WASIAT PERPISAHAN

wasiat perpisahan

Oleh : Fauzan Alexander

MUQADDIMAH

Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan kejelekan amalan-amalan kami, barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah ‘Azza wa jalla. Semoga shalawat dan salam tetap tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada keluarga, para Shahabat beliau, dan orang-orang yang mengikuti mereka hingga hari Akhir.

Alhamdulillah, dalam rangka memenuhi salah satu poin dari tata tertib pegawai Darul-Qur’an wal-Hadits yaitu berupa pembuatan artikel karya ilmiyah, maka saya (penyusun) memilih dan merangkum pembahasan yang diambil dari sumber buku cetak dengan judul Wasiat Perpisahan Karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Semoga saya (penyusun) dan kita semua dapat megambil ilmu dan hikmah dari pembahasan tersebut.

Pembahasan yang diangkat oleh penulis merupakan dari penjelasan Hadits yang terdapat di dalam kitab al-Arba’iin an-Nawawiyyah, hadits no.28. Hadits ini mencakup wasiat-wasiat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada para Sahabatnya dan kepada seluruh kaum Muslimin sesudahnya. Terhimpun di dalamnya wasiat untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala, mendengar dan taat kepada ulil amri, berpegang teguh kepada Sunnah, dan sejumlah faedah dan manfaat yang banyak dari hadits yang mulia ini.

PEMBAHASAN

Teks Hadits :

عَنْ أَبِي نَجِيْحٍ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَاريةَ رَضي الله عنه قَالَ : وَعَظَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ الله عليه وسلم مَوْعِظَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوْبُ، وَذَرِفَتْ مِنْهَا الْعُيُوْنُ، فَقُلْنَا : يَا رَسُوْلَ اللهِ، كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ، فَأَوْصِنَا، قَالَ : أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ   عَبْدٌ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفاً كًثِيْراً. فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ   وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

[رَوَاه داود والترمذي وقال : حديث حسن صحيح]

Terjemah Hadits :

Dari Abu Najih Al Irbadh bin Sariah radhiallahuanhu dia berkata : Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam memberikan kami nasehat yang membuat hati kami bergetar dan air mata kami bercucuran. Maka kami berkata : Ya Rasulullah, seakan-akan ini merupakan nasehat perpisahan, maka berilah kami wasiat. Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Saya wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah ta’ala, tunduk dan patuh kepada pemimpin kalian meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Karena di antara kalian yang hidup (setelah ini) akan menyaksikan banyaknya perselisihan. Hendaklah kalian berpegang teguh terhadap ajaranku dan ajaran Khulafaurrasyidin yang mendapatkan petunjuk, gigitlah (genggamlah dengan kuat) dengan geraham. Hendaklah kalian menghindari perkara yang diada-adakan, karena semua perkara bid’ah adalah sesat “ (Riwayat Abu Daud dan Turmuzi, dia berkata : hasan shahih).

Sumber Teks dan Terjemah Hadits : https://haditsarbain.wordpress.com/2007/06/09/hadits-28-berpegang-teguh-kepada-sunnah/

FIQIH HADITS :

Pertama : Disyariatkannya Memberikan Nasehat

Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa salam memberikan nasihat kepada para Sahabatnya, kemudian seorang sahabat mengatakan, “Wahai Rasulullah, nasihat ini seakan-akan nasihat dari orang yang akan berpisah, maka berilah kami wasiat.’

Menunjukkan bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa salam amat serius dalam nasehat tersebut dan tidak seserius itu pada nasehat yang lainnya. Oleh karena itu, para Shahabat paham bahwa nasehat tersebut adalah nasehat orang yang akan berpisah, karena orang yang akan berpisah dapat mempunyai pengaruh dalam perkataan dan perbuatan yang tidak bisa dikerjakan orang lain. Karenanya, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa salam memerintahkan seseorang shalat seperti shalatnya orang yang akan berpisah, ia akan mengerjakannya sesempurna mungkin. Lihat Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam (II/114).

Orang yang memberikan nasehat harus memiliki ilmu dan adab-adab yang harus diperhatikan, diantara adab-adab memberikan nasehat yang dijelaskan oleh para ulama ialah harus ikhlas, lemah lembut, dan sabar, serta memberikan nasehat dengan cara yang baik, tidak didepan khalayak ramai.

