Perkara Yang Ditakutkan Oleh Rosululloh Atas Umatnya

Oleh : Ust. Hizbul Majid

Kehidupan dunia ini memang indah dan memukau, tak pelak banyak manusia kecuali yang dirahmati oleh Alloh terbuai dan terpesona dengan kehidupan yang semu ini. Dunia telah disifati oleh Alloh sebagai kesenangan yang menipu, tempat berbangga-bangga dengan harta dan anak-anak. Alloh l berfirman,

Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga diantara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan. Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada adzab yang keras dan ampunan dari Alloh serta keridloannya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.(QS. Al-Hadid: 20).

Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam mengingatkan tentang bahaya terlena dengan kehidupan dunia, sebagaimana dalam firman-Nya,

إِنِّ مِمَّا أَخَافُ عَلَيْكُمْ مِنْ بَعْدِي مَا يُفْتَحُ عَلَيْكُمْ مِنْ زَهْرَةِ الدُّنْيَا وَزِينَتِهَا

Sesungguhnya di antara perkara yang aku khawatirkan atas kalian setelahku adalah dibukakan kepadamu kesenangan dunia dan perhiasannya.(HR Bukhari dan Muslim).

Hinanya Kehidupan Dunia

Sebenarnya, banyak orang yang telah memahami hakikat dunia ini, namun masih banyak pula yang terjebak di dalamnya. Yang paling menyedihkan adalah, orang yang tidak mengerti sama sekali hakikat dunia. Mereka adalah orang-orang yang terombang-ambing dalam pusaran gelombang hawa nafsu yang sengaja dipasang oleh setan untuk dijadikan perangkap dalam menyesatkan manusia. Padahal harga dunia seisinya telah digambarkan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam dalam sabdanya:

لَوْ كَانَتْ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ

“Andaikata dunia di sisi Alloh senilai sayap seekor nyamuk, niscaya Alloh tidak akan memberikan seteguk air pun untuk orang kafir”. (HR. Tirmidzi dan sanadnya dinyatakan shohih oleh Hakim)

Sayap seekor nyamuk, siapa yang mau? Diberi gratispun kita tidak mau. Namun anehnya tidak sedikit di antara manusia yang mati-matian berebut sayap nyamuk tersebut, bahkan sampai mempertaruhkan surga mereka sekalipun!

Terlena dengan keindahan dunia  

Kesenangan dunia dan perhiasannya telah menjadikan banyak manusia lupa dan lalai. Oleh karena itu, Nabi n sangat mengkhawatirkan umatnya dilalaikan dengan mengejar dunia dan melupakan kehidupan akhirat. Perbuatan demikian dapat menyebabkan kaum muslimin mendapatkan hal yang tidak diinginkan yaitu:

  • Menjadi terhina di hadapan orang-orang kafir.

Sebagaimana sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam:

Apabila kamu berjual beli dengan cara riba, mengambil ekor sapi, rela dengan tanaman dan meninggalkan jihad (membela agama), Alloh akan kuasakan kehinaan kepadamu dan Dia tidak akan mencabutnya sampai kamu kembali kepada agamamu (yang benar).(HR Abu Dawud dan lainnya).

Ini artinya, kaum muslimin lebih mencintai dunia dan tidak mau membela agama Alloh. Mereka lebih disibukkan dengan mengejar dunia dan perhiasannya walaupun dengan cara yang diharamkan oleh Alloh ‘Azza wa jalla. Alloh pun menjadikan kewibawaan kaum muslimin hilang dan Alloh jadikan mereka terhina bagaikan buih yang dibawa oleh banjir. Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

Hampir-hampir umat-umat kafir saling memanggil untuk melahap kalian sebagaimana orang-orang lapar saling memanggil untuk melahap hidangan“. Lalu seorang shahabat berkata: ”Apakah jumlah kita sedikit waktu itu ? beliau bersabda: ”Justru jumlah kalian banyak pada waktu itu, akan tetapi seperti buih yang dibawa oleh banjir, dan Alloh benar-benar akan mencabut rasa takut kepada kalian dari dada-dada mereka, dan melemparkan kepada hati kalian al wahan“. Seorang sahabat berkata: ”Apakah al wahan itu ? beliau bersabda: ”cinta dunia dan takut mati.(HR Abu Dawud no 4297 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Bani dalam shahih Sunan Abi Dawud).

  • Saling menumpahkan darah.

Cinta dunia menjadikan manusia gelap mata dan kikir, sehingga mereka berlomba mencarinya dengan berbagai macam cara walaupun harus dengan menumpahkan darah saudaranya, sebagaimana sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam:

Jauhilah berbuat zalim karena kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat. Jauhilah syuhh (sangat kikir) karena sangat kikir itu telah membinasakan orang-orang sebelum kamu dan membawa mereka untuk menumpahkan darah dan menganggap halal wanita-wanita mereka.” (HR Muslim)

Sifat syuhh muncul akibat cinta dunia yang amat sangat, Ath-Thibi berkata, “Bakhil adalah kikir dan syuhh adalah bakhil yang disertai berbuat zalim, (dalam hadis ini) disebutkan syuhh setelah menyebutkan zalim untuk menunjukkan bahwa syuhh adalah macam zalim yang paling berat akibat dari cinta dunia dan kelezatannya”.

