PILIH MANA,?

Oleh Brilly El-Rasheed

Pilih mana? Berada di surga tertinggi atau cukup menempati surga yang ibaratnya terletak paling dekat dengan bumi? Hati yang suci akan memilih yang paling tinggi, jiwa yang mulia akan memilih derajat yang membuat bangga. Jikalau qolbu belum bisa merasakan hal ini, berhati-hatilah, itu pertanda syetan sedang menggerogoti atau kerak dosa terlalu pekat melekat di dinding-dinding hati.

Cukup menjadi penghuni surga terendah?

Ibnu Abu ‘Umar menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, Muthorrif bin Thorif dan Abdul Malik —putra Abjar— mendengar dari Asy-Sya’bi, ia berkata, Aku pernah mendengar Mughiroh bin Syu’bah menyampaikan sebuah hadits dari Nabi di atas mimbar. Beliau bersabda:

“Sesungguhnya Nabi Musa pernah bertanya kepada Robbnya, “Wahai Robbku, siapakah penghuni surga yang paling rendah kedudukannya?” Alloh berfirman, “Seseorang yang datang ke surga setelah semua ahli surga memasuki surga. Dikatakan kepadanya, “Masuklah kamu ke dalam surga.” Orang itu berkata, “Bagaimana aku masuk surga, sementara mereka (ahli surga) telah menempati tempat-tempat mereka dan mengambil semua yang disiapkan untuk mereka?!” Dijawab, “Apakah kamu rela bila mendapatkan —seperti—apa yang dimiliki oleh seorang raja dari raja-raja dunia?” Orang itu menjawab, “Tentu, wahai Robbku. Aku rela.” Lalu dikatakan kepadanya, “Kamu mendapatkan ini (seperti apa yang dimiliki oleh salah seorang raja dunia -penj) dan sepertinya, sepertinya juga sepertinya.” (Tiga kali lipat -penj.) Orang itu berkata, “Aku rela, wahai Robbku.” Dikatakan lagi kepadanya, “Kamu mendapatkan ini dan sepuluh kali lipat sepertinya.” Orang itu berkata, “Aku rela, wahai Robbku.” Kemudian dikatakan lagi kepadanya, “Di samping itu semua, kamu juga mendapatkan apa yang diinginkan oleh dirimu dan yang membuat senang matamu.” [Shahih: Shahih Muslim no. 189; Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 3198]

Orang yang beriman kepada Alloh dan kehidupan akhirat, yang yakin bahwa Alloh adalah Robbnya, yang kokoh tauhidnya, yang suci qolbunya, yang bersih akalnya, yang percaya kepada kerosulan dan kenabian Muhammad bin ‘Abdullah, niscaya akan bahagia membaca hadits ini. Hadits yang asli, benar dan sah dari Rosulullah. Ia akan girang mendengar hadits ini dibacakan. Hatinya akan berharap penuh menjadi hamba Alloh yang beruntung dengan kenikmatan surga, sekalipun hanya mendapat kenikmatan seperti yang dirasakan penghuni surga yang paling rendah derajatnya. Kita, sebagai hamba Alloh yang beriman kepada-Nya, sangat mengharapkan-Nya untuk berkenan memasukkan kita ke dalam surga-Nya dan menjauhkan kita dari neraka-Nya. Sebagai bukti nyata tulusnya pengharapan kita tersebut, kita beribadah kepada Alloh sesuai tuntunan-Nya dan sepenuh hati serta senantiasa berusaha mencapai nilai terbaik dan tertinggi. Alloh, Yang Maha kaya lagi Maha pemurah, telah memberikan berbagai kenikmatan surga yang dimaui sang hamba penghuni surga derajat terendah. Apatah lagi kepada hamba-hamba-Nya yang rela mengabdikan diri untuk-Nya, senang menghinakan diri di hadapan-Nya dan ridho menyembah-Nya dengan penuh kesempurnaan. Sudah pasti Alloh akan berikan kepada mereka kenikmatan yang lebih melimpah dan berlipat-lipat lagi.

