UDZUR MENINGGALKAN SHOLAT BERJAMA’AH

Assalamu’alaikum Wa Rahmatullah Wa Barakatuh

Kaum Muslimin, saudaraku dan sahabatku yang semoga dirahmati oleh Allah سبحانه و تعالى, kalian sudah pasti tahu kan, bahwa sholat berjamaah adalah perkara yang diperintahkan oleh Allahسبحانه و تعالى, tentunya pasti kita akan dapati disana banyak faedah dan hikmah disyari’atkannya shalat berjama’ah. Akan tetapi, disini penulis tidak ingin membahas dulu apa faedah dan hikmah dari shalat berjama’ah, tema yang akan penulis ambil adalah udzur udzur apa atau bahasa lainnya alasan alasan apa yang diterima oleh syari’at untuk bisa meninggalkan shalat berjama’ah?

Sebelum masuk dalam inti pembahasan, perlu juga diketahui, bagaimana sih yang benar hukum shalat berjama’ah di masjid ? Fardhu ain atau sunnah,,,?

Dalam bab ini para ulama berselisih pendapat menjadi 4 kelompok

PERTAMA : pendapat yang menyatakan shalat berjama’ah adalah fardhu ain bagi setiap laki laki saja dan bukan untuk perempuan.

KEDUA : termasuk syarat sahnya shalat bagi laki laki saja dan bukan untuk perempuan

KETIGA : hukumnya fardhu kifayah bagi laki laki saja dan bukan untuk perempuan

KEEMPAT : hukumnya adalah sunnah muakkadah bagi laki laki.

Kenapa kok perempuan tidak kena hukum shalat berjama’ah di masjid?, jawabannya adalah Karena wanita itu shalatnya di rumah rumah mereka, bersamaan dengan itu mereka tetap dibolehkan shalat berjama’ah di masjid. Tapi ingat !Mereka harus menjaga dari menimbulkan fitnah fitnah, dan dengan menjalankan batasan batasan syar’i yang telah Allah سبحانه و تعالىtetapkan bagi mereka. Contohnya, seperti tidak boleh berdandan ala jahiliyah, berhijab dengan hijab syar’i, tidak memakai minyak wangi, menundukkan pandangan, dan menjaga dari berbaur dengan laki laki di luar shalat.

Bila sobat ditanya nih, apa dalilnya wanita tuh shalanya dirumah ?, nah jawabannya yaitu hadits Ibnu Umar رضي الله عنهما

حديث ابن عمر – رضي الله عنهما -، قال: قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: “لا تمنعوا نساءكم المساجد، وبيوتهن خير لهن”. أخرجه أبو داود،

beliau menuturkan, Rasulullah صلى الله عليه و سلمbersabda : “janganlah kalian melarang wanita wanita kalian ke masjid, dan bahkan rumah rumah mereka lebih baik bagi mereka”. HR Abu Daud.

Saudaraku dan sahabatku yang semoga dimuliakan oleh Allah سبحانه و تعالى, kita kembali kepermasalahan diatas. Bagi laki laki diperselisihkan hukumnya terkait shalat berjama’ah di masjid. Nah kita uraikan satu persatu dari keempat pendapat tersebut.

PENDAPAT PERTAMA :

Shalat berjama’ah di masjid hukumnya fardhu ain bagi setiap laki laki. Pendapat ini diambil oleh Imam Ahmad, Atho’, Abu Tsaur, Hasan Al Bashriy, Ishaq, Al Auza’i, Ats Tsauriy, Fudhoil Bin Iyadh, Al Bukhari, Dan Mayoritas Ahlu Hadits, Diantaranya Imam Ibnu Khuzaimah Dan Ibnu Mundzil. Pendapat Ini Telah Dikuatkan Oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Diantara dalil yang dipakai oleh pendapat ini yaitu :

عن أبي هريرةَ أنّ رسولَ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – قالَ:

“والذي نفْسي بيَدهِ، لقدْ هَممتُ أَن آمُرَ بحَطبٍ فيُحْطبَ، ثم آمُرَ بالصلاةِ

فيؤذَّنَ لها (وفي طريقٍ: فَتُقَامَ 3/ 91)، ثم آمُرَ رجلاً فيؤُمَّ الناسَ، ثم أُخالِفَ إلى [منازلِ] رجالٍ [لا يشهدون الصلاةَ]، فأُحرِّقَ عليهم بيوتَهُم، والذي نفْسي بيَدِه، لوْ يَعلَمُ أَحدُهم أَنه يجدُ عَرْقاً سميناً (7)، أوْ مَرْماتَيْنِ حَسَنَتَيْنِ لشهِد العِشاءَ”.

