PENYAKIT DILANDA KASMARAN

Sungguh cinta terhadap idola benar-benar merusak hati. Jika hati sudah rusak, niscaya rusaklah kehendak, ucapan, dan amal perbuatan. Selain itu rusak pula pos tauhid. Allah mengabarkan bahwa penyakit mabuk asmara atau kasmaran ini hanya timbul dari dua golongan manusia, yaitu pelaku homoseks dan wanita. Allah mengabarkan tentang kasmarannya isteri al-Azoz kepada Yusuf, berikut rayuan serta tipu dayanya. Allah pun mengabarkan kesabaran dan ketakwaan yusuf terkait hal ini. Padahal, siapapun tidak akan bersabar dalam menghadapi ujian (cobaan zina) tersebut, kecuali orang-orang yang diberi kesabaran oleh Allah.

Terjadinya perbuatan tergantung dari kekuatan yang mendorong seseorang melakukannya dan hilangnya sesuatu yang menghalangi. Dalam kisah yusuf, faktor pendorong yang mengarah kepada zina berada pada puncaknya (tidak lagi terdapat penghalang). Hal ini didasarkan dengan beberapa alasan, dengan uraian sebagai berikut.

  1. Tabiat pria yang Allah ciptakan untuk cenderung kepada wanita, seperti halnya kecenderungan orang yang haus terhadap air dan orang yang lapar terhadap makanan. Sungguh seagian orang mampu bersabar untuk tidak makan dan minum, tetapi mereka tidak mampu bersabar dari wanita.

Ketidaksabaran ini tidaklah tercela apabila diletakkan pada tempatnya yang halal, bahkan menjadi terpuji. Disebutkan dalam kitab az-zuhd karya imam ahmad, dari yusuf bin athiyyah ash-shaffar, dari tsabit al-bunani, dari anas, dari nabi, beliau bersabda:

حبب إلي من دنياكم النساء والطيب, أصبر عن الطعام والشرب ولا أصبر عنهنّ

 “kecintaanku dari dunia kalian ada pada wanita dan wewangian. Aku bisa bersabar dari makanan dan minuman, tetapi aku tidak bisa bersabar dari mereka.”

  1. Yusuf masih muda, yang gejolak syahwatnya lebih kuat.
  2. Yusuf seorang bujangan, tidak mempunyai isteri dan budak agar meredam nafsu syahwatnya.
  3. Yusuf adalah perantau asing yang tinggal di negeri tersebut. Dorongan untuk melampiaskan syahwat pada diri orang yang merantau di negeri lain lebih besar daripada orang yang berada di tengah keluarga dan masyarakat yang dikenalnya.
  4. Isteri al-aziz memiliki kedudukan terhormat dan cantik jelita. Satu saja dari dua perkara ini adalah faktor pendorong untuk melakukan zina.
  5. Wanita tersebut tidak menolak dan tidak pula enggan berzina. Banyak orang yang hasratnya terhadap seorang wanita menjadi lenyap karena wanita itu menolaknya dan tidak suka kepadanya, bahkan menyebabkan orang tadi merasakan hinanya ketundukkan dan permohonan. Namun, banyak juga jenis orang yang karena penolakan dan keengganan wanita membuatnya semakin cinta dan berhasrat kepadanya.

Hal ini sebagaimana diutarakan seorang penya’ir.

“Bertambah besar cintaku saat ditolaknya, karena penolakannya membuat seorang semakin berhasrat kepadanya.

Disini menunjukkan tabiat seseorang terhadap wanita itu berbeda-beda. Bagi sebagian orang, cinta dan hasrat itu bertambah besar saat cintanya ditolak. Kerinduannya bertambah setiap kali menerima penolakan. Ia merasakan nikmat keberhasilan setelah ditolak, juga nikmanya usaha yang terkabulkan setelah berjuang keras untuk mendapatkan pujaan hatinya.

  1. Isteri al-aziz yang meminta, berhasrat, menggoda, dan berusaha hingga yusuf tidak perlu meminta dan merendahkan diri. Pihak wanitalah yang berada pada kerendahan itu, sedangkan beliau berada pada posisi yang tinggi serta menjadi pihak yang diinginkan objek sasaran.
  2. Yusuf berada di rumah wanita ini dan di bawah kekuasaanya. Jika beliau tidak menuruti prmintaan si wanita, dikhawatirkan ada tindakan yang bukan-bukan. Oleh karena itu, terkumpullah antara dorongan hasrat dan kekhawatiran.
  3. Yusuf tidak perlu khawatir bahwa wanita itu akan menyebarkan berita buruk tentangnya, karena dia sendiri yang meminta dan berhasrat kepada beliau. Ditambah lagi, siwanita telah mengunci semua pintu dan tidak akan membiarkan seorang pun masuk.
  4. Dilihat secara zhahir, yusuf adalah budak disana. Beliau keluar masuk bertemu dengan majikannya itu tanpa ada yang mencela. Telah ada kedekatan di antara mereka, sebelum wanita tersebut merayunya, kedekatan termasuk faktor pendorong yang paling kuat dalam menyebabkan terjadinya zina.

Salah seorang wanita yang mempunyai kedudukan terhormat ditanya: “Apa yang membuatmu ingin berzina?” “Dekatnya bantal pria itu dengan bantalku dan ada banyak kesempatan,” jawabnya.

