Sikap Muslim Menghadapi Getirnya Hidup

Sikap Muslim Menghadapi Getirnya Hidup
Sumber gambar: wajdaniganshangde.blogspot.co.id

Oleh Ustadz Shalih Gunawan Lc.

Pendahuluan

Seringkali terdengar keluh kesah masyarakat mengungkapkan kesulitan dan penderitaan, membandingkan suasana hidup di masa lampau dengan masa sekarang. Dibidang ekonomi mereka dikejutkan tingginya harga kebutuhan pokok dan susahnya mendapatkan mata pencaharian plus rendahnya upah. Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan mereka dihadapkan pada kondisi rendahnya nilai-nilai moral, akhlak dan minimnya perhatian dari kalangan elit pemilik modal dan kesewenang-wenangan kekuasaan. Dan masih banyak lagi lainnya.

Generasi terbaik umat inipun pernah merasakan hal ini sebagaimana dikeluhkah oleh Az-Zubair bin ‘Adi saat menemui Anas bin Malik: Masyarakat diwakili oleh ‘Az-Zubair bin ‘Adi mengeluhkan kekejaman Al -Hajjaj bin Yusuf dan kesewenang-wenangannya terhadap rakyat, maka Anas bin Malik menasehatinya:

اصْبِرُوا فَإِنَّهُ لَا يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلَّا الَّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ حَتَّى تَلْقَوْا رَبَّكُمْ سَمِعْتُهُ مِنْ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

”Bersabarlah , sesungguhnya tidaklah tiba suatu zaman melainkan zaman yang akan datang berikutnya jauh lebih buruk sampai kalian menemui Rob kalian “. Saya mendengar berita ini langsung dari Nabi kalian. (HR. Bukhori)

Bila kita buka lembaran sejarah di era kepemimpinan Hajjaj bin Yusuf niscaya bisa kita maklumi kesusahan dan kepedihan yg melanda rakyat. Tetapi renungkanlah hadis mulia diatas! Keburukan-keburukan masih selalu terjadi selama masih adanya dunia dan tingkat keburukannya semakin bertambah.

Sebab-sebab Munculnya Keburukan    

Di antara sebab munculnya keburuan adalah:

1) Minimnya Ilmu dan Sedikitnya Orang yang Mengamalkannya

Ilmu yg dimaksud adalah ilmu syariat yg bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan berpedoman pada pemahaman As-Salafussolih. Reungkanlah hadis ini dari Sa’id bin Abi Burdah, Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

النُّجُومُ أَمَنَةٌ لِلسَّمَاءِ فَإِذَا ذَهَبَتِ النُّجُومُ أَتَى السَّمَاءَ مَا تُوعَدُ وَأَنَا أَمَنَةٌ لأَصْحَابِى فَإِذَا ذَهَبْتُ أَتَى أَصْحَابِى مَا يُوعَدُونَ وَأَصْحَابِى أَمَنَةٌ لأُمَّتِى فَإِذَا ذَهَبَ أَصْحَابِى أَتَى أُمَّتِى مَا يُوعَدُونَ

”Bintang-bintang adalah pengaman langit, jika bintang-bintang lenyap maka tibalah sesuatu yang telah dijanjikan. Aku adalah pengaman untuk sahabat-sahabatku, jika saya telah pergi maka terjadilah apa yg dijanjikan kepada mereka. Para sahabat-ku adalah pengaman untuk umatku, jika para sahabatku telah tiada maka datanglah sesuatu yang dijanjikan menimpa umatku”. (HR. Bukhori 7068, Tirmidzi 2206).

Dalam hadis mengisyaratkan bahwa semakin banyak para sahabat maka semua jenis kebaikan menyebar merata. Namun jika mereka semakin sedikit dan habis, maka keburukan menyebar di pelbagai penjuru. Demikian dijelaskan oleh Syaikh Musthofa Al-‘Adawi. Sebab mereka adalah orang-orang yang mengamalkan ilmu-nya. (Ahâdîtsul Fitan wal Malâhim, hal :73).

2) Rendahnya Amar Ma’ruf Nahi Mungkar Ditengah Masyarakat

Abu Bakar Ash Shiddiq pernah berkhutbah:

”Wahai manusia kalian membaca ayat ini [Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu (sebab) orang yang sesat tidak akan membahayakanmu apabila kalian telah mendapat petunjuk (QS. Al-Maidah: 105)], tetapi kalian meletakkan ayat ini tidak pada tempatnya!! Sesunggguhnya saya mendengar Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (sesungguhnya jika manusia melihat kemungkaran & tidak merubahnya maka hampir saja Alloh Ta’ala meratakan hukuman-Nya!!).(HR. Tirmidzi no.2168, Abu Daud no.4338, Ibnu Majah no.4005, disohihkan oleh Syaikh Al-Albani).

Budaya “Ewoh Pekewoh” yg telah melanda masyarakat di semua lini kehidupan, khususnya di tingkat elit bangsawan; atau antara majikan dan bawahan, di mana acap-kali kesalahan/kemungkaran dilakukan oleh mereka. Namun karena sifat atasan yang lebih suka disanjung dan tidak suka menerima kritik, akibatnya “abdi dalem” lebih suka mencari muka atau bersikap oportunis!! Maka kerusakan pun merajalela!