Kedua : Keutamaan Salafus Shalih

Perkataan al-’Irbadh bin Sariyah radhiyallaahu ‘anhu,

“lalu Beliau memberikan nasehat kepada kami dengan nasehat yang membekas pada jiwa, yang menjadikan air mata berlinang dan membuat hati menjadi takut.”

Di dalamnya terdapat isyarat tentang baiknya keadan para Shahabat, bersihnya jiwa-jiwa mereka, selamatnya hati-hati mereka, mereka mengambil pelajaran dari sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa salam, rasa takut mereka tatkala mendengar firman Rabb-nya, dan ini adalah merupakan tanda keimanan dan kebaikan. Menangis dan rasa takut hati ketika mendengar peringatan dari firman Allah Ta’ala dan sabda Rasul-Nya adalah dua sifat kaum Mukminin yang dipuji oleh Allah Ta’ala.

Sedangkan orang yang menangis karena takut kepada Allah Ta’ala maka matanya itu tidak akan disentuh api Neraka. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua mata yang tidak akan di sentuh oleh api Neraka: mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang begadang untuk berjaga di jalan Allah.”5

Maksud dari dua mata yang begadang untuk berjaga di jalan Allah ialah ketika berjuang di jalan Allah melawan musuh, ia senantiasa berjaga-jaga di perbatasan karena khawatir kaum Muslimin diserang oleh musuh.

Oleh karena itu, wajib mencintai para Shahabat radhiallaahu ‘anhum, memuliakan mereka, memohonkan ampunan dan keridhaan Allah untuk mereka, dan mengikuti teladan mereka. Mereka adalah pendahulu ummat ini yagn telah menyampaikan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya kepada kita.

Ketiga : Bertakwalah kepada Allah Ta’ala

أُوْ صِيْكُمْ بِتَقْوَ ى اللهِ ...

“Aku wasiatkan kalian agar bertakwa kepada Allah…”

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepada para Shahabat agar mereka senantiasa bertakwa kepada Allah Ta’ala. Wasiat dengan takwa adalah wasiat yang paling mulia, wasiat yang menjamin kebahagiaan di dunia dan di akhirat bagi orang yang berpegang teguh kepadanya. Dan wasiat takwa merupakan wasiat Allah Ta’ala kepada manusia generasi pertama dan akhir.

Takwa yang dimaksud menurut penjelasan para ulama bukan sekedar melaksanakan perintah dan menjauhi larangan, namun harus dirinci lagi. Perintah paling besar dalam syari’at adalah mentauhidkan Allah Ta’ala dan larangan yang terbesar adalah menjauhi syirik. Oleh karena itu, banyak disebutkan kata takwa dalam khutbah-khutbah Jum’at, yaitu khatib mengatakan, “Aku wasiatkan diri saya dan kalian agar bertakwa kepada Allah Ta’ala,” tetapi dalam isi khutbah tersebut tidak dijelaskan dan diingatkan makna takwa yang sebenarnya.\

Thalq bin Habib rahimullah berkata menjelaskan difinisi takwa,

“Takwa ialah engkau melaksanakan ketaatan kepada Allah dengan cahaya dari Allah karena mengharap ganjaran dari Allah, dan engkau meninggalkan perbuatan maksiat kepada Allah dengan cahaya dari Allah karena takut terhadap adzab Allah.”

Inti takwa adalah seorang hamba meletakkan pelindung diantara dirinya dengan sesuatu yang ia takutkan dan khawatirkan. Jadi, takwa seseorang kepada Rabb-nya ialah ia meletakkan antara dirinya dengan apa yang ia takutkan kepada Rabb-nya, yaitu kemarahan dan hukuman-Nya, sebuah pelindung yang melindunginya dari itu semua. Pelindung tersebut adalah mengerjakan ketaatan dan menjauhi maksiat.

Diantara pesan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada kita semua ialah agar selalu bertakwa dimanapun kita berada. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“bertakwalah kepada Allah dimanapun engkau berada, dan iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya ia akan menghapuskannya, serta pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.”

Hadits hasan : diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 1987), Ahmad (V/153, 158, 177, 236) dan ad-Darimi (II/323) dari Shahabat Abu Dzarr radhiallaahu ‘anhu. Diriwayatkan juga oleh ath-Thabrani dalam Mu’adz bin Jabar radhiallaahu’anhu.

Keempat : Mendengar dan Taat kepada Ulil Amri

Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa silulallam,

وَ السَّمْعِ وَالطَّا عَةِ …

“Mendengar dan taat…”

Maksudnya, mendengar dan taat kepada ulil amri dari kalangan kaum Muslimin. Mendengar apabila mereka berbicara dan mentaati apabila mereka memerintahkan sesuatu.

