Menutupi Kelemahan Diri

Manusia, sosok yang sempurna penciptaannya, di mana Alloh menciptakannya dalam bentuk yang menakjubkan. Hanya saja, di balik kesempurnaan raganya, tersimpan dalam dirinya berbagai celah dan kekurangan, yang tak dapat dipungkiri dan tak dapat pula ditolak. Ditambah lagi dengan keadaan sekitar dan berbagai cobaan yang senantiasa mengiringi manusia, itu semua menambah jelas keberadaan manusia yang begitu lemah dan kropos, yang mengharuskannya mencari sumber sandaran yang bisa menguatkan dirinya dalam mengarungi kehidupan yang kadang menampakkan wajah menyeramkan bagi manusia.

Manusia Makhluk Lemah

Apakah ada manusia yang selalu menang, yang selalu untung, tak pernah rugi, tak pernah sakit, tak pernah berduka, tak pernah kehilangan, dan hal-hal yang semacamnya?! Tak bisa disangkal, bahwa manusia adalah makhluk yang lemah, sama halnya dengan sekalian makhluk yang lain. Walau bagaimana tampang fisiknya, meski terlihat ia seseorang yang berotot kuat, namun tetap saja ia adalah makhluk yang tak berdaya. Ketika rasa sakit mendera, tatkala musibah menimpa, tatkala pasukan iblis menjeratnya dalam perangkap dosa dan durhaka, tampak jelaslah letak kelemahannya. Bagaimana bisa ia berpijak pada kekuatannya, dan bagaimana bisa ia mampu menolaknya, bila ia bertumpu pada kekuatan dirinya? Untuk menghadapi kekuatan jahat dalam dirinya saja ia tak berdaya untuk menghempasnya, apalagi untuk hal-hal yang lebih besar lagi. Jadi, manusia memang lemah dalam segala hal, meski dirinya menyangka ia adalah makhluk yang super, yang bisa menundukkan segala rintangan dan mara bahaya!

Alloh berfirman:

وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفاً

“Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.” (QS. An-Nisa’:26)

Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah dalam Thoriqul Hijrotain berkata: “Thowus, Muqotil dan lainnya berkata: (arti ayat di atas adalah) bahwa ia tidak bisa bersabar dari wanita. Hasan berkata: yaitu penciptaannya dari air yang hina (air mani). Az-Zajjaj berkata: ia lemah tekad dalam menundukkan hawa nafsunya. Kemudian Ibnul Qoyyim melanjutkan: Yang benar adalah bahwa lemahnya manusia mencakup segala makna ini. Kelemahannya ini lebih besar dan lebih parah dari sekedar hal tersebut. Karena sesungguhnya manusia itu lemah dalam struktur tubuhnya; lemah kekuatannya; lemah keinginannya; lemah ilmunya, lemah kesabarannya. Berbagai hal yang merusak dan menyakiti yang menyergap manusia, dengan ditambah kelemahan yang ada padanya, itu lebih cepat menghampirinya daripada air bah yang mengalir ke aliran yang rendah. Maka sudah otomatis, ia haruslah mempunyai Penjaga dan Penolong, yang menguatkannya, membantunya, memenangkannya, dan menolongnya. Kalau sekiranya Penolong ini meninggalkannya, maka kehancuran pun akan lebih dekat menghampirinya.”

Apakah ada manusia yang merasa bisa menopang hidupnya dengan berpijak pada kekuatan dirinya? Sudah barang tentu, tak ada yang seperti itu. Ia memerlukan orang lain dalam memenuhi kebutuhannya. Dan lebih dari itu, ia sangat memerlukan penolong yang bisa membantunya setiap saat, yang tak bisa ia hidup tanpa penolong ini, yaitu Alloh Subhanahu wa ta’ala. Tak akan pernah ia bisa berlepas dari pertolongan Alloh. Dan bila manusia tidak menyadari akan titik kelemahannya ini, maka iapun akan selalu menjadi mangsa setan dan nafsunya. Karena begitulah tabiat asal manusia, bila ia tak menutupinya dengan berpegang pada tali-Nya. Dan inilah yang dipahami oleh iblis kala melihat dan mengamati bentuk dari Adam. Rosululloh Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

