Sekeras Apa Hatimu Wahai Manusia?

Pernahkah kita menjumpai sosok yang tampak begitu bengis, keras, tak kenal belas kasih, dan tak segan melampiaskan luapan amarahnya? Apakah sifat-sifat keras ini senantiasa menyertai orang tersebut, ataukah ada saat-saat dalam kesehariannya di mana dia menelaah sejenak jalur pikiran sehatnya? Ya, pastilah ada barang sesaat dua saat, di mana dia memutar ulang apa yang telah ia perbuat seharian yang telah ia jalani. Ia akan ‘mengaudit’ dan meneliti adegan-adegan kehidupannya hari itu, untuk ia pikirkan walau sejenak, dan kemudian seringkali dia pun mencari pembenar dan justifikasi dari apa yang ia perbuat. Dan biasanya, setelah itu ia pun kembali pada sifat asalnya. Ia tak mau mendengarkan bisikan akal sehat dan hati nuraninya. Dan begitulah, jeritan hati dan suara kalbunya kadang muncul sewaktu-waktu, meski kemudian tergilas hingar bingar sifat busuknya.

Namun, apakah terlintas di benak kita, bahwa orang yang telah didominasi oleh sifat buruk dan keji, mungkinkah suatu saat dia mau mendengarkan kata hatinya yang sesekali menyuarakan kebenaran, kemudian tiba-tiba dia mau untuk merubah haluan hidupnya? Meski hal seperti ini susah untuk terwujud, namun hal itu bukanlah hal yang mustahil. Hal seperti ini bisa saja terjadi bila Alloh mengirimkan sinyal hidayah-Nya pada orang tersebut. Banyak jalan yang diberikan Alloh untuk menggugah hati hamba-Nya, bagaimanapun kondisi si hamba tersebut. Dan ketika itu, sungguh ia telah mendapatkan kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Ia telah selamat dari jurang kehancuran menuju hamparan iman.

Alloh Sang Pemilik Hati Hamba

Hati manusia beragam coraknya. Mulai dari yang halus, sampai pada hati yang keras nan kasar. Namun satu hal yang pasti, bahwa hati seorang manusia, tidaklah selalu konstan berada dalam keadaan yang satu. Hatinya selalu berbolak-balik dan berubah-ubah. Tak pernah hatinya berhenti pada satu keadaan saja.

Hati hamba memang milik Alloh. Dialah yang berkenan membolak-balik hati hamba-Nya. Dalam sebuah hadits dari riwayat Abdulloh Bin Amir Bin Ash, ia mendengar Rosululloh Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

« إِنَّ قُلُوبَ بَنِى آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ ». ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم- « اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ ».

Sesungguhnya hati para anak cucu Adam, semuanya ada di antara dua jari dari jari-jari Alloh Ar-Rohman; layaknya satu hati di mana Alloh memberlakukannya sesuai dengan yang Dia kehendaki. Kemudian Rosululloh Shalallahu ‘alaihi wassalam berdoa: Allohumma Mushorrifal qulûbi, shorrif qulûbanâ `alâ thô`atik. –Ya Alloh, Dzat Yang membolak-balikkan hati. Balikkanlah hati kami untuk menuju pada ketaatan kepada-Mu!-” (HR. Muslim)

Dalam riwayat Anas Bin Malik disebutkan, bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam banyak mengucapkan:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ

Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami atas agama-Mu!”

Para sahabat bertanya: “Wahai Rosululloh! Apakaha engkau mengkhawatirkan kami, sedangkan kami ini telah beriman kepada-Mu?” Nabi menjawab: “Tidaklah hati itu melainkan ia ada di antara dua jari dari jari-jari Ar-Rohman. Bila ia berkehendak, Dia akan menegakkannya (di atas kebenaran). Bila Dia berkehendak, maka Dia melencengkan dia .” (Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’, demikian pula Ibnu Majah)

