Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Suami Istri dalam Rumah Mungil Penuh Bahagia (Bagian 1)

Suami Istri dalam Rumah Mungil Penuh Bahagia (Bagian 1)
Suami Istri dalam Rumah Mungil Penuh Bahagia (Bagian 1)

Segala puji bagi Allah Subhanahu Wata’ala Tuhan semesta alam, shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada nabi Muhammad Shalalahu ‘Alaihi Wasallam, penghulu orang-orang dahulu dan orang-orang yang datang kemudian, juga kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau. Amma ba’du:

Menikah adalah angan-angan dan mimpi setiap muda mudi, dan bila ia telah terwujud bagi mereka bedua, maka harapan mereka selanjutnya mahligai kebahagian sebagai suami istri. Hal itu karena dasar setiap rumah tangga adalah agar ia dibangun diatas cinta dan kasih sayang, dan anda benar-benar akan prihatin  manakala melihat sebuah rumah tangga yang kehilangan sesuatu dari dua pilar ini atau salah satu dari keduanya dan anda berharap seandainya kebahagiaan itu bisa dibeli, niscaya anda akan membelinya dengan apa yang anda miliki dan menghadiahkannya kepada rumah tangga itu.

Seperti firman Allah Subhanahu Wata’ala:

وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

 Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (QS. Ar-Rum:21)

Ada Apa Dengan Rumah Mungil?

Banyak yang beranggapan bahwa kebahagiaan hanya digapai oleh orang-orang yang hidup makmur, bergelimbang kemewahan  dan memiliki rumah dan real etalase megah. Tetapi saya tetap berkeyakinan bahwa orang-orang yang bersahaja dan orang-orang yang hidup sederhana dan cukup adalah orang-orang yang paling berbahagia. Karena itu, dan karena alasan lain yaitu harapan dan optimisme akan rumah surga, negeri kebahagiaan sejati nan abadi.

Setiap orang yang akan memasuki gerbang pernikahan harus menyadari bahwa merupakan suatu yang alamiah dan lumrah yaitu adanya perselisihan diantara suamiistri  dalam batas-batas yang logis. Tidak ada rumah tangga  yang bebas dari yang seperti ini., bahkan rumah Nabi Muhammad Shalalahu ‘Alaihi Wasallam  sendiri. Nabi Shalalahu ‘Alaihi Wasallam  pernah marah kepada para istri beliau bahkan memisahkan diri dari mereka selama satu bulan, termasuk diantara mereka ada Aisyah Rhadiyallahu Anha istri beliau yang paling dicintai.

Perselisihan dalam rumah tangga adalah garam bagi hubungan suami istri, sehingga bila tidak ada, maka kehidupan suami istri kehilangan rasa dan hambar, sebagaimana bila ia terlalu banyak akan merusak rumah tangga. Bangunan kehidupan suami istri itu harus dibangun atas dasar menjaga hak dan kewajiban. Kebahagiaan akan tergerus manakala masing-masing dari suami-istri hanya menuntut  hak-hak semata tetapi manakala keduanya memandang hidup berumah tangga itu bahwa ia juga merupakan kewajiban-kewajiban  yang harus ditunaikan kemudian dia menantikan pihak lain menunaikan hak-hak baginya, maka suami istri telah menempuh jalan pintas untuk mewujudkan kebahagiaan rumah tangga. Hendaknya suami istri mencari kewajiban kepada pasangan kita dan menunaikannya sesuai kadar kemampuan, karena Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

Artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. (Al-Baqarah:286)

Hidup yang hanya terbangun di atas dasar hak dan kewajiban saja, adalah kehidupan yang gersang, didalamnya tidak ada nuansa keindahan hidup dan tidak ada pancaran kesejukan. Siapa yang menginginkan kebahagiaan, maka hendaklah memegang kendali untuk segera memulai, tanpa harus menunggu dari pihak lain, karena setan kadang berbisik kepada salah seorang dari kita bahwa dirinyalah yang siap melakukan perbaikan, tetapi pihak lain tidak siap, sehingga dengan perasaan seperti itu setan menghalanginya untuk bersegera melakukan perbaikan, sehingga setan akan menari di atas penderitannya.

