Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Suami Istri dalam Rumah Mungil Penuh Bahagia (Bagian 2)

Suami Istri dalam Rumah Mungil Penuh Bahagia (Bagian 2)
Suami Istri dalam Rumah Mungil Penuh Bahagia (Bagian 2)

Segala puji bagi Allah Subhanahu Wata’ala, shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi Wasallam  yang tidak ada nabi sesudahnya, amma ba’du:

Diantara perkara penting adalah perhatian kepada keluarga muslim dari sisi pendidikan, tazkiyah (pembersihan pribadi dari keburukan), pembinaan, pelurusan, pembetulan, penyuluhan, peringatan, nasihat dan saran. Sebuah keluarga bisa bagaikan terhempas oleh badai yang merobohkan bangunannya dan meruntuhkan pilar-pilar, padahal penyebabnya terkadang sesuatu yang sepele dan tak berarti, tetapi setan dan bala tentara dari kalangan jin dan manusia berhasil memanfaatkannya, maka suami istri beranggapan bahwa perbaikan rumah tangga dan kembali ke relnya adalah sesuatu yang sulit, tidak ada pilihan terbaik selain apa yang dibisikkan oleh setan yaitu merobohkan bangunannya sekalian dengan talak.

Terkadang suami atau istrimu memiliki anak-anak dari selainmu (anak tiri), maka memuliakannya sama dengan memuliakan pasangan hidupmu, dan bisa menjadi sarana mendekatkan dirimu kepadanya dan menarik hatinya. Ia termasuk amal shalih yang seorang muslim berharap pahala dan kebaikannya dalam melakukannya di dalam hidup dan sesudahnya matinya.

Barang siapa memperlakukan anak-anak tirinya dengan buruk, berarti dia berbuat buruk terhadap dirinya, karena perlakuan buruk terhadap anak tiri mengurangi kadar kedudukan dirinya di hati pasangannya.

Dari al-Miswaar bin Makhramah Rhadiyallahu Anhu dia berkata, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:

“Sesungguhnya putriku, yakni Fatimah adalah darah dagingku; apa yang membuatnya gelisah membuatku gelisah, apa yang membuatnya tersakiti membuatku tersakiti.” (Shahih HR. Al Bukhari dan Muslim)

Dalam berumah tangga juga pengaruh baik kedekatan fisik, agar kedekatan fisik diantara suami istri bisa mengakibatkan pengaruh yang positif, maka hendaknya suami-istri memperhatikan kebersihan tubuhnya, sehingga tidak memunculkan bau tidak sedap yang mengganggu pasangan, juga tidak memakai pakaian kotor atau lalai memperhatikan penampilannya. Kedekatan fisik menuntut keduanya untuk menjaga kebersihan, aroma tubuh, dan penampilan yang baik.

Selain menjaga kedekatan fisik suami istri harus menjaga perkataan karena satu kata yang tak dipikirkan, bisa menggoreskan luka hati yang mendalam maksudnya kata-kata tajam yang isa melukai hati, yang merupakan  gambaran perasaan orang mengatakannya terhadap pihak yang dituju dengn perkataan itu, sehingga orang yang mendengarnya memahami bahwa orang yang berkata seperti itu, tidak menerimanya dan tidak menyukainya.

Sebagai contoh suami berkata kepada istri atau sebaliknya “Aku tidak mencintaimu”, atau sebaliknya “Seandainya duku aku menerima fulan, pasti hidupku bahagia saat ini”, atau “kamu tidak memiliki tempat di hati ku”, atau “Menikahimu adalah keputusan yang terburu-buru atau keliru”, atau “aku tidak sanggup hidup bersamamu”, atau “ Aku telah bersabar  menghadapimu dan tetap bersamamu hanya demi anak-anak”, dan kalimat-kalimat seperti itu itu, baik itu lebih ringan atau berat, akan meninggalkan pengaruh negatif dalam hati.

Kata-kata ini akan memberangus perasaan aman diantara suami-istri, mencabut apa yang tersisa dalam hati pasangannya karena biasanya kata-kata seperti itu tidak terucap dari jiwa  yang puas, akan tetapi keluar secara spontanitas karena luapan emosi atau reaksi dari tindakan yang muncul begitu saha tak terkendali. Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa “tidak ada yang lebih indah saat marah dari pada diam. Bila tidak ada pengakuan dengan maaf, maka hendaknya diskusi ditunda sampai kedua belah pihak mulai tennag, agar ucapan kita lebih bijak dan lebih masuk akal, dan terkadang keadaan menuntut kita segera meninggalkan tempat.”

