‘Saya tidak tahu, apakah beliau menjawabnya atau tidak.’’

    Tidak sebatas itu, Rasulullah senantiasa memalingkan mukanya dari Ka’ab Radhiallahuanhu. Ka’ab terkadang pergi pasar, namun tak seorang pun menyapa dan menjawab salamnya.

    Tidak terbayang oleh kita, bagaimana beban yang dirasakan oleh tiga Shahabat Rasulullah ini. Akhirnya Ka’ab Radhiallahuanhu datang kepada Abu Qatadah Radhiallahuanhu, sepupu beliau dan juga termasuk Shahabat yang paling dicintai oleh Ka’ab Radhiallahuanhu. Ka’ab Radhiallahuanhu mengatakan :

    يا أبا قتاة أنشدك بالله هل تعلمني أحب الله ورسوله

    Artinya: “Wahai Abu Qatadah! Aku memohon atas nama Allah. Apakah engkau tahu bahwa aku cinta Allah dan Rasul-Nya?” [2]

    Tapi Abu Qatadah Radhiallahuanhu dian dan hanya mengatakan Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.

    Ketika pemboikotan yang sangat membuat mereka itu menderita masih berlangsung, ujian lain mendatangi mereka. Utusan Raja Ghassan menawarkan kepada Ka’ab Radhiallahuanhu untuk bergabung dan tinggal di tempat mereka dan berjanji akan memuliakannya. Bagaimana respon Shahabat yang mulia ini? Ka’ab Radhiallahuanhu membakar surat tersebut dan tidak memperdulikannya.

    Ujian Ka’ab Radhiallahuanhu beserta dua Shahabat lainnya terus berlanjut sampai datang ujian terberat yaitu perintah Rasulullah kepada mereka untuk menjauhi istri-istri mereka dan membiarkan mereka pulang ke rumah keluarganya.

    Ka’ab bin Malik Radhiallahuanhu mengatakan, ‘’Seandainya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memerintahkanku untuk mentalak istriku, niscaya aku akan lakukan, akan tetapi Beliau hanya memerintahkan untuk menjauhinya.’’

    Subhanallah……… kesusahan dan penderitaan yang terus mendera tidak membuat Ka’ab Radhiallahuanhu beserta kedua Shahabatnya Radhiallhuanhu menyelisihi dan membenci keputusan Rasulullah. mereka tetap patuh dan tunduk.

    Sebuah sikap beragama dam kejujuran sikap kepada Allah dan Rasul-Nya yang luar biasa kuat. Sikap beragama yang tidak menodai oleh campuran perasaan dan hawa nafsu sebagaimana yang sering dilakukan oleh kebanyakan kita. Terkadang kita dapati banyak kaum Muslimin yang memilih-milih syari’at yang sesuai dengan perasaan dan hawa nafsu.

    Setelah pemboikotan itu berlangsung selama lima puluh hari, kabar gembira dari langit pun datang. Akhirnya Allah memberikan ampunan-Nya kepada mereka.

    Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

    وعلى آلثلثة الذين خلفوا حتى إذا ضاقت عليهم الأرض بما رحبت وضاقت عليهم أنفسهم وظنوا أن لا ملجأ من الله إلا إليه ثم تاب عليهم ليتوبوا إن الله هو آلتواب آلرحيم

    Artinya: Dan terhadap mereka tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabi bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka bertaubat. Sesungguhnya Allah-lah Yang maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. At-Taubah/9: 118)

    Para Shahabat yang mengetahui berita gembira ini berebutan, berlarian saling mendahului menuju tiga Shahabat Rasulullah untuk menyampaikan kabar gembira ini. Mereka mengucapkan selamat atas mereka yang telah mendapatkan ampunan Allah. Rasulullah pun terlihat sangat bahagia sehingga muka beliau terlihat berseri-seri. Ka’ab radhiallahuanhu yang mendatangi Rasulullah setelah mendengar kabar itu di masjid mengatakan, ‘’Seakan wajah Beliau seperti rembulan.

    Itulah akhir dari ujian ini. Akhir yang sangat  mengharukan semua. Kejujuran mereka membuahkan ampunan dari Allah.

    Dari kisah Ka’ab bin Malik dan kedua Shahabat lainnya di atas terdapat banyak faedah penting. Imam an-Nawawi Rahimahullah menyebutkan tiga puluh tiga faedah dalam kitab Syarah Shahih Muslim, di antaranya adalah keutamaan kejujuran.

    Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam kitab asy-Syarhul Mumti’, mengatakan, ‘’Lihatlah ujian yang berakhir kebaikan ini! Semua ujian dari Allah apabila engkau menghadapinya dengan sabar maka akan berakhir dengan kebaikan. Setelah ujian ini, Allah menjadikan mereka sebagai qudwah (panutan) dalam kejujuran. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

    يأيها الذين ءامنوا آتقو الله وكونوا مع الصدقين

    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah dan jadilah kalian bersama orang-orang jujur”. (QS. At-Taubah/9: 119)

    Kejujuran dalam segala hal pasti membawa kebaikan, terlebih jujur dalam beragama. Ketiga Shahabat tadi terselamatkan dari siksaan Allah dan mendapatkan keutamaan yang senantiasa dibaca kaum Muslimin dala al-Qur’an karena kejujuran. Setelah mendapatkan ampunan dari Allah, Ka’ab bin Malik radhiallahu anhu mengatakan:

    يارسول الله إن الله إنما نجاني بالصدق وإن من توبتي أن لا أحدث إلا صدقا

    Artinya: “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya Allah tidak menyelamatkanku kecuali  dengan sebab kejujuran dan termasuk dari bagian taubatku adalah (aku berjanji) untuk tidak berbicara kecuali dengan jujur selama aku hidup”.[3]

    Maka marilah kita senantiasa jujur walaupun berat dan beresiko, karena kejujuran akan membawa kita ke surga dan akan mendapatkan ketenangan. Dan hendaknya kita berusaha maksimal menjauhi dusta walaupun kelihatannya akan membawa kebaikan dan kemudahan karena akhir dari kedustaan dan kebohongan adalah neraka. Wal iyadzubillah.

    Referensi:

    Dari majalah as-sunnah edisi 11/thn XVIII/Jumadil Awwal 1436H/Maret 2015M,

    Diringkas oleh: Lailatul Fadilah (Pengajar ponpes Darul Qur’an WalHadits Oku Timur)


    [1]  HR. Al Bukhari dan Muslim

    [2]  (HR. Al-Bukhari)

    [3]  HR. Al-Bukhari

    BACA JUGA :

  • Cinta dunia : Induk Segala Kesalahan Serta Perusak Agama

    Cinta dunia : Induk Segala Kesalahan Serta Perusak Agama

    Cinta dunia : Induk Segala Kesalahan Serta Perusak Agama – Ibnu Qayyim al-Jauziyah Rahimahullah mengatakan:  ’’Cinta terhadap dunia adalah induk segala kesalahan serta perusak agama. Hal ini dipandang dari beberapa sisi.

    Pertama, cinta dunia menurut sikap pengagungan atasnya, padahal dunia amat rendah di sisi Allah, dan termasuk dosa besar ialah mengagungkan sesuatu yang dihinakan oleh-Nya.

    Kedua, Allah melaknat dan membenci dunia, kecuali yang di manfaatkan demi meraih keridhaan-Nya. siapa pun yang mencintai apa yang dilaknat dan di benci Allah, itu berarti dia sudah mencampakkan diri sendiri untuk bersiap tertimpa fitnah dan kemurkaan-Nya

    Ketiga, apabila seseorang mencintai, dunia maka ia menjadikannya sebagai tujuan hidup . Berupaya meraih dunia itu dengan berbagai amal yang telah Allah jadikan sebagai sarana menunjuk kepada-Nya dan negeri akhirat. Sehingga urusan dan hikmah menjadi terbalik, lalu hati dan perjalanan hidupnya juga terbalik ke belakang.

    Maka dari sini ada sua poin: (1) menjadikan wasilah (sarana) sebagai ghayah (tujuan) , Serta (2) menjadikan amalan akhirat sebagai sarana meraih dunia.

