Selembar Kartu Lebih Berat Daripada Berpuluh-Puluh Buku Catatan

Selembar kartu lebih berat daripada berpuluh-puluh buku catatan[1]

             Telah diriwayatkan dari Abdulloh bin Amr bin Al-Ash, ia berkata: “Aku pernah mendengar Rosululloh n bersabda:

إِنَّ اللهَ سَيُخَلِّصُ رجُلاً مِنْ أُمَّتِي عَلَى رُؤُوْسِ الخَلاَئِقِ يَوْمَ القِيَامَةِ ، فيَنْشُرُ لَهُ تِسْعَةً وَتِسْعِيْنَ سِجِلاًّ ، كُلُّ سِجِلٍّ مِثْلُ مَدِّ البَصَرِ ، ثُمَّ يَقُوْلُ : أتُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا ؟ أَظَلَمَكَ كَتَبَتِي الحَافِظُوْنَ ؟ فَيَقُوْلُ : لاَ ، يَا رَبِّ ، فَيَقُوْلُ : أَفَلَكَ عُذْرٌ ؟ فَيَقُوْلُ: لاَ يَارَبِّ ، فَيَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى : بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةٌ ، فَإِنَّهُ لاَ ظُلْمَ عَلَيْكَ اليَوْمَ ، فَتُخْرَجُ بِطَاقَةٌ فِيْهَا : أَشْهَدُ أنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ، فَيَقُوْلُ : اُحْضُرْ وَزْنَكَ ، فَيَقُوْلُ : يَا ربِّ مَا هَذِهِ البِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلاَّتِ ؟ فَيَقُوْلُ : فَإِنَّكَ لاَ تُظْلَمُ. فَتُوْضَعُ السِّجِلاَّتُ فِي كِفَّةٍ ، وَالبِطَاقَةُ فِي كِفَّةٍ ، فَطَاشَتِ السِّجِلاَّتُ ، وثَقُلَتِ البِطَاقَةُ ، وَلاَ يَثْقُلُ مَعَ اسْمِ اللهِ شَيْءٌ

“Sesungguhnya Alloh akan membebaskan seorang laki-laki dari umatku di hadapan semua makhluk pada hari kiamat. Alloh hamparkan baginya sembilan puluh sembilan buku catatan, setiap catatan seperti sejauh mata memandang. Kemudian Alloh bertanya: “Apakah engkau mengingkari sebagian dari hal ini? Apakah para malaikat-Ku yang mencatat amalan telah menzholimimu?” Maka orang tersebut berkata: “Tidak wahai Tuhanku.” Alloh bertanya: “Apakah engkau memiliki udzur (alasan)?” Maka orang tersebut berkata: “Tidak wahai Tuhanku.” Lalu Alloh berfirman: “Ya, sesungguhnya engkau memiliki sebuah kebaikan di sisi Kami. Dan sesungguhnya engkau tidak akan dizholimi pada hari ini.” Lalu dikeluarkanlah selembar kartu yang padanya terdapat tulisan “asyhadu allâ ilâha illallôhu wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rosûluhu”. Alloh berfirman: “Hadirilah penimbangan amalmu!” Maka orang tersebut berkata: “Wahai Tuhanku, apalah artinya kartu ini dibandingkan dengan buku-buku catatan ini?” Alloh menjawab: “Sesungguhnya engkau tidak akan dizholimi.” Lalu diletakkanlah buku-buku catatan tersebut dalam sebuah piringan neraca dan selembar kartu tersebut diletakkan dalam sebuah piringan neraca yang lain. Maka catatan-catatan tersebut menjadi ringan sementara selembar kartunya menjadi berat. Dan tidak ada sesuatupun yang berat jika disandingkan dengan nama Alloh.” [2]

                Seseorang dari umat ini telah dihitung dosanya oleh malaikat sebanyak sembilan puluh sembilan buku catatan besar. Setiap buku catatan sepanjang mata memandang. Alloh tampakkan kepadanya catatannya dan berfirman: “Apakah engkau mengingkari sebagian dari catatan ini? Apakah para malaikat-Ku yang mencatat amalan telah menzholimimu?” Maka orang tersebut berkata: “Tidak wahai Tuhanku.”

                Lalu orang tersebut diminta untuk menyampaikan udzur, namun ia tidak mendapatkan baginya udzur dan ia yakin akan binasa. Pada saat demikian itu Alloh berfirman: “Benar, sesungguhnya engkau memiliki kebaikan. Dan pada hari ini tidak ada kezholiman.” Dan dikeluarkanlah selembar kartu yang padanya terdapat pengakuan bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Alloh, dan Muhammad adalah utusan Alloh. Kemudian ditimbanglah 99 buku catatan dosa yang setiap catatan sepanjang mata memandang dengan selembar kartu yang padanya tertulis dua kalimat syahadat. Orang tersebut berkata: “Wahai Tuhanku, apalah artinya kartu ini dibandingkan dengan buku-buku catatan ini?” Maka Alloh menjawab: “Sesungguhnya engkau tidak akan dizholimi.” Lalu begitu sangat mengejutkan tatkala selembar kartu tersebut lebih berat daripada buku-buku catatan tersebut. Sungguh benar apa yang disabdakan oleh Rosululloh Shalallahu ‘alaihi wassalam :

وَلاَ يَثْقُلُ مَعَ اسْمِ اللهِ شَيْءٌ

“Tidak ada sesuatupun yang berat jika disandingkan dengan nama Alloh.” (HR. Tirmidzi).

Faidah-faidah yang terambil dari kisah ini:

  1. Keutamaan tauhid, kalimat syahadat orang ini lebih berat daripada dosa-dosanya.
  2. Para Malaikat pencatat mencatat amalan sholih maupun yang buruk seorang hamba. Dan catatan tersebut akan dikeluarkan dalam buku yang tidak akan meninggalkan dosa kecil maupun besar melainkan telah tertulis di dalamnya.
  3. Catatan amal sholih diletakkan di dalam satu piringan neraca sementara amal buruk diletakkan didalam piringan neraca yang lain.
  4. Timbangan yang digunakan untuk menimbang amalan memiliki dua piringan neraca.
  5. Penimbangan amalan dilakukan dengan terang-terangan dan dihadiri oleh semua manusia.

Sumber: Majalah Lentera Qolbu Edisi 04 Tahun 02

[1] Renungan kisah dari hadits shohih, disadur dengan sedikit perubahan dari Kitab Qoshoshul Ghoib fî Shohîhil Hadîtsin Nabawi, karya Syaikh Sulaiman Al-Asyqor.

[2] HR. Tirmidzi dalam Kitab Al-Îmân, bab. Mâ jâa fî man Yamûtu wa Huwa Yasyhadu allâ ilâha illallôh (2639). Imam Tirmidzi berkata: Hadits ini adalah hadits hasan ghorib. Syaikh Albani menghukuminya sebagai hadits shohih dalam Kitab Shohîh At-Tirmidzi (2127) dan hadits tersebut ada dalam Shohîh Ibni Majah no. 4300.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.