  • Tidak peduli halal dan haram.

Cinta dunia menjadikan manusia membabi buta tak peduli terhadap halal dan haram, tidak ada lagi rasa takut kepada siksa Alloh ‘Azza wa jalla, ia mencari rizki tanpa mempedulikan hukum-hukum Alloh sebagaimana disebutkan dalam hadis:

Sesungguhnya akan datang kepada manusia suatu zaman dimana seseorang tidak memperdulikan dengan apa ia mengambil harta, apakah dari yang halal ataukah dari yang haram“. (HR Bukhari)

Perkara-perkara ini yang dikhawatirkan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam atas umatnya apabila kesenangan dunia dibukakan kepada mereka, oleh karena itu beliau menganggap bahwa orang yang rakus dengan dunia dan tamak kepada harta lebih berbahaya dari serigala yang lapar, beliau bersabda:

Tidaklah dua serigala lapar yang dilepaskan kepada seekor kambing lebih berbahaya untuk agama seseorang dari orang yang rakus terhadap harta dan kedudukan“. (HR. At-Tirmidzi dan lainnya)

  • Mengorbankan prinsip-prinsip agama untuk menjaga kedudukan sosial.

Alloh ‘Azza wa jalla menggambarkan akibat perilaku tersebut dalam firman-Nya yang artinya:

“Mereka itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat. Maka tidak akan diringankan azabnya dan mereka tidak akan ditolong”. (QS. Al-Baqarah: 86)

  • Menghalalkan segala cara demi meraih kursi jabatan.

Rosululloh Shalallahu ‘alaihi wassalam menasehatkan:

“Janganlah meminta-minta jabatan, sebab jika engkau mendapatkan suatu jabatan lantaran permintaan darimu niscaya engkau tidak akan mendapatkan pertolongan dari Alloh ta’ala. Namun jika engkau mendapatkannya bukan karena permintaan darimu niscaya engkau akan mendapatkan bantuan (dari Alloh ta’ala) dalam mengembannya”. (HR. Bukhari dan Muslim)

  • Mengorbankan tali silaturrahim karena berebut warisan.

Dari Jubair bin Muth’im bahwa Rosululloh Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Tidak akan masuk surga pemutus (silaturrohim).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Perbandingan Dunia dan Akherat

Berkata syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah: “Bandingkanlah kehidupan dunia dan kehidupan akhirat, agar kita mengetahui perbedaan kedua negeri tersebut. Di negeri akhirat terdapat semua yang diinginkan oleh jiwa dan mata. Surga adalah darus salâm (kampung kedamaian), yang terlepas dari berbagai kekurangan, bala`, penyakit, kematian, kesusahan maupun usia yang tua. Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

لَمَوْضِعُ سَوْطٍ فِي الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

Sesungguhnya tempat cemeti kalian di surga itu lebih baik daripada dunia dan seisinya”. (HR. Ahmad no. 21732)

Ini adalah ucapan seorang nabi yang jujur lagi dipercaya. Sesungguhnya tempat tongkat di surga itu lebih baik dari dunia ini semuanya, dari awal hingga akhirnya dengan segala kenikmatan dan kemewahan yang ada di dalamnya. Apabila ini saja lebih baik dari dunia semuanya, lalu bagaimana dengan kenikmatan sejenak yang engkau dapatkan di dunia?

Wahai kaum Muslimin, Sungguh mengherankan sekali ada kaum yang lebih mengutamakan kehidupan dunia dari pada kehidupan akhirat. Padahal akhirat itu lebih baik dan kekal. Mereka lebih mengutamakan dunia dari pada akhirat. Mereka mencari dunia dan meninggalkan amal akhirat. Meraka sangat berambisi untuk mendapatkan dunia dan melewatkan apa yang Alloh ‘Azza wa jalla wajibkan kepada mereka. Mereka tenggelam dalam hawa nafsu dan kelalaian.

Mereka tidak lagi ingat dari kewajiban bersyukur kepada Dzat yang telah memberikan nikmat kepada mereka. Ciri-ciri mereka yaitu bermalas-malasan mengerjakan sholat dan merasa berat untuk berdzikir kepada Alloh ‘Azza wa jalla. Di dunia ini mereka berani bermuamalah riba yang telah direkayasa, atau dengan riba terang-terangan tanpa merasa salah sama sekali. Mereka berbohong dalam setiap pembicaraan, tidak menunaikan janji-janji mereka, tidak berbuat baik kepada orang tua dan tidak menyambung silaturahmi.

Ya Alloh, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang lebih mengutamakan akhirat dari pada dunia, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta jagalah kami dari api neraka.

Sumber: Majalah Lentera Qolbu Edisi 08 Tahun 03

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*