  1. Wanita menggunakan segala makar dan tipu daya, yaitu dia memperlihatkan yusuf kepada para wanita lain seraya mengeluh akan kondisinya, tidak lain agar mereka membantunya untuk mendapatkan hati pemuda ini. Maka yusuf meminta bantuan kepada Allah untuk menghadapi mereka:

 “….jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku Termasuk orang-orang yang bodoh.”(Yusuf:33)

  1. Istri al-Aziz mengancam yusuf dengan penjara serta kehinaan. Ini salah satu bentuk pemaksaan, apalagi kuat dugaan bahwa ancaman tersebut akan terlaksana. Oleh sebab itu, terkumpullah dorongan syahwat serta keinginan selamat dari kehinaan dan sempitnya penjara.
  2. Suami wanita yang merayu yusuf tersebut tidak menampakkan kecemburuan dan kewibawaan dalam memisahkan keduanya. Sikap tegas al-Aziz saat menghadapi istrinya hanya berupa seruan kepada yusuf:
  3. 29. (Hai) Yusuf: “Berpalinglah dari ini (Maksudnya: Lupakanlah Peristiwa ini). (Yusuf:29)

Adapun kepada isterinya, ia menasehatkan:

dan (kamu Hai isteriku) mohon ampunlah atas dosamu itu, karena kamu Sesungguhnya Termasuk orang-orang yang berbuat salah.” (Yusuf:29)

Padahal, kecemburuan dari pihak suami termasuk faktor terkuat dalam mencegah perselingkuhan. Namun, suami wanita tadi tidak menampakkannya.

Meskipun faktor pendorong zina tadi sangat banyak, yusuf tetap mengutamakan ridha dan takut kepada Allah. Kecintaan kepada-Nya membuatnya memilih penjara dibandingkan harus berzina.

Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka,…..” (Yusuf:33)

Beliau menyadari ketidakmampuannya menghindari tipu daya. Sekiranya rabbnya tidak menjaga dan memalingkan makar mereka, niscaya yusuf cenderung mengikuti ajakan mereka, sesuai tabiatnya sebagai manusia, sehingga akhirnya dia termasuk orang-orang bodoh. Ini bukti kesempurnaan ilmu beliau terhadap-Nya dan diri sendiri.

Golongan kedua yang diceritakan oleh Allah yang berkaitan dengan kasmaran adalah pelaku homoseks.

Allah berfirman:

Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth) dengan gembira (karena) kedatangan tamu-tamu itu. Luth berkata: “Sesungguhnya mereka adalah tamuku; Maka janganlah kamu memberi malu (kepadaku), dan bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu membuat aku terhina” mereka berkata: “Dan Bukankah Kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia?”Luth berkata: “Inilah puteri-puteriku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal)”.  (Allah berfirman): “Demi umurmu[807] (Muhammad), Sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)”.(Al Hijr: 67-72)

Beginilah kondisi umat yang menderita penyakit kasmaran atau sedang dimabuk asmara. Allah mengisahkan kasmaran dari dua golongan. Setiap mereka kasmaran kepada hal-hal yang Allah haramkan. Mereka tidak peduli dengan mudharat yang ditimbulkan oleh kasmaran tersebut. Inilah penyakit yang para dokter kesulitan untuk menemukan obatnya. Demi Allah, ia termasuk di antara penyakit kronis dan seperti racun yang mematikan. Jika ia telah terkaitdengan hati, maka orang-orang akan kesulitan untuk melepaskan belitannya. Demikian pula, jika ia menyala di relung kalbu, maka para makhluk akan kewalahan untuk membebaskan diri dari kobarannya.

Penyakit ini terbagi menjadi beberapa bagian menurut hukum atau syariat islam, sebagai berikut:

Kasmaran dikategorikan ke dalam kekufuran jika pelakunya menjadikan apa yang dicintainya sebagai mencintai Allah. Maka, bagaimana pula jika kecintaan orang tersebut lebih besar dibanding kecintaannya kepada Allah?

Pelaku kasmaran semacam ini tidak akan diampuni-Nya sebab perbuatannya termasuk perbuayan syirik dan kekufuran adalah pelakunya mengutamakan keridhaan orang yang dicintainya di atas keridhaan rabbnya. Jika terjadi pertentangan antara bagian dan hak orang yang dicintainya dengan hak rabbnya serta ketaatan kepada-Nya, maka ia mengutamakan hak dan ridha orang yang dicintai dibandingkan hak dan ridha Allah. Ia memberikan miliknya yang paling berharga kepada orang yang dicintainya, sedangkan ia memberikan miliknya yang paling buruk kepada Allah, itupun kaliu ia mau memberikannya. Ia berusaha sekuat tenaga dan mencurahkan seluruh waktunya untuk mendapatkan ridha orang yang dicintai, menantatinya, serta mendekatkan diri kepadanya, sedangkan sisa waktunya diberikan kepada rabbnya, itupun kalau ia menaati-Nya.

Tidak diragukan lagi, kasmaran yang demikian termasuk syirik yang paling besar. Banyak orang yang sedang kasmaran secara jelas menyatakan bahwa dihatinya sama sekali tidak tersisa satu tempat untuk selain orang dia cintai, sehingga tidak ada tempat untuk Allah dihatinya bahkan ia lebih mementingkan cintanya kepada orang yang dicintainya dari pada kecintaannya kepada Allah. Wal iyya dzu billah. Semoga kita diselamatkan dari penyakit ini.

Diringkas oleh Sahl Suyono

Dari kitab: Ad-Da’ Wad Dawa’ karya Syaikh Ibnul Qayyim Al-Jauziyah Rahimahullah

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.