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda : “Dan demi dzat yang jiwaku ditangan Nya. Sunnguh aku telah bertekad memerintahkan untuk mengumpulkan kayu bakar, kemudian aku perintahkan orang lain untuk menegakkan shalat, kemudian orang lain diperintahkan untuk mengumandangkan adzan, dalam riwayat, iqomah, kemudian aku perintahkan seseorang untuk mengimami manusia, kemudian aku mundur dari jama’ah menuju ke rumah rumah yang tidak mengikuti shalat berjamaah, kemudian aku bakar rumah rumah mereka, dan demi dzat yang jiwaku di tangan Nya, kalau seandainya salah satu mereka mengetahui, bahwa akan mendapati daging lembut yang besar, atau daging antara kuku kambing yang bagus, maka akan mengikuti shalat ‘isya’”.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ أَعْمَى، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إِلَى الْمَسْجِدِ، فَسَأَلَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ، فَيُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ، فَرَخَّصَ لَهُ، فَلَمَّا وَلَّى، دَعَاهُ، فَقَالَ: «هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ؟» قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: «فَأَجِبْ»

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, berkata, datang seorang yang buta kepada Nabi صلى الله عليه وسلم, kemudian dia bertanya ; “Wahai Rasulullah !, sesungguhnya aku tidak memiliki orang yang bisa menuntunku untuk sampai ke masjid”. kemudian dia meminta kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلمagar memberi keringanan kepadanya, sehingga dia bisa shalat di rumahnya, dan Nabi memberi keringanan, ketika dia hendak berpaling, beliau memanggilnya, dan berkata : “Apakah engkau mendengar seruan untuk shalat ( adzan ) ? dia menjawab iya, maka Nabi mengatakan : Penuhilah panggilan itu.”

عَنِ ابْنِ أُمِّ مَكْتُومٍ، أَنَّهُ سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي رَجُلٌ ضَرِيرُ الْبَصَرِ شَاسِعُ الدَّارِ، وَلِي قَائِدٌ لَا يُلَائِمُنِي فَهَلْ لِي رُخْصَةٌ أَنْ أُصَلِّيَ فِي بَيْتِي؟، قَالَ: «هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ»، قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: «لَا أَجِدُ لَكَ رُخْصَةً»

Dari Ibnu Ummi Maktum رضي الله عنه, bahwa dia bertanya kepada Nabi صلى الله عليه وسلم, dia berkata : “Wahai Rasulullah ! sesungguhnya aku adalah seorang yang buta penglihatannya, yang jauh sekali rumahnya, dan aku punya penuntun yang tidak bagus menuntunku, apakah ada keringanan bagiku untuk shalat dirumah ku? Beliau menjawab : apakah engkau dengar seruan adzan? Dia menjawab iya, kemudian beliau berkata : aku tidak mendapati bagimu keringanan.”

عَنْ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: «مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللهَ غَدًا مُسْلِمًا، فَلْيُحَافِظْ عَلَى هَؤُلَاءِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ يُنَادَى بِهِنَّ، فَإِنَّ اللهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُنَنَ الْهُدَى، وَإِنَّهُنَّ مَنْ سُنَنَ الْهُدَى، وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ كَمَا يُصَلِّي هَذَا الْمُتَخَلِّفُ فِي بَيْتِهِ، لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ، وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ، وَمَا مِنْ رَجُلٍ يَتَطَهَّرُ فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ، ثُمَّ يَعْمِدُ إِلَى مَسْجِدٍ مِنْ هَذِهِ الْمَسَاجِدِ، إِلَّا كَتَبَ اللهُ لَهُ بِكُلِّ خَطْوَةٍ يَخْطُوهَا حَسَنَةً، وَيَرْفَعُهُ بِهَا دَرَجَةً، وَيَحُطُّ عَنْهُ بِهَا سَيِّئَةً، وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلَّا مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ، وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتَى بِهِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ»

