Setiap Penyakit Ada Obatnya

Ust. Hizbul Majid

Hidup di dunia ini penuh dengan cobaan yang merupakan ujian dari Alloh Tabaraka Wata’ala. Di antara ujian yang Alloh Tabaraka Wata’ala berikan kepada hamba-hamba-Nya adalah adanya penyakit. Namun meskipun demikian Alloh-pun menurunkan obat untuk penyakit tersebut.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhori di dalam shohihnya, dari shohabat Abu Hurairoh Rodhiyallohu `Anhu bahwasanya Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

مَا أَنْزَلَ اللهُ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ شَفَاءً

“Tidaklah Alloh turunkan penyakit kecuali Dia turunkan pula obatnya”

Dari riwayat Imam Muslim dari Jabir bin Abdillah a dia berkata bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ، فَإِذَا أَصَابَ الدَّوَاءُ الدَّاءَ، بَرَأَ بِإِذْنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Setiap penyakit ada obatnya. Bila sebuah obat sesuai dengan penyakitnya maka dia akan sembuh dengan izin Alloh k.” (HR. Muslim)

Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rosululloh Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

إِنَّ اللهَ لَمْ يَنْزِلْ دَاءً إِلاَّ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً، عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ وَجَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ

“Sesungguhnya Alloh tidaklah menurunkan sebuah penyakit melainkan menurunkan pula obatnya. Obat itu diketahui oleh orang yang bisa mengetahuinya dan tidak diketahui oleh orang yang tidak bisa mengetahuinya.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan Al-Hakim, beliau menshohihkannya dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Al-Bushiri menshohihkan hadits ini dalam Zawa`id-nya. Lihat takhrij Al-Arnauth atas Zadul Ma’ad, 4/12-13)

Diriwayatkan pula dari musnad Imam Ahmad dari shahabat Usamah bin Suraik a, bahwasanya Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

“Aku pernah berada di samping Rosululloh Shalallahu ‘alaihi wassalam, lalu datanglah serombongan Arab dusun. Mereka bertanya, “Wahai Rosululloh, bolehkah kami berobat?” Beliau menjawab: “Iya, wahai para hamba Alloh, berobatlah. Sebab Alloh Tabaraka Wata’ala tidaklah meletakkan sebuah penyakit melainkan meletakkan pula obatnya, kecuali satu penyakit.” Mereka bertanya: “Penyakit apa itu?” Beliau menjawab: “Penyakit tua.” (HR. Ahmad, Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan At-Tirmidzi, beliau berkata bahwa hadits ini hasan shohih. Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i menshohihkan hadits ini dalam kitabnya Al-Jami’ Ash-Shohih, 4/486)

Para pembaca yang budiman, hadits-hadits di atas memberikan faedah kepada kita bahwa semua penyakit yang menimpa manusia itu ada obatnya. Hanya saja ada orang yang menemukan obatnya dan ada juga orang yang belum bisa menemukannya. Oleh karenanya seseorang harus bersabar untuk selalu berobat dan terus berusaha untuk mencari obat ketika sakit sedang menimpanya.

Jangan salah mencari obat !

Namun sangat disayangkan, di masa sekarang terkadang seorang terjatuh pada kesalahan dalam mencari obat. Itu semua disebabkan karena lemahnya kesabaran dan kurangnya ilmu pengetahuan, baik ilmu tentang agama maupun ilmu tentang pengobatan. Mereka berobat dengan cara yang berseberangan dengan syari’at bahkan terjatuh dalam pelanggaran syari’at. Bahkan ada pula yang sampai pada cara-cara kesyirikan dan kekufuran, yang mereka istilahkan dengan “Pengobatan Alternatif.”

Dalam beberapa penanganan pasien, sang “dokter alternatif” kadang membacakan bacaan-bacaan tertentu atau mantra-mantra tertentu yang semua mantra dan bacaan itu tidak dikenal dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah (petunjuk Rosululloh). Mereka juga melakukan gerakan-gerakan tertentu atau mungkin dengan syarat-syarat tertentu yang harus disiapkan sebelum pengobatan.

Terkadang pula kaum muslimin dalam berobat datang kepada orang pintar (paranormal). Sebagian dari mereka tidak menamai diri mereka “dukun” atau “tukang santet”, tapi mereka menamakan diri mereka dengan sebutan “kiyai”. Atribut keislaman yang mereka sandang menjadikan sebab tertipunya kaum muslimin. Seperti jubah putih nan panjang, tasbih yang dikalungkan di lehernya, atau dengan sebagian ayat-ayat Al-Qur’an yang mereka baca atau yang lainnya menjadikan kaum muslimin tertipu. Kaum muslimin mengira mereka sebagai orang yang mahir, sholeh dan sakti mandraguna, sehingga langsung mempercayainya. Padahal Nabi kita yang mulia telah bersabda,

مَنْ أَتَي عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً

“Barang siapa yang mendatangi seorang dukun kemudian dia bertanya tentang sesuatu, maka sholatnya tidak diterima selama 40 hari.”

Ini adalah peringatan sekaligus ancaman keras dari Rosululloh Shalallahu ‘alaihi wassalam tentang besarnya dosa perbuatan tersebut.