Dari Abu Hurairah, dia berkata, Rosulullah bersabda:

“Alloh telah berfirman, “Aku sediakan kenikmatan yang masih tersimpan (belum ditemukan) untuk hamba-hamba-Ku yang sholih, yang tidak pernah

terlihat oleh mata dan tidak pernah terdengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas oleh hati manusia, yang tidak sama dengan apa yang telah ditempatkan Alloh di dunia.” Kemudian Rosulullah membacakan ayat Al-Qur`an. “Tidak seorangpun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu bermacammacam nikmat surga yang amat menyenangkan. (Al-Qur`an surah As-Sajdah ayat : 17).” [Shahih:Mukhtashar Shahih Muslim no. 2166; Shahih Sunan At-Tirmidzi

  1. 3197]

Saudaraku yang berhati suci, banyak dari kita yang keliru membaca hadits-hadits tentang kenikmatan-kenikmatan surga. Sekilas begitu mudah untuk meraihnya. Hanya dengan memenuhi beberapa amal. Lalu bersantai, tidak lagi peduli. Dengan anggapan itu sudah cukup mendapatkan berbagai nikmat surgawi seperti disebutkan Nabi dalam hadits yang pertama. Benar. Itu benar. Pemahaman seperti itu tidak sepenuhnya salah. Tetapi sebelum mematri pemahaman itu di dalam hati, patutlah kiranya kita merenung sejenak untuk lebih meresapi arti sejati hidup ini. Sering kita berlomba-lomba untuk

menggapai prestasi tertinggi. Sering kita berpacu menjadi nomor satu. Sering kita beradu untuk meraih posisi jabatan paling bergengsi. Sering kita bersaing untuk mendapat predikat pekerja paling baik. Sering kita berlomba untuk menjadi orang yang paling kaya bahkan kalau bisa menjadi konglomerat sedunia. Bukan begitu? Kita juga menyaksikan itu semua di pentas dunia fana ini. Kerap kita iri menyaksikan saudara kita bertambah harta atau semakin tinggi pangkat jabatannya. Kerap dada terasa sesak, tidur tidak nyenyak dan telinga jadi pekak, ketika melihat teman kita lebih unggul tingkatan sosialnya dibandingkan dengan kita. Kerap kita memendam dengki kepada tetangga kita yang hidupnya lebih leluasa dan bisa bertamasya hingga lintas negara. Atau lebih dihormati dan dihargai. Uniknya, kita kadang tidak mendapat perasaan ini tatkala menemui orang yang sholih yang gemar bersedekah, yang tidak pernah telat sholat berjama’ah, yang tidak pernah tertinggal dari ibadah yang paling utama. Kita lebih banyak bersikap biasa saja dan dingin ketika mendapati orang-orang yang khusyu’ dan mengabdikan seluruh hidupnya untuk Alloh dan agama-Nya. Tidak kita lihat, diri ini ingin mengungguli mereka. Akankah kita berlomba mencari keunggulan di dunia yang akan segera sirna, dan rela tertinggal di derajat paling rendah di surga serta tidak gelisah merasa tersekat ketika tidak menjadi orang yang paling tinggi derajatnya di akhirat, yang kekal abadi dan tidak bisa mengulangi

kembali masa-masa duniawi untuk beramal lebih giat lagi? Mengapa untuk kebahagiaan akhirat, hanya sedikit orang yang mau berlomba? Seolah seorang menyodorkan temannya untuk lebih dulu menjadi pendahulu. Seakan orang-orang enggan untuk menjadi konglomerat akhirat. Malas rasanya berlomba-lomba menggapai derajat tertinggi di surga. Tidak ada semangat ataupun keinginan untuk

memiliki prestasi ibadah yang paling tinggi. Tidak ada greget untuk bisa menjadi hamba Alloh yang paling sholih. Ya, memang begitulah tabiat manusia bila tidak menyadari hakekat kehidupan dunia dan akhirat. Kalau saja mereka mengenal arti akhirat serta memahami betapa hina dan rendahnya dunia, hati mereka akan membara penuh dahaga untuk memperoleh bahagia di kehidupan yang nyata, yakni di surga, tempat yang paling indah dan tiada duanya di dunia. Wajah mereka membiaskan semangat itu. Tubuh mereka pun memancarkan asa yang besar tersebut. Lisan-lisan mereka akan berubah lebih bercahaya seindah permata. Perbuatan-perbuatan mereka berubah lebih mulia. Kepala mereka akan merunduk khusyu’ bahkan menjunam bersujud. Qolbu mereka tertaut dengan rumah-rumah Alloh di

bumi. Ingin selalu dekat dengan Alloh dan singgah di rumah-Nya selama mungkin.