Suami istri harus menerima kodrat pasangan masing-masing maksudnya adalah suami harus memperlakukan istrinya sebagai seorang wanita, dan seorang istri harus memperlakukan suaminya sebagai seorang laki-laki, dengan memperhatikan sisi-sisi perbedaan kebutuhan, baik jasmani maupun rohani diantara kedua belah pihak. Hal itu dikarenakan banyak problem rumah tangga muncul karena kelalaian terhadap perkara ini. Seorang istri memperlakukan suaminya seolah-olah dia adalah salah seorang teman wanitanya, lalu suami juga demikian.

Suami seharusnya menerima istrinya tetap sebagai seorang wanita dengan tetap memperhatikan tabiat dan kecendrungannya begitu pula istri harus menerima tetap sebagai seorang lai-laki  yang menyukai dan cenderung kepada hal-hal yang disukai laki-laki pada umumnya.

Didalam rumah tangga harus ada komunikasi yang baik dan saling berterus terang, tetapi pasti ada perselisihan dan terjadinya problem diantara suami-istri adalah sesuatu yang alamiah, yang kadang muncul  sebagai konsekuensi logis dari hidup berbaur satu sama lain, dan ketergantungan masing-masing dari keduanya kepada pasangan hidupnya dalam banyak urusan hidup. Oleh karena itu komunikasi yang baik adalah patokannya. Bila suami-istri menyadari saling berterus terang yang seimbang bisa menghilangkan amarah dalam dada dan menghapus celaan dalam jiwa serta menguatkan ikatan hubungan diantara keduanya sehingga mereka menjadi siap menerimanya, bahkan berbahagia karenanya dan menjadikannya sebagai anak tangga untuk mendaki, mencapai puncak kebahagiaan.

Salah bisa terjadi pada siapapun, namun masalahnya adalah saat suami atau istri tahu dirinya salah tetapi ngotot mempertahankan kesalahannya dan menolak mengakuinya dengan alasan bahwa mengaku bersalah dihadapan pasangan akan membuat pasangan lancang terhadapnya dan membuat kehormatannya jatuh, inilah asumsi yang keliru yang dihiasi oleh setan. Maka dari itu Suami-istri harus membiasakan untuk mengatakan “Maaf”, Aku yang salah. Dan suami istri harus memaafkan tujuannya untuk mencapai rumah tangga yang bahagia dengan saling memaafkan.

Hubungan yang akrab diantara suami-istri dan hidup dalam satu atap dalam waktu yang panjang akan mengungkap rahasia-rahasia dan keistimewaan yang ada diantara mereka berdua yang tidak terjadi terhadap orang lain. Karena itu mereka berdua wajib menjaganya dan tidak menyebarkannya dan bila kepercayaan diantara  suami-istri sudah runtuh maka itu memberitahukan akan kehancuran rumah tangga. Yang paling banyak harus diwaspadai oleh suami-istri  adalah membuka rahasia saat keduanya menghadapi masalah tertentu harus benar-benar waspada dan hati-hati. Diantara rahasia kehidupan suami-istri adalah keadaan ekonomi suami tidak rela dibuka kepada siapapun dalam keadaan kaya atau miskin.

Suami mempunyai prioritas dan keinginan yang privat begitu juga istri. Dan bisa jadi memang ada perhatian dan keinginan masing-masing, yang tidak menyentuh atau tidak berkaitan dengan yang lain secara langsung. Akan tetapi seharusnya adalah masing-masing suami-istri ikut menceburkan diri bersama pasangannya maksudnya disini yaitu segala permasalahan keluarga, dimana masing-masing mengikutsertakan pasangannya dan bergandengan  bersama menghadapinya dan tentu selama itu tidak membuatnya sempit atau menjerumuskannya kedalam suatu dosa.  Itu karena pekerjaan atau keinginan pasangan adalah bagian dari dirinya. Keterlibatan kita didalamnya akan semakin menambah kedekatan kita kepadanya dan akan membuatnya merasa adanya perhatian kita terhadap segala sesuatu yang dia inginkan dan usaha kita dalam melakukan apa yang menyenangkan dan membahagiakannya.