Seorang muslim harus selalu berbaik sangka kepada Alloh Tabaraka Wata’ala dan selalu menyadari bahwa Alloh Tabaraka Wata’ala akan memberikan pahala dan ampunan dari dosa dan kesalahannya manakala dia sabar ketika musibah itu menimpa padanya dan harus selalu ingat sabda nabinya yang mulia, dimana Nabi n pernah bersabda,

مَا يُصِيْبَ الْمُسْلِمُ مِنْ نَصْبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حَزَنٍ وَلَا أَذَى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةَ يُشَاكِهَا إِلَّا كَفَرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah menimpa seorang muslim satu kelelahan, kesakitan, kesusahan, kesedihan, gangguan dan gundah gulana sampai terkena duri, melainkan Alloh akan menghapuskan dosa-dosanya dengan sebab musibah tersebut”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat yang lain Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam juga bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللهُ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ

“Barang siapa yang Alloh  kehendaki mendapatkan kebaikan, maka Alloh akan menimpakan musibah kepadanya.”

Maka sikap yang paling tepat bagi seorang mukmin ketika diuji dengan suatu penyakit adalah bersabar menjalani sakitnya dan terus berusaha untuk mencari obatnya. Tentu saja dengan pengobatan-pengobatan yang sesuai dengan syari’at.

Pengobatan yang disyariatkan

Para pembaca yang mulia berikut ini adalah metode pengobatan yang sesuai dengan syariat

1. Ruqyatul Qur,an (Dibacakan Ayat-ayat Al-Qur’an).

Hal ini berdasarkan firman Alloh ‘Azza wa jalla,

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al-Isra’ : 82)

Dijelaskan oleh para ulama bahwa obat yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah obat lahiriyah dan batiniah.

Syaikhul Islam Ibnul Qayyim Rahimahullah dalam kitabnya Zadul Ma’ad, berkata,“Al-Qur`an adalah penyembuh yang sempurna dari seluruh penyakit hati dan jasmani, demikian pula penyakit dunia dan akhirat. Dan tidaklah setiap orang diberi keahlian dan taufiq untuk menjadikannya sebagai obat. Jika seorang yang sakit konsisten berobat dengannya dan meletakkan pada sakitnya dengan penuh kejujuran dan keimanan, penerimaan yang sempurna, keyakinan yang kokoh, dan menyempurnakan syaratnya, niscaya penyakit apapun tidak akan mampu menghadapinya selama-lamanya. Bagaimana mungkin penyakit tersebut mampu menghadapi firman Dzat yang memiliki langit dan bumi, yang seandainya diturunkan kepada gunung, maka ia akan menghancurkannya. Atau diturunkan kepada bumi, maka ia akan membelahnya. Maka tidak satu pun jenis penyakit, baik penyakit hati maupun jasmani, melainkan dalam Al-Qur`an ada cara yang membimbing kepada obat dan sebab (kesembuhan) nya.” (Zadul Ma’ad, 4/287)

2. Do’a

Nabi  bersabda,

الدُّعَاءُ سِلَاحُ الْمُؤْمِنِ وَعِمَادُ الدِّينِ وَنُوْرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“Do’a adalah senjatanya orang yang beriman dan tiangnya agama dan cahaya langit dan bumi.”

Hadits ini dilemahkan oleh syaikh Al-Albani, akan tetapi secara makna dijelaskan dalam riwayat yang shohih yaitu kisahnya seorang wanita berkulit hitam yang tertimpa penyakit asra’ (epilepsy). Dia datang kepada Nabi  dan berkata, “Ya… Rosululloh, saya menderita penyakit asra’. Tiap kali kambuh, auratku tersingkap. Maka do’akanlah aku supaya Alloh menyembuhkan penyakitku”, Nabi  pun bersabda, “Kalau aku do’akan kepada Alloh maka akan sembuh penyakitmu. Akan tetapi jika kamu sabar, maka bagimu surga.” Kemudian wanita itu memilih untuk bersabar.

Syaikh Salim Al-hilaly menerangkan bahwa berdo’a itu adalah salah satu sebab disembuhkannya penyakit.

Juga dalam hadits di atas memberikan faidah tentang bolehnya seorang datang kepada Ahlul Fadhl (orang yang mempunyai keutamaan) orang yang dikenal dengan ketaqwaannya kepada Alloh, kesholihannnya, ahli ilmu, untuk meminta dido’akan kepada Alloh  atas kesembuhan penyakitnya.

c. Ikhtiyar syar’iyah (Melakukan usaha yang dibenarkan Syari’at)

Yaitu seseorang melakukan usaha yang dzohir (yang tampak) untuk mencari sebab datangnya kesembuhan. Misalnya, datang ke dokter yang ahli, minum madu, melakukan hijamah (bekam), atau usaha-usaha yang tidak dilarang oleh syari’at.

Demikian pembahsan yang singkat ini, mudah-mudahan sudah memberikan gambaran yang jelas tentang cara menghadapi cobaan yang berupa penyakit. Semoga Alloh ‘Azza wa jalla senantiasa memberikan hidayah dan taufiq-Nya kepada kita untuk menjadi orang-orang yang bersabar dan istiqomah dalam menempuh jalan-Nya yang lurus. Amîn.

Sumber: Majalah Lentera Qolbu Edisi 07 Tahun 03

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*