Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

BUKTIKAN CINTAMU

Buktikan Cintamu
Buktikan cintamu

Cinta seseorang kepada orang lain belum dianggap kalau tidak ada bukti. Cinta yang diucap bisa saja hanya klaim dan pengakuan sepihak.

Pun dengan pernyataan cinta kepada Rasulullah, panutan dan Nabi tercinta kita. Bisa saja sebagian kita mengklaim sangat mencintai beliau. Namun terkadang statemen tersebut sanagat jauh dari kenyataan bak api jauh dari pangganganya.

Mencintai Rasulullah memang perlu bukti nyata dari kaumnya. Nah, apa saja yang menjadi standar orang dikatakan mencintai Rasulullah?, jangan sampai kita mengaku cinta, namun Rasulullah justru menolak kalim kita!

MENGIKUTI SUNNAH DAN KUKUH DENGANNYA

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

قل إن كنتم تحبون االله فاتبعوني يحببكم الله ويغفر لكم ذنوبكم والله غفور رحيم

Artinya: “Katakanlah, jika engkau benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa kalian, dan Allah Maha pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Ali-Imran: 31)

Ayat yang mulia ini menjadi hakim bagi orang yang mengklaim cinta kepada Allah, yaitu harus mencintai Nabi. Tidak mungkin seseorang mencintai Nabi jika ia tidak kenal dengan sunnah-sunnahnya, tidak kenal dengan kehidupan beliau dan semua yang berkaitan dengan beliau.

Dan mencintai Nabi pasti identik dengan mengikuti beliau dalam setiap kehidupanya.

BANYAK  MENYEBUT  NAMANYA

Ibnu Qoyyim mengatakan ”Seseorang ketika memperbanyak menyebutorang yang diucintai dan meresapinya sampai hatinya akan menambah rasa cinta kepada orang yang dicintainya dan semakin merindukanya. Bahkan rasa itu akan mengungkung hatinya. Namun ketika ia tidak menyebut namanya bahkan berpaling maka rasa cintanya akan berkurang bahkan tidak ada lagi gambarkan tentang orang yang dicintainya dan hatinya tidak lagi  mengakui cinta kepadanya.

Jika rasa cinta di hati kuat maka lisanya akan sering menyebut namanya dengan sebutan yang baik dan akan selalu menyebutkan kebaikanya dan sebaliknya. Maka bertambah dan berkuranglah penyebutan dilisan selaras dengan rasa cinta dan benci dihatinya. ( Jilaaul Afham ).

Mendahulukan Dan Mengutamakan Nabi

Karena Rasulullah adalah hamba pilihan Allah, sesuai dengan sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam:

إن الله اصطفى كنانة من ولد إسماعيل واصطفى قريشا من كنانة واصطفى من قريش بنى هاشم واصطفانى من بنى هاشم

Artinya: “Sesungguhnya Allah telah memilih kinanah yang terbaik dari keturunan ismail. Lalu Allah pilih Quraisy yang terbaik dari kinanah. Allah pun memilih Bani Hasyim yang terbaik dari Quraiy. Lalu Allah pilih aku sebagai yang terbaik dari Bani Hasyim. “ (HR. Muslim)

Di antara bentuk mendahulukan dan mengutamakan Nabi adalah lebih mengutamakan dari pada pendapat siapapun didunia ini. Imam As-Syafe’i menjelasakan,” Kaum Muslimin telah sepakat bahwa siapa saja yang telas jelas baginya ajaran Rasulullah, Maka tidak halal baginya untuk meninggalkan karena perkataan yang lainya.

Membenarkan Semua Yang Di Sampaikan Nabi

Termasuk prinsip keimanan adalah mengimani kemaksuman nabi dari dusta atau buhtan (fitnah) dan membenarkan semua yang dikabarkan beliau tentang perkara yang telah berlalu, sekarang, dan akan datang. Karena Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

والنجم  إذا هوى ما ضل صاحبكم وما غوى وما ينطق عن الهوى إن هو إلا وحي يوحى

Artinya: “Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu tidaklah sesat dan tidaklah keliru. DAn tiadalah yang diucapkanya itu Al-Qur’an menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapanya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (QS. An-Najm : 1-4 ).

Beradab Kepada Nabi

Diantara bentuk adab kepada nabi adalah memuji beliau dengan pujian yang layak baginya. Pujian yang paling mendalam ialah pujian yang diberikan oleh Rabb-nya dan puijian beliau terhadap dirinya sendiri, dan yang paling utama adalah shalawat dan salam kepada beliau. Nabi bersabda, yang artinya: “Orangyang bakhil { pelit } adalah orang yang apabila namaku disebut disisinya, dia tidak bersholawat kepadaku. (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Membela Rasulullah

Membela dan menolong Rasulullah adalah salah satu tanda kecintaan dan pengagungan. Allah berfirman: “Bagi orang kafir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka karena mencari karunia dari Allah dan keridhaannya dan mereka menolong Allah dan Rasulnya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hasr: 8)

Contoh pembelaan terhadap Nabi seperti diceritakan dalam kisah berikut. Ketika umat Islam mengalami kekalahan Anas bin Nadr pada perang uhud mengatakan , “ ya Allah, aku memohon ampun kepadamu terhadap perbuatan para shahabat dan aku berlepas diri darimu dari perbuatan kaum musrik. Kemudia dia maju lalu sa’ad menemuinya. Anas lalu berkata, “Wahai Sa’ad bin Muadz,Surga. Demi Rabbnya Nadr, sesungguhnya aku mencium bau surga dari uhud. “Wahai Rasulullah, aku tidak mampu berbuat sebagaimana yang diperbuatnya. “ujar sa’ad, Anas bin Malik berkata, kemudian kami dapati padanya 87 sabetan pedang, tikaman tombak, atau lemparan panah. Kami mendapatinya telah gugur dan kaum musyrikin telah mencincang –cincangnya. Tidak ada seorangpun yang mengenalinya kecuali saudara perempuannya yang mengenalinya dari jari telunjuknya. (HR. Bukhari dan Muslim).

Bela Sunnah Nabi

Membela ajaran beliau bisa dengan memelihara dan menyebarkanya,menjaganya dari penyimpangan dan kerusakan. Rasulullah telah mendoakan keceriaan wajah bagi siapa yang membela janji sunnah dengan sabdanya.

Artinya: “Semoga Allah memberikan kenikmatan pada seseorang yang mendengar sabda kami lalu ia menyampaikan sebagaimana ia mendengarnya. Betapa banyak orang yang diberi berita lebih paham dari pada orng yang mendengar. (Shahih, HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan Ahmad)

Menyebarkan Ajaran Nabi

Diantara kesempurnaan cinta dan pengagungan kepada Nabi ialah berkeinginan kuat untuk menyebarkan ajaran Sunnahnya. Nabi bersabda:

Artinya: “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat. (Shahih, HR. Bukhari)

Tentu ajaran Nabi adalah yang sampai kepada kita dengan dalil yang shahih, bukan ajaran rekayasa.

Semoga kita semua termasuk orang yang benar dalam mencintai Nabi, bukan hanya ucapan dan klaim semata. Jika kita cinta, buktikan cinta itu.

 

REFERENSI:

Karangan : Syaihk Abdur Razzak bin Abdul Muhsin Al-Badr

Di Ringkas : Abdul Hadi Abah Hizam

Di Ambil Dari : Majalah El-Fata #04/vol/17

 

Baca juga :

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.