    Ini yang merupakan keburukan dari segenap sisi. Serta akal yang sudah tertipu . keadaan mereka seperti yang disebutkan Allah dalam firman-Nya, Artinya: “barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan (juga) perhiasannya, pasti Kami berikan ( balasan) penuh atas pekerjaan mereka di dunia ( dengan sempurna) dan mereka di dunia tidak akan di rugikan. itulah orang-orang yang tidak (akan ) memperoleh (sesuatu) di akhirat kecuali Neraka, dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka kerjakan.’’ (QS. Hud/11: 15-16)

    Dan, firman Allah :

    مَّن كَانَ يرِيدُ ٱلعَاجِلَةَ عَجَّلنَا لَهُۥ فِيهَا مَا نَشَاۤءُ لِمَن نُّرِيدُ ثُمَّ جَعَلنَا لَهُۥ جَهَنَّمَ سيصلَاٰهَا مَذمُوما مَّدحُورا

    Artinya: ‘’Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami akan segerakan baginya di (dunia) ini apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki. Kemudian Kami sediakan baginya (diakhirat) Neraka Jahannam, dia (pun) akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.’’ (QS.Al-Isra’ 17: 18)

    Juga firman-Nya :

    قَالَ فَعَلتُهَاۤ إِذا وَأَنَا۠ مِنَ ٱلضَّاۤلِّينَ

    Artinya: ‘’Barangsiapa menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya dan barangsiapa menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya Sebagian darinya ( keuntungan dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat.’’ (QS. Asy-Syura/42: 20)

    demikianlah tiga ayat al-Qur’an  yang sebagiannya menyerupai Sebagian yang lain , dan menunjukkan pada suatu makna ; yaitu siapa pun yang dengan amalnya ada kehendak atas dunia dan perhiasannya, alih-alih dari dia mengharap Ridha Allah serta kehidupan akhirat , maka dia akan memperoleh bagian yang dikehendakinya dan tidak memperoleh bagian selainnya.

    Diantara hadist-hadist Rasulullah yang semakna serta menerangkan ayat-ayat tersebut adalah hadist Riwayat Abu Hurairah ‘’ihwal tiga golongan manusia yang pertama kali kelak disiksa dalam Neraka.

    Yang dimaksud ialah orang yang berjihad, orang yang bersedekah , serta orang yang suka membaca al-Qur’an pasalnya, dengan amal ibadahnya ini tujuan mereka hanya mendapat dunia dan perhiasannya. Hadist itu terdapat dalam kitab Shahih Muslim

    keempat, cinta dunia dapat menghalangi seseorang hamba untuk mengajarkan perbuatan-perbuatan yang bermanfaat baginya di akhirat . ini tidak lain disebabkan oleh kesibukan pribadi atas apa yang dicintainya itu.

    Dalam hal ini, ada beberapa tingkatan manusia :

    • Di antara mereka disibukkan oleh dunia yang amat dicintainya hingga berpaling dari keimanan kepada Allah dan syariat-syariat-Nya
    • Di antara mereka disibukkan oleh dunia yang amat dicintainya hingga terluput dari menunaikan segala kewajiban yang mesti dilaksanakan, baik  berkaitan dengan hak-hak Allah maupun hak-hak makhluk . sehingga , dia tidak sanggup melaksanakannya baik secara lahir ataupun batin.
    • Di antara mereka disibukkan oleh dunia yang amat dicintainya, sehingga terluput dari sebagian besar kewajiban yang mestinya dia laksanakan.
    • Di antara mereka disibukkan oleh dunia yang amat dicintainya hingga meninggalkan amal wajib, yang tidak gugur kewajibannya meski dia melaksanakan kewajiban selainnya.
    • Di antara mereka disibukkan oleh dunia yang amat dicintai hingga terluput dari kewajiban yang harus ditunaikan pada waktu tertentu. Dan akibatnya , dia melalaikan waktu serta hak-haknya.
    • Di antara mereka disibukkan oleh dunia yang amat dicintai sehingga terluput dari mengajarkan ibadah dengan segenap jiwa dalam amal-amal yang wajib , dan pengosongan hati hanya untuk Allah pada saat menjalankannya. Maka dia menjalankan kewajiban tersebut hanya secara lahir, tanpa ikatan batin.
    • Derajat cinta dunia yang paling rendah adalah saat rasa tersebut menyibukkan hamba dari kebahagiaan hakiki, yaitu mengosongkan hati untuk mencintai Allah, mendiamkan lisan agar rutin berzikir kepada-Nya , menyatukan hati dengan lisannya dan menyatukan lisan dan hatinya untuk beribadah kepada Dia semata. Hingga rasa rindu dan cintanya terhadap dunia ini akan membahayakan akhiratnya sebagaimana mencintai akhirat itu membahayakan urusan dunianya.