Allah Ta’ala berwasiat kepada kaum Muslimin agar mereka mentaati Allah, Rasul-Nya, dan ulil amri dari kalangan kaum Muslimin.

Kita diperintahkan untuk taat kepada mereka dalam hal yang ma’ruf. Bila mereka menyuruh melakukan perbuatan dosa dan maksiat, maka kita tidak boleh taat. Namun kita tetap mentaati mereka dalam perkara yang ma’ruf lainnya. Karena tidak ada ketaatan dalam rangkat bermaksiat kepada Allah Ta’ala.

Dengan mentaati ulil amri dalam perkara yang ma’ruf maka akan tercipta rasa aman. Namun apabila ulil amri tidak didengar dan tidak ditaati perintahnya, maka akan timbullah perpecahan, kekacauan, pertumpahan darah, dan sebagainya. Oleh karena itu, kita diperintahkan untuk tetap mendengar dan taat kepada ulil amri.

Diantara prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah wajibnya taat kepada pemimpin kaum Muslimin selama mereka tidak memerintahkan untuk berbuat kemaksiyatan, meskipun mereka berbuat zhalim. Karena mentaati mereka termasuk dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala, dan ketaatan kepada Allah adalah wajib.

Kelima : Terjadinya Perpecahan dan Perselisihan ditengah Kaum Muslimin.

Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam,

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اجْتِلَافًا كَثِيْرًا …

“Sungguh, orang yang masih hidup diantara kalian sepeninggalku, maka ia akan melihat perselisihan yang banyak…”

Ini adalah kabar dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengenai apa yang akan terjadi pada ummatnya sepeninggal beliau berupa banyaknya perselisihan, baik dalam pokok agama maupun cabangnya, dan di dalam perkataan, perbuatan, dan keyakinan. Dan ini sesuai dengan apa yang diriwayatkan dari beliau bahwa ummatnya akan terpecah menjadi 73 golongan, seluruhnya berada di Neraka, kecuali satu golongan yaitu golongan yang mengikuti Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabatnya.

Keenam : Jalan Selamat Dari Perpecahan Dan Perselisihan Adalah Dengan Berpegang Kepada Al-Qur-An Dan Sunnah Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam Menurut Pemahaman Salafus Shalih

Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam,

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّيْنَ الرَّاشِدِيْنَ …

“maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafa-ur Rasyidin yang mendapat petunjuk…”

Sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam di atas terdapat perintah untuk berpegang teguh dengan Sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan Sunnah Khulafa-ur Rasyidin sepeninggal beliau. Sunnah adalah jalan yang dilakukan termasuk di dalamnya berpegang teguh kepada keyakinan-keyakinan, perkataan-perkataan, dan perbuatan-perbuatan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para Khulafa-ur Rasyidin. Itulah Sunnah yang paripurna. Oleh karena itu, generasi Salaf dahulu tidak menamakan Sunnah, kecuali kepada apa saja yang mencakup ketiga aspek tersebut. Hal ini diriwayatkan dari al-Hasan, al-Auza’i, dan Fudhail bin ‘Iyadh.

Ketujuh : Jauhilah Perbuatan Bid’ah!

Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam,

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ لْأُمُوْرِفَإِ نَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ …

“Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru (dalam agama), karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid’ah…”

Yang dimaksud disini adalah perkara-perkara baru yang diada-adakan dalam urusan agama, bukan dalam urusan dunia. Sebab, perkara-perkara baru yang diada-adakan dalam urusan dunia ada yang bermanfaat dan itu merupakan kebaikan dan ada pula yang berbahaya dan itu merupakan keburukan. Sedangkan perkara-perkara baru yang diada-adakan dalam agama adalah buruk.

Kedelapan : Setiap Bid’ah adalah Sesat

Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam,

وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.

“Dan setiap bid’ah adalah sesat.”

Sabda beliau diatas termasuk dari Jawami’ul Kalim beliau dimana tidak ada sesuatu pun yang keluar darinya, dan merupakan kaidah agung dalam prinsip-prinsip agama.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda dengan Bahasa Arab yang fasih dan difahami oleh para Shahabat. Maksud dari setiap bid’ah itu sesat berarti semua bid’ah. Tidak ada makna setiap bid’ah itu berarti sebagian bid’ah. Sebagian sesat dan sebagian tidak.

