SYARAT TERKABULNYA DO’A

Do’a dan ta’awudz (mohon perlindungan) ibarat senjata. Kehebatan senjata bergantung kepada pemakainya, bukan hanya dari ketajamannya saja, apabila senjata telah sempurna tidak ada cacatnya, lengan yang menggunakannya kuat, dan penghalang tidak ada, niscaya dapat membinasakan musuh. Apabila kurang salah satu dari tiga perkara ini, maka pengaruhnya tidak akan ada.

Demikian pula dengan do’a, apabila isi do’a tidak baik, atau orang yang berdo’a tidak menggabungkan antara hati dan lisannya, atau adanya penghalang bagi terkabulnya do’a, maka do’a tidak akan berhasil.

Pelajarilah syarat-syarat berdo’a dan hal-hal yang menghalangi terkabulnya do’a, di dalam pembahasan berikut akan dijelaskan syarat-syarat berdo’a.

Syarat menurut istilah bahasa adalah tanda atau alamat. Menurut istilah hukum ialah sesuatu yang apabila tidak ada, hukum itu tidak ada, akan tetapi belum tentu adanya sesuatu itu menyebabkan adanya hukum atau tidak berdasarkan dzatnya.

Syarat-syarat terpenting bagi terkabulnya do’a ialah:

Pertama:
I K H L A S

Syarat yang pertama: Ikhlas yaitu membersihkan do’a dan amal dari segala yang mencampurinya dan menjadikannya hanya untuk Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya, tidak ada riya’, tidak pula berbangga diri, bukan mengharap materi yang bakal sirna dan bukan pula karena berpura-pura melainkan mengharap pahala dari Allah, dan takut kepada adzab-Nya serta mengharap keridhaan-Nya.

Sesungguhnya Allah telah memerintahkan ikhlas dalam al-Qur’an yaitu firman-Nya’’

قُلْ أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ وَأَقِيمُواْ وُجُوهَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ

“Katakanlah, “Rabbku menyuruh menjalankan keadilan.” Dan (Katakanlah), Luruskan muka (diri)mu di setiap sholat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan keta’atanmu kepadaNya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah) kamu akan kembali kepada-Nya.” (QS. al-A’raf/: 29).

فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya).” (QS. Ghafir/40: 14).

Kedua:
I T T I B A’

Syarat yang kedua: Mengikuti Rasulullah صلى الله عليه وسلم (di dalam tata cara berdo’a) dan ini adalah syarat diterimanya seluruh ibadah,sebagaimana firman Allah عزّوجلّ,

وَمَن يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ

“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.” (QS. Luqman/31: 22)

yang dimaksud islamul wajhi (menyerahkan diri ke hadirat Allah) ialah memurnikan niat, do’a dan perbuatan semata-mata untuk Allah. Ihsan dalam beribadah berarti mengikuti Rasulullahصلى الله عليه وسلم  dan sunnahnya.

Maka wajib atas setiap Muslim mengikuti Rasulullah صلى الله عليه وسلم dalam segala perbuatannya, sebagaimana firman Allah عزّوجلّ,

قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِن تَوَلَّوا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُم مَّا حُمِّلْتُمْ وَإِن تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

“Katakanlah, “Ta’atlah kepada Allah dan ta’atlah kepada Rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul hanyalah apa yang dibebankan kepadanya, kewajiban kamu adalah apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu ta’at kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tiada lain kewajiban rasul hanya menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (QS. an-Nur: 54).

Maka tidak diragukan lagi bahwa amal yang tidak sesuai dengan syariat Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم adalah amalan yang tidak sah (batal). Sesuai dengan hadits yang diriwayatkan dari Aisyah عزّوجلّ dari Nabi  صلى الله عليه وسلمbeliau bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat perkara yang baru dalam agama kami ini yang tidak bersumber darinya, maka perkara itu ditolak.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Dan dalam riwayat Imam Muslim yang berbunyi:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan amalan yang bukan dari perintah kami, maka amalnya ditolak. ” (HR. Muslim).

Ketiga:
YAKIN DITERIMA ALLAH

Syarat yang ketiga: Percaya dan yakin diterima Allah. Di   antara   syarat  yang   terpenting agar do’a diterima adalah percaya dengan Allah. Dan bahwa Allah Maha Kuasa, karena apabila Allah berkehendak, Allah berkata, “Jadi,” maka jadilah ia.

Firman Allah عزّوجلّ,

إِنَّمَا قَوْلُنَا لِشَيْءٍ إِذَا أَرَدْنَاهُ أَن نَّقُولَ لَهُ كُن فَيَكُونُ

“Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Kun (jadilah), maka jadilah ia.” (QS. an-Nahl/16: 40).

Dan firman Allah عزّوجلّ dalam hadits qudsi:

يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَأَخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيْدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِي فَأَعْطَيْتُ كُلُّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلَّا كَمَا يَنْقُصُ الْـمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ

“Wahai hambaku, seandainya semua makhluk mulai dari yang pertama sampai yang terakhir dari jenis manusia dan jin, semuanya berdiri di satu tempat yang tinggi lantas memohon kepada-Ku, lalu Aku berikan setiap orang akan perbuatannya maka tidaklah berkurang kekayaan-Ku karena memenuhi permintaan mereka itu melainkan ibarat air laut dimasukkan jarum ke dalamnya.” (HR. Muslim).