لَمَّا صَوَّرَ اللَّهُ آدَمَ فِى الْجَنَّةِ تَرَكَهُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَتْرُكَهُ فَجَعَلَ إِبْلِيسُ يُطِيفُ بِهِ يَنْظُرُ مَا هُوَ فَلَمَّا رَآهُ أَجْوَفَ عَرَفَ أَنَّهُ خُلِقَ خَلْقًا لاَ يَتَمَالَكُ

Ketika Alloh membentuk Adam di surga, Alloh membiarkannya dalam rentang waktu yang Alloh kehendaki, kemudian iblispun mengelilinginya, mengamati macam apakah Adam itu. Ketika iblis melihatnya sebagai makhluk berongga, tahulah dia bahwa Adam diciptakan sebagai makhluk yang tak mampu menahan diri.” (HR. Muslim)

Imam Ibnul Jauzi berkata: “Bahwa sosok yang berongga (yang dalam tubuhnya terdapat ruang kosong –maksudnya yaitu manusia-), ia adalah sosok yang lemah dalam kesabarannya, ditinjau dari dua sudut pandang: 1.Bahwa ia bukanlah sosok yang tegar dan kokoh, seperti halnya sesuatu yang tidak berongga. 2.Bahwa ia memerlukan makanan. Ia tidak bisa bersabar darinya, sehingga iblis pun menjadi tamak untuk membuatnya tergelincir dari dua sudut pandang ini. (Kasyful Musykil Min Hadits Ash-Shohihain 3/308)

Manusia secara umum memang tak mampu untuk mengendalikan kendali dirinya. Begitu susah ia untuk mengekang hawa nafsunya. Sehingga ia pun tak kuasa untuk menepis godaan yang datang menderanya. Dan kala ia tersulut api amarah, ia pun tak bisa untuk mengendalikan emosinya. Inilah sifat umum dari bangsa manusia ini.

Manusia memang pribadi yang tidak bisa menahan diri. Ia tak mampu menolak godaan yang mencecar dirinya. Ia tak mempunyai kekuatan dan ketegaran. Bahkan perkara dirinya sangatlah gonjang-ganjing, keadaan dirinya selalu berubah-ubah, demikian pula ucapannya seringkali terasa berlawanan dan kontradiktif. Ia begitu mudah untuk tertimpa kesalahan dan kerusakan. Ia pun tak kuasa untuk memasukkan ke dalam dirinya berbagai hal yang merupakan wujud dari nafsu syahwatnya, yang sebenarnya itu bisa mengundang siksa dari-Nya. Dan persangkaan iblis ini memang begitu jelas tergambar dari sosok bangsa bani Adam secara umum. (disarikan dari Faidhul Qodir 5/297)

Menutupi Kelemahan Kita

Sudah sangat nyata bahwa semua makhluk sangat membutuhkan Alloh. Dan Alloh Maha Kaya dan Terpuji. Dia tak membutuhkan pujian dan ibadah dari sekalian makhluk-Nya. Maka setiap hamba hendaknya berusaha untuk menutupi kelemahannya dengan meminta kekuatan dari Alloh, sehingga ia hanyalah lemah dan butuh kepada Alloh semata, bukan kepada sesama makhluk. Alloh berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Alloh; dan Alloh Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. (QS. Fathir: 15)

Manusialah yang membutuhkan Alloh dalam segala gerak dan diamnya, sedangkan Dia Maha Kaya yang Dzat-Nya sama sekali tidak membutuhkan mereka. Manusialah yang sangat membutuhkan Alloh, baik dalam hal yang besar maupun hal-hal yang tersembunyi. Mereka membutuhkan Alloh di setiap saat. Tak ada seorangpun yang tidak membutuhkan Alloh walau sekejap mata. Karena keberadaan seorang hamba tak akan tegak melainkan dengan pertolongan dari-Nya.

Dzun Nun berkata: “Makhluk membutuhkan kepada Alloh di setiap tarikan nafas mereka, di setiap kejap mata dan di setiap saat. Bagaimana tidak, sedangkan keberadaan mereka adalah dengan karunia-Nya; dan eksistensi hidup mereka adalah dengan anugerah-Nya.” Dan ketika Alloh menyebut manusia sebagai sosok yang membutuhkan Alloh, itu bukanlah untuk menghina dan merendahkan mereka. Bahkan itu adalah untuk mengangkat derajat mereka. Karena bila seorang hamba menampakkan kebutuhannya kepada Tuhannya Yang Maha Kaya, maka Alloh akan cukupkan dia dari sosok-sosok yang seperti dia juga yang juga makhluk yang tak berdaya. (dari Al-Bahrul Madid dengan perubahan). Namun bila seorang hamba menampakkan kefakirannya kepada sesama makhluk, jatuhlah martabat dia. Jadilah hatinya terpaut kepada sesama makhluk, bukan kepada Dzat yang merupakan sumber segala anugerah dan kebaikan. Dan ketika itu, ia menghinakan dan merendahkan diri di hadapan sesama makhluk yang sama-sama lemah.