Tips-tips mengatasi amarah:

  1. “Isti’adzah (memohon perlindungan) kepada Allah Subhanahu Wata’ala dari setan yang terkutuk.” (Shahih HR. Muslim)
  2. Diam “apabila salah seorang di antara kalian marah, maka hendaklah diam.” (Shahih HR. Ahmad dalam al-Musnad)
  1. Mengingat wasiat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasallam “jangan marah.” (Shahih HR . Al Bukhari)
  1. Menahan amarah “barang siapa menahan amarahny, niscaya Allah Subhanahu Wata’ala akan mempersilakannya memilih di antara para bidadari di hadapan semua makhluk pada hari kiamat.” (Shahih HR Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad)
  1. Mengetahui bahwa menahan amarah termasuk sifat orang-orang yang bertakwa dan berbuat baik. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِين لَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Artinya: “Disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah Subhanahu Wata’ala  menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” ( QS. Ali Imran:133-134)

  1. Ketika marah hendaklah mengalihkan perhatiannya dengan melakukan shalat, karena marah adalah andil dan kesempatan bagi setan untuk berdiam diri (menggoda manusia)
  2. Menolak amarah adalah sifat kesempurnaan.
  3. Menahan amarah karena Allah Subhanahu Wata’ala adalah suatu yang dicintai oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasallam.

Setiap manusia, seshalih dan sebaik apapun dirinya pasti memiliki kekurangan. Inilah ciri khas anak cucu Adam Alaihi Salam, karena kesempurnaan itu milik Allah Subhanahu Wata’ala semata. Begitu pula anak cucu Adam Alaihi Salam, laki-laki maupun wanita, seburuk apapun akhlaknya tetap memiliki suatu sifat yang baik.

Pernahkah kita berpikir suatu hari, untuk mencari sifat baik pada pasangan hidup kita, lalu kita menyanjungnya karena sifat baik tersebut lalu memotivasi pemiliknya dan berusaha menuai kadar sifat baiktersebut pada dirinya?

Sikap seperti ini mendorong pasangan kita untuk mempertahankannya dan termotivasi untuk meningkatkan sifat mulia lainnya serta membersikan jiwanya dari yang berlawanan dengannya

Hendaklah masing-masing dari kita duduk sejenak saat hati kita ridha terhadap pasangan hidupnya, lalu mengambil sebuah pena dan secarik kertas kemudian mencatat sifat-sifat positif pasangannya lalu meletakkannya di tempat yang dekat di mana dia bisa menjangkaunya saat memerlukannya. Kemudian apabila perselisihan atau percecokkan di antara mereka berdua dia bisa mengambil kertas itu lalu menulis sifat negatif dihalaman yang ia tulis sewaktu ridha kepadanya. Niscaya akan dikejutkan oleh kenyataan bahwa sifat-sifat positif ternyata jauh lebih banyak daripada sifat negatif. Lalu mengapa kita melarutkan kesalahan-kesalahannya dalam lautan kebaikkan?

Surat-surat tertulis di antara suami-istri termasuk sarana merekatkan hati mereka berdua, juga mengungkapkan cinta si pengirim kepada penerima, serta kebahagiaannya mengikat tali cinta dengannya. Sebagaimana surat-surat juga ini bisa menyebabkan dimakluminya kekurangan-kekurangan dan dilupakan  kealpaan dan keteledoran. Masing-masing suami-istri menulisnya dengan kata-kata indah yang mengungkapkan apa yang ada dalam hati mereka. Termasuk sarana memakai kecanggihan media sosial Via Whatshap. Bila suami istri bisa membuat kejutan  kepada yang lain melalui surat cinta dalam bentuk background pada wallpaper yang biasa dilihat di layar handphone.

Disisi lain saat suami atau istri pulang kerja biasanya lelah tidak berkenan mendengar permintaan ataupun tuntutan apa pun. Seblaiknya menunggu kata-kata yang dapat menghilangkan ebban dan lelah pekerjaan. Karena itu hendaklah suami-istri menghindari mencela, menyalahkan dan menuntut pada seperti ini. Sebuah penelitian yang dilakukan disalah satu negara teluk menyatakan bahwa kebanyakan jatuhnya talak adalah waktu selepas zhuhur sepulang dari kerja.

Dan anda wahai suami! Bila istrimu bekerja, anda patut mempertimbangkan jiwanya yang sesudah bekerja, sebagaimana ia juga patut dilakukan oleh istri kepada suaminya. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَلَهُنَّ مِثْلُ ٱلَّذِى عَلَيْهِنَّ

Artinya: “Dan para istri mempunyai hak yang seimbang  dengan kewajibanya”. (QS. Al – Baqarah 228)

Demikian artikel ini ditulis semoga bermanfaat dan nasehat yang bisa kita ambil adalah menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing dari pasangan kita. Dan hendaknya memasang wajah ceria ketika bertemu pada pasangan kita serta tidak menganggab pasangan kita itu beban hidup. Semoga kita semua bisa mengatasi amarah ketika emosi melanda diri kita. Amiin ya rabbal Alamin.

 

Referensi :

Suami Istri dalam Rumah Mungil penuh Bahagia, Abdurrahman bin Abdullah al-Qar’awi April 2018

Diringkas Oleh: M. Furqon (Koki Ponpes Darul Qur’an Wal Hadits OKU Timur)

 

Baca juga:

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.