WANITA MENGHADAPI KEHAMILAN

KEHAMILAN

 

Memiliki keturunan yang baik merupakan karunia yang dinanti setiap wanita.  Di mana ia menjadi seorang ibu dari penerus cita-cita dan harapan.  Ia memiliki ladang pahala yang senantiasa mengalir walaupun sudah terputus kemampuan menambah pahala dengan tangannya. Itulah karunia yang sangat besar bagi seorang muslimah yang beriman kepada Allah dan Rosul-Nya

  1. Anjuran Rosululloh untuk memperbanyak keturunan

Suatu ketika, seseorang datang kepada Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,  dan berkata: “Saya mendapatkan seorang wanita yang kayadan cantik. Akan tetapi dia tidak melahirkan (mandul). Apakah saya nikahi? (Beliau) menjawab:“Tidak.” Kemudian ada orang kedua mendatangi beliau, kemudian beliau melarangnya. Kemudian datang orang ketiga, maka beliau bersabda:

تَزَوَّجُوْا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ فَإِنِّيْ مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Nikahilah perempuan yang penuh kasih dan subur, sesungguhnya aku akan berbangga dengan banyaknya jumlah kalian dihadapan ummat lain pada hari kiamat.” (HR. Ibnu Hibban, Ahmad dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Pada hadits di atas Nabi kita berbangga dengan jumlah umatnya yang banyak, tidakkah kita ingin berperan dalam kebanggaan beliau?  Bukankah kita ingin dicintai Allah azza wa jalla tidakkah kita mencintai Allah azza wa jalla dan kita menginginkan cinta kita tidak bertepuk sebelah tangan?  Jika memang demikian, mari kita implementasikan ayat berikut:

“Katakanlah (wahai Muhammad): jika kalian mencintai Allah , maka ikutilah aku (Nabi Muhammad ), maka Alloh  akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Pengasih.” (QS. Ali-Imron: 31)

Anjuran Rosululloh  untuk memperbanyak keturunan sangat jelas, maka sudah seharusnya kita sebagai umatnya mengikuti beliau  tanpa adanya keraguan lagi.  Bukankah Allah azza wa jalla berfirman:

وَمَاكَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَمُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللهُ وَرَسُولَهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةَ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً مُّبِينًا

Dan tidakkah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Alloh dan Rosul-Nya telah menetappkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Alloh dan Rosul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat dengan sesat yang nyata. (QS. Al-Ahzab: 36)

  1. Masa Kehamilan dan Melahirkan

Ketika memasuki masa-masa kehamilan, seorang ibu sungguh diuji dengan berbagai macam ujian.  Rasa sakit, letih, bahkan cemas akan kondisi janin yang berada dalam kandungannya menjadi menu kesehariannya. Berikut ini beberapa arahan dalam menghadapi kehamilan:

  1. Mendulang pahala dari rasa ketidaknyamanan selama kehamilan.

Sudah sewajarnya rasa tidaknyaman akan muncul ketika datang kehamilan, hal ini dikarenakan tubuh masih berusaha beradaptasi dengan adanya benda asing yang berupa janin.  Sebagai muslimah yang beriman kepada Nabi-nya niscaya akan bergembira dengan setiap musibah yang mendera, karena beliau mengabarkan bahwa setiap ketidaknyamanan yang menimpa seorang muslim akan menjadi pelebur dosa.  Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَا يُصِيْبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حَزَنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلاَّ كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah sesuatu yang menimpa seorang muslim berupa rasa letih, sakit, kegundahan, kesedihan, gangguan, kecemasan, hingga duri yang melukainya, kecuali Alloh   melebur dosa-dosanya karena sebab itu.”  (HR. Al-Bukhori)

Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لاَ يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِيْ جَسَدِهِ وَأَهْلِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَمَاعَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ

“Senantiasa cobaan menimpa mukmin dan mukminah baik pada badannya, keluarganya, hartanya, hingga ia menemui Alloh dalam keadaan tanpa dosa.” (HR. Al-Bukhori)

Bahkan apabila muslimah wafat ketika melahirkan, niscaya akan mendapatkan kemuliaan sebagai syahidah.  Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