    Kelima, cinta dunia menjadikan sesuatu yang paling dicita-citakan oleh seorang hamba. Sedangkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah bersabda:

    من كانتِ الآخرةُ هَمَّهُ جعلَ اللَّهُ غناهُ في قلبِهِ وجمعَ لَه شملَهُ وأتتهُ الدُّنيا وَهيَ راغمةٌ، ومن كانتِ الدُّنيا همَّهُ جعلَ اللَّهُ فقرَهُ بينَ عينيهِ وفرَّقَ عليهِ شملَهُ، ولم يأتِهِ منَ الدُّنيا إلَّا ما قُدِّرَ لَهُ

    Artinya: ‘’Barang siapa menjadikan akhirat sebagai tujuannya, maka Allah akan menjadikan kekayaan dalam hatinya, Allah akan mengumpulkan kekuatannya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan tunduk dan hina. Dan barang siapa menjadikan dunia sebagai tujuannya, niscaya Allah akan menjadikan kemiskinan terpampang di hadapan matanya, dan Allah akan mencerai-beraikan kekuatannya, dan dia pun tidak akan memperoleh dunia kecuali apa-apa yang telah di tetapkan baginya.’’ (HR. Ahmad, dll)

    Keenam, orang yang mencintai dunia serta akan perhiasannya adalah yang paling tersiksa dengannya. Ya, dia tersiksa pada tiga alam kehidupan.

    Dia tersiksa di dunia sebab harus bersaing dengan sesama pencinta dunia dalam mencari perhiasannya.

    Di alam barzakh dia tersiksa lantaran hilangnya dunia dan penyesalan atasnya. Sementara harapan dia untuk berkumpul dengan yang dicintainya ini terputus selama-lamanya. Di ala mini dia tidak mendapat ganti dari apa yang dicintainya. Inilah manusia yang paling keras siksanya di kubur . Rasa gelisah , gundah gulana, sedih, juga penyesalan senantiasa menyiksa rohnya, seiring dengan cacing dan rayap tanah menyiksa jasadnya, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

    فَلَا تُعجِبكَ أَموَالُهُم وَلَاۤ أَولَـٰدُهُمۚ إِنَّمَا يرِيدُ ٱللَّهُ لِيعَذِّبَهُم بِهَا فِی ٱلحَيوٰةِ ٱلدُّنيا وَتَزهَقَ أَنفُسُهُم وَهُم كَـٰفِرُونَ

    Artinya: ‘’maka janganlah harta dan anak-anak mereka membuatmu kagum, sesungguhnya maksud Allah dengan itu adalah untuk menyiksa mereka dalam kehidupan dunia dan kelak akan mati dalam keadaan kafir.’’ (QS.At-Taubah/9: 55)

    Sebagian dari ulama’ salaf berkata;’’ Allah menyiksa mereka (para pencinta dunia) berkaitan dengan upaya mengumpulkan dunia. Nyawa-nyawa mereka terbang melayang dengan mencintainya, sementara mereka ini dalam keadaan kafir karena menahan hak Allah atas hamba karenanya.’’

    Ketujuh, seorang hamba yang mendamba dan mencintai dunia, serta lebih mementingkannya daripada akhirat, adalah makhluk terbodoh lagi terpendek akalnya.

    Sebab pencinta dunia itu mengutamakan sesuatu yang bersifat khayalan daripada suatu yang hakiki m mementingkan tidur daripada terjaga, mementingkan bayangan yang hilang daripada kenikmatan yang kekal , kehidupan yang fana daripada kehidupan yang abadi. Hingga dia menjual kehidupan yang berupa khayalan ataupun mimpi.

    Orang yang berakal tidak mungkin tertipu dengan hal semu seperti itu. Sebagaimana kisah seorang Badui yang singgah pada suatu kaum berikut.

    Kaum itu menghidangkan makanan untuk dirinya,  lalu dia makan kemudian dia berdiri menuju naungan sebuah tenda sampai tertidur . tidak lama kemudian , mereka melepas tenda tersebut hingga orang Badui itu terkena sinar matahari, dia pun terbangun seraya merayu:’’ kalau  seseorang menjadikan dunia sebagai puncak harapannya , sungguh dia sedang berpegang teguh dengan tali yang menipu.’’