Hati memang anggota tubuh yang istimewa. Ia adalah sumber dari spirit hidup manusia. Hatilah yang menjadi tempat segala perasaan jiwa. Hatilah yang Alloh lihat dari amal hamba, di samping juga Alloh melihat pada amalannya. Namun hatilah yang menjadi pondasi dasar amalnya. Di hati pula letak kecintaan hamba pada Robbnya, tempat rasa takutnya, tempat bersumbernya tawakkalnya dan juga taubatnya pada Penciptanya. Ibadah yang ia hadirkan untuk Alloh, bersumber dari hati terlebih dahulu, yang kemudian diikuti oleh bala tentaranya, yaitu anggota badannya. Yang diejawantahkan dalam wujud perbuatan hamba, baik berupa ketaatan ataupun maksiat, itu semua adalah goresan dari isi hati manusia. Bila hati ini gelap pekat, maka anggota badannyapun akan tersesat. Dan bila hati diterangi dengan cahaya iman, maka anggota badan pun akan tersinari. Namun demikian, yang pasti, seperti dalam hadits di atas, hati itu berada di antara dua jemari Alloh. Maha Suci Alloh Yang Maha Membolak-balikkan hati hamba-Nya. Alloh letakkan di dalam hati para hamba segala rahasia yang hanya Alloh saja yang tahu, sehingga Alloh saja yang tahu siapa yang merupakan hamba-Nya yang beruntung dan siapa yang celaka karena terhalang dari sinaran iman. Alloh lah yang tahu apa yang terkandung dalam hati hamba, apakah ketaatan memenuhinya, ataukah kesesatan yang membusukkan hatinya. Dia memberi sinyal kepada hati para wali-Nya, agar hati mereka datang menjemput perintah-Nya. Sehingga hati mereka pun menyambut seruan ini dan berdiri dalam ketaatan pada Robbnya. Namun Alloh pun tak berkenan terhadap hati sebagian makhluk-Nya yang lain. Sehingga jadilah mereka enggan untuk menjemput cahaya Tuhannya.

Belajar Dari Zaman Kenabian

Mereka Yang Hidup di Masa Nabi

Kalau kita menengok lembaran sejarah, melihat situasi saat Islam belum datang, maka sungguh akan kita dapati sebagian dari para manusia kala itu memang punya kebiasaan buruk, yang tentunya membekas di hati mereka. Mereka sudah terbiasa dengan kehidupan yang keras, tak mau mencari hakikat kebenaran, dan yang paling parah tentunya adalah bahwa mereka menjadikan peribadatan untuk selain Alloh. Mereka menyembah berhala dan patung-patung yang menunjukkan betapa mereka tidak mau menggunakan akal sehatnya. Dan itu membuat hati mereka buta dan keras. Digambarkan dalam sebuah hadits tentang kedatangan Nabi di tengah kaum yang bodoh, di mana Nabi membawa petunjuk yang memisahkan antara yang hak dan batil. Namun meski demikian, tidak semua yang mendengar dakwah Rosul mau menerimanya. Bahkan banyak dari mereka yang mengkufurinya. Hati mereka telah menjadi keras, tertutup oleh pekatnya kesesatan di hati mereka.

Dari Abdurrahman Bin Jubair Bin Nufair dari ayahnya, ia berkata: Pada suatu hari kami duduk kepada Miqdad Bin Aswad. Lalu datanglah seorang lelaki, dan ia berkata: “Begitu beruntung dua mata yang melihat Rosululloh (maksud Miqdad). Demi Alloh, sungguh, kami mengangankan sekiranya kami melihat seperti yang engkau lihat (yakni melihat Rosul) dan menyaksikan apa yang engkau saksikan.” Kemudian kalimat tersebut membuat Miqdad menjadi marah. Akupun terheran-heran, orang tersebut tidaklah mengatakan selain kebaikan. Kemudian Miqdad mendatanginya dan berkata: “Apa yang mendorong lelaki ini untuk mengangankan kehadirannya pada peristiwa yang Alloh telah menetapkan ia tak mendapatkannya. Ia tidak tahu kalau kiranya ia mengalaminya, bagaimanakah keadaannya saat itu? Demi Alloh! Sungguh, banyak kaum yang menyaksikan Rosululloh, namun Alloh menelungkupkan wajah mereka di neraka. Mereka tidak menerima seruan Nabi dan tidak mau membenarkannya. Apakah kalian tidak memuji Alloh karena Dia telah mengeluarkan kalian (dari perut ibu kalian) sedangkan kalian tidaklah mengenal tuhan selain Robb kalian?! Dan kemudian kalian pun membenarkan apa yang dibawa Nabi kalian. Sungguh Alloh telah menghindarkan kalian dari bencana tersebut dengan menimpa kaum selain kalian. Demi Alloh, sungguh Nabi telah diutus dalam keadaan yang sangat berat daripada diutusnya Nabi yang lain, di tengah masa lengangnya utusan dan dalam keadaan jahiliyah. Mereka tidaklah melihat ada agama yang lebih utama daripada beribadah menyembah berhala. Lalu datanglah Nabi dengan membawa Pembeda, yang membedakan mana yang hak dan mana yang batil; yang memisahkan antara orang tua dengan anaknya; hingga seseorang benar-benar melihat orangtuanya, atau anaknya ataupun saudaranya dalam kekafiran, sedangkan Alloh telah membuka kunci hatinya dengan iman, dan ia tahu bahwa kalau ia binasa (dalam kekafiran), ia pun masuk neraka; sehingga matanya tidaklah merasa sejuk (terhadap kekafiran). Padahal ia tahu bahwa orang yang ia cinta ada di neraka. Itulah yang Alloh berfirman tentang mereka: Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami). (QS. Al-Furqon: 74) (HR. Ahmad)