Untuk menutup kelemahan diri kita, berikut beberapa hal yang bisa menutupi kelemahan manusia, sehingga ia menjadi sosok yang bermartabat mulia. Karena ia telah menautkan diri dengan Dzat Yang Maha Mulia nan Perkasa.

*Hanya bersandar kepada Alloh

Kala seseorang hanya bersandar kepada Alloh, maka mudahlah segala urusan. Karena kita serahkan segala perkara kita kepada Alloh. Kita pun telah menyerahkan nasib kita kepada-Nya. Bila Alloh memberikan keselamatan, maka itu adalah anugerah dari-Nya. Bila Alloh menakdirkan selain itu, maka kitapun telah ridha dengan ketentuan-Nya. Bahkan ketika jiwa digoncang ketakutan yang sangat mencekam, dikarenakan takutnya hati kepada dahsyatnya hari akhir, yang bisa saja membuat hati mereka menjadi kalut dan kacau, maka kita serahkan segala urusan kita kepada Alloh semata. Kita meminta kepada-Nya untuk memberi bimbingan-Nya,sehingga setiap langkah kita selalu diiringi oleh cahaya petunjuk dari-Nya.

Rosululloh Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

وعن أَبي سعيد الخدري ( قَالَ : قَالَ رَسُول الله ( : « كَيْفَ أنْعَمُ ! وَصَاحِبُ القَرْنِ قَدِ التَقَمَ القَرْنَ ، وَاسْتَمَعَ الإذْنَ مَتَى يُؤمَرُ بالنَّفْخِ فَيَنْفُخُ » فَكَأنَّ ذلِكَ ثَقُلَ عَلَى أصْحَابِ رسولِ الله ( فَقَالَ لَهُمْ : « قُولُوا : حَسْبُنَا الله وَنِعْمَ الوَكِيلُ »

Dari Abu Sa’id Al-Khudri berkata: Rosululloh Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Bagaimana aku bisa hidup tenang, sedangkan sang peniup sangkakala telah memasukkan sangkakalanya ke mulutnya, dan ia tengah menunggu-nunggu izin kapan ia diperintahkan untuk meniupnya sehingga iapun akan meniupnya?!” Seolah-olah hal itu terasa berat atas para sahabat Nabi. Maka Rosululloh pun bersabda kepada mereka: “Ucapkanlah: hasbunallah wa ni’mal wakil” –cukuplah yang melindungi kita hanyalah Alloh, dan Sebaik-baik Penjaga adalah Dia- . (HR. Turmudzi)

Dalam hadits ini terdapat isyarat dari Nabi kepada para sahabatnya (dan sekaligus juga suatu bentuk perintah kepada kita sekalian),untuk kembali kepada Alloh, untuk bersandar hanya kepada Alloh. Nabi mengisyaratkan kepada mereka (yang artinya juga perintah kepada kita), agar berlepas diri dari segala kekuatan, berlepas dari bersandar kepada amalan semata, dan mengandalkan sesuatu, selain kepada Alloh, dalam segala keadaan mereka. Bukankah kala para sahabat merasa berat mendengar pernyataan Rosul, beliau tidak menunjukkan kepada mereka pada amalan tertentu; beliau tidak memerintahkan mereka untuk melakukan suatu perbuatan yang bisa mereka jadikan sebagai andalan dan sandaran. Akan tetapi beliau menunjukkan kepada mereka untuk mengembalikan segala perkaranya kepada Alloh. Beliau palingkan mereka dari selain Alloh, menuju pada Alloh semata. Beliau sabdakan kepada mereka: katakanlah: “Hasbunallah wa ni’mal wakil”. Ini untuk menampakkan betapa mereka sangat membutuhkan Alloh. Ini untuk menampakkan pengakuan, bahwa mereka sangat memerlukan-Nya. Dan bahwa tak ada keselamatan dari murka Alloh, selain dengan meminta pertolongan kepada Alloh. Dan bahwa tak ada tempat berlari dari siksa-Nya,selain dengan bergegas menuju ketaatan-Nya. Ini seperti yang difirmankan Alloh:

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ

Maka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.”(QS. Adz-Dzariyat:50) (diambil dari Bahrul Fawa’id Al-Masyhur Bi Ma’anil Akhbar dengan penyesuaian).