Sikap dan Kiat Muslim dalam Hhidup di Era Milenium ke-3

1) Takwa kepada Alloh Ta’ala dengan Takwa yang Benar

Dengan bekal ketakwaan maka semua problem kehidupan bisa teratasi dengan mudah. Sebab makna takwa adalah seperti dituturkan ‘Umar bin Abdul Aziz:

“Bukanlah arti ketakwaan itu dengan melaksanakan puasa, qiyamul-lail, atau menggabungkan keduanya. Tetapi ketakwaan itu adalah meninggalkan hal-hal yang diharamkan Alloh Ta’ala dan menunaikan semua kewajiban. Barangsiapa yang dikaruniai hal ini lalu dia berbuat baik maka akan melahirkan hal-hal yang baik di masa-masa yang akan datang.” (Al-Huququl Islamiyyah, hal : 131).

2) Tawakkal kepada Alloh Ta’ala

Nabi Ibrohim ‘alaihissalam pernah dilemparkan ke dalam kobaran api, lalu beliau berkata:

حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“Cukuplah Alloh menjadi Penolong kami dan Alloh adalah sebaik-baik pelindung.” (Ali Imron:173)

Dan itu juga diucapkan Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam ketika mereka berkata: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Alloh menjadi Penolong kami dan Alloh Ta’ala adalah sebaik-baik pelindung.” (HR. Bukhori)

Dengan tawakkal yang sesungguhnya yaitu memasrahkan segala urusan kepada Alloh Ta’ala dengan penuh keyakinan kuat disertai usaha yang maksimal[1], maka dengan izin Alloh Ta’ala semua kesulitan hidup akan beres. Lihatlah kesulitan hidup Nabi Ibrohim ‘alaihissalam dan Rosululloh shallahu ‘alaihi wa sallam di atas, khususnya Rosul kita yang dihadapkan pada gabungan pasukan musuh yang sangat banyak pada gozwah (perang) Hamro’ul Asad sehari setelah ghozwah Uhud. Maka tawakkal adalah kunci di balik selamatnya Rosululloh shallahu ‘alaihi wa sallam dan pasukan Islam.

3) Istighfar dan Munajat

Alloh Ta’ala berfirman:

”Dan sungguh Kami telah mengutus Rosul-rosul kepada umat-umat sebelummu, kemudian Kami siksa mereka (dengan menimpakan) kemelaratan dan kesengsaraan, agar mereka memohon/ bermunajat kepada Alloh Ta’ala dengan kerendahan hati”. (Al-An’am: 42).

Renungkan pula kisah Nabi Yunus ‘alaihissalam berikut ini:

“Dan ingatlah kisah Dzun-nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, Laa Ilaaha Illa Anta subhaanaka Inni Kuntu Minadz-zholimin. Maka Kami kabulkan doanya & Kami selamatkan dia dari kesedihan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman”. (Surat Al-Anbiya: 87-88).

4) Mewujudkan Keadilan di tengah Masyarakat

Alloh Ta’ala berfirman:

”Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang dzolim berteman dengan sesamanya, sesuai dengan apa yang mereka kerjakan”. (Surat Al-An’am:129).

Imam Qurthubi mengatakan: “Termasuk dalam kategori dzolim dalam ayat di atas adalah mendzolimi diri sendiri, rakyat, pedagang, mendzolimi manusia dalam perniagaan, kasus pencurian dan lainnya”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata :”Alloh Ta’ala akan menolong negara yang adil (daulah adilah) sekalipun daulah itu kafir, dan Alloh Ta’ala tidak akan menolong negara yang dzalim sekalipun daulah itu adalah daulah mukminan (negara mukmin)!! (Al-Hisbah Fil Islam, hal 40).

Dengan keadilanlah bumi dan kehidupan menjadi subur nan makmur. Imam Ahmad bin Hambal berkata: ”Telah ditemukan sebuah peti peninggalan daulah Bani Umayyah berisikan biji-biji gandum seukuran biji-biji kurma (yang besar)! Di atas peti tertulis ‘Gandum ini dipanen pada masa keadilan’!”. (Ad-Da’u Waddawa, hal 75).

5) Menerapkan Kandungan Al-Qur’an dalam Kehidupan

Alloh Ta’ala berfirman:

”Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS. Toha: 124) .

6) Memikirkan Surga, Neraka & Sadar Kematian

Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati ‘Ammar, Yasir, Sumayyah, mereka semuanya sedang disiksa Abu Jahal. Maka Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bersabarlah wahai keluarganya Yasir, sesungguhnya tempat tinggal kalian di surga”. (Ar-Rohiqul Makhtum, hal 91).

Demikianlah gambaran singkat jadi-diri seorang muslim dalam menghadapi pahit-getirnya kehidupan, semoga Alloh Ta’ala menyelamatkan kita. Aamiin.

.

[1] Sebagaimana diuraikan oleh Syaikh Abdul Aziz Al-Mushoiri’ ketika mensyarah “Manzhumah Ath Thoriq Ilalloh Wad Daaril Akhiroh” karya Syaikh Abdurrohman As-Sa’di hal. 18


Sumber: Majalah Lentera Qolbu, tahun edisi-4 edisi ke-9

2 Lacakbalik & Pingbalik

  1. SIKAP MUSLIM MENGHADAPI GETIRNYA HIDUP
  2. SIKAP MUSLIM MENGHADAPI GETIRNYA HIDUP - Sahabat Sunnah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.