Optimis Saat Kantong Tipis

Kehidupan di dunia ini ibarat roda yang berputar, terkadang seseorang berada di atas, di tengah dan sudah pasti ada dibawah juga. Ketika berada di atas, seseorang jarang berkeluh kesah sehingga dia menjalani kehidupan dengan penuh optimis. Sebaliknya, saat berada di bawah, seakan-akan semua nikmat yang diterimanya sirna semua. Yang ada hanyalah kehidupan yang menyesakkan dada. Padahal itu semata-mata ujian dari-Nya, sebagaimana firman-Nya :

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الخَوْفِ وَالجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الامْوَال وَالاَنْفُسِ والثَّمَرَتِ وَبَشِّرِ الصّابِرِيْنَ

Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 155)

Jadi, kekurangan harta (dalam hal ini uang merupakan salah satu bentuk ujian bagi manusia, apalagi bagi seseorang mukmin. Untuk itu hendaklah kita tidak patah semangat, terlebih lagi sampai menghujat. Sebab jika seorang mu’min ditimpa musibah, lalu mampu bersabar serta ridha terhadap musibah tersebut, maka dia telah mendapatkan dua keuntungan. Yang pertama, dosanya menjadi berkurang karena Allah Subhaanahu wa Ta’ala telah menghukumnya di dunia. Adapun yang kedua, dia mendapatkan bonus pahala atas kesabarannya terhadap musibah itu. Jadi hanya keuntungan yang dia peroleh. Sebagaimana hadist berikut ini.

Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, seluruh perkara baiknya, tidak ada hal seperti ini kecuali hanya kepada orang mukmin,. Jika dia mendapatkan kesenangan lantas dia bersyukur, maka hal itu baik baginya. Dan jika dia di timpa kesulitan lantas dia bersabar maka hal itu baik baginya.”(Riwayat Muslim : no.2999)

Namun, jika dia tidak bersabar, maka dia mendapatkan satu keuntungan, yaitu dosa-dosanya menjadi berkurang.

Beban hidup yang berat akan makin terasa berat, saat kita menghadapinya dengan keluh kesah,. Merasa hidup kian payah dan masa depan suram, telah terpampang dihadapan. Itulah hal yang bisa kita rekam dalam kehidupan masyarakat kita. Para ibu rumah tangga yang sibuk berkasak kusuk tentang harga kebutuhan pokok yang kian melangit, biaya anak sekolah yang kian mahal, mengeluhkan uang belanja yang tak cukup serta gaji suami yang tak bisa menutupi kebutuhan sebulan. Lantas berpikir seolah menjadi seorang yang paling malang di dunia. Itu baru menghadapi persoalan lebih berat dari sekedar urusan kantong?

SIKAP MUKMIN SAAT MENGHADAPI MASALAH

Sebagai seorang muslim, harusnya kita memahami, bahwa hidup layaknya roda yang berputar, yang tak selamanya di atas, tapi kadang melalui kerikil cobaan.

Sama halnya saat kita dihadapkan pada kesulitan ekonomi, semestinya kita menyikapi semua yang terjadi sebagai ketetapan taqdir yang telah ditentukan. Menghadapinya dengan sabar dan hati tenang. Itulah yang diwajibkan syari’at. Tak usah cemas, emosi, apalagi sampai berujung frustasi. Cobalah bandingkan dengan kesulitan hidup yang dihadapi rasulullaah shallaallaahu ‘alaihi wasallam dan sahabat dulu, belum seberapa, namun beliau dan para sahabat mampu menyikapinya secara benar.

Rasulullaah shallaallaahu ‘alaihi wasallam menasehatkan, “sangat mengherankan perkara orang mukmin itu, semua perkara adalah baik. Hal ini tidak di dapat kecuali pada orang mukmin. Yaitu jika menerima nikmat dia bersyukur, maka ini baik baginya, dan jika dia tertimpa musibah bersabar, dan ini juga baik baginya”.

Ini satu dorongan bagi kita untuk menghindari sikap pasrah, pesimis tanpa usaha dan apatis untuk terus berusaha memperbaiki nasib dan keadaan yang tentunya dengan jalan sesuai syar’i. Dengan bekal optmis,sabar dan tawakkal. Kesulitan ekonomi yang tengah melilit insyaallah akan berlalu.