Pesan rosul untukmu yang berjiwa hanif (lurus)

Wahai saudaraku, wahai qolbu yang putih bersih, wahai jiwa yang indah penuh cahaya hidayah, pelajarilah pesan Rosulmu berikut ini, dan tanamkanlah dalam kedalaman sanubari, bahwa surga itu bertingkat-tingkat, dan berjanjilah bahwa engkau akan menjadi penghuninya pada tingkat yang paling tinggi, ya, surga Firdaus namanya.

Qutaibah dan Ahmad bin ‘Abdah Adh-Dhabbi Al-Bashri menceritakan kepada kami, mereka berdua berkata, ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad menceritakan kepada kami dari Zaid bin Aslam, dari Atha’ bin Yasar, dari Mu’adz bin Jabal bahwasanya Rosulullah bersabda:

“Siapa saja yang berpuasa di bulan Ramadhan, melaksanakan sholat lima waktu, melaksanakan haji ke Baitullah —aku tidak mengetahui apakah beliau juga menyebutkan tentang zakat atau tidak— melainkan Alloh pasti akan mengampuni dosa-dosanya; baik ia berhijrah di jalan Alloh atau tetap tinggal di negerinya (tempat ia dilahirkan).” Mu’adz berkata, “Bolehkah aku memberitahukan hal ini kepada orang-orang?”Rosulullah menjawab, “Biarkan orang-orang beramal. Sesungguhnya di surga itu terdapat seratus derajat. Jarak antara dua derajat seperti jarak antara langit dan bumi. Surga Firdaus merupakan surga tertinggi dan paling utama, di atasnya terdapat ‘Arsy Ar-Rahman (singgasana Alloh Yang Mahakasih. Darinya (dari surga Firdaus) mengalir (air) sungai-sungai surgawi. Jika kalian ingin memohon kepada Alloh, maka mohonlah surga Firdaus kepada-Nya.” [Shahih: Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 2530; Ash-Shahihah no. 921]

Makna terdalam dari ungkapan Nabi “Biarkan orang-orang beramal. Sesungguhnya di surga itu terdapat seratus derajat… dst,” adalah biarkanlah orang-orang beramal sebanyak-banyaknya, jangan engkau biarkan orang-orang salah paham dengan rahasia betapa surga itu mudah untuk diraih, jangan sampai orang-orang yang menjadi malas beribadah, lemah dalam beramal sholih, malah menjadi ahli maksiat, jangan biarkan itu semua terjadi. Biarkanlah orang-orang beramal, sebab surga itu bertingkat-tingkat dan memiliki derajat-derajat. Penghuninya tergantung pada nilai kualitas dan kuantitas amalnya ketika di dunia. Jadi biarkanlah mereka beramal, agar mereka semangat dan berobsesi untuk bisa berada di surga yang paling tinggi, surga Firdaus.

Saudaraku, bagaimana? Sudahkah Anda memahami? Sudahkan muncul di qolbu Anda semangat yang membara, optimisme yang membaja, dan obsesi yang mempesona untuk menjadi penghuni surga Firdaus, surga yang tertinggi? Ya, bersiap-siaplah untuk berlomba mencapai surga Firdaus. Janganlah bermalas-malasan. Isi hari dengan ibadah, isi waktu dengan taat kepada Robbmu. Alokasikan harta untuk bersedekah. Serahkan jiwa dan raga untuk mengabdi kepada Alloh, Sang Pemilik

segalanya. Sekali lagi, pilih mana? Berada di surga tertinggi atau cukup menempati surga yang ibaratnya terletak paling dekat dengan bumi? Hati yang suci akan memilih yang paling tinggi, jiwa yang mulia akan memilih derajat yang membuat bangga.

Ingatlah pesan cinta ini.

Pelajaran lain kita dapatkan ialah kita tidak boleh memahami hadits dan firman Alloh secara sepotong-sepotong atau sesuai kemauan kita. Namun harus menyeluruh dan terpadu. Nabi telah mengajarkan itu secara implisit (terkandung) dalam hadits ini. Marilah kita belajar lebih giat lagi, menyelam dalam lautan ilmu, meski hanya berada di tepi pantainya. Semoga kita bisa menjadi hamba-hamba-Nya yang paham terhadap ajaran-ajaran-Nya, sholih amal perbuatannya, dan tinggi derajatnya di sisi-Nya. Amin.

Sumber: Majalah Lentera Qolbu Edisi 03 Tahun 02

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.