Syahid Pemilik Dua Cahaya

Alhamdulillah Segala Puji bagi Allah Subhanahu wa ta’aala dan Sholawat serta salam kita haturkan kepada Baginda Rasulullah Sang Teladan nomor satu Muhammad –shallahu ‘alahi wa sallam- dan keluarganya juga para sahabatnya serta pengikut Beliau hingga akhir zaman.

Amma ba’du:

Para sahabat Rasulullah radhiyallahu ‘anhum adalah panutan kaum muslim setelah Rasulullah –shallahu ‘alahi wa sallam-. Alangkah janggalnya jika kita yang mengaku sebagai pencinta Rasulullah –shallahu ‘alahi wa sallam- dan keluarganya tapi malah membenci para sahabatnya –sebagaimana tingkah laku syiah yang aneh bin ajaib-. Padahal dalam hidup kita saja selain berhubungan dengan keluarga, kita juga bersosialisasi dengan orang lain dan beberapa diantaranya menjadi teman akrab yang bahkan lebih kuat hubungannya dari tali keluarga.

Ada suatu keistimewaan yang spesial bagi mereka yang menjadi sahabat Nabi –shallahu ‘alahi wa sallam-, selain keutamaan bergaul dengan penghulu bani Adam dan mendapatkan pengajaran langsung dari beliau –shallahu ‘alahi wa sallam- tanpa perantara. Selain itu para ulama mengkhususkan para sahabat dalam banyak hal. Memposisikan mereka sebagai orang yang paling adil dalam menyampaikan agama dari Rasulullah. Kepada umat ini.

Itu bukan tanpa sebab tapi begitulah hak mereka. Kaum yang membela Nabinya, berperang bersamanya, sholat diimamkan oleh beliau dan lainnya. Dan beberapa diantara mereka ada yang dikenal dengan Mubasysyariin bi al-Jannah, sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga.

Lalu apakah masuk di akal, kalau ada seorang Nabi yang semua sahabatnya murtad sepeninggalnya? Apakah ini pertanda akan berhasilnya Nabi tersebut dalam mendidik penerus-penerusnya. Atau pertanda akan gagalnya seorang Nabi dalam mendidik sahabatnya? Ya itulah diantara pernyataan-pernyataan sekte yang sesat syiah.

Salah satu sahabat Nabi –shallahu ‘alahi wa sallam- adalah sahabat ‘Utsman bin ‘Affan –radhiyallahu ‘anhu- yang sebentar lagi akan kita baca biografinya. Seorang sahabat yang bergelar Dzun Nurain, pemilik dua cahaya, yang telah berhijrah dua kali dalam sejarah Islam. Syahid yang terzolimi. Termasuk Khalifah Rasyidin yang ketiga. Dan banyak keutamaan beliau.

Nama, Garis Keturunan ‘Utsman -radhiallahu ‘anhu- dan Kepribadiannya

Beliau bernama Utsman bin ‘Affan bin Abi al-‘Ash bin Umayyah bin Abdi asy-Syams bin Abdi Manaf bin Qushoy al-Qurosiy al-Umawiy. Kunyahnya Abu ‘Abdillah dan Abu Laila. Ayahnya bernama ‘Affan dan Ibunya Arwaa bintu Kuraiz bin Rabi’ah bin bin Habib bin Abdi asy-Syams bin Abdi Manaf bin Qushoy.

Dan Nenek Beliau dari Ibu, Ummu Hakam al-Baidhoh bin Abdul Mutholib bin Hasyim bin Abdil Manaf bin Qushoy. Dan Ummu Hakam adalah bibi Rasulullah –shallahu ‘alahi wa sallam-. (ath-Thobaqoh al-Kubro karya Ibnu Sa’ad Rahimahullah 3/53)

Garis keturunan Beliau bertemu dengan Nabi Muhammad –shallahu ‘alahi wa sallam- pada kakek yang ke tiganya Nabi Abdu Manaf bin Qushoy.

Lahir dan Islamnya ‘Utsman -radhiallahu ‘anhu-

Beliau lahir tahun ke-enam setelah peristiwa tentara gajah. Termasuk as-Sabiqunal al-Awwalun, islamnya beliau melalui perantara Abu Bakar ash-Shiddiq. Beliau berhijrah dua kali ke Negeri Habasyah dan ke Madinah. Rasulullah –shallahu ‘alahi wa sallam- menikahkan anak beliau Ruqoyyah dengan Sahabat Utsman -radhiallahu ‘anhu- dan keduanya berhijarah bersama ke Negeri Najasyi.

Dan ketika perang Badar berlangsung, Sahabat Utsman -radhiallahu ‘anhu- tidak ikut serta dikarenakan istrinya sakit dan Rasululah –shallahu ‘alahi wa sallam- mengizinkannya untuk merawat istrinya. Dan tak lama setelah itu wafatlah sang istri. Maka Rasulullah –shallahu ‘alahi wa sallam- menikahkannya dengan saudara Ruqoyyah, Ummu Kaltsum. Karena itulah beliau dijuluki Dzun-Nurain (pemilik dua cahaya).

