Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Hakikat Cinta Nabi Antara Sunnah dan Bid’ah

CINTA ANTARA SUNNAH DAM BIDAH

HAKIKAT CINTA NABI ANTARA SUNNAH DAN BID’AH

Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwasanya tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali hanya Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah sepakat tentang wajib nya mencintai dan mengagungkan Nabi Muhammad melebihi kecintaan dan pengagungan terhadap seluruh makhluk Allah. Akan tetapi dalam mencintai dan mengagungkan beliau tidak boleh melebihi apa yang telah ditentukan syari’at, karena bersikap ghuluw (berlebih-lebihan)dalam seluruh perkara agama akan menyebabkan kebinasaan.

Tidak boleh seseorang melakukan perbuatan atau ibadah yang Nabi tidak contohkan, apalagi mengatakan bahwa perbuatan itu termasuk”Cinta” kepada Nabi??! Karena hakikat cinta kepada Nabi adalah dengan ittiba‘ bukan dengan berbuat bid’ah.

Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan ibadah yang paling mulia, sedangkan dalam beribadah kepada Allah tidak boleh seorang muslim melakukan perbuatan bid’ah kok makan abi tuh dilarang dalam agama.

Bentuk-bentuk Penyimpangan dari Ittiba’ kepada Rasulullah

  1. Perbuatan syirik

Penyimpangan terbesar dari perintah Ittiba’ kepada Rasulullah adalah perbuatan syirik, yaitu menyekutukan Allah Ta’ala dengan sesuatu.Padahal,tidaklah Rasulullah diutus oleh Allah melainkan untuk menyempurnakan tauhid dan menjauhkan syirik.

Saat ini, fenomena kesyirikan banyak merebak di tengah kaum Muslimin. Diantaranya adalah semakin banyaknya kubur-kubur yang dibangun dan disembah, serta semakin banyak pengunjungnya. Dan yang menganjurkan untuk ziarah dan menyembah kubur-kubur tersebut adalah para da’i, ustadz, dan kyai. Padahal ini merupakan perbuatan syirik akbar, sejelek-jelek bid’ah, dan  bentuk penyelisihan yang paling besar terhadap petunjuk Rasulullah. Diantara peziarah kubur tersebut ada yang sujud, thawaf, Istighosah, meminta syafa’at, dan memohon segala macam permintaan kepada penghuni kubur, terlebih lagi di bulan Rabi’ul Awwal, Rajab, dan Sya’ban. Perbuatan ini jelas merupakan syirik yang paling besar dan bentuk penentangan kepada Allah dan Rasulnya, wal ‘iyyadzu billaah. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

ولا تدع من دون الله مالا ينفعك ولا يضرك، فإن فعلت فإنك إذا من الظالمين.

Artinya: “Dan engkau jangan menyembah sesuatu yang tidak memberi manfaat, dan tidak pula memberi bencana kepadamu selain Allah, sebab jika engkau melakukan yang demikian, maka sesungguhnya engkau termasuk orang-orang dzalim.” (QS. Yunus: 106)

  1. Amalan-amalan Bid’ah

Bentuk-bentuk lain dari penyimpangan atas ittiba’ kepada Rasulullah dan bukan merupakan bentuk cinta kepada beliau adalah berbagai macam perbuatan bid’ah.

  1. Peringatan “Maulid Nabi”

Diantara bid’ah yang banyak dilakukan oleh kaum Muslimin adalah perayaan Maulid Nabi di bulan Rabi’ul Awwal, dan sedikit sekali para da’i yang memperingatkan ummat dari penyimpangan ini. Apabila mereka yang mengadakan perayaan ini mengatakan bahwa perayaan Maulid Nabi merupakan syi’ar Islam, maka apakah hal ini pernah dilaksanakan oleh Nabi, ataukah tidak? Pernahkah beliau mencontohkan nya atau tidak? Demikian juga, apakah peringatan Maulid Nabi itu pernah dilakukan para Sahabat ataukah tidak?

  1. Mengamalkan Shalawat-shalawat Bid’ah

Yang perlu diperhatikan adalah tidak boleh seseorang membuat shalawat-shalawat tertentu yang tidak dicontohkan oleh Nabi. Dan tidak dibenarkan mengkhususkan waktu dan cara tertentu dalam bershalawat dan memuji beliau kecuali berdasarkan Dalil dari AlQuran dan As-Sunnah.

Para ulama Ahlus Sunnah telah banyak meriwayatkan lafazh- lafazh shalawat yang shahih, sebagaimana yang telah diajarkan oleh Nabi kepada para Sahabatnya. Sebab bershalawat adalah ibadah, dan ibadah harus berdasarkan ittiba‘ (meneladani) Nabi.

