MENGUNGKAP JATI DIRI PARA PENGAKU KENABIAN

mengungkap-jati-diri-para-pengaku-kenabian

MENGUNGKAP JATI DIRI PARA PENGAKU KENABIAN

MUQODIMAH

Segala puji beruntaikan kecintaan dan pengagungan hanya semata-mata milik Allah, yang telah mengutus Rasulullah ﷺ sebagai Nabi dan Rasul-Nya yang terakhir dengan membawa kebenaran dan berita gembira bagi orang-orang beriman, dan membawa ancaman siksa yang pedih bagi orang-orang yang menyelisihi jalan keimanan. Sholawat dan salam kepada Rasulullah ﷺ, keluarga, istri, sahabat, dan pengikut setia mereka di jalan kebenaran hingga mendekati hari pembalasan. Amma ba’du

Tidak dapat dipungkiri oleh setiap insan yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, bahwa diutusnya Nabi dan Rasul kepada manusia secara umum merupakan kenikmatan yang sangat besar dari Allah. Manusia tidak dapat mengetahui amalan dhohir dan batin yang dicintai dan diridhoi Allah hanya dengan akalnya semata. Karena itulah Allah mengutus para Nabi dan Rasul untuk menjelaskan segala amalan yang dicintai dan diridhoi-Nya, sehingga manusia dapat menempuh jalan yang lurus.

Segala hal yang dicintai dan diridhoi Allah telah dijelaskan oleh Allah lewat para Nabi dan Rasul-Nya. Dan tidak ada sesuatu pun yang dapat mendekatkan manusia kepada Allah, kecuali semua itu telah dijelaskan dengan sejelas-jelasnya, hingga malam harinya laksana siang yang terang benderang.

Tugas suci ini telah diemban baik oleh seluruh Nabi dan Rasul sejak Nabi Adam hingga penghulu para Nabi dan Rasul, Muhammad bin Abdillah. Dengan diutusnya Rasulullah Muhammad, maka telah sempurna agama Allah, dan ditutup pula seluruh risalah dan kenabian, hingga tidak ada lagi Nabi dan Rasul setelah beliau. Inilah perkara yang telah jelas dan disepakati oleh seluruh kaum Muslimin.

Namun, pada kurun terakhir ini muncul beberapa orang yang mengaku menjadi Nabi, bahkan sebagian dari mereka berpendapat bahwa dengan melalui pengajaran tertentu akan dapat menggapai derajat kenabian. Benarkah dakwaan (pengakuan) mereka ini…?! pembahasan singkat berikut ini, semoga dapat mengungkap jati diri mereka yang sebenarnya, sekaligus sebagai benteng diri dari keyakinan yang jauh dari kebenaran ini. Semoga Allah memudahkan pembahasan ini dan memberkahinya. Aamiin

RISALAH DAN NUBUWAH ADALAH ANUGERAH DARI ALLAH

Ketahuilah wahai saudaraku seiman, risalah dan nubuwah adalah anugerah, kemuliaan, serta keutamaan yang Allah berikan kepada hamba yang dikehendaki-Nya dan tentu saja Allah lebih mengetahui siapakah yang berhak mendapatkan keutamaan ini. Allah berfirman dalam kitabNya:

و إذا جآءتهم ءاية قالوا لن نؤمن حتى نؤتى مثل مآ أوتى رسل الله, الله أعلم حيث يجعل رسالته, سيصيب الذين أجرموا صغار عند الله وعذاب شديد بما كانوا يمكرون

Apabila datang suatu ayat kepada mereka, mereka berkata, “Kami tidak akan beriman, hingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah,” Allah lebih mengetahui dimana Dia menempatkan Risalah (tugas kerasulan). orang-rang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan siksa yang keras disebabkan mereka selalu membuat tipu daya. (QS. Al-An’am: 124)

Nubuwah dan risalah tidaklah bisa diusahakan oleh manusia dengan cara apapun, baik dengan cara mendidik dan membersihkan jiwa, berakhlak terpuji, menunaikan semua hak Allah dan hak makhluk, ataupun dengan keberanian, kepiawaian, dan kepahlawanan. Berapa banyak orang-orang jahiliyah yang memiliki sifat-sifat terpuji ini, tetapi semua itu tidak dapat menempatkan mereka pada derajat kenabian, karena kenabian adalah semata-mata anugerah, kemuliaan, dan keutamaan dari Allah (untuk hamba yang dikehendaki-Nya) (Syarh Aqidah Syafariniah: Syaikh Utsaimin

Allah berfirman:

قالت لهم رسلهم إن نحن إلا بشر مثلكم ولكن الله يمن على من يشآء من عباده, وما كان لنآ أن نأتيكم بسلطن إلا بإذن الله, وعلى الله فليتوكل المؤمنون

Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka: “Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberikan karunia kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan tidak patut bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah. Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal.” (QS. Ibrahim: 11)

و ربك أعلم بمن فى السموات والأرض, ولقد فضلنا بعض النبين على بعض, وءاتينا داود زبورا

Dan Rabbmu lebih mengetahui siapa yang (ada) di langit dan di bumi. Dan sesungguhnya telah kami lebihkan sebagian nabi-nabi itu di atas sebagian (yang lain), dan kami berikan zabur kepada Daud. (QS. Al-Isro’: 55)

الله يصطفى من الملئكة رسلا ومن الناس, إن الله سميع بصير

Allah memilih utusan-utusan(Nya) dari kalangan malaikat dan manusia. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Al-Hajj: 75)

Hal ini menyelisihi i’tiqod kaum mutakallimin (ahli kalam) yang mengatakan bahwa risalah dan nubuwah dapat diusahkan, dan setiap manusia dapat mempersiapkan dirinya untuk menjadi seorang Nabi dengan cara membersihkan jiwanya. Pendapat ini tidaklah benar, berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an yang telah kami sebutkan.

SYARAT-SYARAT KENABIAN

Apabila kita meneliti sejarah dan pejelasan yang ada dalam al-Qur’an dan Sunnah, maka para Nabi dan Rasul adalah orang-orang yang terpenuhi pada dirinya syarat-syarat berikut:

  1. Merdeka

Tidak ada Nabi dan Rasul yang berasal dari kalangan budak, karena budak dikuasai hak kepemilikannya oleh tuannya, dia diperjualbelikan seperti barang dagangan.

Kondisi budak yang seperti ini menyebabkan dia tidak layak dan tidak berhak untuk menjadi seorang pemimpin, apalagi menjadi seorang Nabi atau Rasul.

Jika ada yang bertanya: “Bukankah Nabi Yusuf dijual kepada raja Mesir hingga menjadi hak milik penjualnya, sebagaimana firman Allah:

و شروه بثمن يخس درهم معدودة وكانوا فيه من الزهدين

Dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, yaitu beberapa dirham saja, dan mereka merasa tidak tertarik hatinya kepada Yusuf. (QS. Yusuf: 20)

Maka kita menjawab: “Rohmatullahi ‘alaikum!! Peristiwa itu memang benar, namun hal ini sama sekali tidak menunjukkan bahwa seorang budak menjadi Nabi, karena Nabi Yusuf diangkat menjadi Nabi setelah beliau keluar (bebas) dari penjara Mesir.”

  1. Laki-laki

Tidak ada wanita yang dijadikan Rasul, karena mereka bukanlah ahli pemegang kepemimpinan yang agung ini. Perhatikanlah, jika Rasulullah bersabda (yang artinya): “Tidaklah beruntung suatu kaum yang menjadikan wanita sebagai pengurus perkara mereka (sebagai pemimpin mereka).” (HR. Bukhori: 4425), lalu bagaimana halnya dengan derajat karasulan dan kenabian?! Tentunya lebih tidak berhak.

Dan perhatikanlah firman Allah yang menyebutkan bahwa Nabi dan Rasul, dari kalangan laki-laki bukan dari kalangan kaum wanita.

وما أرسلنا إلا رجالا نوحى إليهم, فسئلوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون

Kami tidak mengutus Rasul-rasul sebelum kamu (Muahammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka. Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui. (QS. Al-Anbiya’: 7)

Dan juga karena kaum wanita di setiap bulannya mengalami haid, yang menyebabkan mereka tidak boleh sholat dan puasa. Maka jika ditakdirkan ada Nabi perempuan, sedangkan Nabi menjadi imam kaumnya dalam sholat, itu berarti dia harus libur dari keimaman sholat, dan tentu saja hal ini tidaklah mungkin. Dengan demikian, kaum wanita tidak berhak menjadi Nabi secara mutlak menurut pendapat yang shohih. (lihat Syarh Aqidah Syafariniyah oleh Syaikh Utsaimin). Hal ini menyelisihi pendapat ahli Taurat yang menyangka kenabian Maryam binti Imron. (lihat Syarh Aqidah Syafariniyah oleh Muhammad bin Abdul Aziz al-Mani’)

Berdasarkan ini, maka kita ketahui secara pasti bahwa barangsiapa dari kaum wanita yang mengaku menjadi Nabi, atau mengatakan bahwa ia menerima wahyu dari Allah melalui malaikat Jibril, dan mengaku membawa ajaran baru serta kenabian baru, maka sungguh dia adalah seorang pendusta yang sangat jelas kedustaannya, seorang pendusta yang sesat lagi menyesatkan, dan bahkan dia termasuk pendusta yang telah dikabarkan kemunculannya oleh Rasulullah dalam hadits-hadits yang shohih.