Dari Abdillah Bin Mas’ud رضي الله عنه, Berkisah Bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلمbersabda : “ Barang siapa yang senang untuk berjumpa dengan allah esok hari dalam keadaan muslim, maka jagalah shalat shalat, kapanpun dia diseru untuk melaksanakannya, sesungguhnya allah mensyariatkan bagi nabu kalian sunah sunah pentunjuk kebenaran, dan shalat shalat itu adalah bagian dari sunah sunah petunjuk kebenaran, kalau seandainya kalian shalat di rumah rumah kalian sebagaimana shalatnya orang yang tertinggal di rumahnya maka kalian telah meninggalkan sunnah nabi kalian, bila kalian meninggalkan sunnah nabi kalian maka tersesatlah kalian, tidaklah seorang lelaki bersuci, terus memperbagus bersucinya, kemudian dia menyengaja untuk pergi ke masjid dari masjid masjid ini, melainkan allah akan menulis baginya dari setiap langkah satu kebaikan, dan dengannya allah mengangkat dia satu derajat, dan dengannya allah hapus darinya satu kesalahan, dan sungguh aku telah melihat diantara kita, tidaklah seseorang terlambat dari shalat jama’ah melainkan seorang munafik yang telah jelas kemunafikannya, dan sungguh seorang lelaki dibawa dengan dipapah antara dua orang sampai dia didirikan dibarisan sholat.”

Allah عز و جلtelah memerintahkan kita shalat berjama’ah sekalipun dalam keadaan perang dan rasa takut…

Allah عز و جل telah berfirman :

وَإِذا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلاةَ، فَلْتَقُمْ طائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ، فَإِذا سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِنْ وَرائِكُمْ. وَلْتَأْتِ طائِفَةٌ أُخْرى لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ. وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ

“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu], dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata.”

Pendapat pertama inilah pendapat yang benar, dari ulama mutaakhirin yang menguatkan pendapat ini diantaranya adalah Syaikh Ibnu Baz, Syaikh Ibnu Utsaimin, Syaikh Muqbil dan yang lainnya..

PENDAPAT KEDUA :

Ini adalah pendapat Dawud Adh Dhohiriy, Ibnu Hazm, Dan Sebagian Ulama Hanabilah, Mereka Berdalilkan Dengan Hadits Abu Hurairah رضي الله عنه:

لا صلاة لجار المسجد إلا في المسجد

“tidak sah sholatnya orang yang bertetangga dengan masjid kecuali di masjid”

Hadits Ini Dikeluarkan Oleh Imam Daruquthniy ( Hal 161 ), Albaihaqiy ( Jilid 3 Hal 57 ), Dan Alhakim ( 1 / 246 ), Dan Hadits Ini Dinyatakan Dhoif Oleh Al Baihaqiy, Dan Syaikh Al Albani Menyebutkan Bahwa Cacat Hadits Di Atas Ini Adalah Sulaiman Bin Daud Al Yamamiy, Dia Adalah Seorang Perowi Yang Lemah Sekali. Berkata Ibnu Ma’in : Dia Tidak Ada Apa Apanya, Berkata Albukhari : Dia Adalah Munkar Hadits, Berkata Adz Dzahabiy : Berkata Al Bukhari : Bila Aku Berkata Munkar Hadits Maka Engkau Tidak Halal Meriwayatkan Hadits Darinya.

Dan mereka juga berdalil dengan hadits Ibnu Abbas رضي الله عنهما:

“من سمع النداء فلم يأته , فلا صلاة له إلا من عذر “.

“Barang siapa yang mendengar panggilan kemudian tidak mendatanginya maka tidak ada shalat baginya kecuali ada udzur.”

Hadits Ini Diriwayatkan Oleh Ibnu Majah (793 ), Daruqutniy ( 1 / 420 ), Alhakim ( 1 / 245 ) Dan Ibnu Hibban ( 2064 ), Dari Jalur Thoriq Bin Husyaim Dari Syu’bah Dar ‘adiy Bin Tsabit Dan Sa’id Bin Jubair Dari Ibnu Abbas. Hadits Ini Dhohir Sanadnya Adalah Shahih, Akan Tetapi Mayoritas Sahabat Syu’bah Meriwayatkannya Secara Mauquf Sampai Ibnu Abbas Saja. Sehingga Yang Kuat Adalah Hadits Ini Mauquf, Sebagaimana Pendapat Imam Ahmad.