Riwayat ‘Utsman -radhiallahu ‘anhu-

Beliau meriwayatkan dari Nabi –shallahu ‘alahi wa sallam- 146 hadits.

Keutamaan-keutamaan ‘Utsman -radhiallahu ‘anhu-

Diantara keutamaan beliau antara lain:

Malaikatpun Malu padanya. Rasulullah –shallahu ‘alahi wa sallam- bersabda ketika ‘Aisyah -radhiallahu ‘anha- bertanya perihal perbuatan Beliau menyingkap paha dihadapan Abu Bakar dan ‘Umar -radhiallahu ‘anhuma- dan menutupnya ketika ‘Utsman -radhiallahu ‘anhu- meminta izin masuk, ”Bagaimana Aku tidak malu pada seorang yang malaikatpun malu padanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tangan Rasulullah –shallahu ‘alahi wa sallam- menjadi wakil Tangan ‘Utsman pada peristiwa Baiatur-Ridhwan. Rasulullah –shallahu ‘alahi wa sallam- berkata mengisyaratkan tangan kanannya,” Ini tangan ‘Utsman.” Maka beliau memukulkannya dengan tangan kirinya. Dan berkata,” Ini untuk ‘Utsman.”(HR.Bukhari)

Diantaranya juga, pada waktu perang Tabuk, ketika Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersiap-siap untuk berangkat perang, mereka kekurangan bekal. Maka Beliau –shallahu ‘alahi wa sallam- bersabda, ”Barangsiapa yang memberi bekal kepada pasukan (perang Tabuk) yang kesulitan, maka baginya surga.” Ketika Utsman -radhiallahu ‘anhu- mendengar hal tersebut –dan beliau memang punya harta–, beliaupun membekali mereka. Beliau -radhiallahu ‘anhu- datang dengan membawa seribu dinar lalu beliau tuangkan di pangkuan Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- membolak-balikkannya dengan tangan beliau, seraya mengatakan, ”Tidak akan memudharatkan ‘Utsman bin ‘Affan apa yang dia lakukan setelah hari ini.” Beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengulang-ngulangi berkali-kali. (HR. Tirmiziy)

Ibnu ‘Adi -rahimahullah- meriwayatkan dari ‘Aisyah-radhiallahu ‘anha- , dia berkata, ”Ketika Nabi menikahkan anaknya Ummu Kaltsum, Beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkata, ’Sungguh suamimu itu mirip dengan kakekmu Ibrohim dan ayahmu Muhammad.’”

Menjadi khalifah ketiga

Setelah tiga hari wafatnya sahabat ‘Umar -radhiallahu ‘anhu . Orang-orang berkumpul pada sahabat ‘Abdur-Rahman bin ‘Auf -radhiallahu ‘anhu- dan terjadilah diskusi dan musyawarah. Sehingga terpilihlah ‘Utsman bin ‘Affan. Dan dibaiatlah beliau oleh para sahabat dan masyarakat yang lain -radhiallahu ‘anhum.

Diantara Prestasi Beliau Sebagai Pemimpin

Kaum muslimin pada zaman khalifah Utsman -radhiallahu ‘anhu- telah banyak mencapai keberhasilan. Pada zaman tersebut kaum muslimin melanjutkan penaklukan-penaklukan (terhadap negeri-negeri kafir) di dua arah, timur dan barat. Di arah timur, kaum muslimin telah berhasil menumpas pemberontakan yang terjadi di daerah Persia dan Khurasan (yang sekarang terbagi menjadi 3 negara yaitu Iran, Afghanistan dan Turkistan) dan daerah Azerbaijan yang merupakan negara bagian Uni Soviet dahulu dan ibukotanya Baku (ini bagian yang terbesar, adapun bagian yang terkecil mengikut kepada Iran). Dan kota yang terpenting adalah kota Tibriz.

Ditambahkan lagi, kaum muslimin telah berhasil menaklukan banyak daerah-daerah lain semisal Tubristan (di utara Iran sekarang) dan negeri al-Kharaz yang terletak ditepi barat laut Qazwin. Dan pada tahun 31 H raja Persia yang bernama Yazdajir terbunuh, hingga runtuhlah negara Persia yang tidak bisa bangkit lagi. Di arah barat atau negara Romawi, kaum muslimin mendapatkan banyak kemenangan juga. Sungguh Mu’awiyah bin Abi Sufyan -radhiallahu ‘anhu- penguasa Syam telah berhasil memerangi negeri Romawi hingga ‘Ammuriyah (sekarang di Turki), sebagaimana beliau juga berhasil menaklukan Jazirah Qubruz dengan 25 pasukan (angkatan) lautnya di laut tengah (Mediterania).