  1. Berlebihan dalam Memuji Nabi

Ghuluww artinya melampaui batas. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

{لا تغلوا في دينكم}

Artinya: “Janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu” (QS. An-Nisaa’: 171)

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

إياكم والغلو في الدين، فإنما أهلك من كان قبلكم الغلو في الدين.

Artinya: “Jauhkanlah diri kalian dari ghuluw (berlebih-lebihan)  dalam agama, karena sesungguhnya sikap ghuluw ini telah membinasakan orang-orang sebelum kalian. ” (HR. Ahmad, Nasa’i, Ibnu Majah)

Salah satu sebab yang membuat seseorang menjadi kufur adalah sikap ghuluw dalam beragama, baik kepada orang shalih atau dianggap wali, maupun ghuluw kepada kuburan para wali, hingga mereka minta dan berdo’a kepadanya padahal ini adalah perbuatan syirik akbar.

Dan yang dimaksud dengan ghuluw dalam hak Nabi adalah melampaui batas dalam menyanjungnya, sehingga mengangkatnya di atas derajatnya sebagai hamba dan Rasul (utusan) Allah, menisbatkan kepadanya sebagian dari sifat-sifat Ilahiyyah. Hal itu misalnya dengan memohon dan meminta pertolongan kepada beliau, tawassul dengan beliau, atau tawassul dan kedudukan dan kehormatan beliau, bersumpah dengan nama beliau, sebagai bentuk ‘ubudiyyah kepada selain Allah, perbuatan ini adalah syirik.

  1. Mengamalkan hadits-hadits lemah dan palsu

Rasulullah mengancam orang-orang yang berdusta atas nama beliau. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار.

Artinya: “Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah dia menemui tempat tinggal nya di Neraka.” (Muttafaqun Alaih)

Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam juga bersabda,

من حدث عني بحديث يرى أنه كذب فهو أحد الكاذبين.

Artinya: “Barangsiapa menceritakan hadits dariku dan hadits tersebut diketahui dusta, maka ia adalah salah satu dari pendusta. ” (HR. Muslim)

Imam an-Nawawi Rahimahullah berkata: “Haram hukumnya meriwayatkan hadits maudhu‘ (palsu)  bagi orang yang telah mengetahui atau menurut persangkaan kuatnya bahwa derajat hadits tersebut adalah maudhu‘,  Maka barangsiapa meriwayatkan hadits yang ia yakin atau berprasangka kuat bahwa derajatnya adalah maudhu‘, namun ia tidak menjelaskan derajatnya, maka ia termasuk dalam ancaman hadits ini.”

Kepada kaum Muslimin – khususnya kepada para da’i dan para ustadz – tidak boleh membawakan hadits-hadits lemah dan palsu, karena hebatnya akan menimbulkan fitnah dan diancam masuk neraka titik hakikat cinta kepada Nabi Muhammad, yaitu dengan kita mempelajari tentang hadits-hadits beliau dan musthalahnya, kemudian membaca kitab-kitab Hadits yang Shahih, lalu mengamalkan, serta mendakwahkannya. Dan jangan membawakan hadits-hadits lemah dan palsu. Para da’i harus belajar ilmu musthalah hadits, yaitu mempelajari ilmu riwayat dan ilmu diraayah. Ilmu riwaayatul hadiits, yaitu ilmu tentang meriwayatkan sabda-sabda Nabi, perbuatan-perbuatan beliau, taqriir (persetujuan), dan sifat-sifat beliau. Adapun ilmu diraayah hadits, yaitu ilmu yang membicarakan tentang qawaa’id (kaidah-kaidah) yang dengannya dapat diketahui sah atau tidaknya suatu hadits tersebut, yang orang sandarkan kepada Nabi. Ilmu diraayah hadiits membahas tiga prinsip yang ada pada hadits, yaitu sanad, matan, dan rawi. Wallahul a’lam.

REFERENSI:

Diringkas oleh: Eva Purnama Sari

Judul               : Hakikat Cinta Nabi Antara Sunnah Dan Bid’ah

Judul Buku.   : Konsekuensi Cinta Kepada Nabi Muhammad

Edisi               : Edisi ke-9, Rabiul Awwal 1439 H/ Desember 2017, Pustaka At-Taqwa.

Karya             : Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Baca juga artikel:

Kunci-kunci Kebahagian dan Keselamatan

Apakah kita Sudah Berakhlak Mulia?

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.