Kesembilan : Setiap Kesesatan Tempatnya di Neraka

وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ .

“Dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.”

Yang harus dipastikan mengenai hadits ini bahwa kita tidak boleh memastikan orang yang berbuat bid’ah dan maksiyat itu tempatnya di Neraka. Kita tidak punya hak sama sekali. Sebagaimana kita juga tidak boleh memastikan orang yang berbuat ketaatan kepada Allah, tempatnya di Surga. Kecuali orang-orang yang telah ditentukan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Kesepuluh : Fawaa-id (Pelajaran dari Hadits ini)

  1. Disyari’atkan memberikan nasehat. Akan tetapi, hendaknya dilakukan pada tempatnya dan jangan terlalu sering agar tidak membosankan.
  2. Nasehat atau wasiat perpisahan biasanya menyentuh hati.
  3. Nasehat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam semuanya bermanfaat dan menyentuh hati para sahabat.
  4. Boleh bagi seseorang untuk meminta nasehat dari orang alim (ulama), dan dalam hal ini apabila ada sebabnya, yakni seseorang membutuhkan nasehat.
  5. Wasiat yang paling baik adalah wasiat takwa kepada Allah Ta’ala.
  6. Seseorang akan mencapai takwa kepada Allah Ta’ala apabila ia menuntut ilmu syar’i, mengamalkannya, dan mentauhidkan Allah ‘Azza wa Jalla dan menjauhkan syirik.
  7. Takwa adalah melaksanakan perintah Allah dan menjauhkan larangan-Nya. Perintah paling besar adalah mentauhidkan Allah dan larangan yang terbesar adalah syirik.
  8. Takwa mempunyai keutamaan yang sangat banyak.
  9. Wajib mendengar dan taat kepada ulil amri (penguasa) dari kaum Muslimin dalam hal yang ma’ruf.
  10. Tidak boleh taat kepada ulil amri dalam hal maksiyat.
  11. Perintah taat kepada ulil amri meskipun seorang hamba, menunjukkan pentingnya taat kepada ulil amri.
  12. Diantara mukjizat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengabarkan akan terjadinya perpecahan dan perselisihan di tengah-tengah kaum Muslimin.
  13. Jalan selamat dari perpecahan dan perselisihan adalah berpegang kepada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam serta memahaminya sebagaimana yang difahami oleh para Shahabatnya ridhwanullaah ‘alaihim ajma’in.
  14. Keutamaan Khulafa-ur Rasyidin.
  15. Kutamaan para Shahabat radhiyallaahu ‘anhum, karena meraka adalah orang-orang yang berserah diri kepada Allah dan Rasul-Nya.
  16. Baiknya hati para Shahabat radhiyallaahu ‘anhum, karena mereka takut kepada Allah Ta’ala
  17. Wajib atas setiap Muslim mempelajari Sunnah Nabi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
  18. Kita wajib mengikuti Sunnah Nabi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan sunnahnya Khulafa-ur Rasyidin serta berpegang teguh dengan keduanya.
  19. Kita wajib waspada dan hati-hati kepada setiap perkara yang baru yang tidak ada asalnya dari Nabi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
  20. Setiap perkara yang baru yang diada-adakan dalam agama adalah bid’ah.
  21. Semua bid’ah adalah sesat, tidak ada bid’ah hasanah dalam Islam dan tidak ada juga pembagian bid’ah menjadi lima (hasanah, mubah, makruh, haram dan wajib). Yang mengatakan semua bid’ah sesat adalah Rasulullah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Beliau adalah orang yang paling tahu tentang Islam, paling fasih berbahasa Arab, dan paling jujur.
  22. Semua kesesatan tempatnya di Neraka.
  23. Menjelaskan bahawa bid’ah kepdaa ummat tidak termasuk memecah belah kaum Muslimin, namun termasuk dalam kategori amar ma’ruf nahi munkar.
  24. Tidak boleh memastikan para pelaku bid’ah dengan masuk Neraka karena kita tidak tahu akhir kehidupannya bisa jadi ia bertaubat dari perbuatan bid’ahnya tersebut.
  25. Bid’ah merusak hati, akal, dan agama.

 

Wallaahu a’lam.

 

Dinukil dari Buku : Wasiat Perpisahan
karya                     : Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawwas.
Cetakan                 : ke-4 (empat).
Penerbit                 : Pustaka At-Taqwa.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*