Khalifah Utsman -radhiallahu ‘anhu- juga memiliki jasa yang lain yaitu beliau mempersatukan kaum muslimin diatas satu mushaf, karena dikhawatirkan akan terjadi perselisihan diantara kaum muslimin dalam bacaan al-Qur’an. Beliau memerintahkan sejumlah sahabat untuk menulis mushaf yang telah dikumpulkan oleh Zaid bin Tsabit -radhiallahu ‘anhu- pada zaman Abu Bakar ash-Shidiq -radhiallahu ‘anhu- dan penulisan tersebut diteliti dengan matang. Kemudian mushaf tersebut dibagi-bagikan/disebar luaskan ke semua negeri Islam dan dianggap sebagai mushaf yang dijadikan rujukan, bukan yang lainnya. Dengan usaha beliau yang mulia inilah kaum muslimin bersatu diatas satu mushaf. Dan perbuatan ini terhitung suatu kebanggaan/keistimewaan bagi Utsman -radhiallahu ‘anhu-.

Pujian kepada ‘Utsman -radhiallahu ‘anhu-

Muhammad bin Sirrin –rahimahullah- berkata, ”Orang yang paling mengetahui tentang manasik haji adalah Utsman -radhiallahu ‘anhu- kemudian Ibnu ‘Umar -radhiallahu ‘anhuma.”

Ibnu Ishaq –rahimahullah- berkata, ”Beliau termasuk orang yang awal dalam memeluk Islam setelah Abu Bakar, Ali, dan Zaid bin Haritsah.”

‘Abdullah bin Hazm –rahimahullah- berkata, ”Aku melihat ‘Utsman bin ‘Affan -radhiallahu ‘anhu-, maka tidaklah pernah aku melihat seorang yang lebih tampan wajahnya daripadanya.”

Abu Ya’la meriwayatkan dari Anas -radhiallahu ‘anhu-, dia berkata, ”Orang yang pertama kali Hijrah dari Kaum Muslimin ke Negeri Habasyah dengan keluarganya adalah ‘Utsman bin ‘Affan. Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkata, ’Semoga Allah menjaga mereka berdua, sungguh Utsman diantara orang pertama yang berhijrah bersama keluarganya setelah Nabi Luth.”

Doktor Abdurrahman Ra’fat Baasyaa mendeskripsikan biografi sahabat ‘Utsman -radhiallahu ‘anhu-, “Sesungguhnya sejarah kenabian belum mengenal seorang pun yang menjadi menantu Nabi sebanyak dua kali selain ‘Utsman bin ‘Affan -radhiallahu ‘anhu wa ardhoohu-.”

Cobaan yang menimpa ‘Utsman -radhiallahu ‘anhu- dan Wafatnya

Sesungguhnya kabar ini telah datang dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengenai fitnah yang akan menimpa beliau dan wasiat Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- agar beliau bersabar dan tidak melawan walau harus dibayar dengan jiwa beliau. Dan terbunuhlah ‘Utsman sebagai orang yang syahid dan terdzalimi oleh para pendemo yang mengkudeta beliau.

Ibnu Umar -radhiallahu ‘anhuma- bekata, ”Rasulullah menyebut fitnah lalu bekata, ’Pada waktu itu Orang ini akan terbunuh dalam keadaan didzalimi (yaitu Utsman).” (HR. Tirmiziy)

Dari sini dapat diambil pelajaran bahwa demonstrasi dalam Islam adalah warisan dari orang-orang yang menzolimi ‘Utsman. Mereka mengira bahwa sahabat ‘Utsman tidak adil, padahal merekalah yang tidak adil terhadap ‘Utsman. Apakah darah beliau begitu mudahnya ditumpahkan hanya karena alasan yang tidak jelas? Padahal kebaikan beliau tiada terkira, sehingga Nabi bersabda -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Tidak membahayakan ‘Utsman apa yang dia perbuat setelah hari ini.”

Doktor Abdurrahman Ra’fat Baasyaa berkata mengenai pembunuhan Khalifah Rasyidin ketiga ini, “Dan cukuplah bagi kaum muslimin merasa tenang, bahwa tidak ada salah seorang pun dari sahabat Nabi terlibat dalam pembunuhan ‘Utsman –ridhwaanullah wa rahmatuhu ‘alahi-, dan tidak pula anak-anak mereka, kecuali satu orang yang ikut menyertai kelompok zolim lagi melampaui batas ini di awal mulanya lalu dia berhenti malu dan jera.”

Semoga Allah –subhanallahu wa ta’ala– meridhoi sahabat ‘Utsman dan menempatkannya di surga yang penuh kenikmatan. Sungguh pengorbanan beliau untuk agama Allah ini begitu besar. Akhir kata, wa shallahu ‘ala Muhammad wa alihi wa sohbihi wa sallam.

Rujukan dan Sumber:

  1. Tarikh al-khulafa karya Imam as-Suyuthi
  2. Utsman bin ‘Affan Khalifah yang terdzalimi karya Abdurrahman at-Tamimi
  3. Suwar min Hayati Ash-Shohabah karya Doktor Abdurrahman Ra’fat Baasyaa cetakan tahun 1997 penerbit Dar Adab Islami.

Penyusun : Muhammad Syarifudin

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.