SEBAB-SEBAB WAKTU TERBUANG

sebab-sebab-waktu-terbuang

Sebab-sebab waktu terbuang, pembahasan masalah waktu atau umur, merupakan pembahasan yang penting. Karena waktu atau umur ini merupakan ra’sul maal (modal), waktu merupakan kehidupan, dan jika seseorang tidak memanfaatkan modal ini dengan sebaik-baiknya maka ia akan merugi. Diantara penyebab waktu terbuang adalah;

  1. Lemahnya iman, dan ini menyebabkan:

Pertama, kecenderungan untuk memperturutkan hawa nafsu.

Mengikuti hawa nafsu dan tidak memiliki kontrol agama membuatnya sulit untuk bisa membawanya bertakwa kepada Allah ta’ala dalam menjauhi apa yang diharamkan Allah ta’ala dan Rasul-Nya. Serta akan sulit baginya dalam menggunakan waktunya jika ia selalu memperturutkan hawa nafsunya. Apabila seseorang mengoreksi diri dan menyadari bahwa ia akan kembali kepada Allah ta’ala sepanjang apapun umurnya, maka ia akan mampu mengalahkan hawa nafsunya dan mampu pula mengendalikan dirinya.

Kedua, panjang angan-angan.

Panjang angan-angan (thulul ‘amal) yaitu merasa masih berusia panjang adalah penyakit berbahaya dan kronis bagi manusia. Jika penyakit ini menjangkiti seorang muslim, maka itu akan membawa kepada indikasi yang lebih serius. Misalnya ia mampu menjauhi perintah Allah, enggan bertaubat, cinta kepada dunia, melupakan kehidupan akhirat yang abadi, dan membuat hati menjadi keras. Imam Hasan Al-Bashri Rahimahullah berkata, “Tidaklah seseorang panjang angan-angannya, melainkan akan rusak amal-amalnya.” Ibnu Qayyim Rahimahullah  berkata, “Penyebab menyia-nyiakan hati yaitu lebih mencintai dunia daripada akhirat. Dan penyebab menyia-nyiakan waktu yaitu panjang angan-angan.

  1. Tidak tahu akan pentingnya waktu

Sebab banyak orang yang membuang waktu, karena mereka tidak tahu tentang berharganya waktu. Jangan sampai terbuang dengan sia-sia. Ibnu Mas’ud rad berkata “Tidaklah aku menyesal terhadap sesuatu seperti penyesalanku pada suatu hari dimana mataharinya terbenam, umurku berkurang, tapi amalku tidak bertambah.

Jadi kita harus berpikir tentang diri sendiri, ada atau tidak manfaat yang kita lakukan di hari ini. Apakah kita sudah menolong orang, sudah sholat dengan khusyuk, membaca buku yang bermanfaat, dan lainnya. Hasan Al-Bashri Rahimahullah berkata, “Aku bertemu dengan beberapa kaum yang seorang dari mereka itu lebih pelit dengan waktunya daripada dengan hartanya.” Artinya ia tidak mau waktunya yang ia miliki terbuang sia-sia. Para ulama terdahulu juga demikian, mereka menjaga waktunya sehingga mereka bisa menulis ratusan kitab, seperti Ibnu Jarir At-Thobari, Abu Nu’aim Al-Asbahani, dan para ulama lainnya.

  1. Lemahnya keinginan atau tidak punya semangat.

Jika kita punya semangat, pasti kita bisa dari yang lain. Contohnya adalah Qotadah bin Di’amah As-Sadusi dan Al-A’masy Rahimahullah keduanya tuna netra (buta), akan tetapi Allah memberikan keseriusan dan semangat untuk belajar dan menghafal Al-Quran dan Hadits, juga seperti Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz Rahimahullah  yang ada di zaman sekarang, mereka bisa menguasai Al-Qur’an dan menjadi ulama yang terkenal di seluruh dunia.

Imam As-Syaukani Rahimahullah berkata, “Siapa yang menghabiskan masa mudanya dalam kemalsan dan tenggelam pada beberapa kesenangan maka ia akan mendapatkan kenikmatan jasmani dari hal tersebut sesuai dengan yang diinginkannya, terlebih lagi apabila ia seorang yang kaya dan tampan.

