Rasa Takut Yang Menepis Ketakutan

Suatu anugerah, ketika manusia diberi nikmat rasa takut. Dengan adanya rasa takut, seseorang bisa melakukan tindakan antisipasi untuk menghindari suatu mara bahaya yang bisa-bisa menghadang dan membinasakannya. Bisa kita bayangkan, bagaimana jadinya kalau seseorang tidak diberi rasa takut, maka iapun akan mudah terjerat oleh marabahaya yang ada di sekelilingnya. Taruhlah misalnya, ada singa di suatu tempat. Bila tak ada rasa takut dalam diri seseorang, maka tanpa ada pikir panjang dan tanpa ada perhitungan, ia akan mendekat begitu saja, dan itupun berujung pada kematiannya!

Begitu pula dengan kehidupan di dunia ini. Dunia dengan gemerlapnya yang mempesona, sungguh sangat memikat hasrat setiap hamba. Segala pernak-pernik dan perhiasan yang ada di dunia, baik itu harta, pemandangan, kecenderungan kepada lawan jenis, dan yang lainnya, itu semua membuat hati bisa menjadi terpikat. Padahal kebanyakan dari itu semua bisa menyeretnya menuju jurang siksa yang begitu dahsyat kelak. Dan untuk mengekang laju hasrat dan syahwat manusia, maka dijadikanlah takwa sebagai benteng pertahanan yang bisa menjaganya dari segala goda. Dan itu semua bisa hadir dengan seorang hamba menghadirkan rasa takut; khauf kepada Alloh Ta’ala.

Penghalang terbesar dari dosa adalah rasa khauf (takut) kepada Alloh dan khawatir akan siksa dan hukuman-Nya, khawatir akan murka dan dahsyatnya adzab dari-Nya.

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya (perintah Rosul) takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (QS. An-Nur:63)

Kadar Yang Wajib Dalam Menghadirkan Rasa Takut

Kadar yang wajib dari rasa takut adalah kadar yang mendorong seseorang untuk menunaikan berbagai kewajiban dan mengjauhi hal-hal yang diharamkan. Kalau kadarnya melebihi hal tersebut, di mana ia menjadi faktor yang mendorong seseorang untuk lebih giat melakukan berbagai amalan tambahan dan ketaatan serta menahan diri dari berbagai hal kecil yang makruh serta menahan diri dari sikap leluasa melakukan hal-hal mubah yang berlebihan, maka itu merupakan hal yang terpuji. Namun bila kadarnya berlebihan, melebihi hal tersebut, misalnya hingga menyebabkan sakit, atau menghantarkan pada kematian, atau kegundahan yang senantiasa mengiringinya, di mana membuatnya terputus dari upaya mencari berbagai keutamaan yang dianjurkan yang dicintai Alloh, maka hal itu tidaklah menjadi terpuji. Karena itulah kaum salaf merasa khawatir atas Atha’ As-Sulami dikarenakan rasa takutnya yang berlebihan; di mana Al-Quran membuatnya menjadi lupa, dan jadilah ia sosok yang tergolek di atas ranjangnya. Mengapa rasa takut yang seperti ini tercela? Karena rasa takut terhadap siksaan bukanlah hal yang dimaksudkan secara esensinya. Ia hanyalah cemeti yang menjadi media, di mana orang yang berlamban-lamban dari ketaatan, digiring dengan cemeti ini untuk mau menuju kepada ketaatan. Dari sinilah, api merupakan di antara sekian nikmat-nikmat Alloh atas para hamba-Nya yang takut dan bertakwa kepada-Nya. Karena makna inilah, Alloh menjadikannya termasuk di antara nikmat-nikmat dari-Nya atas kalangan jin dan manusia dalam surat Ar-Rahman. Alloh berfirman:

يُرْسَلُ عَلَيْكُمَا شُوَاظٌ مِنْ نَارٍ وَنُحَاسٌ فَلا تَنْتَصِرَانِ * فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Kepada kamu, (jin dan manusia) dilepaskan nyala api dan cairan tembaga maka kamu tidak dapat menyelamatkan diri (dari padanya). Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS Ar-Rohman: 35-36).