Seorang Muslim apabila mengetahui perkara yang disebutkan di atas, maka mestilah ia berdo’a kepada Allah dengan keyakinan yang tinggi akan terkabul permohonannya.

Abu Hurairah رضي الله عنه  meriwayatkan bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم  bersabda,

ادْعُوْا اللهَ وَأَنْتُمْ مُوْقِيْنُونَ بِالإِجَابَةِ

“Berdo’alah kepada Allah, dan kamu yakin akan terkabul do’amu tersebut .. ” (HR. at-Tirmidzi).

Oleh sebab itu, Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjelaskan, bahwa Allah mengabulkan do’a seorang                 Muslim yang cukup syarat, tata cara, dan menghindari segala yang menghalangi terkabulnya do’a. Beliau صلى الله عليه وسلم  bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدُعَاءٍ لَيْسَ فِيْهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلَّا آعْطَاهُ اللَّهُ بِـهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ

“Tidak ada seorang Muslim yang berdo’a memohon sesuatu kepada Allah, sedang dalam do’anya itu tidak memohon sesuatu yang mengandung dosa, atau memutuskan tali silaturrahim, melainkan Allah memberikanya salah satu dari tiga perkara..” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi dan dihasankan oleh Al-Albani).

Keempat:
K H U S Y U’

Syarat yang keempat: Menghadirkan hati sewaktu berdo’a dan khusyu’, mengharapkan ganjaran pahala dari Allah dan takut kepada adzab-Nya.

Allah عزّوجلّ memuji Nabi Zakaria    عليه السلام dan keluarganya.

Firman Allah عزّوجلّ,

وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَى رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْداً وَأَنتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ. فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَباً وَرَهَباً وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

“Dan (ingatlah kisah) Zakariya, tatkala ia menyeru Rabb-nya, “Ya Rabbku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik. Maka Kami memperkenankan do’anya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (QS. al-Anbiyaa’/21: 89-90)

Merupakan keharusan bagi seorang Muslim di dalam berdo’a untuk menghadirkan hatinya, dan ini merupakan syarat terpenting terkabulnya do’a sebagaimana pendapat Imam Ibnu Rajab  رحمه الله. Dalam Musnad Imam at-Tirmidzi, Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan Rasulullah bersabda:

اُدْعُوا اللهَ تَعَالَى وَاَنْتُمْ مُوْقِنُوْنَ بِالاِجَابَةِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ لَا يَسْتَجِيْبُ دُعَاءً مِّنْ قَلْبِ غَافِلٍ لاَهٍ

“Berdo’alah kamu kepada Allah sedang kamu yakin akan terkabul do’amu tersebut, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan do ‘a orang yang hatinya lalai dan tidak serius.” (HR. at-Tirmidzi dan dihasankan oleh Al-Albani).

Firman Allah عزّوجلّ,

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

“Dan sebutlah (nama) Rabbmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. ” (QS. al-A’raf/7: 205).

Kelima:
KESUNGGUHAN DALAM BERDO’A

Syarat Yang Kelima: Adanya keinginan yang kuat, dan kesungguhan dalam berdo’a. Seorang Muslim apabila memohon kepada Allah عزّوجلّ hendaklah ia pastikan permohonan tersebut diiringi dengan keinginan yang kuat. Oleh karena itu, Rasulullah melarang istitsna’ (mengecualikan dengan mengatakan jika Engkau menghendaki) dalam berdo’a.

Dari Anas رضي الله عنه Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

إِذَا دَعَا أَحَدُكُمْ فَلْيَعْزِمْ فِي الْدُّعَاءِ وَلاَ يَقُلْ: اللهُمَّ إِنْ شِئْتَ فَأَعْطِنِي فَإِنَّ اللهَ لاَ مَسْتَكْرِهَ لَهُ. وفي رواية: فَإِنَّ اللهَ لاَ مُكْرِهَ لَهُ

“Apabila berdo’a salah seorang dari kamu maka hendaklah ia memiliki keinginan yang kuat dalam berdo’a, janganlah ia berdo’a, ‘Ya Allah, jika Engkau kehendaki berikanlah kepadaku, sesungguhnya Allah tidak ada yang dapat memaksanya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah  صلى الله عليه وسلم bersabda’’

لَا يَقُوْلَنَّ أَحَدُكُمْ: اللَّهُمَّ اعْفِرْلِي إِنْ شِئْتَ اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي إِنْ شِئْتَ، وَلَكِنْ لِيَعْزِمْ الْـمَسْأَلَةَ وَاليُعَظمْ الرَّغْبَةَ فَإِنَّ اللهَ لاَ يَتَعَاظَمُهُ شَيْءٌ أَعْطَاهُ

“Hendaklah jangan ada di antara kamu yang berkata, “Ya Allah, ampunilah saya, bila Engkau kehendaki, Ya Allah, kasihi saya jika Engkau kehendaki, melainkan hendaklah ia pastikan permohonannya, dan menguatkan keinginan, sesungguhnya tidak ada suatu pemberian apapun (yang Allah berikan) memberatkan Allah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Diringkas dari AGAR DOA DIKABULKAN oleh Syaikh Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf al-Qahthani   
Berdasarkan al-Qur’an & As-Sunnah
, hal 19-29, Darul Haq-Jakarta

Diringkas oleh : Dewi sartika

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.