Akan tetapi, kesengan tersebut pasti berakhir dan kenikmatan itu pasti sirna saat akalnya telah sempurna pemahamannya telah kuat dan cara berpikirnya telah matang, sebelumnya ia telah mengetahui segala kepahitan akibat menyia-nyiakan waktu seperti karena telah bermaksiat, bersedih karena telah menghabiskan umurnya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat serta bersusah hati karena telah menggunakan hartanya tidak pada hartanya. Maka orang seperti itu tidak memperoleh kemenangan dan keberuntungan apapun dari itu semua.

  1. Ada contoh yang tidak baik dari orang lain.

Contoh yang bisa ditiru oleh seorang anak dari bapak atau kakek atau lainnya sehingga anak tersebut terbiasa membuang-buang waktu. Jika orang tuanya suka menonton TV maka ia pun akan ikut.

  1. Pendidikan yang salah sejak kecil.

Yaitu dengan tidak membiasakan pada anak untuk menggunakan waktu sebaik-baiknya sejak kecil. Maka ketika dewasa, dia tidak bisa mengatur waktunya dengan baik.

  1. Tidak tahu bagaiman cara mengatur waktu.

Ada orang yang ingin sekali agar waktunya bermanfaat, tetapi ia tidak tahu bagaimana mengatur waktunya. Akhirnya waktunya jadi terbuang dengan sia-sia tanpa ada manfaatnya.

  1. Cinta Dunia

Banyak manusia yang terlalaikan sehingga banyak waktu yang terbuang sia-sia untuk mengejar dunia, waktu yang digunakan mulai dari pagi hingga malam hanya untuk mengurusi dunia, seperti mencari nafkah, dagang, kerja, lembur, mengerjakan tugas kantor. Sedangkan rizki itu datangnya dengan pasti, setiap anak yang lahir itu sudah membawa rizki. Akan tetapi yang belum pasti adalah keadaan kita di hadapan Allah pada hari Kiamat apakah amal kita diterima atau tidak, apakah kita akan masuk surge atau neraka. Oleh karena itu, jangan jadikan dunia sebagai tujuan.

Orang yang tujuannya dunia akan dicerai beraikan urusannya dan dijadikan kefakiran di depan pelupuk matanya. Sehingga ia selalu merasa kurang, tidak cukup, dan fakir, padahal Allah telah memberikan harta yang banyak. Rasullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

مَنْ كَانَتْ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ، وَمَنْ كَانَتْ الْآخِرَةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ

“Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia maka Allah akan mecerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua matanya dan ia mendapat dunia menurut apa yang ditetapkan baginya. Dan barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allah akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatnya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.” HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban

Akan tetapi dunia tidak akan datang melainkan apa yang telah Allah tentukan, meskipun ia telah kerja dari pagi sampai larut malam. Adapun orang yang tujuannya adalah akhirat, maka Allah kumpulkan seluruh urusannya, Allah jadikan hatinya itu merasa cukup dengan rizki yang Allah berikan dan dunia akan datang dalam keadaan hina.

Para ulama terdahulu sangat berhati-hati trhadap penguasa, mereka tidak ingin dekat dengan para penguasa. Sebab Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

من أتى أبواب السلطان افتتن.

“Barangsiapa yang mendekati atau masuk kepada penguasa, maka ia terfitnah” HR. Ahmad dan At-Tarmidzi

Bahkan ada yang diantara para ulama yang tidak mau diberi harta oleh penguasa. Para ulama lebih memilih memakan dari jerih payahnya sendiri. Para ulama ahlus sunnah juga tidak suka dengan kedudukan atau jabatan, karena kecintaan manusia kepada jabatan atau kepemimpunan kan membawa kepada kerusakan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “…yang deikian bahwasannya cinta kepada kepemimpinan (kedudukan/jabatan) merupakan sumber kejahatan dan kezhaliman. “ Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ فِي غَنَمٍ بِأفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الرّجُلِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ

“Dua serigala yang lapar yang dilepas di tengah kumpulan kambing, tidak lebih merusak dibandingkan dengan sifat rakus manusia terhadap harta dan kedudukan yang sangat merusak agamanya.” HR. At-Tarmidzi

Di dalam hadits ini Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengabarkan bahwa ketamakan manusia terhadap harta dan jabatan pasti akan merusak agamanya. Ketamakan manusia kepada harta dan kepemimpinan akan membawa kepada kezhaliman kebohongan dan perbuatan keji. Bahkan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Kita berlindung kepada Allah dari sifat dan perbuatan demikan.