Apa yang menghalangimu wahai suami untuk melibatkan diri dalam membantu istri menata isi ruangan? Atau membagi urusan pekerjaan dengannya? Demikian juga engkau wahai istri, itu adalah suatu hal yang indah bila engkau ikut serta memikirkan pekerjaan suami dan membantu menyelesaikannya. Seandainya suamimu seorang guru, misalnya, kamu bisa membantunya mengetik soal-soal latihan (untuk siswa) di perangkat komputer sebagai pengganti suamimu yang melakukannya sendiri.

Pentingnya hubungan yang baik suami dengan keluarganya dan juga istri dengan keluarganya merupakan perkara yang sangat jelas sehingga tidak perlu diingatkan dan diserukan. Syariat sendiri menetapkannya dan seorang muslim patut membantu orang lain dalam hal ini. Dia akan berdosa  bila mengajak sebaliknya lalu bagaimana bila dia adalah suami atau istri. Dorongannya kepada silaturahim termasuk dari cinta dan perhatiannya.

Termasuk perhatian suami atau istri adalah perhatian keluarganya. Perasaan suami bahwa istrinya memperhatikan keluarganya, menanyakan keadaan mereka, melakukan kunjungan kepada mereka dan berusaha untuk dekat dengan mereka menunjukkan secara tidak langsung kepada cinta yang ada dalam hatinya yang menjadikannya menyambung kerabatannya. Ini meningkatkan posisi istri disisi suami dan cinta kepadanya. Istripun akan demikian manakala dia melihat suaminya melakukannya.

Suami-istri kadang melewati saat-saat dan hari-hari yang penuh kegembiraan dan kemesraan  dan kadang juga ada waktu yang dilalui dengan kesedihan dan kepedihan. Yang sedang berbahagia menanti orang yang mengucapkan selamat kepadanya, sementara yang bersedih menunggu siapa yang menghiburnya.  Dan orang yang pertama yang dinantikan ikut serta (dalam suka duka) adalah suami atau istri, karena hal itu merupakan bukti nyata adanya kesetiaan dan cinta yang jujur. Dan secara otomatis tidak hanya reaksi seperti berpura-pura tidak tahu atau tidak peduli, yang dapat menyebabkan saling menjauhinya dan timbul hati dan perasaan bosan.

Disini ada perkara penting yang patut dicermati yaitu bahwa salah satu dari suami-istri terkadang mengalami sesuatu bahwa satu dari suami-istri terkadang mengalami sesuatu yang dia lihat merupakan kebahagiaan dan kegembiraan atau sebaliknya musibah yang menyedihkan, tetapi pasangannya tidak memiliki pandangan yang sama. Sebagai contoh, istri menangis manakala mendengar ucapan seorang temannya yang dianggap penghinaan baginya, sementara suami melihat bahwa ucapan tersebut tidak perlu ditangisi. Dalam kondisi seperti ini  suami hendaknya berempati terhadap perasaan istri dalam batas yang bisa diterima akal, sehingga bisa mengurai kemelut masalah bukan malah membesar-besarkan dan memperuncingnya, karena empati suami merupakan hiburan kepada istri dan membantunya untuk melewati masalah yang dihadapinya.

Demikian artikel ini ditulis, semoga bisa bermanfaat bagi penulis sendiri dan para pembaca secara umum, serta menambah wawasan kita dalam membangun berumah tangga yang bahagia walapun dalam hidup penuh kesederhaan. Semoga Allah Subhanahu Wata’ala jadikan tulisan singkat ini dapat menjadi penolong di akhirat kelak. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

 

REFERENSI:

Diringkas dari :Suami Istri dalam Rumah Mungil penuh Bahagia, Abdurrahman bin Abdullah al-Qar’awi April 2018

Diringkas Oleh: M.furqon (Koki Ponpes Darul Qur’an Wal Hadits OKU Timur)

 

Baca juga:

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.