ALLAH PEMILIK REZEKI

Saat kantong tipis, yang kaya saja mengeluh apa lagi yang miskin. Bagi yang ekonominya di bawah standar, tentu ini merupakan cobaan yang tak ringan. Meski itu bukan hal yang aneh, alias biasa tak ada uang ditangan, tapi tetap saja membuat hati ”menjerit”. Apa lagi saat kebutuhan mendesak, anak sakit atau dapur yang harus tetap berasap. Masalahnya, bagaimana kita menyikapi kesulitan ekonomi agar tidak membawa dampak buruk untuk moral kita. Sebab tak di pungkiri, kesulitan ekonomi kadang bisa membuat orang gelap mata melakukan apa saja. Semisal kriminalitas, mencuri sampai korupsi. Na’udzubillah. Tindakan-tindakan ini tidaklah menyelesaikan masalah, bahkan boleh menjadi memperumit dan menambah masalah. Kebingungan dan banyak mengeluh dalam mengatur ekonomi rumah tangga, bisa membawa pada penyakit jiwa. Renungkanlah firman Allah subhanahu wata’ala .

انَّ الانْسَانَ خثلِقَ َهَلُوْعًا (١٩) اِذَامَسّهُ الشَرّ جَزُوعًا (٢٠)

sesungguhnya manusia di ciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia di tmpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan ia amat kikr.”(Al-Ma’arij : 19-20 )

Jarang disaat mengahadapi kesulitan hidup, kita intropeksi diri dan berhusnudzan pada Allah Subhanahu wa Ta’ala banyak antara kita lupa bahwa semua yang terjadi adalah takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala :

قُلْ لَنْ يُّصِيْبَنَا الّامَا كَتَبَ الّله لَنَا هُوَ مَولنَا وَعَلَى للّهِ فَليَتَوَكَّلِ المُؤْمِنُوْنَ (٥١)

katakanlah sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah di tetapkan Allah untuk kami.” (At-Taubah : 51)

Seharusnya kita yakin bahwa sesulit apa pun kondisi kita, Allah akan tetap menanggung rezeki hambaNya. Kita tak perlu kawatir tidak mendapat rezeki sebab Allah Maha Kaya. Jadi tidak perlu berkecil hati apalagi berkeluh kesah saat kantong tipis. Perlu diingat, banyak uang bukan tolak ukur kebahagiaan. Kebahagiaan hakiki tak akan menghampiri orang kaya yang tak beriman, bahkan justru bisa menghancurkannya. Harus kita fahami dua kondisi yang bertolak belakang ini, kaya atau miskin adalah ujian dari Allah pada hamba-Nya, sehingga di harapkan kita senantiasa bersyukur atas nikmat rezeki dari Allah banyak ataupun sedikit, saat senang atau susah, juga saat kesulitan ekonomi menghimpit. Dengan prinsip ini, insyaAllah, Allah akan selalu memberi kemudahan dan tambahan rezeki.

AGAR REZEKI TERUS MENGALIR

Seorang mukmin akan senantiasa berusaha amanah atas rezeki yang Allah berikan. Tidak membelanjakan harta untuk hal-hal maksiat dan tak berguna, apalagi sekedar foya-foya. Orang yang amanah atas rezeki, akan memilih untuk membantu sodara yang membutuhkan, membantu orang miskin dan anak yatim, juga tak enggan untuk berzakat dari pada membuang hartanya untuk maksiat. Syeikh Al-Bani berkata, “Maksiat adalah penyebab paceklik, kemiskinan, dan musibah.” Karena Rasulullaah shallaallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Tidaklah tampak perbuatan keji pada suatu kaum, melainkan Allah akan menimpakan kepada mereka kehancuran.” (HR. AL-Hakim. Al-Baihaqi, Al- Bazar).

Senantiasa mensyukuri nikmat Allah, selalu berdo’a kepada Allah setiap hendak mengawali usahanya dngan memohon rezeki. Karena tugas kita sebagai hamba adalah berusaha dan mencari, sedang Allah lah yang memberi . Begitu pula halnya meningkatkan iman dan amal shalih, serta tak pernah meninggalkan shalat akan membuat rezki seseorang senantiasa mengalir.