وَالمَرْأَةُ تَمُوْتُ بِجُمْعٍ شَهِيْدَةٌ

“Dan wanita yang meninggal karena melahirkan itu syahidah.” (HR. Malik, Abu Dawud, dan An-Nasai dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani)

  1. Bersabar atas kondisi yang sedang dialami

Pada hadits diatas Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tidak mensyaratkan kesabaran untuk mendapatkan keutamaan diampuninya dosa dan kesalahan.  Sehingga tanpa disertai kesabaran saja, secara langsung Allah azza wa jalla  akan mengampuni dosa-dosanya.  Apalagi jika ketidaknyamanannya disertai dengan kesabaran, niscaya akan mendapatkan pahala yang sangat besar.

Diantara keutamaan orang yang bersabar adalah:

  1. Allah azza wa jalla bersama orang-orang yang sabar.

Allah azza wa jalla berfirman: “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar.” (QS. Al-Baqarah: 153 dan Al-Anfal: 46)

Allah juga berfirman: “Dan Allah bersama orang-orang yang bersabar.” (QS. Al-Baqarah: 249 dan Al-Anfal: 66)

  1. Sabar merupakan hiasan seorang mukmin dan mukminah.

Kesabaran merupakan sifat yang menjadikan Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  merasa kagum pada seorang muslim dan muslimah.  Rosululloh bersabda:

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Sangat mengagumkan keadaan seorang mukmin, sebab semua keadaannya baik. Dan hal itu tidak dimiliki oleh seorangpun kecuali oleh seorang mukmin. Jika mendapat nikmat, maka ia bersyukur, dan hal itu baik baginya. Dan jika tertimpa kesusahan, maka ia bersabar, dan hal itu baik baginya (HR Muslim)  

  1. Bersyukur atas karunia Allah azza wa jalla

Muslimah yang baik selalu mensyukuri nikmat yang Allah berikan kepadanya, mengakui segala kenikmatan itu hanya dari Allah azza wa jalla, bukan semata usahanya sendiri.  Lihatlah bagaimana balasan bagi yang mendustakan karunia Allah azza wa jalla, Qorun ditenggelamkan bersama hartanya yang melimpah karena enggan mengakui pemberian Allah azza wa jalla. Alloh mengatakan statemen Qorun atas hartanya dalam Al-Quran:

قَالَ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِندِي أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللهَ قَدْ أَهْلَكَ مِن قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرَ جَمْعًا وَلاَيُسْئَلُ عَن ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ

Qorun berkata:”Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Alloh sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu tentang dosa-dosa mereka. (QS. Al-Qoshosh: 78)

Pada ayat diatas Qorun merasa bahwa dialah sendiri yang mengusahakan adanya harta yang melimpah, maka Allah azza wa jalla binasakan dia bersama hartanya.

Muslimah yang baik ketika mendapat anugerah, semakin ia bersyukur kepada Alloh azza wa jalla mendekatkan diri kepada-Nya, semakin rajin ibadahnya.  Semakin ia mensyukuri nikmat Alloh azza wa jalla, maka Alloh azza wa jalla akan menambahkan kenikmatan kepadanya.

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), takala Robbmu mema’lumkan:”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrohim: 7)

  1. Menjadikan kehamilannya sebagai sarana tarbiyyah

Seorang Ibu yang menginginkan anak yang sholeh sholihah hendaknya mendidik dan mentarbiyah calon anaknya sejak masih dalam kandungan. Tidaklah yang dimakannya kecuali makanan yang halal lagi baik, tidaklah yang ia baca kecuali yang baik.  Itu semua akan berimbas kepada si buah hatinya kelak.  Ingatlah, ibu adalah tempat pendidikan pertama bagi sang anak.

Anak sholih dan sholihah harta tak ternilai, semoga kita mendapatkan karunia berharga tersebut. Mendidik anak sejak dini, persiapkan sejak sebelum kehamilan, pada masa kehamilan dan setelah kelahirannya merupakan ikhtiar kita mendapatkan yang terbaik. Wallohu a’lam bishowab.

Oleh: Ust. Arifin Saefulloh

Referensi : Majalah Lentera Qalbu

baca juga artikel :

Wanita Penghuni Surga

Apa Hukum Menginapnya Wanita Yang Bersafar Tanpa Mahram?

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.