Syaikh Sa’di berkata: Kemudian Alloh menyebutkan apa yang telah Dia persiapkan untuk mereka pada moment yang begitu genting tersebut (yaitu pada hari Kiamat), di mana Dia berfirman: Kepada kamu, (jin dan manusia) dilepaskan nyala api dan cairan tembaga maka kamu tidak dapat menyelamatkan diri (dari padanya)... maknanhya adalah bahwa dua perkara yang begitu mengerikan ini, dilepaskan atas kalian wahai bangsa jin dan manusia, dan mengelilingi kalian, sehingga kalian tidak bisa menyelamatkan diri, tidak bisa mendapat pertolongan; tidak melalui penolong dari bangsa kalian sendiri, dan tidak pula tak ada seorangpun jua yang menolong kalian selain Alloh. Dan karena perkara Alloh menakut-nakuti para hamba-Nya merupakan nikmat dari-Nya atas mereka, dan merupakan cemeti di mana Alloh menggiring mereka dengan cemeti ini untuk menuju tujuan yang paling mulia dan pemberian yang paling tinggi, karena itulah Alloh menyebutkan anugerah-Nya dengan hal tersebut dengan firman-Nya: “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

Imam Syaukani mengatakan: sesungguhnya di antara sekian banyak nikmat Alloh adalah ancaman ini, di mana ancaman ini menjadi media yang membuat jera para makhluk dari kejahatan dan membuat mereka menjadi termotivasi untuk melakukan kebaikan.

Sosok Atha’ As-Sulami

Seperti disinggung di atas, bahwa kaum salaf merasa khawatir dengan rasa takut yang begitu dahsyat yang selalu menghinggapi Atha’ As-Sulami. Rasa takut Atha’ kepada Alloh ini sebenarnya tidaklah datang begitu saja, namun justru itu datang atas suatu kesadaran yang begitu tinggi akan kebesaran Alloh dan akan agungnya asma dan sifat Alloh. Ia benar-benar merenungi dan menghayati apa yang datang dari Alloh, sehingga segala hal yang dipaparkan Alloh dan Rosul-Nya, seolah itu sudah nyata di hadapan matanya. Dan itu yang membuatnya begitu ter”bius” dan ter”hipnotis” dengan apa yang ia hadirkan, namun dalam gambaran yang positif, di mana ia menggambarkan betapa siksa Alloh yang begitu pedih, sehingga seolah ia tengah menyaksikannya dengan mata kepalanya sendiri.

Dari Sholih Al-Marri berkata: adalah Atha’ As-Sulami, ia telah membuat dirinya sendiri menderita, hingga ia begitu lunglai lemah. Aku pernah berkata: “Sesungguhnya engkau telah membuat dirimu menderita. Sekarang ini aku akan membuat untukmu sesuatu (kebaikan), dan jangan engkau tolak kebaikan (pemuliaan) dariku.” Iapun menjawab: “Baiklah kalau begitu.” Sholih berkata: “Aku pun membeli sawiq (makanan terbuat dari tepung gandum hingga ketika dimakan akan “melenggang” dengan mudah ke tenggorokan) dengan kualitas terbaik yang aku dapatkan, dan juga minyak samin. Lalu aku buatkan makanan berkuah dan aku buat ia lembut dan manis, lalu aku suruh anakku untuk mengantarkannya disertai dengan sewadah air. Aku pesan kepadanya, agar ia tidak meninggalkan tempat hingga Atha’ benar-benar meminumnya. Iapun melakukan titah ayahnya, lalu kembali dan berkata: ia telah meminumnya. Esok harinya, akupun membuatkan makanan yang sama, namun ia mengembalikannya dan tidak meminumnya. Akupun mendatanginya dan aku menegurnya. Aku berkata: “Subhanalloh! Engkau menolak pemberian tanda penghormatanku kepadamu. Padahal itu adalah hal yang bisa membantu dan menguatkan sholatmu dan dzikirmu!” Ia menjawab: “Wahai Abu Bisyr! Semoga Alloh tidak menyakitimu! Sungguh, aku telah meminumnya pada kali pertama (hari pertama). Pada esok harinya, aku coba bujuk diriku agar mau merasakan lezatnya makanan itu, namun diriku tidak kuasa untuk bisa melakukannya! Bila aku hendak meminumnya, aku teringat dengan ayat ini:

مِّن وَرَآئِهِ جَهَنَّمُ وَيُسْقَى مِن مَّاء صَدِيدٍ(16) يَتَجَرَّعُهُ وَلاَ يَكَادُ يُسِيغُهُ وَيَأْتِيهِ الْمَوْتُ مِن كُلِّ مَكَانٍ وَمَا هُوَ بِمَيِّتٍ وَمِن وَرَآئِهِ عَذَابٌ غَلِيظ (17)

di hadapannya ada Jahannam dan dia akan diberi minuman dengan air nanah, diminumnnya air nanah itu dan hampir dia tidak bisa menelannya dan datanglah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi dia tidak juga mati, dan dihadapannya masih ada azab yang berat. (QS. Ibrohim:16-17)

Maka ketika itu, Sholih pun menangis dan ia berkata: aku katakan kepada diriku, bahwa aku melihat diriku berada di satu lembah, sedangkan engkau ada di lembah yang lain.