Lihatlah keadaan mereka yang hidup di zaman keberadaan utusan Alloh yang paling mulia. Zaman di mana itu adalah zaman yang terbaik. Zaman di mana cahaya kebenaran benar-benar memancar terang; dan Rosul masih ada di tengah mereka. Namun meski demikian, masih saja orang-orang yang memperturutkan hatinya yang keras. Masih saja ada orang yang tidak mau untuk menerima ajakan tauhid beliau. Mereka lebih memilih gelapnya kesyirikan dan kebodohan daripada terangnya iman dan ilmu.

Tak perlu kiranya kita mengangankan hidup di masa beliau. Masa hidup beliau telah Alloh tutup. Pun seperti yang dikatakan sahabat di atas; Miqdad Bin Al-Aswad, kalaulah kita hidup di zaman itu, kira-kira di manakah posisi kita terhadap Rosululloh? Karena banyak pula yang menjalani hidup di masa Rosul, namun pun ternyata tetap saja mereka menutup telinga mereka rapat-rapat dari dakwah tauhid Rosul. Padahal mereka mendapatkan nikmat besar bisa melihat Rosululloh n ; suatu kemuliaan tersendiri yang akan memasukkannya ke dalam golongan sahabat, yang merupakan sebaik-baik masa umat manusia. Kemuliaan ini bisa mereka raih andainya mereka melihat Rosul, dan ia mengimani Rosul, dan ia pun meninggal dalam keadaan Islam.

Masa Penuh Kesempatan

Karena Alloh masih memberikan kesempatan kepada kita untuk membenahi jiwa dan hati kita, di mana Alloh masih memberikan peluang bagi kita untuk mau menundukkan hati kepada-Nya; maka sudah selayaknyalah bila masing-masing kita mempergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya. Ini adalah peluang emas yang membuka jalan kita selebar-lebarnya menuju kebaikan hakiki.

Cukuplah lembaran sejarah kita jadikan sebagai pelajaran nan berharga. Kita ambil hikmah dari perjalanan hidup para sahabat. Mereka adalah orang-orang yang pernah hidup dalam masa kegelapan. Namun dengan membuka mata hati mereka, atas izin Alloh, merekapun bisa selamat dari jurang kebinasaan yang sudah sangat mengkhawatirkan. Mereka berkenan menanggalkan masa-masa jahiliyah, untuk kemudian menjemput cahaya dan petunjuk yang dibawa oleh Rosululloh n .

Inilah Umar Bin Khotthob. Seorang yang terkenal keras; yang sengit permusuhannya terhadap Islam, yang sampai-sampai ada yang mengatakan: bahwa Umar tak akan masuk Islam sampai keledainya Khotthob masuk Islam. Namun begitu iapun luluh dengan Islam. Diriwayatkan dari Nabi bahwa beliau bersabda kepada Umar: “Sungguh, engkau ini orang yang sangat keras menyakiti kami wahai Abu Hafsh. Lalu akupun berdoa kepada Alloh agar Islam menjadi mulia denganmu.” (hadits ini dhoif). Cukuplah bagi kita hadits: Ya Alloh, muliakanlah Islam ini dengan salah satu dari dua orang yang lebih engkau cintai; Abu Jahl atau Umar Bin Khotthob. Dan ternyata yang lebih Alloh cintai adalah Umar.

Maka Dari Itu…

Karena itulah, bila kita measa keras hai, bila kita merasa sudah demikian melenceng, sudah merasa sedemikian kotor, marilah kita kembali kepada Alloh. Alloh masih membuka pintu-Nya untuk para sekalian hamba. Seberat apapun dosa yang kita pikul, sekeras apapun hati kita, namun bila mata hati mau dibuka, maka dengan izin Alloh, ampunan dari Alloh begitu menghampar luas.

Bagaimana Alloh akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa Rosul itu (Muhammad) benar-benar rasul, dan keterangan-keteranganpun telah datang kepada mereka? Alloh tidak menunjuki orang-orang yang zalim.

Mereka itu, balasannya ialah: bahwasanya la’nat Alloh ditimpakan kepada mereka, (demikian pula) la’nat para malaikat dan manusia seluruhnya,

mereka kekal di dalamnya, tidak diringankan siksa dari mereka, dan tidak (pula) mereka diberi tangguh,

kecuali orang-orang yang taubat, sesudah (kafir) itu dan mengadakan perbaikan. Karena sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imron: 86-89)

Sumber: Majalah Lentera Qolbu Edisi 04 Tahun 03

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*