Orang-orang yang gila kepada harta, kedudukan jabatan dan cinta kepada dunia mereka akan menyesal pada hari kiamat. Ketika mereka diberikan catatan amalnya dari sebelah kirinya, semua kekuasaan, jabatan dan hartanya tidak bermanfaat di akhirat. Allah berfirman,

وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُولُ يَالَيْتَنِي لَمْ أُوتَ كِتَابِيَهْ (25) وَلَمْ أَدْرِ مَا حِسَابِيَهْ (26) يَالَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَ (27) مَا أَغْنَى عَنِّي مَالِيَهْ (28) هَلَكَ عَنِّي سُلْطَانِيَهْ

“Dan apapun orang yang kitabnya diberikan di tangan kirinya, maka dia berkata, “alangkah baiknya jika kitabku (ini) tidak diberikan kepadaku. Sehingga aku tidak mengetahui bagaimana perhitunganku, Duhai, kiranya (kematian) itulah yang menyudahi segala sesuatu. Hartaku sama sekali tidak berguna bagiku. Kekuasaanku telah hilang dariku.” (Al-Haqqah: 25-29)

Pecinta dunia adalah orang yang paling banyak disiksa karena dunia, ia disiksa pada tiga keadaan. Ia disika di dunia berupa usaha, kerja keras untuk mendapatkannya, dan perbuatan dengan sesama pecinta dunia. Dia disiksa di alam barzakh (kubur) dan disiksa pada hari Kiamat. Penggila harta dan pecinta dunia yang lebih mengutamakan dunia daripada akhirat adalah orang yang paling bodoh dan idiot. Sebab, ia lebih mengutamakan khayalan daripada kenyataan, lebih mengutamakan bayang-bayang yang segera hilang daripada kenikmatan yang kekal, lebih mengutamakan rumah yang segera binasa dan menukar kehidupan yang abadi yang nyaman dengan kehidupan yang tidak kebih dari sekedar mimpi yang segera hilang. Sesungguhnya orang yang cerdas tidak akan tertipu dengan hal-hal semacam itu.

Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya Ighaatsatul Lahafaan berkata,

“Pecinta dunia tidak akan terlepas dari tiga hal:

  1. Kesedihan (kegelisahan) yang terus menerus,
  2. Kecapekan (keletihan) yang berkelanjutan, dan
  3. Penyesalan yang tidak pernah berhenti.”

Oleh karena itu, seorang muslim harus zuhud terhadap dunia dan qana’ah (merasa puas dengan rezeki yang Allah karuniakan). Setiap muslim dan musimah harus  ingat, bahwa kita diciptakan oleh Allah ﷻ untuk beribadah kepada Allah. Kita wajib meluangkan waktu kita untuk ibadah kepada Allah.

Ibnul Qayyim Rahimahullah  berkata, “Bentuk penyia-nyiaan terbesar (yang banyak dilakukan oleh manusia) yaitu ada dua dan keduanya merupakan pokok segala penyia-nyiaan; pertama menyia-nyiakan hati, kedua menyia-nyiakan waktu.” Banyak manusia yang menyia-nyiakan hatinya dengan mengutamakan dunia atas akhitat. Padahal dunia ini lebih jelek dari bangkai kambing, bahkan di sisi Allah ﷻ dunia itu tidak sebanding dengan sayap nyamuk.

Demikian, semoga kita bisa dapat memanfaatkan waktu kita untuk hal-hal yang Allah ridhai dan cintai serta terhindar dari menyia-nyiakan waktu.

REFERENSI:

Dari buku “Waktumu dihabiskan untuk apa?” Karya Ustadz Yazid Bin Abdul Qadir Jawaz

Cetakan Pustaka At-Taqwa.

Diringkas oleh Sahl Suyono

Baca juga artikel berikut

MENJEMPUT JODOH

IBUKU TIDAK ADIL DALAM BERSIKAP KEPADAKU. APA YANG HARUS SAYA LAKUKAN.?

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.