  1. Kekuatan

Seorang Nabi dan Rasul adalah orang yang memiliki kekuatan untuk menyampaikan risalah kepada umatnya. Dia bukanlah orang yang tuli sehingga tidak mampu mendengar ucapan dan keluh kesah kaumnya. Bukan pula seorang yang bisu, yang tidak bisa bicara untuk menyampaikan risalah kepada umatnya. Dia bukan orang yang diserang penyakit yang membuatnya tidak mampu menyampaikan risalah dari Allah kepada pengikutnya.

Namun tidaklah disyaratkan seorang Nabi atau Rasul adalah seorang pemuka atau pemimpin kaum, walaupun kebanyakan Nabi atau Rasul berasal dari kalangan pemimpin suatu kaum. Allah berfirman tentang Nabi Syu’aib:

قالوا يشعيب ما نفقه كثيرا مما تقول وإنا لنرئك فينا ضعيفا, ولولا رهطك لرجمنك وما, أنت علينا بعزيز

Mereka berkata: “Wahai Syu’aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu, dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu adalah seorang yang lemah di antara kami. Kalau bukan karena keluargamu, tentu kami telah merajammu, sedang kamu bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami. (QS. Hud: 91)

Semua syarat di atas telah ada pada diri Nabi dan Rasul yang diutus Allah, tetapi hal ini tidak berarti bahwa barangsiapa yang dapat memenuhi syarat-syarat ini di masa sekarang, atau di masa yang akan datang, bisa menjadi seorang Nabi. Mengapa demikian? Karena risalah dan nubuwah telah ditutup Allah dengan diutusnya Rasulullah Muhammad bin Abdillah.

MUNCULNYA NABI-NABI PALSU

Sebagaimana pembahasan sebelumnya, telah jelas bahwa risalah dan nubuwah merupakan anugerah dan keutamaan yang Allah berikan kepada hamba yang dikehendaki-Nya, dari masa Nabiyullah Adam hingga Rasulullah Muhammad.

Dan tidak ada keraguan lagi bahwa Rasulullah Muhammad adalah penutup para Nabi dan Rasul, dan dengan diutusnya beliau menjadi sempurnalah agama Allah, maka tidak ada lagi syari’at kecuali syari’at Rasulullah. Allah berfirman:

ما كان محمد أبآ أحد من رجالكم ولكن رسول الله وخاتم النبين, وكان الله بكل شيء عليما

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para Nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Ahzab: 40)

Rasulullah bersabda (yang artinya): “Sesungguhnya saya adalah penutup para Nabi di sisi Allah sebagaimana di Ummul Kitab.” (HR. Ahmad: 4/127, 128)

Rasulullah bersabda (yang artinya): “Saya, penutup para Nabi.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Selain mengabarkan bahwa beliau adalah penutup para Nabi dan Rasul, beliau juga mengabarkan akan muncul beberapa orang pendusta yang mengaku dirinya sebagai Nabi. Kemunculan mereka menjadi tanda di antara tanda-tanda kiamat. Jumlah para pendusta tersebut mendekati tiga puluh orang. Namun ini bukanlah hitungan yang paten, tetapi maksud tiga puluh di sini adalah tiga puluh orang pendusta yang banyak pengikutnya dan memiliki kekuatan. (lihat Fathul Bari 6/219-220)

Rasulullah bersabda (yang artinya): “Kiamat tidaklah akan tegak sehingga muncul para pendusta, (jumlah mereka) mendekati tiga puluh orang, semuanya mengaku menjadi nabi.” (HR. Bukhori)

Rasulullah ﷺ bersabda pula: “Tidaklah akan tegak hari kiamat sehingga umatku mengikuti kabilah-kabilah kaum ahli syirik dan menyembah berhala. Dan sesungguhnya di tengah-tengah umatku akan muncul tiga puluh pendusta, semuanya mengaku sebagai Nabi, sedangkan saya adalah penutup para Nabi, tidak ada Nabi sesudahku.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

 

Sumber:

Majalah Al-Furqon Edisi 7 tahun ketujuh / shofar 1429 pada rubrik Aqidah

Penulis: Abu Zahroh al-Anwar

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.