Jika boleh dikatakan bahwa hadits ini shahih marfu’ maka maknanya adalah peniadaan kesempurnaan, bukan peniadaan keabsahan, dalam rangka menggabungkan dengan nash yang lain,,,

Sehingga pemahamannya : menurut pendapat kedua ini, bila seseorang shalat wajib dirumah, maka shalatnya batal dan tidak sah dan berdosa. Akan tetapi meurut pendapat pertama, orang yang shalat wajib dirumah dia berdosa dosa besar, dan shalatnya sah, berdosa karena meninggalkan perintah kewajiban shalat berjama’ah di masjid, shalatnya teranggap, dan telah terlepas dari tanggung jawab, dan tentunya pahala dia sangat kurang.

PENDAPAT KETIGA :

Adalah pendapat ulama syafiiyah, ini penyandaran yang benar kepada madzhab syafiiyah, dan mayoritas murid murid IMAM ASY SYAFII, dan madzhab dari sebagian hanabilah, begitu juga sekelompok hanafi dan maliki, mereka berdalil, dengan hadits Abu Darda’رضي الله عنه:

«مَا مِنْ ثَلَاثَةٍ فِي قَرْيَةٍ وَلَا بَدْوٍ لَا تُقَامُ فِيهِمُ الصَّلَاةُ إِلَّا قَدِ اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَعَلَيْكَ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِيَةَ»

“Tidaklah berkumpul 3 orang dalam satu kampung, tidak pula dalam daerah pedalaman, tidak ditegakkan shalat berjamaah pada mereka, melainkan syaithon akan menguasai mereka, maka wajib atas kamu melazimi jama’ah, hanya saja serigala itu memangsa kawanan kambing yang jauh dari pengembalanya.”

Hadits ini dikeluarkan oleh abu daud ( 547 ) didalam sanadnya ada as saib ibnuhubais, dan dia lemah, sebagian ulama juga men shahihkan hadits ini, diantaranya syaikh al albani, walaupun demikian namun hadits ini bahkan menunjukkan fardhu ain, bukan fardhu kifayah. Berlandaskan dengan ucapan nabi “ maka wajib atas kamu melazimi jama’ah”. Beliau memakai dhomir mukhothob mufrad, dan kalimat ini bersifat khusus setelah datang kontes bersifat umum, pada awal hadits, tentunya yang umum dibawa ke yang khusus, hal ini menunjukkan bahwa perintah wajib tersebut adalah fardhu ain. Terlebih lagi bila digabungkan dengan hadits abdillah ibnu ummi maktum.

Sehingga hadits hadits yang menyatakan secara jelas akan wajib ain tidak boleh dibawa kepada makna wajib kifayah,.

PENDAPAT KEEMPAT :

Adalah pendapat Imam Malik, Abu Hanifah, dan satu pendapat yang datang periwayatannya dari sebagian madzhab syafiiyah, mereka berdalilkan dengan hadits Ibnu Umar رضي الله عنهما:

(صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ من صلاة الفذ بسبع وعشرين درجة)

“Shalat berjama’ah lebih utama dari pada shalat sendirian dilipatkan sampai 27 derajat”. Mutafaqun alaihi.

Adapaun riwayat Abu Hurairah رضي الله عنه yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari Muslim, dan Abu Sa’id Al Khudriy رضي الله عنه dikeluarkan oleh Imam Bukhari dengan lafadz : dilipatkan sampai 25 bagian atau derajat.

Hadits di atas, tidaklah menunjukkan hukum shalat berjamaah, hanya sebatas menunjukkan keutamaan dan pahala shalat berjamah, serta keabsahan shalat sendirian. Sehingga tidak bisa memalingkan nash nash yang menunjukkan wajib kepada makna sunnah muakkadah.