*Selalu mengupayakan istiqomah

Untuk membentengi diri kita, agar kelemahan ini tidak membawa petaka, maka harus diupayakan untuk selalu mengusahakan terus meniti jalan yang telah dibentangkan Rosululloh. Kita harus beristiqomah, terus mengupayakan agar tetap berada di jalan Rosul. Dengan demikian, maka Allohpun insya Alloh akan terus memberikan petunjuk-Nya. Sehingga amalan kita bisa terbimbing dengan cahaya sunnah Nabi-Nya. Inilah pesan Nabi kepada sahabat yang ingin mendapatkan wejangan yang ia tidak lagi perlu menanyakannya kepada selain beliau. Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam berpesan: “Katakanlah: aku beriman kepada Alloh, kemudian berlakulah istiqomah.” (HR. Muslim) Bila tidak diupayakan istiqomah, maka dikhawatirkan akan membuat seseorang tergelincir dari jalan kebenaran, sehingga menyeretnya menuju pada kebinasaan.

*Bergegas untuk sabar dan sholat terutama kala ditimpa kesusahan

Dua hal ini adalah hal yang bisa menempa seorang mukmin agar ia tidak tergerus dengan roda zaman . Dengan bersabar, ia akan bisa menerima segala keadaan. Ia akan tetap bisa menunaikan kewajiban dari Alloh. Ia masih tetap bisa menjauhi hal-hal yang akan membinasakannya. Dan dengan sholat, ia bisa memperoleh kekuatan dari Alloh untuk terus berjalan di bumi ini dengan bimbingan dari-Nya. Ia tidak terseret dengan kemelut dan prahara yang terjadi menuju kehancuran dirinya. Karena itulah, bila kesusahan tengah menimpa, maka terapinya adalah dengan bersabar dalam menyikapinya, dan bergegas untuk mendirikan sholat. Rosul pun bila mendapatkan kesusahan, beliau akan bergegas untuk sholat.

كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى

Adalah Rosululloh bila tertimpa hal yang meresahkan, beliau mendirikan sholat.” (HR. Abu Daud)

*Tak Memberi Peluang Pada Bisikan Syetan

Tak ayal lagi, setan adalah makhluk yang paling getol ingin menjerumuskan manusia. Dalam keadaan apapun, setan terus saja berusaha untuk menjerumuskan manusia. Karena ia tahu bahwa secara tabiat, manusia adalah makhluk yang lemah, paling tidak bisa untuk menahan diri. Karena itulah ia terus menggoda manusia, meski manusia sudah berada dalam posisi puncak kesalihan dalam anggapannya.

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوّاً إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (QS. Fathir: 6)

Inilah Rajjal Bin Unfuwah. Ia telah berhijrah, dan iapun telah mempelajari Al-Quran. Namun akhirnya iapun bertolak menuju nabi palsu Musailamah Al-Kaddzab dan ia murtad dari Islam. Bahkan berdusta dengan mengatakan bahwa Rosululloh n telah menjadikan Musailamah sebagai partner dalam mengemban risalah dari Alloh! Maka fitnah yang ditimbulkan oleh Rajjal ini lebih dahsyat daripada fitnahnya Musailamah.

Kita lihat, bagaimana lemahnya pribadi manusia, dengan ditopang oleh nafsu dan bisikan setan, telah membuat orang yang telah menggenggam kebaikan, berbalik seratus delapan puluh derajat dengan keluar dari agama Alloh ini, untuk kemudian bergabung dengan barisan sang nabi palsu. Semoga Alloh menjaga kita dari tipu daya setan, sehingga Alloh memberi taufiq kepada kita untuk tetap teguh di jalan yang diridhai-Nya.

Dan masih banyak langkah yang bisa kita gali dari Al-Quran dan As-Sunnah serta perjalanan hidup para sahabat dan para salafussalih. Semoga, meski kita penuh dengan kelemahan, namun dengan mendekat kepada-Nya kita pun bisa tegar menghadapi hidup, dengan mendapat bimbingan dari-Nya semata. amin.

Sumber: Majalah Lentera Qolbu Edisi 04 Tahun 03

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*