KIAT SAAT DILANDA KEKURANGAN

Di antara kita, banyak yang mengeluh dan berputus asa, saat dilanda kekurangan. Beberapa kiat berikut, insyaallah bisa membuat kita tetap merasa cukup dan berjiwa tenang saat dilanda kekurangan.

  1. Positif thinking dan bersabar atas taqdir Allah.

Maksudnya, kita tak boleh mengeluh dan putus asa. Berpikirlah postif, bahwa tak hanya kita yang mengalami kesulitan hidup, tetapi para nabi utusan Allah dulupun juga pernah mengalaminya, namun mereka bersabar dan yakin akan pertolongan Allah subhanahu wata’ala.

  1. Bersikap qona’ah

Selalu merasa cukup dan menjauhi sikap tamak serta rakus dunia. Sifat tamak dan rakus harta dunia adalah faktor penghancur umat, baik dahulu ataupun sekarang. Banyak yang tak menyadari kaya jiwa lebih utama dari pada kaya harta.

  1. Hidup hemat sesuai rezeki yang di dapat.

Hal ini dapat di lakukan dengan membedakan antara kebutuhan pokok dan hawa nafsu. Menghindari pemborosan dan israhf. Sebab hawa nafsu tak pernah berhenti menyuruh kita boros, membelanjakan harta untuk hal yang tak perlu semisal makanan enak , foya-foya, merokok , ataupun piknik dan sebagainya.

  1. Optimis dan yakin rezeki adalah milik Allah

  2. Berusahalah menabung

Menyisihkan sebagian penghasilan agar sewaktu-waktu bisa di gunakan bila perlu.

  1. Kekuatan do’a

Satu hal yang tak boleh kita lupakan saat di uji dengan kesempitan adalah do’a, do’a adalah senjata pamungkas yang bisa di andalkan, pada saat kita sangat terjepit sekalipun. Dalam Al-Qur’an banyak sekali anjuran Allah untuk bedo’a.

اُدْعُوْا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً اِنَّهُ لَا يُحِبُّ المُعْتَديْنَ

Berdo’alah kepada tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut, disertai rasa takut kepada Allah dan penuh harap.”(Al-A’raf :55 )

Demikianlah janji Allah kepada hambanya. Sebagai manusia yang beriman hendaknya kita yakin terhadap janji Allah. Sungguh, Allah melarang kita berputus asa dari rahmat-Nya yang sangat luas.

Hendaknya kita senantiasa optimis dan berprasangka baik terhadap allah. Semua yang menimpa kita adalah bagian takdir yang harus kita jalani, dan pasti ada hikmah didalamnya. Percayalah bahwa stelah ksulitan akan ada kemudahan

  1. Lebih jeli melihat peluang

Saat kantong tipis dan pemasukan menurun drastis, biasanya otak kita jad berfikir, usaha apa kiranya yang dapat kita jalankan untuk menyambung hidup. Kita jadi lebih kreatif, dan berusaha lebih jeli melihat peluang, untuk membuka pintu rezeki. Itulah salah satu hikmah dbalik ujian dari Allah. Ada kalanya usaha baru yang kita jalani hasilnya lebih menjanjikan. Tentunya kita tak boleh lupa untuk bersyukur pada yang maha kuasa. Ada kalanya hasilnya Cuma pas-pasan, itupun harus kita syukuri, sambil teru berikhtiar . bukanlah Allah telah berfirman :

وَاِّذتَأذَّنَ رَّبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَديدُ

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”(Ibrahim : 7)

Selain itu kita juga harus ingat bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang mengubahnya. Jadi pada dasarnya, keberhasilan dan kesuksesan kita nanti, akan lebih ditentukan oleh diri kita sendiri. Karena itu jangan mudah menyerah. Anggap saja kegagalan sebagai pelajaran untuk berusaha lebih baik.

  • Ringkasan dari majalah Nikah, Volume 06, “Optimis Saat Kantong Tipis

  • Al-Qur’anul Kariim

Di susun oleh :

Abu Zulfa ( Ust.Mansyur S.Pd. I )

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*