Itu adalah hati yang hatinya selalu tertaut dengan kebesaran dan keagungan Alloh. Ia selalu menjadikan hatinya mencerna dan meresapi segala yang datang dari titah Alloh dan Rosul-Nya. Bukan hati yang beku dan tak peka, yang bertubi-tubi mendengar lantunan ayat-ayat dan hadits, namun ia dapati hatinya laksana batu karang yang tak juga goyah diterpa oleh gelombang peringatan-peringatan keras dari Tuhannya.

Ada lagi kisah yang disampaikan oleh Alaa’ Bin Muhammad tentang dirinya. Ia berkata: aku pernah masuk menemui As-Sulami, sedangkan kala itu ia pingsan. Aku bertanya kepada istrinya, ada apa dengan Atha’. Ia menjawab: “Ada tetangga kami yang menyalakan tungku, lalu Atha’ melihatnya, hingga iapun terjatuh pingsan. Dan ia berkata: “Bila aku teringat ahli neraka dan adzab siksa yang menimpa mereka, aku pun membayangkan bagaimana kalau aku tengah bersama mereka. Bagaimana jiwa yang tangannya terbelenggu pada lehernya dan diseret di neraka, bagaimana bisa ia tidak menjerit lalu menangis?! Bagaimana bisa jiwa yang disiksa untuk tidak menangis?! Dan sungguh, tangisan itu sangatlah kecil artinya bagi seseorang, bila mereka tidak mendapatkan rahmat Alloh!” (Miftâhul Afkâr Litta’ahhub Lidâril Qorôr, dan At-Takhwîf Minannâr)

Dan demikianlah, bila seseorang tahu akan kebesaran dan keagungan Alloh, maka yang meliputi dirinya adalah perasaan bahwa segala gerak-geriknya tidak lain hanyalah untuk berbakti dan beribadah kepada Alloh, dengan menghadirkan rasa khusyuk dan tunduk, terenyuh dengan berbagai pemandangan mengerikan yang digambarkan Alloh dan Rosul-Nya mengenai keadaan orang-orang yang ingkar kepada-Nya. Meski demikian, ia pun begitu berharap akan rahmat dan ampunan dari-Nya, dengan melihat pada ayat-ayat janji Alloh dan Rosul-Nya.

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي أَرَى مَا لَا تَرَوْنَ وَأَسْمَعُ مَا لَا تَسْمَعُونَ أَطَّتْ السَّمَاءُ وَحُقَّ لَهَا أَنْ تَئِطَّ مَا فِيهَا مَوْضِعُ أَرْبَعِ أَصَابِعَ إِلَّا عَلَيْهِ مَلَكٌ سَاجِدٌ لَوْ عَلِمْتُمْ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا وَلَا تَلَذَّذْتُمْ بِالنِّسَاءِ عَلَى الْفُرُشَاتِ وَلَخَرَجْتُمْ عَلَى أَوْ إِلَى الصُّعُدَاتِ تَجْأَرُونَ إِلَى اللَّهِ

Dari Abu Dzar berkata: Rosululloh Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: Sesungguhnya aku melihat apa yang tidak kalian lihat, dan aku mendengar apa yang tidak kalian dengar. Langit bergemuruh, dan pantas baginya untuk bergemuruh. Tak ada di sana tempat sekira empat jari, melainkan di sana ada malaikat yang sujud. Sekiranya kalian tahu apa yang aku tahu, tentulah kalian akan sedikit tertawa, dan pasti kalian akan banyak menangis, dan tidak sempat kalian untuk bersenang-senang dengan istri-istri kalian di ranjang peraduan, dan pastilah kalian akan keluar ke jalan-jalan, memintakan perlindungan kepada Alloh.

Abu Dzar kemudian berkata: “Demi Alloh, andai saja aku ini hanyalah sebatang pohon yang dicabut!”(HR. Ahmad, Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata, ini hasan lighairihi, sedangkan isnad hadits ini –dengan sanad dalam Musnad Ahmad- munqathi’).

Sumber: Majalah Lentera Qolbu Edisi 04 Tahun 04

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.