Dan mereka juga berdalil dengan Hadits Yazid Bin Al Aswad رضي الله عنه:

عَن يزِيد بن الْأسود قَالَ: شَهِدْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَجَّتَهُ فَصَلَّيْتُ مَعَهُ صَلَاةَ الصُّبْحِ فِي مَسْجِدِ الْخَيْفِ فَلَمَّا قَضَى صَلَاتَهُ وَانْحَرَفَ فَإِذَا هُوَ بِرَجُلَيْنِ فِي آخِرِ الْقَوْمِ لَمْ يُصَلِّيَا مَعَهُ قَالَ: «عَلَيَّ بِهِمَا» فَجِيءَ بِهِمَا تُرْعَدُ فَرَائِصُهُمَا فَقَالَ: «مَا مَنَعَكُمَا أَنْ تُصَلِّيَا مَعَنَا؟» . فَقَالَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا قَدْ صَلَّيْنَا فِي رِحَالِنَا. قَالَ: «فَلَا تَفْعَلَا إِذَا صَلَّيْتُمَا فِي رِحَالِكُمَا ثُمَّ أَتَيْتُمَا مَسْجِدَ جَمَاعَةٍ [ص:363]فَصَلِّيَا مَعَهُمْ فَإِنَّهَا لَكُمَا نَافِلَةٌ» . رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَأَبُو دَاوُدَ وَالنَّسَائِيُّ

Beliau berkisah : “aku turut ikut serta bersama Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَdi haji beliau, ketika itu aku shalat shubuh bersama beliau di masjid al khoif, ketika selesai shalat dan hendak berpaling, tiba tiba ada dua orang dibelakang kerumunan orang, yang tidak ikut serta shalat berjama’ah bersama beliau, belaiu bersabda : tolong datangkan untukku mereka berdua, kemudian mereka berdua dihadapkan kepada beliau dalam keadaan daging yang ada pada lambung atau tulang rusuk mereka bergemetaran karena rasa takut, beliau bersabda : apa yang menghalangi kalian tidak ikut shalat bersama kami,? Mereka menjawab : Wahai Rasulullah ! sesungguhnya kami sudah shalat di kemah kemah kami? Maka beliau bersabda : “jangan kalian perbuat lagi, bila kalian memang sudah shalat di kemah kemah kalian, kemudian kalian mendatangi masjid jamaah, maka shalatlah kalian bersama mereka, karena shalat bersama mereka bagi kalian adalah dinilai sebagai shalat sunnah.”

Telah Meriwayatkannya Tirmidziy Abu Daud, Dan Nasai

Hadits diatas adalah kisah orang tertentu yang masih mengandung beberapa penafsiran dan kemungkinan…diantaranya :

Pertama : kejadian tersebut adalah mereka dalam keadaan safar, kemungkinan mereka tidak tahu akan wajibnya shalat berjamaah sesama musafir. Yang mungkin mereka pahami, bahwa musafir boleh meninggalkan shalat berjamaah bersama orang muqim dan orang musafir yang bersama mereka.

Kedua : mungkin tempat kemah mereka jauh, dan mereka beranggapan kalau mereka berjalan menuju masjid nanti tidak akan bisa menjumpai shalat berjama’ah bersama nabi.

Dengan adanya kemungkinan kemungkinan ini maka, hadits ini tidak bisa menggeser nash akan wajidnya shalat berjamaah bagi setiap laki laki…

Saudaraku dan sahabatku yang semoga dirahmati oleh Allah عز و جل, setelah uraian singkat diatas, kita sudah dapat mengambil kesimpulan bahwa hukum shalat berjamaah di masjid, adalah fardhu ain bagi setiap laki laki, oleh karena itu kita tidak boleh meninggalkannya kecuali apabila terdapat udzur syari yang menghalangi kita mengikuti shalat berjamaah dimasjid.

Nah apa saja udzur syari yang dibolehkan meninggalkan shalat berjamaah, in syaa allah kita akan sambung pembahasannya di artikel mendatang…..

PENULIS : ABU ABDILLAH AHMAD

REFERENSI : FATHUL ALAM SYARAH BULUGHUL MARAM KARYA SYAIKH MUHAMMAD BIN HIZAM, MAKTABAH SYAMILAH FERSI ABU QORI,

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.