    Sebagian ulama’ salaf ada yang melantunkan bait syair berikut:

    Duhai para pendamba kelezatan-kelezatan

    Sadarlah bahwa dunia tidaklah kekal

    Sungguh tertipu dengan naungan yang akan hilang

    Tak syak lagi ini merupakan kedungan

    Cinta Dunia : Sumber Dosa dan Maksiat

    penyakit cinta dunia ini adalah induk segala dosa, yang darinyalah lahir berbagai dosa dan maksiat . sudah tentu hal ini amat berbahaya bagi individu, umat, maupun masyarakat. Bahayanya seperti halnya racun, serta akibat-akibat buruk yang di timbulkan oleh kedua keburukan itu begitu dahsyat.

    Tidaklah ada seburuk-buruk penyakit dan bencana di dunia dan di akhirat melainkan faktor penyebabnya adalah perbuatan dosa dan maksiat.

    Dosa dan maksiat senantiasa akan menghancurkan bangunan umat di sepanjang zaman , sehingga berlaku padanya ketetapan Allah( yakni azab Ilahi)

    Allah berfirman:

    وَكَم أَهۡلَكنَا مِنَ ٱلقُرُونِ مِنۢ بَعدِ نُوحۗ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ بِذُنُوبِ عِبَادِهِۦ خَبِيرَۢا بَصِيرا

    Yang artinya: ‘’ dan berapa banyak kaum setelah Nuh, yang telah Kami binasakan. Dan cukuplah Rabbmu yang Maha Mengetahui, Maha Melihat dosa-dosa hamba-Nya.’’ (QS.Al-Isra’17; 17)

    Allah juga berfirman:

    كَذَلِكَ أَخذُ رَبِّكَ إِذَاۤ أَخَذَ ٱلقُرَىٰ وَهِیَ ظَـٰلِمَةٌۚ إِنَّ أَخذَهُۥۤ أَلِيم شَدِيدٌ

    Artinya: ‘’dan begitulah siksa Rabbmu apabila Dia ( mau) menyiksa (penduduk) negeri-negeri yang berbuat zalim. Sungguh ,siksa-Nya sangat pedih, sangat berat.’’ (QS. Hud/11: 102)

    Perhatikanlah umat-umat terdahulu, sejak zaman Nabi Nuh, hingga zaman kita sekarang , tiap kali suatu kaum berbuat kemaksiatan ,Allah memberikan tenggang waktu beberapa saat agar mereka bertaubat dan Kembali ke jalan yang benar. Bahkan meski mereka berbuat maksiat , kadang bisa saja Allah melimpahkan nikmat-Nya kepada mereka. Akan tetapi, itu hanyalah istidraj (penguluran waktu secara berangsur-angsur kea rah kebinasaan.

    Itulah istidraj, sebagaimana firman Allah:

    فَذَرنِی وَمَن يكَذِّبُ بِهَـٰذَا ٱلحَدِيثِۖ سَنَستَدرِجُهُم مِّن حَيثُ لَا يعلَمُونَ

    Artinya: ‘’nanti kami akan menarik mereka dengan (cara) berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui.’’ (QS. Al-Qalam/68: 44)

    Allah juga berfirman :

    فَلَمَّا نَسُوا۟ مَا ذُكِّرُوا۟ بِهِۦ فَتَحنَا عَلَيهِم أَبوَابَ كُلِّ شَیءٍ حَتَّىٰۤ إِذَا فَرِحُوا۟ بِمَاۤ أُوتُوۤا۟ أَخَذنَـٰهُم بَغتَة فَإِذَا هُم مُّبلِسُونَ

    Artinya: ‘’maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah di berikan kepada mereka , Kami pun membukakan pintu ( kesenangan ) untuk mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.’’ (QS. Al-An’am/6: 44)

    Mungkin cukup sekian artikel kali ini dan insya Allah akan kita lanjutkan pada artikel berikutnya insya Allah dan semoga artikel ini bermanfaat untuk kita semua

     

    REFERENSI:

    Ustadz Abu Ihsan Al-Atsari Dan Ummu Ihsan Al-Atsari/ Cinta Dunia: Induk Segala Kesalahan Dan Perusak Agama / Di Ringkas Dari Buku Terapi Penyakit Wahn (Cinta Dunia) /Anas Arlaya

     

    BACA JUGA :